Andai Tiada Mertua

Hasil Test Kedua

"Wa alaikumussalaam, siapa ya?" tanya Ziya menjawab pelan salam dari kontak yang belum diberi nama oleh Afnan. 

 

"Ck, Naufal Azhar ... Zie, kapan ke rumah sakit lagi? Ada yang ingin kubicarakan sama kamu," ujarnya dari seberang.

 

Kecurigaan suaminya ternyata benar. Ziya menoleh ke arah Afnan. Lelaki itu mengangguk sehingga Ziya berani menjawab pertanyaan Naufal.

 

"Oh, Kang Azhar. Sabtu pekan ini," sahut Ziya singkat, sembari melirik suaminya. Dia takut bila ekspresi wajah Afnan berubah.

 

"Oke, sampai jumpa." Naufal mengakhiri percakapan mereka.

 

Afnan menarik ponsel dari hadapan Ziya. Dia lantas memberi nama kontak Naufal menjadi dokter ganjen. Suami Ziya ini menduga bahwa pria itu menaruh suka pada istrinya.

 

Ziya tertawa kecil. Afnan mudah sekali cemburu dan curiga akhir-akhir ini. Tepatnya setelah diagnosa itu keluar. 

 

"Mas curigaan, ih," kekeh Ziya ketika mobil Afnan mulai melajukan mobilnya.

 

"Ck, kamu itu nggak paham gestur laki-laki, Sayang." Afnan mencebik sebal sambil melirik istrinya. "Jangan selingkuh pokoknya atau aku santet syar'i."

 

Tawa keduanya menguar ke seluruh kabin. Betul apa yang Afnan katakan, tak payah ke dukun jika terlanjur sakit hati. Itu hanya akan membuat segala amalan ibadah kita tertolak.

 

Banyak doa yang bisa dikirimkan agar si pelaku merasakan apa yang korbannya derita. Meski perilaku ini tak dibenarkan oleh ajaran agama.

 

Di tempat lainnya. Setelah ditegur Afnan, tampaknya Fawwaz mulai menjaga jarak dengan Ziya. Apalagi dirinya seringkali berpapasan dengan pasangan itu ketika hendak memasuki gedung sekolah.

 

Ingin bertanya lebih jauh mengapa Ziya menikah muda, bahkan baru masuk kuliah, tapi urung Fawwaz lakukan. Desakan keluarga untuk segera menikah pun kembali mengusik pikiran sang Wakasek.

 

"Kak!" sapa Ziya kala melihat Fawwaz keluar dari ruangannya di jam istirahat.

 

"Hai," jawabnya singkat. 

 

"Menghindar, nih? Kenapa?" 

 

Fawwaz tersenyum simpul sambil berjalan bersisian dengan Ziya. "Kamu dah nikah, harapanku putus, lah. Tadinya mau ngajuin proposal," jelasnya terus terang.

 

Ziya berhenti, ucapan Afnan lagi-lagi terbukti. Fawwaz menaruh suka padanya. Dia jadi tak enak hati. Takut menjadi sumber luka bagi Fawwaz.

 

Fawwaz ikut berhenti lalu menoleh ke arah belakang. Dia lantas tertawa kecil melihat perubahan ekspresi wajah stafnya ini.

 

"Nggak usah ngrasa salah gitu, ah! ... aku nggak apa," ujarnya enteng.

 

"Aku balik ke bimbel aja kalau gitu, Kak," cicitnya sungkan sambil menunduk.

 

Lelaki itu justru makin tertawa renyah. Fawwaz lantas meninggalkan Ziya yang masih mematung di koridor antar kelas. 

 

Hari-hari berikutnya, kecanggungan di jam-jam menjelang sore muncul tiap kali Ziya berpapasan dengan Fawwaz. 

 

Wanita ayu itu sudah membicarakan hal ini dengan Afnan dan suaminya pun menyetujui usulan Ziya untuk mundur kembali ke bimbel. Selain agar waktu mereka lebih panjang, Afnan juga tak ingin Ziya kelelahan.

 

Namun, keputusan ini disayangkan oleh banyak pihak. Guru-guru lain sangat ingin naik level tapi Ziya justru sebaliknya. 

 

"Kalau kamu maksa, mumpung masih masa trial, aku bisa balikin lagi ke bimbel awal bulan depan," kata Fawwaz di ruangannya saat Ziya mengajukan permohonan pengunduran diri.

 

"Niatku mengajar sekadar menyalurkan hobi, bukan membantu mencari nafkah, Kak."

 

Fawwaz mengernyit heran. "Alasannya?" 

 

"Agar rezeki suamiku tetap lancar. Menjemput rezeki mutlak tugasnya ... kalaupun aku kerja ya karena menyalurkan kecintaan terhadap profesi saja." Ziya berkata pelan sambil menunduk.

 

"Kalau niatku membantu beliau, justru kuatir akan menjadi jalan kesempitan bagi kami. Tiada keberkahan mengikuti dalam rumah tangga sebab niatanku tadi," sambung istri Afnan Chairi.

 

Pundak wanita dirancang untuk menemani sang pemikul beban, bukan menjadi tumpuan utama.

 

Fawwaz mengangguk setuju. Dia lalu menandatangani pengunduran diri Ziya dan memberikan surat tugas kembali ke bimbel Al Ghifari.

 

"Jazakallah, Kak." 

 

Ziya langsung semringah dan keluar ruangan. Fawwaz tak mempersulit urusannya. Pekan itu, Ziya mulai pamit pada para staf sebab beberapa hari lagi, dia akan balik ke asal.

