Bidadari untuk Raka
Keberanian untuk Bidadari
Kepergian Iffah yang meninggalkan Raka, membuat Raka harus meresapi kata demi kata yang diucapkan Iffah. Benarkah dari setiap ucapan bu Iffah tadi, dia tengah mengharapkan dirinya datang ke rumahnya untuk mempersuntingnya?
Iya kalau benar, tapi bagaimana kalau itu hanya perasaan Raka saja yang merasa kepedean?
Raka pun semakin bimbang dalam setiap perasaannya sendiri, dia larut dalam perasaannya sambil meminum kopi dalam cangkir dan menyeruputnya kembali. Apakah itu adalah kode bahwa dia menginginkannya untuk berani melamarnya? Apa itu keinginan dari Iffah? Hingga, dia bercerita kalau ada lelaki yang datang ke rumahnya namun dia tak menyukainya?
Raka melihat sedikit air yang terlihat dari cangkirnya, kopinya tinggal sedikit antara pekatnya air hitam kopi dan sedikit bening itu, Raka menatap air tersebut. Wajah Iffah tiba-tiba terbayang disana begitu saja, seperti imajinasi, sedang tersenyum pada Raka.
Jika jodoh sudah digariskan, maka manusialah yang harus berusaha untuk mendapatkannya dan meraihnya.
Benar!
Raka harus berusaha terlebih dahulu, entah apapun hasilnya. Dia harus bisa melawan dirinya sendiri agar siap dan segera mengambil tindakan. Sebelum, semuanya terlambat.
Raka pun kembali ke ruangannya, dia menengok arah meja bu Iffah. Sudah tak ada. Raka pun mengambil handphonenya dan mengetik beberapa kata dan mengirimkannya langsung kepada bu Iffah. Harus berani!
“Assalamu’alaikum, bolehkan saya silaturahim ke rumah Bu?”
Agak ragu lagi Raka hendak mengirim chat dan meng-enternya. Ragu itu sebagai akibat dari kisah cintanya yang sudah panjang dan juga gagal. Seolah, dia terbayang gambaran jika gagal lagi dan hatinya kecewa lagi.
Raka memejamkan matanya kembali, mencoba mengambil keyakinan baru dan memantapkan langkahnya.
Raka mendapatkan kepercayaan dirinya lagi, apapun yang terjadi yang penting sudah berani berusaha dan menjemput jodohnya. Bismillah. Raka memencet enter dan chatpun terkirim dengan cepat.
Raka menunggu detik demi detik seperti tahun demi tahun. Teramat lama, dan matanya langsung menajam manakala chatnya tersebut begitu cepat terbalas dan segera dia membukanya.
“Pintu rumah saya selalu terbuka untuk pak Raka.”
Jawaban dari Iffah itu seperti api yang langsung melelehkan tubuh yang terkurung dalam es. Mencair begitu saja dan seolah kelegaan langsung menyelimuti seluruh tubuh Raka. Dia merasa himpitan yang baru saja membelenggunya terlepas, berganti rasa percaya diri dan semangat 45 untuk berjuang mendapatkan cintanya kembali. Semoga, kali ini adalah perjuangan terakhirnya untuk kembali mendapatkan jodoh yang sudah digariskan oleh Allah untuknya.
Senyum Raka masih mengembang dan tiba-tiba ada chat lagi masuk. Raka melihatnya, bukan dari Iffah. Dari Sarah Nisaka.
“Jangan memaksakan diri untuk aplikasinya, jangan memporsir tenaga berlebihan asalkan dikerjakan juga akan selesai. Sampai mana perkembangannya Kak?” ada emoticon senyum dan memberi semangat dari Sarah.
“Sudah saya coba upload untuk contoh satu novel dulu untuk aplikasinya, melihat bagaimana tampilannya apakah cocok atau tidak. Baiklah, ini saya kirim contoh aplikasinya ya.”
Raka mencari data bentuk template aplikasinya yang sudah diselesaikan, meminta Sarah untuk menginstalnya terlebih dahulu untuk melihat tampilannya. Jika penulisnya saja sudah cocok tentu tinggal persiapan propagarasi masuk ke Playstore untuk branding merek dan persiapan untuk bisa bersaing dengan aplikasi yang lainnya.
Pesan terkirim.
Sarah membalas chat, “Baik saya akan coba install dan pelajari terlebih dahulu tentang tampilannya.”
Raka tersenyum dan membalas lagi, “Siap.”
Raka sudah mempersiapkan tentang aplikasi tersebut, aplikasi sekarang menempati bisnis digital yang sangat menjanjikan. Pendapatan dari iklan saja sudah sangat banyak jika dikelola dengan baik dan pelanggan yang menginstal bisa betah berlama-lama membaca novel dan membuka aplikasi maka iklan akan mudah dilihat dan diklik atau di buka.
Dalam tampilan aplikasi di Hp, maka akan mudah iklan dapat di klik. Termasuk, apakah itu sengaja memencet iklan atau tidak karena tampilannya yang kecil. Berbeda dengan web yang tampilan layarnya besar dan menggunakan mouse untuk mencari sesuatu yang hendak dibacanya. Di Handphone yang kecil, layar akan sering disentuh sehingga terkadang banyak iklan yang tanpa sengaja akan terklik begitu saja.
Itu sangat menguntungkan bagi mereka yang berkecimpung di dunia aplikasi dan menjadi provider.
Raka sudah menentukan bagaimana nisbah bagi hasil pendapatan tentang aplikasi novel Islami yang sedang digarapnya dengan Sarah Nisaka. Meskipun masih kecil, Raka yakin kalau aplikasi itu akan berkembang sangat pesat nantinya, mengingat tidak ada sistem top up dan pembaca dapat membaca gratis dalam aplikasi tersebut. Apalagi, ceritanya akan dibuat semenarik mungkin, dan pembaca akan betah. Setiap kunjungan bernilai uang.
Perjanjian nisbah bagi hasil meski masih memulai, namun Raka membuatnya dengan catatan perjanjian. Dan…, itu penting karena bisnis harus dimulai dengan kejelasan dan jauh dari gharar atau ketidakjelasan.
Dalam pembicaran yang mereka sepakati kemarin, untuk Provider Raka meminta persentase keuntungannya adalah 40 persen, sedangkan untuk penulis adalah 50 persen. Sisanya, 10 persen dari pendapatan akan digunakan untuk pengembangan maupun event atau reward untuk pembaca dan lain sebagainya.
Nanti malam, Raka akan kembali mengerjakan kekurangan pada sistem aplikasinya. Dia sampai lupa, ada pesan lagi masuk. Dari Iffah.
“Kapan pak Raka akan ke rumah? Saya akan bicara pada Bapak agar di rumah biar bisa berbincang.”
Raka kembali mengetik chatnya, “Insyaallah malam minggu Bu, lebih leluasa dan tentu saja libur.”
“Baiklah, kami akan menunggu Bapak.”
“Iya.”
Raka memang masih agak ragu soal kesungguhannya ini. Bagaimanapun, status Raka adalah seorang guru honorer, tentu saja gajinya sangat kecil dan juga dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Meskipun, Raka merasa percaya diri dan tak punya perasaan minder. Namun, apakah keluarga Iffah nanti jika dia sungguh-sungguh berniat melamar, apakah keluarga Iffah akan menerima kondisi ekonominya? Entahlah, yang jelas, Raka akan berusaha terlebih dahulu.
Saat tengah meyakinkan dirinya, ada chat lagi dari Sarah Nisaka.
“Kak, tampilan untuk aplikasinya sudah bagus menurut saya dan juga friendly. Kita mudah untuk membaca dan juga untuk akses bab selanjutnya sudah mudah.”
Raka kembali membalasnya, “Menurut Sarah, apakah ada kekurangan atau usulan agar saya bisa memperbaikinya?”
Balasan pun datang, “Saya hanya usul, jika itupun tidak sulit. Bisakah untuk komentar dibuat lebih mudah. Maksud Sarah, langsung ketika baca ada kolom komentar dan dia tinggal mengetik lalu enter begitu saja. Lalu, apakah bisa tampilannya lebih cerah agar ketika membaca lebih nyaman karena tampilan layar terlihat agak dark sehingga di mata agak sulit dan harus menajamkan mata.”
Benar saja, Raka melihat tampilan aplikasinya memang untuk mengirim komentar agak ribet dan harus mengetik akun kita lagi dan mengisi beberapa kolom. Memang kurang praktik, sebaiknya hanya mengisi komentar dan langsung kirim. Benar saja, nanti malam Raka akan mencoba memperbaikinya. Selain itu, untuk tampilan bisa dibuat lebih cerah itu gampang. Namun, Raka harus menggunakan laptopnya agar lebih mudah dan lebih cepat untuk respon.
“Akan Kakak usahakan nanti malam dan membereskannya Sarah.”
“Oke!” balasan dari Sarah.
Raka memang akan all out untuk menjadikan aplikasi tersebut akan benar-benar dapat menjadi lahan baik untuk perkembangannya di masa depan. Raka melihat bahwa itu peluang yang sangat menjanjikan, hanya keuletan dan ketekunan yang akan membuatnya menjadi nyata.
Untuk urusan jodoh dan usaha, harus bersama-sama saling dilakukan. Masa depan itu harus diupayakan dan Raka seolah sudah menemukan teman yang tepat untuk membesarkan aplikasi tersebut. Penulis seperti Sarah harus diberikan panggung dan dirinya akan membuatnya menjadi tercapai dengan membuat panggung tersebut.
Untuk perjuangan jodohnya juga harus terus progress, tidak ada kata menyerah karena bidadari itu adalah belahan jiwa yang harus diupayakan cintanya dan bukan hanya ditunggu dari rumah.
Raka tersenyum, dia merasa Tuhan sedang membelai dirinya dengan keindahan. Semangatnya pun membara. Bersiap untuk segalanya untuk masa depan dan melihat senyum di bibir Ibunya ketika dia membawakan bidadari untuk menemani masa tua Ibunya. Tentu saja, Raka berpikir cepat dengan kehadiran seorang cucu yang akan membuat senyuman indah terukir di bibir Ibunya. Insyaallah.