Andai Tiada Mertua
Masa Lalu Bermunculan
"Siapa?!" tanyanya sekali lagi.
Aisyah menjawab singkat. "Istri barunya kak Afnan." Dia melihat ke samping, pandangan mereka pun beradu.
"Baru dua bulan, dia sudah nikah lagi?" cicitnya masih mengekori pasangan Chairi hingga mobil mereka menghilang.
Aisyah mengangguk pelan dan melajukan kendaraannya mengikuti kemana Afnan pergi. "Sekarang pernikahan mereka dah hampir dua bulan."
Setelah itu, tiada percakapan terdengar di antara mereka. Hanya suara Arman yang mengoceh meminta untuk segera pulang.
Kedua wanita itu melintas melewati kendaraan Afnan saat mereka parkir di depan sebuah tempat bimbel. Aisyah sampai harus memutar arah agar dapat melihat jelas dari seberang.
"Dia kerja?" tanya sang gadis saat melihat Afnan hanya mengantar hingga parkiran.
"Entah, ini lagi nyari tahu," jawab Aisyah. Dia lantas menyempatkan mengambil gambar sebagai bukti.
"Kok kepo? Ngapain?"
Aisyah menghela napas lalu menekan pedal gas segera pergi dari sana sebelum dipergoki Afnan. Dia menjelaskan bahwa sedang mendapat misi tugas dari seseorang.
Menantu Iwana itu meminta putranya tidur di mobil sebab urusannya masih panjang. Misi utama Aisyah belum selesai.
"Mau kuantar sekarang apa gimana, Yas?" kata Aisyah, melihat ke samping.
"Mau nguntit, ya?" tebak Yasmin sembari cengengesan.
"Iya, demi hidup nggak terlunta-lunta. Aku rela jadi jongos," sahut Aisyah lagi dengan wajah masam.
Aisyah lantas bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya kini. Arman adalah satu-satunya penyelamat sebab keluarga Iwana hanya memandang keturunan almarhum.
Menjelang sore, semua pekerjaan ibu muda itu usai. Dia pun kembali ke rumah Afnan.
Suasana pagi hari masih seperti biasanya, mereka sarapan sesuai selera masing-masing.
Ziya berangkat lebih dulu sebab ada jadwal matkul yang harus dia majukan. Hari ini dia diminta kepala sekolah agar tiba di bimbel sebelum Zuhur sehingga istri Afnan itu terpaksa ikut pembelajaran di kelas lain.
Hanani Ghaziyah diterima menjadi guru pendamping tahsin di Al-Ghifari. Siang nanti, ada pertemuan bulanan antara staf Sekolah Alam Al-Ghifari dengan kru bimbel. Kesempatan ini dirancang untuk saling asah dan asih karena tergabung di naungan yayasan yang sama.
Setiap hari, sebelum pulang ke rumah, Afnan membantu menyelesaikan tugas kuliah Ziya di workshop. Sehingga kesempatan memupuk quality time atau pillow talk, menjadi lebih panjang.
Jika tidak ada tugas kuliah atau bimbel, maka mereka akan menghabiskan waktu untuk makan atau sekadar nongkrong sampai situasi di rumah sedikit lengang.
Matahari tepat di atas kepala saat Afnan menjemput istrinya di Kampus. Ketika telah sampai di parkiran bimbel, dia kembali melihat sosok tempo hari yang berjalan bersama Ziya.
"Sayang, itu siapa?" tanya Afnan menunjuk pada sosok yang baru turun dari motor lalu masuk ke gedung bimbel.
Ziya mengikuti arah telunjuk Afnan. Tapi, begitu banyak orang di sana, membuatnya bingung untuk mengenali siapa yang dimaksud oleh sang suami.
"Bu Zaylin, Mas." Ziya menunduk, bersiap turun dari sana.
"Bukan itu ... sebelahnya lagi," sanggah Afnan, masih melihat ke arah semula.
Ketika Ziya mendongak lagi, sosok yang dimaksud sudah menghilang di balik pintu kaca. Dia tak dapat mengenalinya, membuat Afnan mencebik kecewa.
Wanita itu terkekeh sembari membelai pipi suaminya. Dia tahu Afnan mulai cemburu, terbukti dari caranya meminta Ziya agar mengenakan cincin pernikahan mereka.
"Ada ini," kekeh Ziya sembari mengangkat jari kanan di depan wajah Afnan. "Lagian sudah di stempel juga," imbuhnya malu-malu.
