Bidadari untuk Raka
Siapapun, Ibu Setuju
Malam gelap menyapa lagi, Raka pun konsentrasi untuk menyelesaikan aplikasi dan propagarasinya. Dia ingin cepat selesai dan juga segera bisa launching sehingga segera dapat bersaing dengan aplikasi-aplikasi lain yang ada di store application.
Raka mengedit beberapa template untuk aplikasinya dan mengirim kembali ke Sarah, Sarah sudah membukanya dan menyetujui pada beberapa bagian upgrade yang Raka lakukan. Termasuk soal komentar yang kini terlihat praktis dan tak ribet, serta tampilan tulisan saat ada orang yang membaca novelnya.
Rapi dan nyaman di mata. Selesai, proses propagarasi masuk ke store sudah siap. Malam sunyi bersuarakan hewan malam.
“Belum tidur Nak?”
Raka terkaget dengan suara lembut itu, suara yang amat dihapalnya. Suara Ibunya, Rahmiza. Wanita separuh baya itu berdiri di depan pintu dan tangan kanannya memegang horden bermotif ukiran-ukiran tersebut. Wanita itu teduh menatap puteranya, meskipun sudah dewasa namun ketika memanggilnya dengan sebutan Nak seolah itulah yang terus menjadi kenyamanan seorang Ibu yang pernah mengandungnya berbulan-bulan dalam perutnya.
“Sebentar lagi Bu, hampir selesai ini pekerjaan dengan Sarah yang kita rencanakan bersama,” Raka menatap teduh Ibunya sambil tersenyum.
“Sarah?” Wajah ibunya terlihat sedikit berkerut, Rahmiza masuk dan mendekati puteranya itu dan mengambil kursi lalu duduk dua meter dari puteranya. Ada yang membuatnya penasaran ketika Raka menyebut Sarah.
“Iya Bu, Sarah Nisaka puteri dari bu Fatma. Kami sedang menggarap program di aplikasi untuk menyebarkan tulisan-tulisannya sehingga dapat dipublikasikan sehingga dapat menampung banyak penggemar untuk membacanya.”
Rahmiza manggut-manggut saja, seolah dia paham walaupun agak kurang memahami secara detailnya.
“Kami sedang berbisnis Bu, semoga lancar dan berkah. Selain itu, membantu agar tulisan Sarah bisa menjadi banyak peminat dan juga meningkatkan pendapatan.”
“Baiklah…, anak-anak zaman sekarang memang tak seperti dulu. Dunia berkembang demikian pesat, kalau seperti Ibu ini sudah jauh tertinggal tentunya.”
“Tentu saja tidak Bu, Ibu kan yang terbaik di seluruh dunia ini. Lagian, Raka kan sudah dewasa sekarang masak dipanggil anak-anak,” Raka tersenyum sambil memegang tangan kanan ibunya itu.
“Kau itu… meskipun sudah dewasa, Ibu selalu menganggapmu sebagai anak-anak. Selamanya, dan apapun yang terjadi. Kau tetaplah anak Ibu, Raka.”
“Tentu saja Ibu.”
Senyum keduanya merekah, jalinan kasih sayang mereka sangat kuat. Mungkin, karena Rahmiza membesarkan Raka seorang diri sehingga ikatan mereka jauh lebih kuat dari apapun.
“Kau sudah mulai akan menentukan pilihan lagi Raka?”
Setelah hening beberapa detik, pertanyaan dari Ibunya itu cukup mengejutkan Raka karena perasaan seorang Ibu memang benar menyambung kepada Anaknya. Karena mereka berasal dari satu darah dan satu daging, hubungan spesial ini mungkin menjadi penyebab perasaan seorang Ibu sangat peka kepada pikiran anaknya.
Raka belum memberikan jawaban, artinya Rahmiza semakin yakin jika tebakannya adalah benar. Tak menjawabnya anaknya karena bingung hendak mengatakan apa namun kata-katanya barusan sudah tepat.
“Tak perlu ragu jika kamu sudah merasa yakin dan siap melangkah kembali. Hanya saja, jangan pernah jumawa dan merasa mendahului Allah anakku.”
“Ma.. Maksud Ibu?” Raka bertanya penasaran, takut jika hal itu menyinggung Ibunya. Raka memang sejak dulu tak berani walau sedikitpun menyakiti perasaan Ibunya itu, Ibunya baginya adalah segalanya di dunia ini. Segenap cintanya, bahkan jika perlu Ibunya memilihkan seorang isteri baginya maka Raka akan menerima begitu saja.
Sayangnya, sejak dulu Ibunya tak berani menyebutkan siapa wanita yang cocok untuk Raka atau mencoba menjodohkan Raka. Dia hanya memberikan Raka seluruh kepercayaannya, dengan siapapun Ibunya akan menerima calon isteri Raka dan akan menganggapnya seperti anak sendiri, seperti dirinya mencintai Raka dengan seluruh jiwanya.
“Ibu ingin Raka menyadari, bahwa Allah adalah penentu segalanya,” Rahmiza mengelus rambut Raka perlahan, “Jika kau bertekad berusaha kembali, namun pada akhirnya dia bukan jodohmu seperti takdirmu tempo hari dengan Azkia. Maka, kamu sudah mempersiapkan hatimu selapang samudera. Kamu harus siap ditolak atau gagal dalam mencari jodohmu. Siapkan hatimu jika kamu gagal, sehingga kamu tidak akan bersedih hati kembali dan kecewa kepada Allah.”
Nasehat ibunya itu teramat menenteramkan hati Raka, kini Raka semakin yakin untuk melangkah. Dia akan mempersiapkan segalanya, termasuk jika kegagalan yang akan didapatkannya, tentu saja dia mempersiapkan agar tak kecewa dan akan bertawakkal kepada Allah.
