Bidadari untuk Raka

Kedatangan Raka

Sabtu itupun datang, berdetak lebih kencang jantung Raka karena melihat dan merasakan bahwa ini adalah hari sabtu. Seolah, detik demi detik teramat lama dan bahkan susah untuk ditunggu saja. Raka hanya berpusat pada malam minggunya, tentu saja untuk menepati janjinya untuk silaturahim ke rumah bu Iffah.

Raka merasa bahwa keputusannya kali ini sudah tepat, dia bahkan terus terbayang wajah dari Iffah. Gadis cantik itu kini benar-benar memenuhi pikirannya, apakah ini yang dinamakan cinta yang bersemi? Tapi, perasaan seperti ini juga pernah dirasakannya ketika akan menikah dengan Azkia.

Raka menatap langit-langit ruangan di ruangan guru itu, sejenak dia menghembuskan napasnya perlahan. Kehidupan seperti roda,  kadang harus berada di atas dan kadang berada di bawah, kadang menangis dan kadang tertawa. Itu adalah hakikat kehidupan, apapun yang menunggunya, tentu akan dihadapinya dengan berani dan tegar.

Iffah terlihat memasuki ruangan guru, dia melewati Raka dan tersenyum sangat manis sejenak lalu masuk ke ruangan khususnya. Raka membalas senyuman itu dan segera menyiapkan bukunya kembali karena beberapa menit lagi kelas masuk dan dia harus masuk ke kelas.

Senyuman itu seperti angin sepoi yang menerpa hatinya, terasa sejuk dan menyenangkan. Raka jadi lebih bersemangat dan bersiap, dia pun tersenyum sendiri dan meyakinkan hatinya bahwa langkahnya kali ini benar.

Saat hendak memasuki kelas, hpnya berdering dan ada chat masuk. Sambil berjalan Raka mengambil hp-nya dan melihat pesan itu. Dari Iffah.

“Assalamu’alaikum nanti malam jadi pak ke rumah?”

Sepertinya, Raka kini merasa lebih percaya diri karena wanita yang sedang diincarnya juga mengharapkan dirinya. Kali ini, dia merasa yakin bahwa bu Iffah juga menunggunya dan mengharapkannya datang untuk berani memperkenalkan diri pada keluarganya.

Ini tanda yang baik.

Raka pun segera membalas chat tersebut.

“Insyaallah Bu, jika tidak ada kendala saya akan silaturahim ke rumah bu Iffah,” Raka menutup handphonenya dan menuju kelas yang sudah terjadwal bahwa saatnya materi pelajaran agama. Raka pun masuk kelas dan membersamai para siswa untuk mempelajari ilmu kembali.

Di sisi lain, Iffah nampak tersenyum di ruangannya. Dia membaca chat balasan dari Raka, dia membacanya penuh perasaan hingga jantungnya ikut terpacu berdetak lebih cepat.

Iffah menutup matanya sejenak dan berdoa, supaya Raka adalah kekasihnya di dunia ini yang akan membimbingnya menuju rumah tangga yang diidamkannya. Namun, ada sedikit keraguan dalam hatinya bahwa sudah ada lelaki yang datang duluan dan memperkenalkan dirinya dengan baik dengan Ibu dan Ayahnya.

Lelaki yang sudah datang duluan itu adalah Hamid, seorang Polisi yang ternyata terlibat dalam penangkapan kasus narkoba untuk tempo hari. Dialah yang mengamankan dirinya saat itu dan membantunya, Iffah diantar ke rumah karena takut syok saat kejadian penangkapan itu.

Hamid mengantarkannya ke rumahnya dan dia terlihat cepat akrab dengan Ibu dan Ayahnya. Hingga, karena sudah beberapa kali datang, Hamid seolah membuka hatinya untuk Iffah dan bahkan beberapa hari yang lalu sudah meminta izin resmi kepada orangtuanya untuk meminang Iffah.

Iffah pun belum memberi jawaban dan meminta Hamid untuk sabar dalam menunggu keputusannya. Saat itulah, Dia menceritakan kisahnya pada Raka dan berharap Raka datang ke rumahnya jika memang menyukainya, sehingga dia dapat berdiskusi dengan kedua orangtuanya, memilih satu diantara Raka atau Hamid yang akan menikahinya.

