Andai Tiada Mertua

Perang Dingin

Yasmin tak patah arang. Dia mengejar Afnan sebab merasa yakin bahwa lelaki itu akan mudah luluh seperti dulu.

 

"Mas!"

 

Afnan terus melangkah masuk ke mobilnya kemudian melaju. Dia melihat kekecewaan Yasmin dari kaca spion lalu menelpon Ghea, meminta kontak customer barusan. Seyakin itu, Afnan ingin mengakhiri kerjasama yang baru dia legalkan.

 

Dia menunggu Ziya di sebuah resto sembari membuat janji temu. Satu jam kemudian, pembicaraan antar dua pria pun berakhir damai. Mereka sepakat tetap melanjutkan perjanjian kerjasama.

 

Lelaki itu kemudian menjemput istrinya. Saat dia turun menyambut Ziya, wanita itu mengacungkan sebuah amplop.

 

"Mas!" pekiknya girang. "Aku dapat gaji dan bonus," kata Ziya melompat kegirangan.

 

Afnan ikut tertawa kecil dibuatnya. Senyum Ziya menular. "Alhamdulillah rezeki, padahal baru kerja berapa pekan ya, Sayang ... gaji perdana mau beli apa?" tanyanya sembari mengusap pipi sang istri.

 

"Traktirin, Mas." Ziya menunjuk sebuah tempat makan baru yang tampak cozy dari tampilan ponselnya.

 

"Ayo!" Afnan langsung menggandeng tangan istrinya kemudian membukakan pintu kiri untuk Ziya.

 

Wanita itu membuka isi amplop di dalamnya setelah duduk di mobil. Dia mendapat bayaran cukup besar hingga dahinya mengernyit. 

 

Sepucuk surat kemudian jatuh di atas pangkuan Ziya, tepat saat Afnan menyalakan mobil.

 

"Apa ini?" gumam Ziya, sambil membolak-balik kertas tersebut.

 

"Buka aja, Sayang. Salary kamu sedikit berlebihan kayaknya," sambung Afnan ketika melihat satu ikat pecahan lima puluh ribu. 

 

Ziya merobek amplop putih tadi dan membacanya. Dia dibuat takjub oleh tulisan di sana yang menyatakan bahwa uang tersebut adalah murni pemberian sebagai tanda terima kasih.

 

Beberapa wali murid merasa putrinya lebih termotivasi salat dan ngaji setelah Ziya menjadi guru pendamping di kelas sang anak. Pernyataan positif ini ternyata akumulasi pendapat dari mereka, sehingga sepakat memberikan Ziya hadiah.

 

"Maa sya Allah, banyak sekali. Pantas kepsek bilang 'dibuka di rumah, ya'." Ziya tak henti bersalawat dan mengirim doa untuk mereka.

 

Afnan ikut semringah. Istrinya memang tulus jika sudah mengerjakan sesuatu, dan hal itu terbaca oleh orang lain. "Allahumma baarik. Jadi sekarang mau kemana dulu?" 

 

"Mau sekalian beli setelan kerja, boleh?" kata Ziya lagi, mengerjapkan bola matanya ke arah Afnan.

 

"Kalau itu, aku yang belikan. Simpan uangmu, Sayang," sambut Afnan, membelai pucuk kepala Ziya.

 

Keduanya menghabiskan waktu berjalan-jalan dan pulang ke rumah menjelang pukul sebelas malam.

 

Iwana masih menunggu di ruang keluarga dengan Aisyah ketika pasangan Chairi tiba. Afnan menenteng banyak tas belanja, sementara Ziya membawa satu keresek berisi cemilan untuk stok di kamar mereka.

 

Saat melintasi ruangan luas itu, suara sumbang terdengar. 

 

"Bagus! Mulai pansos ya, Ziya!" Iwana mencibir saat melihat barang belanjaan mereka.

 

Mereka terus melangkah tapi tiba-tiba seseorang menahan lengan Ziya.

 

"Lepasin!" seru Ziya ketika tasnya akan diambil Aisyah. 

 

Afnan menoleh. "Ais!" Dia pun menjatuhkan barang bawaannya dan melerai mereka. Tapi, tas Ziya terlanjur terebut.

 

Iwana lantas mengambil benda itu dari tangan Aisyah. Kala Afnan akan meraihnya lagi, ibunya malah menjatuhkan semua isi di dalamnya.

 

Glatrak!

 

Pasangan Chairi membola, terlebih ketika Iwana menemukan amplop coklat serta mengambil dompet Ziya.

 

"MAAAA!" seru Afnan sudah hilang kesabaran.

 

Iwana mengambil satu kartu bertuliskan nama putranya dari dalam dompet. Dia yakin, Afnan memberi banyak uang pada Ziya di rekening tersebut.

 

"Ini ... mama yang pegang!" ujarnya mengacungkan kartu tersebut.

 

Afnan geram, tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia hendak melangkah tapi di tahan Ziya. 

 

"Ambil saja, Ma ... tapi, tolong kembalikan yang lainnya, karena itu bukan dari Mas," kata Ziya, memandang sendu pada Iwana.