“Lalu Ibu…, apakah Ibu tidak punya calon untuk Raka, siapa tahu Raka akan mempertimbangkannya,” Raka tersenyum kepada Ibunya, pertanyaan itu sebenarnya hanya gurauan karena Ibunya selalu menyerahkan segalanya pada Raka.
“Ibu sudah bilang padamu kan Nak, kalau siapapun pilihanmu jika itu menurutmu baik, itu artinya adalah pilihan Ibu. Ibu akan menerimanya apapun keadaannya, karena Ibu sudah sepenuhnya percaya padamu.”
Seperti saat awal Raka meminta izin untuk menikah, Ibunya juga berkata seperti itu sehingga Raka pun mencari pasangan hidupnya sesuai keinginannya dan juga melihat baik dan buruknya. Kemudian, dia melakukan shalat istikharah dan meminta petunjuk. Meskipun pada akhirnya banyak yang gagal, namun Raka merasa ringan ketika menghadapinya.
“Tapi… bagaimana menurut kamu soal Sarah, Anakku?”
Raka sedikit kaget mendengar perkataan Ibunya barusan, “Maksud Ibu, si manja Sarah Nisaka? Puteri dari bu Fatma?”
Raka yang tengah bekerjasama dengan Sarah memang melihat perbedaan yang jauh terjadi pada diri Sarah. Sarah kini telah menjelma menjadi wanita yang anggun dan cantik, ditambah dia adalah sosok yang memiliki kemampuan di dunia tulis-menulis. Namun, jika mengingat Sarah, Raka menjadi teringat kecilnya dulu ketika dirinya adalah anak yang manja dan tomboy serta terlihat sangat culun.
Raka tersenyum sendiri mengingat hal itu, “Maksud Ibu…, Sarah untuk dijadikan isteri?” Raka agak memelankan suaranya, takut menyinggung perasaan Ibunya tersebut namun Ibunya tiba-tiba meminta pendapatnya soal Sarah.
“Anak itu telah banyak berubah, kini dia manis bukan?”
Raka tersenyum kembali, baru kali ini Ibunya itu meminta pendapatnya tentang seorang wanita. Apalagi itu adalah sahabat kecil bagi Raka, Raka pun dulu sangat mengenalnya. Namun, bagi Raka, Sarah dianggapnya sebagai adiknya dan usia mereka terpaut sekitar 4 tahun.
“Sarah Nisaka kini memang berubah menjadi gadis yang anggun, tak menyangka dulu begitu manja. Tapi, Raka menganggapnya selama ini sebagai seorang adik bagi Raka, Bu.”
“Benar juga. Kalian sudah sangat sering bertemu, Ibu dan bu Fatma adalah sahabat baik dan sering bertemu. Kalian juga sering bermain bersama sewaktu kecil, jadi sudah sewajarnya kamu menganggapnya sebagai adikmu sendiri. Apalagi, kamu tak memiliki seorang adik.”
Raka mendengarkan ucapan Ibunya tersebut. Namun, dia juga mengingat bahwa Sarah memang telah banyak berubah. Dia menjadi lebih anggun dan baik sekarang, bahkan dia mampu tampil dengan anggun dengan hijabnya. Dalam lubuk hati terdalam, memang ada hati meskipun sedikit pada Sarah. Sebagai seorang lelaki, mana mungkin tak tertarik sama sekali pada Sarah, dengan senyumnya yang mendamaikan dan kemanjaannya.
Ah!
Raka menggelengkan sedikit kepalanya, tak mau terlalu dalam memikirkan Sarah. Kini, dia sedang berjuang untuk mendapatkan kepercayaan Iffah dan keluarganya. Bahkan, dia juga sudah membuat janji untuk datang ke rumahnya untuk saling mengenal.
Raka kembali memantapkan niatnya.
“Tapi Bu, kini Raka tengah mendekati seseorang yang Raka rasa cocok untuk Raka. Namun, jika Ibu tak mengizinkannya maka Raka tak akan meneruskan taaruf dengannya.”
Rahmiza menyentuh pundak kanan Anaknya itu, “Bukan begitu, kamu harus terus melangkah dan melihat lebih jauh. Kamu harus memeriksa soal ketika ujian bukan? Maka, kamu harus lebih mengenal jauh, apakah seseorang itu nantinya bisa cocok masuk dalam kehidupanmu atau tidak. Jika memang tidak, maka kamu bisa menolaknya dengan cara yang baik, namun jika cocok maka kamu akan melanjutkannya.
Kamu harus yakin terlebih dahulu sebelum melangkah, dan semua itu perlu bagimu untuk mengamatinya.”
Raka mengangguk, “Baik Bu, Raka akan mengikuti perkataan Ibu.”
Rahmiza tersenyum, “Bagi Ibu, jika kamu sudah merasa cocok pada calon isterimu dan kamu yakin, maka Ibu akan menyetujuinya, siapapun yang kamu pilih nanti Raka.”
Malam semakin larut, Rahmiza berpamitan pada anaknya dan memintanya segera untuk tidur dan beristirahat. Tentunya, tubuh juga punya hak untuk beristirahat.
Raka kemudian menyelesaikan sedikit hal dan menutup laptopnya, kemudian mengambil air wudhu dan bersiap untuk tidur. Saatnya beristirahat, besok dia harus melakukan banyak tugas dan kewajiban lagi, sehingga tubuhnya harus bisa beristirahat dengan baik sehingga siap melakukan aktivitas untuk esok hari.
Saatnya tidur, Raka berdoa dan tentu saja berdoa agar setiap kehidupannya selalu dibimbing oleh Allah. Amin.