Iffah bahagia, setidaknya Raka juga ingin ke rumahnya sehingga orangtuanya pun dapat menilai mereka berdua dan berdiskusi jika memang Raka punya maksud yang sama untuk mempersuntingnya.

Jika ingin jujur, Iffah lebih memilih Raka daripada Hamid. Namun, dia tak mau mendahului takdir, menurut Iffah Raka meskipun masih berstatus guru honorer namun bisa membimbing dan juga memiliki jiwa yang tulus dan punya kasih sayang. Secara sembunyi, Iffah mencoba mencari tahu informasi tentang Raka dan mendapatkan banyak informasi soalnya.

Bagaimana Raka diketahui juga hampir menikah meskipun gagal saat akan akad dengan Azkia. Dari sana, Raka terlihat tegar dan tak kecewa dengan takdir Tuhan, dan dia sangat tegar. Selain itu, dia memberi pelajaran agama tambahan pada para siswa dan juga berani dalam berbagai masalah yang terjadi di sekolah. Kepahlawanan Raka pun terkenal di antara para guru.

Selain itu, Raka juga seorang yang mengajar mengaji di tempatnya. Sungguh, banyak kelebihan para Raka yang diketahui Iffah.

Untuk Hamid sendiri, Iffah baru mengenalnya belum lama. Dia adalah seorang polisi khusus untuk penanganan narkoba. Meskipun seorang polisi, dikatahui Hamid merupakan sosok yang religius karena memang selalu mengikuti kajian agama dan bahasanya pun terlihat sopan.

Iffah sedikit ragu akan hal itu, namun keduanya memiliki nilai positif yang berbeda. Maka, perlu bagi Iffah jika memang Raka mencintainya, dia akan datang ke rumahnya dan orangtuanya pun bisa menilainya.

Dengan demikian, setiap usaha akan terlihat. Untuk hasil itu adalah kehendak Allah semata. Iffah paham akan hal itu sehingga dia nantinya akan menerima apapun hasil yang akan terjadi dan menjadi haknya.

Apapun yang terjadi, setidaknya Iffah sudah berusaha.

***

Malam itupun tiba, Raka merasa harus datang sendiri terlebih dahulu. Ibunya sendiri belum diberitahu siapa wanita yang kini hendak diincar oleh Raka. Raka hanya khawatir, kejadian buruk seperti saat hari pernikahannya dengan Azkia bisa saja terulang. Raka memang punya perasaan kecewa, namun dia lebih takut jika Ibunya sendiri yang bersedih dan berlarut dalam kesedihan itu.

Raka memakai baju batik panjangnya, dia pun bersiap dan mengeluarkan motor maticnya. Dia sudah berpamitan pada Ibunya dan meminta doa restunya, dia pun kemudian melaju malam itu, selepas shalat isya’, Raka pun berangkat ke rumah Iffah. Ini pertama kalinya Raka ke rumah Iffah semenjak pertemuan mereka.

Raka melihat map pada hanphone-nya, map rumah yang diberikan oleh bu Iffah. Raka pun mengikuti alur perjalanannya, jaraknya sendiri ternyata sekitar 30 km dari rumahnya, rumah Iffah sendiri lebih kearah pusat kota dan rumah Raka memang pinggir dari kota sehingga cukup jauh untuk mencapainya.

Setengah jam berkisar, Raka memasuki kompleks rumah-rumah elit. Rumah-rumah yang berjejeran itu terlihat sangat megah bagi pandangan Raka. Raka pun kemudian melihat mapnya kembali, benar! Rumah bu Iffah di sekitar sini, masi lurus ke depan dan belok ke kanan setelah perempatan. Rumah nomor dua sebelah kanan.

Raka pun masuk ke kawasan itu dan meminta izin kepada satpam, dia pun diizinkan masuk setelah mengatakan akan ke rumah Iffah, petugas itupun mengenal nama Iffah.

Beberapa rumah nampak seperti mirip, ini kawasan perumahan yang cukup elit menurut Raka, bahkan sangat elit menurutnya. Rumah yang sangat besar, Raka terus belok kanan dan mencapai rumah kedua sebelah kanan. Rumah itu sangat besar menurutnya, bahkan mungkin untuk membangunnya dibutuhkan sekitar 4 miliar rupiah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!