Andai Tiada Mertua
Ancaman Mama
Ini bukan kali pertama sang mertua mengintervensi hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
Dalam gelisah, benda pipih yang sedari diatas nakas, berdering. Ini adalah jam rutin Afnan menghubungi dirinya via udara.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Afnan lembut seperti biasa. "Sudah ketemu?" sambungnya tentang niatan Ziya yang mencari tempat untuk mengajar ngaji.
"Wa'alaikumsalam. Baru mau nyari, Mas ... ehm--" balas Ziya menggantungkan pernyataan.
"Mama bilang sesuatu?" tebak Afnan asal.
Ziya terkekeh, suaminya memang peka. "Tau aja, ya."
"Tau, lah. Jangan ada yang di tutupi, Sayang," pinta Afnan, mengingatkan ikrar malam pertama mereka saat di rumah Ziya.
Putri Salamah lantas menceritakan keinginan Iwana yang meminta tambahan uang untuk keperluan rumah. Ziya tak keberatan lantaran semua itu demi kebaikan seluruh penghuni.
Namun, Afnan berpendapat lain. Dia justru kuatir bilamana ini akan menjadi kisruh antara mereka.
"Jangan pernah mengizinkan mama masuk ke dalam wilayah kita, Zie. Meskipun aku tahu, kamu meloloskan keinginan beliau karena bakti serta membantuku untuk tetap menghormati mama, tapi ini salah," jawab Afnan keberatan.
Ziya diam, separuh mengiyakan tapi sebagian menolak. Toh, harta yang dibelanjakan untuk membahagiakan orang tua takkan pernah habis, justru bertambah, pikirnya.
Afnan tetap menolak. Nada suaranya sedikit meninggi ketika Ziya memaksa.
"Dengerin aku, Sayang. Jika kamu loloskan, maka permintaan mama makin banyak padamu. Lambat laun kamu nggak punya hak atas aku, Zie. Tolong berpikir jauh, jangan bebal!" kesal Afnan.
Bukan dirinya tak mengerti niatan sang istri untuk menghargai Iwana. Akan tetapi cara yang Ziya gunakan salah, terlebih ibunya memiliki sifat demikian.
Putri Salamah sedikit terkejut mendengar nada tinggi suaminya. Dia semakin bingung sementara ketukan di pintu kamar mulai intens terdengar.
Tok. Tok.
"Siapa itu?" tanya Afnan ketus, mendengar samar suara di ujung sana.
"Entah. Tadi aku bilang ke mama, nunggu Mas pulang," jawab Ziya takut-takut.
Afnan menghela nafas. Dia meminta pada istri kecilnya, selama kuliah belum dimulai agar berhati-hati ketika menjalin interaksi di rumah. Ziya pun mengangguk bersamaan dengan berakhirnya panggilan.
Ziya membatin, apa kudu cari wangsit, atau istikharah hanya untuk mengambil keputusan duniawi saja? Dia lalu meletakkan ponsel di atas ranjang dan membuka pintu kamarnya.
"Ya?" Sapa Ziya menyembul dibalik pintu.
"Bu Ziya, dipanggil nyonya besar di bawah. Ada tamu katanya," kata Iroh menyampaikan pesan.
"Siapa?" tanya Ziya terheran, dirinya belum memiliki seorang kawan pun di sini.
"Nggak tahu. Ini mau antar suguhan tapi diminta manggilin Bu Ziya dulu," ungkap wanita paruh baya tersebut.
Ziya mengangguk. "Aku ke bawah sebentar lagi, mau cuci muka dulu," balas sang menantu, seraya menutup pintu.
Beberapa menit berlalu. Hanani Ghaziyah menuju ruang tamu. Dari anak tangga terakhir, terdengar suara tawa Aisyah juga ibu mertua dari sana.
Siang ini, istri Afnan chairi terlihat berbeda. Dia memakai make-up tipis dengan sentuhan perona bibir berwarna peach juga blush on dan eye shadow serupa. Dipertegas oleh eyeliner hingga ujung, membuat mata bulatnya kian tegas nan kontras.
"Mama manggil aku?" tanya Ziya saat telah mencapai ruangan dan melihat Iwana di sana.
Ketiga orang wanita yang sedang bercengkrama itu bersamaan melihat ke arah Ziya.
Iwana mengangguk lalu meminta Ziya mendekat. Dia menarik pergelangan tangan menantunya agar ikut bergabung.
"Kenalin, ini Shakira," ujar Iwana, menunjuk ke arah tamunya.
Ziya mengulurkan tangan ke udara, dan disambut ramah oleh wanita ayu nan elegan. "Ziya," ucapnya tegas sambil duduk.
