Andai Tiada Mertua

Rencana Fawwaz

Afnan membuka pintu rumah lamanya dengan satu tangan, sementara tangan lain menggendong Ziya yang tertidur lelap di pelukannya. Langkah kakinya mantap menaiki anak tangga menuju kamar di lantai dua, tanpa suara, seolah tak ingin membangunkan siapa pun.

Salamah mengikuti dari belakang, pandangannya menyapu seluruh sudut rumah. Dinding putih bersih, lantai kayu mengilap, jendela besar yang membiarkan cahaya masuk dengan hangat. Ada aroma kayu dan wangi bunga sedap malam yang samar.

"Ini rumah? Tapi kok kayak di majalah perabotan ..." gumamnya setengah tak percaya. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, menelusuri kesederhanaan yang terasa elegan.

“Eh, apa ya namanya ... rumah kayak gini ... oh, minimalis,” kekehnya sendiri, pas saat seorang wanita paruh baya menyapanya.

“Mari, Bu. Masuk saja. Den Afnan sudah lama nggak pulang ke sini,” kata perempuan itu sopan, mengenakan apron bersih dan senyum yang tulus.

Salamah mengangguk singkat. “Oh, iya. Makasih ya, Mbak.”

Dia sebenarnya diarahkan ke kamar tamu untuk beristirahat, tetapi langkahnya justru membawanya ke teras belakang. Salamah lalu  duduk di bangku kayu panjang yang teduh di bawah pohon ketapang mini. Suara gemericik air dari kolam ikan mengalun lembut, menyatu dengan cicit burung di sangkar gantung.

“Pantes aja kemarin nak Afnan beli akuarium,” gumamnya pelan. “Ternyata dari dulu suka ikan hias.”

Teras itu tenang, rapi, dan menenangkan. Udara Jakarta yang biasanya padat mendadak terasa lebih longgar di tempat ini. Salamah memandang sekeliling, membayangkan Ziya tinggal di sini. Rumah ini cocok untuk Ziya. Bahkan untuk anak-anak.

Dia ingat, dulu hanya sempat mengantar Ziya ke rumah Iwana, tak pernah benar-benar menginjakkan kaki di rumah pribadi menantunya. Sekarang, ia duduk di sini, seolah diberi waktu untuk memahami. Pelan-pelan, ia mulai melihat kepingan puzzle yang sempat kabur dari cerita anaknya.

Senyum kecil menyembul di wajah senjanya. “Hanan dah gede ya ... Udah tahu rasanya rumah tangga itu kayak apa...”

Asisten rumah tangga datang membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring pisang goreng. Mereka lalu terlibat obrolan ringan tentang masa kecil Afnan, tetangga lama, dan bunga Petunia yang menggantung di sisi teras. Waktu pun berlalu tanpa terasa.

Menjelang sore, mereka kembali ke rumah Iwana. Mobil baru saja berhenti di depan pagar ketika Salamah melihat seorang lelaki berdiri di depan pintu, tangan di saku celana, wajahnya menoleh saat suara mesin mobil terdengar.

“Eh, itu Nak Fawwaz?” gumam Salamah.

"Sendirian apa sama Aisyah?" sambung Ziya, melihat ke arah suaminya.

Afnan hanya mengendikkan bahu. Bukannya Aisyah sedang me-time dengan Arman? Pikirnya.

Fawwaz tersenyum ramah pada dua wanita yang baru saja turun dari mobil, tapi matanya langsung tertuju pada Afnan. Begitu Afnan keluar dari mobil, Fawwaz melangkah maju, suaranya pelan namun mantap.

“Pak Afnan, bisa bicara sebentar?” 

Afnan menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Ayo. Di taman belakang aja.”

Mereka berjalan melewati koridor samping, lalu duduk di bangku besi di bawah pohon mangga. Sore meredup perlahan, dan angin membawa aroma tanah dan sisa hujan dari pagi tadi.

Fawwaz menggenggam jemarinya sejenak, lalu membuka suara.

“Aku mau bicara soal Aisyah.”

Afnan mengangkat alis. “Kenapa dengan Aisyah?”

Fawwaz menelan ludah. “Aku serius, Pak. Aku ingin melamar dia.”

Sejenak, hanya suara dedaunan yang bergesekan. Afnan menatap teman istrinya sekaligus adik kelasnya itu, lama.

“Sudah dibicarakan ke dia?”

Fawwaz menggeleng. “Belum. Aku ... cuma nggak mau gegabah. Apalagi setelah semua yang terjadi sama Arman. Aku tahu Aisyah bukan perempuan biasa. Dan aku gak akan masuk ke hidupnya kalau aku belum benar-benar siap.”

Afnan mencondongkan tubuhnya. “Aisyah itu dimanja oleh Arif adikku. Baru sekarang dia belajar mandiri dan sepertinya sedang menikmati fase ini. Dia ingin Arman bangga padanya. Kamu harus siap nunggu sampai cita-cita Aisyah tercapai, sanggup?" jelas Afnan. 

“Aku tahu,” jawab Fawwaz pelan. “Justru karena itu aku mau nemenin dia. Aku cuma mau ada di sampingnya kalau dia butuh. Mungkin aku akan ditolak. Tapi aku harus jujur soal niatku.”

Afnan menarik napas panjang. Matanya menatap ke arah langit yang mulai berwarna jingga.

“Bagus kalau kamu tahu batas dan caranya. Tapi sebelum kamu ngomong ke Aisyah, ada satu hal yang harus kamu tahu soal Arman.”

Fawwaz mengerutkan dahi. “Arman kenapa?”

Afnan menunduk sebentar, lalu membuka suara hati-hati.

“Dia sudah mulai nyaman hidup bertiga dengan Aisyah dan Mama. Tapi akhir-akhir ini ... Arman sering murung, jadi lebih pendiam. Aku rasa Arman mulai menyadari kalau keluarganya nggak utuh seperti teman-temannya.”

Fawwaz mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah serius.

“Aku khawatir. Kalau kamu masuk ke hidup mereka, Arman bisa bingung. Dia anak yang sensitif. Aku ngerti kamu sayang Aisyah, tapi juga harus siap jadi dewasa untuk Arman. Bukan cuma jadi pengganti sosok ayah.”

Fawwaz mengepal jemarinya, tapi bukan karena marah—melainkan menahan rasa haru.

“Aku nggak niat ganti siapa-siapa. Aku cuma ingin jadi orang yang konsisten ada. Kalau Arman butuh sosok ayah, aku ada. Tahu kok, aku nggak akan mudah diterima," ujar Fawwaz pelan.

Afnan menatap Fawwaz lebih lama, lalu mengangguk perlahan. “Kalau memang begitu niatmu, kamu punya restu dari aku sebagai mantan kakak iparnya.”

Fawwaz tersenyum lega. “Terima kasih udah jujur, Pak. Aku tetap akan ngomong ke Aisyah. Tapi aku akan kasih dia ruang. Aku nggak datang untuk menyelamatkan dia. Aku datang karena aku ingin jadi bagian dari hari-harinya, kalau dia izinkan.”

Afnan menepuk pundaknya. "Nggak susah ambil hati Arman, dia penurut."

Mata Fawwaz sedikit memerah, tapi ia hanya mengangguk. Keduanya lalu duduk diam, membiarkan angin sore menjadi saksi ketulusan dua laki-laki yang sama-sama mencintai dalam diam—satu sebagai keluarga, satu sebagai harapan.

***

Malam itu, Aisyah baru selesai membereskan dapur ketika melihat Arman duduk termenung di lantai ruang keluarga, mobil-mobilan kesayangannya dipeluk erat. TV masih menyala, tapi anak itu tak menontonnya. Pandangannya kosong.

Aisyah menghampiri, lalu duduk di samping Arman sambil mengelus rambut anaknya yang mulai panjang.

“Kamu belum ngantuk?”

Arman menggeleng pelan. “Ma, tadi di sekolah, temenku dijemput ayahnya … Pakai motor gede.”

Aisyah tersenyum tipis. “Keren, ya?”

“Iya. Terus ... dia bilang mau diajarin naik sepeda. Ayahnya yang ngajarin.” Arman memeluk mainannya lebih erat. “Kalau aku... siapa yang ngajarin?”

Aisyah diam sejenak. Dihimpit antara kejujuran dan perlindungan. “Kamu kan hebat. Nanti Mama ajarin pelan-pelan,” ucapnya lembut.

“Ma...” Arman menoleh, terdiam sebentar, matanya bening. Lalu meletakkan mainannya di pangkuan Aisyah.

“Ma, aku boleh nanya nggak?”

Aisyah menoleh sambil mengangguk. “Boleh banget.”

“Kalau aku berdoa terus, nanti Allah bisa kasih aku ayah baru nggak?”

Pertanyaan itu membuat napas Aisyah tercekat. Tangannya otomatis meremas lembut bahu Arman.

“Kenapa Arman pengin punya ayah lagi, Sayang?” tanyanya dengan suara pelan.

Arman menunduk, jari-jarinya menggulung ujung baju tidur.

“Soalnya ... aku pengin ada yang ngajarin aku naik sepeda, yang bisa nyetirin kita naik mobil, yang bisa gendong aku kayak temen-temenku.”

Arman berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih lirih. “Kalau aku sakit, aku pengin ada yang bacain doa dan usapin kepala aku. Kalau aku ulang tahun, aku pengin ayah yang peluk aku juga, bukan cuma Mama.”

Aisyah menggigit bibir bawahnya, menahan air mata.

“Tapi aku takut,” gumam Arman. “Takut Ayah denger dari surga terus jadi sedih. Takut Mama nanti nangis lagi. Tapi … Arman kangen ayah, tapi nggak bisa ketemu,” katanya sambil menahan isak, sebutir bening menyembul di sudut matanya.

Aisyah menarik napas dalam, lalu memeluk Arman erat-erat.

“Arman boleh punya semua harapan itu, Sayang. Kan Allah janji, semua doa anak soleh nggak akan sia-sia.”

Arman menyandarkan kepalanya di dada Aisyah, suara kecilnya berubah serak, hampir seperti bisikan.

“Kalau ada orang baik yang pengin jadi ayah Arman … apa aku boleh nyoba sayang sama dia?”

Pertanyaan polos itu menghantam jantung Aisyah lebih dalam daripada apapun.

Anak kecil itu—yang selama ini hanya tahu bagaimana menahan rindu—sekarang mulai membuka pintu baru dalam hatinya sendiri.

Aisyah tak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit rumah yang temaram. Suara detik jam terdengar lebih keras dari biasanya.

“Apa aku cukup berani untuk mengizinkan Arman bahagia dengan cara yang baru ... walau artinya aku harus belajar menerima sosok baru dan mengubur lagi mimpiku?”

Aisyah memeluk anak itu erat-erat, lalu tertidur dalam pelukannya, dan Aisyah masih terdiam menatap kosong ke arah lampu gantung. “Mama juga takut. Tapi ... kita nggak harus melupakan buat bisa melangkah.”

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!