Andai Tiada Mertua
Dibandingkan
Hanani Ghaziyah mengukir sebaris senyum manis saat memutari meja makan untuk melayani mertuanya sarapan.
"Ziya bantu, Ma."
"Kamu jawab pertanyaan mama tadi, amanah apaan?" cecar Iwana tak melepas pandang pada sang menantu.
"Menjaga harta suami, salah satu amanah yang harus Ziya pegang teguh, Ma. Bukan cuma memprioritaskan kebutuhan beliau saja tapi banyak hal lainnya, meski Mas Afnan gak merinci detail. Itu sebagai bentuk ketaatanku padanya," tutur Ziya panjang sambil menuangkan air minum Iwana.
"Zie, duduk," titah Afnan melihat Ziya begitu sibuk meladeni mereka sementara dirinya terabaikan.
Tak ada pembicaraan sesudah itu, hanya terlihat interaksi manis saat Afnan sesekali menyuapi istrinya di depan Iwana.
Setelah isi dalam pinggan habis, Afnan bangun lebih dulu dan menuju ruang kerja tak jauh dari sana. Ada beberapa dokumen yang harus dia siapkan pagi ini terkait pesanan pelanggan.
"Sayang, aku tunggu di sana, ya." Afnan menunjuk ke arah kanan dan diangguki Ziya yang mulai membereskan peralatan bekas makan mereka.
Iroh datang membantu nyonya muda merapikan kembali meja makan, bersamaan dengan Iwana yang menuju kamarnya. Kala sang menantu muncul dari dapur, dia menghampiri Ziya.
"Nih, katalog menu yang bisa kamu gunakan sebagai referensi. Jangan bawa menu makanan kampung, anakku bisa diare nanti," sindir sang mertua, seraya meletakkan beberapa majalah kuliner di atas meja makan.
Ziya melirik sekilas judul sampul majalah kuliner itu. Kepalanya mengangguk pelan lalu dia mengambil semua benda tersebut tanpa berkomentar.
Rupanya Iwana tak puas dengan respon Ziya yang tetap tenang. Malah gadis itu melenggang pergi menjauhinya tanpa terlihat tertekan. Ketika Ziya baru meniti anak tangga, dia memanggilnya lagi.
"Ah, satu lagi. Kamu nggak malu pakai baju begitu sementara suamimu perlente? kontras sekali dengan Yasmin," sindir Iwana. Matanya memindai penampilan Ziya dari atas sampai bawah. Dia sedang mencoba memancing reaksi Ziya bila dibandingkan dengan mantan menantunya yang lalu.
Lagi-lagi Ziya hanya berbalik badan sambil mendekap semua majalah tadi di depan dada. Dia ikut mengoreksi tampilan diri karena delikan iwana. Namun, ekspresi wajah ayu itu biasa saja meski hatinya sekuat tenaga menepis ngilu.
Masih berdiri bersedekap, wanita tua ini pun kembali mengoceh, "Benar-benar, apa yang Afnan lihat dari kamu. Bahkan Aisyah pun dulu nggak sekumal ini, Ziya!" imbuh Iwana lagi, mengeluarkan semua kalimat sarkas untuk menantunya.
Ziya menarik napas panjang. "Kumal? Bukannya semua baju di dalam lemari itu berdasarkan pilihan Mas, ya? Aku tinggal pakai, loh," sahut Ziya, membela diri.
"Masa? selera Afnan berubah karena kamu berarti," sambar ibu Afnan, sambil lalu meninggalkan menantunya.
Iroh yang melihat perdebatan kecil mereka, khawatir mental Ziya akan tertekan akibat kata-kata Iwana nan pedas, sebab wanita ayu itu lebih banyak diam. "Bu, sabar ya," bisiknya, menenangkan Ziya.
Putri Salamah membalas dengan senyuman manis atas dukungan sang asisten. "Kata ayah, kalau nggak sabar, maburo alias terbang," kekeh Ziya menghibur diri sendiri sebelum melanjutkan langkah menapaki tangga.
"Jangan kira mama nggak denger cekikikan kalian," omel Iwana dari jauh sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Ziya dan Iroh saling pandang, lalu kembali cengengesan sebelum membubarkan diri.
'Baru satu hari, Ziya. Akan banyak lagi hal macam ini di lain waktu,' batinnya saat berjalan menuju biliknya.
Ziya menekan handle pintu kamarnya lalu gegas menutup kembali lempeng kayu bercat putih itu. Dia bersandar dan jatuh luruh menyentuh lantai. "Ishbir, Ziya. Ishbir ...."