"Shakira," ujar sang wanita, tersenyum ramah.
"Dia dokter kecantikan, loh, Ziya. Mereka sempat dekat," sambar Aisyah, mengulas seringai jahil.
Ziya melepas tautan mereka, ekspresinya datar seraya menjawab, "Oh!"
Shakira menunduk malu-malu saat Aisyah kembali berceloteh. "Sebelum kakak memilihmu, dia adalah kandidat kuat," sambungnya memanasi.
"Oh, kandidat. Maaf ya, tidak dipilih," balas Ziya, menohok tepat hingga ekspresi kedua wanita ayu itu berubah masam.
Iwana lantas menegur menantunya sebab berlaku tidak sopan pada tamu.
Putri Salamah tak kalah argumen. Dia menyampaikan sangkalan bahwa Aisyah lebih tidak senonoh kala menceritakan latar belakang Shakira, terlebih di hadapan istri sah lelaki yang dia maksud.
Inginnya menahan diri, tapi Ziya merasa bahwa Iwana kelewat batas kali ini.
"Aku nggak niat merebut, Ziya," elak Shakira dengan senyum mengejek, dia memindai penampilan Ziya dari atas hingga bawah.
Ziya beralih pandang pada wanita centil ini. "Hmm, ada yang salah?" Ziya tak suka cara Shakira memandangnya.
Shakira melayangkan lirikan sindiran atas penampilan istri Afnan chairi. Pantas bila Iwana mengatakan bahwa menantunya kali ini biasa saja. Mengajak pergi ke kondangan pun harus dipikirkan matang-matang.
"Gak selevel, bilang aja jujur, Shakira. Ziya sudah biasa menerima kritik pedas sebab faktanya begitu," ucap Aisyah tanpa rasa bersalah.
Shakira terlihat menahan senyum simpul. Begitupun dengan Iwana, membuat Ziya dongkol setengah hidup.
"Alhamdulillah banyak yang nganan," kata putri Salamah semringah, berusaha menjaga hati meski sesak mulai mendera. "Silakan dilanjut sedekah pahalanya," imbuh Ziya sembari bangkit.
Iwana tertawa kecil melihat sikap menantunya. Dia bahkan mengatakan pada Shakira bahwa hati Ziya seluas samudra, terbukti ketika di ejek pun dia tetap ceria.
Aisyah lantas mengatakan bahwa tadi hanya gimmick-gimmick untuk menguji kesabaran Ziya.
Istri Afnan ini mengangguk, lalu mundur beberapa langkah. Sungguh membuang waktu, pikirnya.
"Yang pergi, akan tetap berlalu, walaupun kita telah menjaganya dengan begitu kuat ... yang datang, bakal terus hadir dan mendekat, meskipun kita tidak menginginkannya," tutur Shakira, memandang punggung Ziya. Seakan ingin menegaskan sesuatu.
Menantu Iwana berhenti, menoleh ke arah Shakira seraya tersenyum manis. "Jika hati sudah siap menyakiti orang lain, maka seharusnya mental pun telah kuat untuk disakiti-" Ziya menjeda ucapannya.
"Kalian tahu tidak, harapan para orang tua menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi?" tanya Ziya, melihat bergantian pada mereka.
Iwana diam, Aisyah hanya menyeringai tipis sementara Shakira menunduk dalam.
Karena tiada yang menjawab, Ziya pun melanjutkan, "Simpel sih, di sekolahkan tinggi seharusnya menjadi orang berguna, bukan untuk jadi orang ketiga," pungkasnya, telak membalas ucapan Shakira. Dia lalu menunduk, melenggang pergi meninggalkan ruang tamu.
"Pfftt." Aisyah menahan tawa, dia melihat wajah Shakira merah padam karena malu.
Iwana memang berani, menyodorkan wanita ini sebagai cadangan. Aisyah sungguh tak mengira langkah nekat mertuanya ini.
Melihat dokter kecantikannya di hina, Iwana bangkit, dia masuk ke dalam mengejar sang menantu.
Ziya pun menoleh, lengannya langsung ditarik agar mengikuti Iwana ke sudut ruang keluarga. Sebuah pernyataan menyakitkan diterima telinga Ziya siang itu. Wajahnya langsung berubah pias.
"Makanya, jangan sok!" ancam Iwana seraya melepaskan cekalan.
Paras ayu bermake-up flawless berganti pucat pasi. Tulangnya seakan melunak tak lagi mampu menjadi penyangga gumpalan daging bernyawa. Tubuh Ziya seketika luruh jatuh menyentuh lantai.
.
.
________________