Andai Tiada Mertua
Mandulity
"Kemana, Ma?" tanya Afnan yang baru saja tiba. Lelaki itu mendekati teras lalu mencium tangan Iwana.
Sang mama mendecak malas. "Ck, urusan wanita. Kamu diem aja, lah," tukas Iwana dengan ketus.
Afnan menggeleng pelan, dia lalu meminta Ziya mengambilkan minum untuk mereka. Wanita ayu itu terkesiap, melupakan adab karena terlalu fokus pada Iwana.
Saat Ziya masuk, Afnan mengajak ibunya bicara serius. Sang pemilik konveksi menilai sikap Iwana terakhir kali sudah masuk dalam kedzaliman. Namun, Iwana malah menuduh balik sang menantu yang bersikap sebaliknya.
"Sikap Ziya yang mana, mendzolimi Mama? Istriku itu, ya Allah, justru mendukung penuh untuk berbakti," kata Afnan menekan intonasi di beberapa kata.
"Dzalim sebab suka bantah keinginan mama lah, apa lagi?" oceh Iwana masih tak ingin damai.
"Kalau Ziya suka jawab, itu bukan bentuk kedzaliman melainkan pembelaan diri. Mama malah nyuruh Aisyah ikut julidin Ziya ... kalau urusan melayani keperluan Mama, bukan kewajibannya," tegur Afnan mengingatkan ibunya kembali.
"Loh, 'kan mama adalah mertua Ziya, harusnya dia nurut sama seperti pada orang tuanya," bantah Iwana lagi bersikukuh.
Afnan menghela nafas. "Nggak wajib melayani, Ma. Tapi, Ziya di sunahkan tetap menghormati dan berbuat baik pada Mama," kata Afnan mencoba menjelaskan perkara yang sesungguhnya.
"Nah, nggak salah dong," kilah Iwana menjeda ucapan putra sulungnya.
"Belum selesai, Ma. Haram bagi Ziya jika menghalangiku untuk berbakti. Jika aku memaksanya tunduk pada Mama ya ini baru dzalim. Apa yang Ziya lakukan sudah sesuai dengan perintah Allah ... tolong menolong lah dalam kebajikan dan takwa," tutur Afnan panjang mencoba membeberkan kebenarannya.
"Intinya dia harus tetap hormat, 'kan? nyatanya enggak tuh. Ada Shakira saja tidak menghormati tamu seperti ajaran yang kalian anut itu," ibu kandung Afnan masih terus melawan kenyataan.
Afnan menjeda, dia tak lagi langsung membabat pernyataan ibunya. Ziya pun datang dengan membawa sajian untuk mereka.
Putra Iwana lagi-lagi berniat mendamaikan segala hal agar antara ibu dan istrinya tak lagi terjadi gesekan dalam keseharian.
"Tegur aku saja apabila istriku melakukan kesalahan baik dalam sikap atau ucapannya. Lampiaskan kekesalan Mama padaku," pinta Afnan seraya menggenggam tangan Iwana dan menautkan jemarinya ke tangan Ziya.
"Harus ditegur langsung, dong. Masa melampiaskan pada orang lain. Ngaco kamu!" omelan Iwana kian menjadi.
"Aku imamnya, jika Ziya tidak dapat menghargai Mama berarti aku gagal menuntunnya dalam berperilaku. Dia bukan pembantu, jangan lagi membentaknya terlebih di depan orang lain," pungkas Afnan, mengecup telapak tangan Iwana yang bertaut.
Wanita paruh baya merasa lelah, baru kali ini Afnan membela istrinya sedemikian rupa. Sangat jauh berbeda kala bersama Yasmin dulu. Hal ini menggelitik benak Iwana chairi.
"Saat dengan Yasmin, kamu nggak gini, kenapa?" selidik sang bunda.
Ziya terkesiap, tanpa sadar membalas genggaman Afnan erat. Wanita ayu yang berdiri di sebelah suaminya pun kembali menunduk.
Dia harus menyiapkan hati apabila jawaban Afnan diluar harapannya.
"Karena dia bukan Ziya. Keduanya punya sisi baik dan buruk. Jangan ungkit dia lagi," ucap Afnan tak menyebut nama mantan istrinya. Dia mengecup pipi Iwana sebelum menarik Ziya hingga duduk di pangkuannya.
Iwana memutar bola mata malas saat putranya membubuhkan kecupan kecil di pipi Ziya.
Wanita senja itu lantas mengungkit topik awalnya lagi. Dia mendelik sinis pada sang menantu.