Sementara di ruangan kerja Afnan, Iwana mulai menyampaikan tentang kondisi Aisyah. Pemilik konveksi itu kaget bukan kepalang dan langsung menanyakan tentang Arman, keponakannya.
Memanfaatkan hal tersebut, Iwana lantas meminta Afnan menampung keduanya sampai Aisyah kembali mandiri.
"Aku rundingan dengan Ziya dulu, Ma," jawab Afnan sambil bangun berdiri hendak keluar ruangan.
Iwana ikut bangkit mengekori putranya. "Ziya pasti nurut kamu, lah."
"Kalaupun gitu, tetap saja Aisyah bukan mahram bagiku. Kalau nanti ada fitnah bagaimana?" imbuh Afnan terus melangkah menuju ruang tengah. "Sayaaaang, ayo," serunya di ujung tangga, memanggil Ziya.
"Kan ada mama. Jangan kebanyakan ngeles, apa susahnya bantu, Af!" sergah Iwana. Dia meraih lengan Afnan sampai menghadapnya.
Ziya mulai turun membawa sebuah map. Samar terdengar perdebatan antara mertua dan suaminya, tapi dia berpura tak paham apa yang sedang dibicarakan.
Iwana memindai tampilan Ziya. Gadis ini cantik juga jika berdandan rapi dengan setelan blazer layaknya pekerja kantoran.
"Mau kemana?" tanya Iwana, beralih perhatian pada sang menantu.
"Daftar kuliah, Ma," sahut Ziya seraya meraih tangan Iwana untuk salim.
Afnan langsung menarik lengan istrinya keluar rumah setelah pamit tadi. Ekspresi Iwana mulai terlihat aneh kala mendengar jawaban Ziya.
"Yang bayarin sekolah siapa, Afnan?" serunya dengan wajah kesal saat melihat pasangan itu pergi.
Selama perjalanan menuju kampus, Afnan menceritakan tentang kondisi Aisyah atas penuturan Iwana. Dia berpesan pada Ziya agar menjaga jarak dengan Aisyah juga ibunya persis pesan semalam sebelum mereka tidur.
Ziya hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis. Meski pada kenyataannya nanti, pasti bakal terjadi banyak benturan. Dia teringat kisah ipar dan mertua yang berselisih jika tinggal satu atap.
"Hmm, Mas, apa aku jelek dan kumal?" tanya Ziya teringat ucapan Iwana.
"Kumal? Kata siapa, mama?" Afnan langsung menaruh curiga pada ibunya.
Ziya diam, merasa telah salah bicara hingga suaminya menaruh prasangka. "Nanya aja, gak ada yang bilang begitu, kok," elak Ziya mencoba memperbaiki sangkaan.
Afnan Chairi mengusap pucuk kepala Ziya. Berharap apa yang dia sampaikan dapat menjadi penghibur hati.
"Kumal dan jelek? ... bagiku keduanya tak ada padamu. Jangan insecure, kamu tahu apa dampak dari itu?" Afnan mencoba mengutarakan isi hati menilai sosok istrinya.
Ziya menoleh. "Apa, Mas?" selidik Ziya.
"Kalau terlalu insecure nanti Allah sedih, sebab ciptaan-Nya tidak di hargai. Hal itu juga, tanda lemahnya syukur, loh. Wajahmu gak se-glowing orang-orang? Zie tahu bukan apa yang harus dilakukan?"
"Hm, tahu. Perbanyak wudhu dan salat di penghujung malam," jawab Ziya lirih. "Skincare-an juga sebagai ikhtiar bumi," kekehnya diikuti Afnan.
"Pinter. Allah gak minta kita, tidak menyuruh untuk cantik dan tampan secara berlebihan, ada gitu hadist seperti itu?" tutur Afnan lagi, tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Putri Salamah menggeleng, mencoba berpikir ulang tentang ajaran yang dia dapat. "Palingan boleh dandan kalau buat mahram."
Afnan mengangguk. Dia lalu menjelaskan tentang permintaan Allah agar umatnya taat dalam hal ibadah dan kebaikan.
"Sudah banyak wanita yang cari perhatian dengan bikin konten agar diakui cantik. Semoga istriku tidak pernah merasa seperti itu. Di mataku, Hanani Ghaziyah sudah sangat ayu sejak dulu," tutur Afnan seraya kembali melajukan mobilnya.
Dia melirik, rona wajah Ziya bersemu merah saat ini, namun wanita itu menolak saat diminta melihat ke arahnya membuat Afnan gemas dengan mencubit pipi sang istri.
Urusan pendaftaran kuliah Ziya selesai. