Andai Tiada Mertua
Ulah Mama
Afnan tercenung atas pertanyaan Ziya. "Nggak pantes gimana maksud kamu, Sayang?" katanya mengernyit heran.
"Ya ngerasa nggak pantes saja. Semua membandingkan aku dengan d-dia," cicit Ziya menundukan pandangan, tak kuasa menatap manik mata teduh milik suaminya.
Afnan mengerti, status pernikahan mereka memang sulit bagi Ziya. Terlebih Yasmin adalah wanita sosialita. Beberapa produk skincare bahkan pernah meminta jasa endorse padanya, sehingga perbedaan penampilan mereka sangat kontras.
"Sesungguhnya, harapan dan gambaran istri bagiku adalah sepertimu, Sayang. Jangan bahas lagi, just the way you are, Ziya," tegas Afnan chairi mengajak Ziya duduk di sini ranjang.
Putri Salamah bergeming. Hatinya masih risau. Namun, keadaan ini tak Afnan biarkan, dia menghibur gundah istrinya.
"Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan pandangan suaminya, menampakkan rasa cinta kala berada di dekatnya," sambung Afnan.
Dia juga mengatakan bila istri di tuntut menyuguhkan keindahan untuk suami, maka demikian pula para pria. Sentiasa menjaga pandangan hanya untuk mahramnya. Afnan masih berusaha meyakinkan Ziya bahwa hanya dia yang dipuja.
Perlahan, kepala yang menunduk itu mulai terangkat, menampilkan senyuman manis yang sejak dulu Afnan damba.
"Alhamdulillah. Harusnya sih nggak perlu risau apalagi jelaous," kekeh Afnan melihat Ziya kembali semringah.
"Yeee, bahkan Sayyidah 'Aisyah pernah cemburu pada Sayyidah Khadijah," sanggah Ziya mengelak tuduhan suaminya.
"Iya, Sayang. Cemburu itu ada kok yang disukai dan dibenci Allah. Apalagi bila dilandasi keraguan. Jangan sampai zhan (prasangka) menjadi awal hancurnya sebuah kepercayaan," tutur menantu Salamah, seraya menjulurkan telapak tangan mengusap wajah bidadari di depannya.
"Makanya ... biar gak ada zhan," cicit Ziya, masih membela diri.
Afnan hanya menyunggingkan sebaris senyum sembari mengangguk samar, sikap manis yang jarang dia perlihatkan untuk Yasmin.
Kiranya perjalanan Ziya masih seumur jagung menghadapi halang rintang dalam bahtera. Namun, apa yang dia rasa telah tergambar jelas bahwa semua ini tak mudah.
Keesokan pagi, sesuai permintaan Afnan, menu sarapan kali ini adalah penjelmaan selera masing-masing. Terbukti, Arman lebih memilih sesuatu yang Ziya suguhkan di atas meja ketimbang sajian milik dua wanita lainnya.
"Arman, jangan makan itu. Nanti muntah dan diare, padahal baru sehat," sungut Aisyah seraya menjauh. Dia tak diperkenankan berada satu meja dengan penghuni rumah.
Afnan mengernyitkan dahi. "Bagaimana jika uwa Ziya yang masak semua makanan Arman hari ini?" tanya Afnan untuk keponakannya. "Biar bundamu tahu kalau Arman menyantap makanan real food," tegasnya sambil melirik Aisyah.
Putra Aisyah menoleh ke arah uwa nya. Dia mengangguk antusias. "Ok, asik," pekik sang bocah dengan rambut lurus dan poni menutup dahi, riang.
"Jangan dimanja, nanti keterusan, Kak!" kata Aisyah seraya menjauh.
"Kalau keterusan, kamu bisa sekalian belajar sama Ziya bukan? so simple," balas sang kepala keluarga menyanggah ucapan mantan adik ipar.
Aisyah berhenti melangkah lalu berbalik badan melirik tajam pada kakak iparnya itu. Dia tak setuju dengan pernyataan Afnan.
Iwana lantas menengahi dengan mengalihkan topik pembicaraan. Dia menawarkan menu sarapan pada cucu satu-satunya.
Arman menolak. Dia bahkan berceloteh alasannya tak menyentuh hidangan sang nenek sebab itu terlihat pedas.
"Ini bukan masakan nenek. Pasti pedas," oceh Arman ketika disodori lontong sayur, mengundang senyum simpul Afnan.
Aktivitas pagi menggelitik mengantar pasangan Chairi mengakhiri sesi sarapan. Tak lama semua penghuni mulai membubarkan diri, terutama Afnan.