Afnan jadi gemas sendiri. Dia menggenggam jemari istrinya dan mengecup lembut di sana. "Kalau langsung hamil, cuti kuliah aja, ya."
Ziya sedikit terkejut atas permintaan sang suami. Terlintas dalam benak, apa yang sedang dirintis harus terhenti lagi. Namun, sejurus itu dia mengangguk. "He em."
Afnan melepas kepergian istrinya itu. Dia lalu kembali ke workshop sambil menunggu urusan Ziya selesai.
HR-V hitam metalik kembali masuk ke pelataran AF design. Saat akan turun, Afnan meragu karena melihat mobil yang tidak asing baginya.
Jika tidak dipergoki oleh Ghea yang terlihat terburu menahannya, Afnan sudah pergi dari sana.
"Pak, ditungguin klien penting di dalam," ujar gadis berkacamata itu, berdiri di sisi mobil Afnan.
Afnan pun turun. "Siapa?"
"Asisten wakil DPRD kota. Mau nawarin kerjasama katanya," sambung Ghea seraya menyerahkan sebuah catatan untuk pimpinannya.
Sesampainya di ruangan, dugaan Afnan terbukti. Dia menarik napas sebelum berjabat tangan dengan tamunya.
Pembicaraan serius berlangsung lancar, hingga suatu pernyataan dari sang asisten itu membuat Afnan melirik tajam ke arah seseorang yang dikenalnya.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa deal suami istri," ujarnya semringah.
Afnan mengernyit heran. "Maaf, maksudnya?"
Pria itu menunjuk ke arah seorang wanita cantik yang sedari tadi hanya diam. "Loh, bukannya Bu Yasmin ini istri Anda? ... beliau yang merekomendasikan AF design pada kami," imbuhnya ikut terheran atas reaksi Afnan.
"Ehm, gini, Pak--" Yasmin ikut bersuara tapi ucapannya di jeda oleh Afnan.
"Beliau bukan istri saya." Afnan mengulas senyum tipis sembari memutar satu pigura bertempel foto Ziya, ke hadapan tamunya. "Yang ini, baru benar."
Lelaki itu tertawa canggung seraya meminta maaf sebelum keluar dari ruangan Afnan. Ghea kemudian mengantar klien tersebut hingga ke depan.
Yasmin masih duduk di sana, membuat Afnan membuka lebar pintu ruangan dan tetap berdiri di lawang pintu.
"Kukira kamu nggak bakal berani," ucap Afnan sinis untuk sang mantan.
Wanita ayu itu tersenyum manis. "Koneksi yang sayang untuk dilewatkan, entah kenapa langsung inget sama kamu," jelasnya sambil menopang kaki.
"Oh, baiknya aku cancel saja kalau gitu." Afnan lalu memanggil Ghea agar menyiapkan surat resmi pembatalan projects barusan.
Sekretaris Afnan itu mengernyit heran, tapi dia tak banyak berkomentar dan langsung mengiyakan perintah bosnya.
"Jangan! Please," pinta Yasmin memohon.
Afnan semakin yakin, ada sesuatu dibalik ini semua. "Apa maumu?"
"Balikan! ... aku janji bakal berubah," katanya lagi penuh penegasan.
Afnan tertawa kecil. Dia teringat ucapan Yasmin sebelum talaknya jatuh. Bukankah sang mantan mengatakan takkan menyesal dan mengganggu hidupnya lagi?
Lagipula, kondisi kamar tamu yang berantakan siang itu masih menjadi misteri bagi Afnan. Meskipun kini kebenarannya tak lagi berarti.
"Ngimpi! ... bukankah saat itu kamu begitu percaya diri ingin kembali padanya!"
Yasmin menelan ludah kasar. Dia baru saja menjilat perkataannya sendiri. Lelaki yang diagungkan ternyata enggan meninggalkan istri pesakitannya itu, membuat Yasmin merasa dibodohi.
Dia ingin kembali pada Afnan, sebab hanya pria inilah yang menerimanya tanpa syarat. Bahkan tidak banyak berkomentar dengan segala tabiatnya.
"Mas!" sebutnya lirih.
Netra cantik wanita bernama Yasmin Khan, menatap tajam ke dalam manik mata Afnan. Tersirat keraguan yang hendak di sampaikan lewat binar itu. Namun perlahan dia tepis, sudut bibirnya sedikit demi sedikit terbuka.
"Aku mohon pertimbangankan," imbuhnya meski dia merasa rendah.
"Sama seperti dulu. Istriku hanya satu." Afnan memilih pergi sebab Yasmin enggan beranjak dari sana.
.
.