 

"Oh, mulai blagu dia, Ma!" sambar Aisyah. "Mentang-mentang punya kerjaan. Baru segitu, sombong amat! Lama-lama dia berani ngelawan Mama nan-"

 

Afnan memejam, dia melangkah maju dan ... Plak! 

 

"ti ...." Aisyah memegangi pipinya, dia kemudian menunduk dan mundur ke belakang Iwana.

 

"Jangan lancang, benalu!" sentak Afnan dengan suara berat dan dingin.

 

Ziya menarik lengan suaminya mundur. Lelaki itu lantas memunguti semua barang Ziya yang berserakan. Kemudian merampas paksa amplop yang dipegang Iwana.

 

"Silakan nikmati istana kami. Istriku pensiun dini jadi ratu!" Afnan menarik Ziya pergi dari sana.

 

Iwana meradang. Dia berteriak, "Afnan, dengerin mama. Kalau bulan depan Ziya nggak hamil padahal kalian punya rumah baru dan asik berduaan, lihat saja nanti."

 

Wanita itu meraung sampai mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah Afnan.

 

Ziya menangis sepanjang perjalanan menuju hunian kosong milik sahabat Afnan. Dia merasa telah memisahkan anak lelaki dari ibunya.

 

Sementara Afnan, diam tanpa suara. Hatinya panas dan berusaha menenangkan diri sebelum dia membuat istrinya nyaman.

 

Setengah jam kemudian. Pasangan Chairi saling memeluk di dalam mobil ketika tiba di tujuan.

 

"Kita sementara tinggal di sini ya, Sayang. Maaf, nggak seluas rumahku di sana," bisik Afnan menenangkan Ziya.

 

"Balik aja, Mas. Aku takut mama murka lalu mengeluarkan sumpah serapah," cicit Ziya masih ingin bertahan di sana.

 

Afnan menggeleng. Dia tak setuju. Baginya kebahagiaan Ziya lebih utama. 

 

Lelaki itu lantas mengajak turun dari mobil. Untungnya mereka membawa sedikit demi sedikit baju ganti dari rumah lama. Menyetok kebutuhan harian serta mendekorasi ulang tempat ini sehingga nyaman ditempati. 

 

"Ngalah sebentar dan buktikan kalau kita bisa. Kamu juga butuh fokus antara kuliah dan ngajar." Afnan menjabarkan alasannya. "Nggak mungkin seterusnya di luar rumah setelah kerja, Zie. Tubuh kita punya batas kemampuan ... lagian, calon umma harus sehat," tutur Afnan panjang.

 

Ziya merasakan kehangatan menyelimutinya, meski hati masih kuatir karena Afnan memilih dia dibandingkan sang mama.

 

Sapaan wanita paruh baya yang mengatakan bahwa air untuk mereka mandi telah siap, mengalihkan fokus keduanya.

 

Malam ini, Ziya murung meski Afnan berkali meyakinkan bahwa Iwana lambat laun akan luluh. Dia juga berjanji menjaganya sebab sikap sang mama sudah keterlaluan.

 

Lelaki itu bahkan menawarkan Ziya untuk pulang menemui Salamah setiap dua pekan sekali, agar mendapatkan suasana baru sebelum berjibaku dengan aktivitas padatnya.

 

Semua Afnan lakukan demi istri yang dia cintai. Keadaan ini pun berlangsung hingga satu bulan ke depan.

 

Baru saja hidup dalam damai, lagi-lagi Iwana berhasil menemukan tempat tinggal mereka. Wanita itu datang mengusik Minggu pagi Ziya, saat Afnan masih jogging.

 

"Rupanya ini istana baru kamu, Ziya?" 

 

Deg!

 

Wanita cantik yang sedang merapikan tanaman bunga mawar di halaman depan rumah pun menoleh. Ziya bangun berdiri, gegas membuka pintu pagar untuk sang mertua.

 

"Apa kabar, Ma?" sapanya lembut seraya meminta salim.

 

Iwana hanya berdiri mematung di sana meski Ziya sudah menyilakannya masuk. "Hampir empat bulan, Ziya." 

 

Ziya mendongak di sisi teras. "Maksudnya, Ma?" 

 

"Kamu belum ada tanda-tanda hamil, gitu?"

 

Dhuar! 

 

'Ujian apalagi ini?' Ziya membatin. Wanita ayu ini lantas menggeleng samar sambil tersenyum. "Belum, Ma. Doakan kami segera dititipkan amanah," ucap sang menantu.

 

Iwana kemudian duduk di teras, memandang tajam menantunya. "Jadi untuk apa tinggal berduaan di sini kalau nggak ada hasilnya? Malah membuang uang Afnan!" 

 

Membalas ucapan Iwana sama saja bagai mengasah pisau. Ziya memilih diam mendengarkan dan menyiapkan hati agar tak terluka.

 

"Jangan-jangan kamu mandul!" kecam Iwana, sontak membuat Ziya membelalak. "Besok kamu ikut mama. Jangan sampai Afnan tahu!" ujarnya seraya bangkit.

 

"Kemana?" 

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!