"Mas, aku boleh nyambi ngajar ngaji di sekitar sini nggak, lepas pulang kuliah?" tanya Ziya saat mengantar sang suami menuju mobil.
"Boleh, pakai laptopku di atas nakas. Cari sekolah yang dekat dari kampus atau rumah, Sayang. Sandinya, semua tentang kamu," ucap Afnan sebelum pergi. "Janji, jangan terlalu capek."
Ziya mengangguki ucapan manis Afnan lalu mundur beberapa langkah saat kendaraan roda empat itu mulai menderu.
Beberapa saat setelah itu. Iwana sudah menunggu menantunya di ruang keluarga. Denting alat makan yang beradu pada pinggan kian terdengar sebab Aisyah baru saja sarapan.
"Ziya, sini," panggil Iwana saat Ziya akan menaiki tangga, sekaligus memintanya duduk di sofa.
"Ya, Ma?" sahutnya seraya menghampiri dan duduk berseberangan.
Iwana menyodorkan satu lembar catatan. "Ini daftar kebutuhan rumah. Tapi, kamu nggak usah pusing, mama yang mengaturnya," kata Iwana.
Ziya meraih apa yang di letakkan sang mertua. Membacanya pelan di sana. "Ini?" tanya putri Salamah terheran.
"Mintakan tambahan uang ke Afnan. Gitu aja nggak ngerti, kamu sekolah lulusan apa, sih? esde?" cibir Iwana, merasa menantunya lemot.
"Enggak nyampe otaknya, Ma. Beda sama Yasmin yang lulusan S1 di LN," sambung Aisyah dari meja makan yang tanpa sekat dengan ruang keluarga.
Istri pemilik usaha konveksi menghela nafas. Ziya bertanya pada Iwana, bukankah sang suami telah mengalihkan dana itu langsung padanya. Lalu, mengapa meminta kekurangan tersebut ke Ziya padahal dia tak punya kuasa. Dia bilang, akan menyampaikan ke Afnan saat beliau pulang nanti.
Iwana menampik usulan itu, dia mengaku telah bicara dengan Afnan dan harus meminta uang ke Ziya.
"Kata Mas, yang di rekeningku ya khusus buat jajan dan kebutuhan pribadiku saja, Ma."
"Tuh, kan. Kamu punya uang lebih ... jadi istri itu harus pinter jangan dikit-dikit ngadu. Kan kamu sendiri yang bilang kalau Afnan tetap anakku. Jadi mama berhak atas hartanya," omel Iwana merasa Ziya berlebihan.
"Mas Afnan itu kepala keluarga di sini. Pesannya adalah amanah dan aku gak bi-" bela Ziya menjelaskan kedudukannya, tapi dijegal Aisyah.
"Heleh, bilang aja caper! eh Ziya, dulu Yasmin loyal banget, nggak itungan. Kamu punya apa? segala numpang kok," cerocos Aisyah, menguatkan argumen Iwana. "Kamu belum banyak kebutuhan, lah. Bagi dikit ke mama ngapah."
"Numpang bilang numpang, punya kaca nggak, Mbak?" balas Ziya telak untuk adik ipar suaminya.
Aisyah naik pitam, dia tergopoh menghampiri lawannya. "Eh, nyolot ya bocah!"
Iwana menengahi lagi. Dia menengadahkan telapak tangan di udara meminta sesuatu pada Ziya. Rasanya tak rela bila Afnan jor-joran memanjakan Ziya, si gadis kampung. Sebisa mungkin, dia harus ikut mengontrol pengeluaran pribadi sang menantu.
Tampaknya sang mertua harus menelan kecewa. Ziya memilih bangkit dan berlalu dari sana sembari meminta maaf tidak dapat meloloskan permintaan Iwana segera.
Aisyah mulai berulah dengan mencari perhatian Iwana. Dia mengumpati Ziya seraya mengacungkan sendok ke udara.
Putri Salamah terus melangkah menaiki barisan anak tangga menuju kamarnya. Akankah dia sampaikan tentang hal ini? mungkinkah nanti timbul perselisihan kembali di antara ibu dan anak akibat ulahnya mengadu?
'Gini ya rasanya satu atap dengan mertua dan ipar,' batin Ziya.
Wanita ayu itu mematut diri di depan cermin. Menilik apa kekurangannya sehingga selalu dibandingkan.
"Oke, aku akan belajar menghargai diriku, hanya untuk kamu, Mas. Dan sekarang, ngomong nggak ya kalau ibu minta tambahan uang untuk kebutuhan rumah?" Ziya meragu, berkali membuka aplikasi pesan, tapi selalu urung mengetiknya.
.
.
_______________