"Gimana mau hamil, kamu sok sibuk! Daripada pasrah nunggu, sok-sokan kuliah sambil kerja ... mending kamu cek ke dokter subur atau enggak. Jadi Afnan nggak sia-sia berharap," tutur Iwana lagi.
"Uhuk." Afnan terkejut hingga tersedak tak mengira kalimat Iwana setajam silet di pagi hari. "Maaa!!" tegurnya sedikit menaikkan intonasi suara.
"Mas!" Ziya menahan lengan Afnan, sebagai isyarat agar tak melawan.
"In sya allah pulang kuliah besok, aku ke dokter ya, Ma. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Ziya tersenyum manis meski hatinya perih.
Tanpa banyak bicara, Afnan meminta Ziya bangun dan masuk ke dalam rumah. Dia lalu menuntun ibunya agar kembali ke mobil, dan meminta maaf kesekian kali.
Iwana pergi dengan hati kesal karena dia belum puas mengintimidasi Ziya. Sementara Afnan berharap istrinya tak terluka atas perkataan sang bunda.
Ziya tersenyum manis saat Afnan masuk ke hunian, agar sang suami tidak merasa bersalah. Namun, lelaki itu malah menatapnya sendu.
"Maafin aku, tetap nggak bisa kontrol sikap mama," lirih Afnan memejamkan mata seraya memeluk istrinya erat.
Ziya tahu bahwa Afnan sedang melindungi hatinya. Dia mengusap punggung sang suami seraya berbisik jika terjadi lagi hal seperti ini, jangan menyikapi dengan emosi.
Putri Salamah itu mengajak Afnan untuk afirmasi positif. Meskipun keadaan tak sesuai keinginan, setidaknya ada doa yang telah dilambungkan.
Jika masalah cibiran saja membuat lemah, bagaimana dia akan melindungi keluarga kecilnya kelak. Ziya tak ingin sang mertua mengenal dirinya sebagai sosok cengeng dan manja.
Afnan memuji sikap istrinya yang masih membela Iwana. Ziya tak lagi menanggapi, dipeluk Afnan sudah menjadi obat bagi hatinya. Asal suami tampan ini setia menemani, putri Salamah akan kuat menghadapi aral.
Di penghujung hari, mereka memutuskan berjalan-jalan bergandengan tangan di sekitar taman komplek. Afnan membahas banyak hal, salah satunya tentang keturunan. Dia mengatakan tidak terpaku pada hal tersebut. Banyak nikmat selain keturunan.
Ziya juga menanyakan maksud tentang ucapan Iwana tentang ~agar tak sia-sia berharap~. Pikirannya tertuju pada poligami sehingga Afnan berujar tidak menentang hal tersebut tetapi enggan menjalaninya.
Kecemasan wanita dimana-mana adalah sama. Apakah sang suami akan terus sanggup bertahan di sisinya, apabila gempuran tak henti menerpa.
"Besok kita ke dokter sama-sama." Afnan meraup kedua jemari Ziya lalu membubuhkan kecupan di sana.
Putri Salamah mengangguk, entah bagaimana bila Afnan tak pandai membuat hatinya tenang. Mungkin dirinya sudah minggat pulang ke Bogor.
***
Setelah Ziya pulang kuliah, sembari menunggu waktu mengajar, keduanya pergi ke rumah sakit.
Berbagai test dilakoni Ziya dan Afnan secara bergantian. Mereka pun konsultasi dengan dokter obgyn, setelah semua proses medical selesai.
Keduanya diminta kembali lusa nanti untuk mendengarkan penjelasan hasil pemeriksaan. Jika hasilnya baik, maka dilanjutkan dengan program kehamilan. Begitupun sebaliknya, akan dilakukan upaya pengobatan.
Sesampainya di lobby rumah sakit, sebuah suara membuat keduanya menoleh.
"Hanan?" sebutnya dari meja informasi. Dia berjalan menghampiri ketika wanita yang dipanggilnya menoleh. "Ziya, 'kan?"
Wanita ayu mengerutkan kedua alisnya saat melihat sosok yang mendekat.
"Siapa, Sayang?" tanya Afnan mulai curiga.
"Ck, lupa, ya?" tebaknya ketika telah di hadapan mereka. Dia menjulurkan tangan pada Afnan. "Halo," sapanya ramah.
Afnan hanya menanggapi dengan senyuman sembari menyenggol lengan istrinya. "Sayang!"
"K-kang A--?" tebak Ziya balik menyapa pria tampan yang baru saja menyalami suaminya.
Pria itu tersenyum. "Ayo tebak, masih ingat nggak?"
.
.