 

***

 

Keesokan pagi, Afnan menunggu Ziya di depan kampus. Hari Sabtu ini, istrinya masuk kuliah guna mengejar ketinggalan pekan lalu.

 

Setelah satu jam, sosok ayu itu terlihat berjalan keluar gedung menuju parkiran. Tapi, dibelakang Ziya tampak seorang pria yang mengejarnya. 

 

"Hanan!" 

 

Ziya menoleh, lalu berhenti tepat di depan mobil Afnan. "Ya?" 

 

"Pindah jam kuliah seterusnya dong," pintanya saat mereka berdiri berhadapan.

 

"Nggak bisa." Ziya meletakkan tangannya di atas dahi untuk menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya.

 

"Why?" 

 

Ziya menunjuk ke belakang dengan jempolnya. "Karena--" 

 

"Karena Sabtu adalah waktu bagi kami untuk bersantai dan bermesraan di rumah," jawab Afnan yang keluar dari mobilnya.

 

Pria muda itu melihat ke arah Afnan. Dia sedikit heran akan sosok dewasa tersebut, terlebih ketika Ziya menghampiri dan meminta salim padanya.

 

"Halo, Om!" sapanya, menduga bahwa beliau adalah keluarga Ziya.

 

"Om?" Afnan bersedekap di depan dada sementara Ziya terkekeh-kekeh melihat respon suaminya.

 

"Beliau suamiku ... yuk, Mas," kata Ziya sekilas melihat sang kawan, sembari menarik lengan Afnan agar masuk ke mobil.

 

Lelaki belia itu mencelos, sahabat satu kelasnya ternyata telah menikah. Padahal baru saja dia berniat untuk pedekate. 

 

Setelah mobil Afnan keluar kampus, dia mulai berceloteh. 

 

"Ciye yang dikerubuti kumbang," oceh Afnan sambil menyetir. 

 

Ziya tak menimpali, bisa berabe jika salah menjawab nanti. Afnan sedang sensitif. 

 

"Nanti di rumah sakit, ada fans lagi dah ah," lanjutnya lagi.

 

Ziya tak merespon. Dia hanya meraih ponsel Afnan yang tergeletak di dashboard lalu menekan nomernya sendiri. 

 

Nada dering unik pun terdengar. ~Suami calling ... suami calling.

 

Layar gawai menampilkan foto profil Afnan yang memeluknya dari belakang. Jika Ziya tak salah tangkap, sekilas Afnan tersenyum simpul tadi.

 

Tak hanya sampai di situ. Wallpaper gawai Ziya pun kini berganti menjadi foto pernikahan mereka. 

 

"Masih kurang?" cebik Ziya, sambil meletakkan lagi gadget suaminya. "Nanti aku pakai pin nama untuk di kerudung. Tulisannya, istri Afnan." 

 

Afnan diam, lengannya bersandar pada pintu lalu jemarinya mengusap dagu. Dia melirik Ziya yang merogoh sesuatu di dalam tas. Ketika benda itu muncul, Afnan tertawa lebar.

 

"Ya Allah, Sayang." Dia tergelak saat Ziya menunjukkan sebuah Bros. "Kirain boongan," ucapnya masih di sela tawa.

 

"Dah ya, aku pake, nih." Ziya menyematkan pin bertuliskan ~istri Afnan di hijabnya.

 

Afnan mengusap kepala istrinya. "Becanda ... kok, aku nggak tahu. Kapan kamu pesan itu?" 

 

"Becanda kok keseringan, aku ogah dicurigain, lah," sungut Ziya sebal. "Pekan lalu, dah mbatin aja pasti di sindir-sindir mulu nanti," gerutunya sambil memanyunkan bibir.

 

Afnan lagi-lagi tertawa. Istrinya masih sangat muda, wajar jika Afnan sering cemas. Bila gadis seusianya masih sibuk main dan nongkrong, berbeda dengan Ziya. Wanita disampingnya telah berstatus istri.

 

Dua bulan lagi, Ziya berusia 20 tahun. Afnan sedikit lega, kehamilannya tertunda. Mungkin ini adalah cara Allah menjaga keselamatan Ziya sebab kondisi rahim wanita akan siap ketika memasuki usia matang. 

 

Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Hasil test keduanya belum menunjukkan perubahan signifikan.

 

Setelah selesai, Ziya memilih membatalkan pertemuan dengan Naufal Azhar karena Afnan terlihat lesu. Tapi, dokter itu malah menunggunya di parkiran.

 

"Zie! ... lagi program kehamilan, 'kan?" tebak Naufal melihat keduanya bergantian ketika telah di hadapan.

 

Ziya tak menjawab. 

 

"Ke klinik temanku saja. Terapi di sana," ucapnya seraya menyodorkan sebuah kartu nama pada Ziya.

 

Wanita ayu menerima dan membacanya sekilas.

 

Tatapan Afnan menajam, dia lalu melengos pergi meninggalkan keduanya. Sementara Ziya langsung kikuk dan buru-buru mengejar suaminya tanpa memedulikan Naufal. 

 

"Zie! Zie!" 

 

Ziya memutuskan berbalik arah pada Naufal. Dia menyerahkan kertas tadi pada pria itu. "Kita nggak ada masalah apapun. Tolong jangan campuri urusan kami lagi, Kang." 

 

Naufal melongo. Tindakannya ternyata salah diartikan oleh mereka. Ziya makin jauh dijangkau olehnya. 

 

Dalam perjalanan pulang. Afnan hanya diam membuat Ziya tak enak hati.

 

"Mas. Kita bisa," ucap Ziya menguatkan.

 

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!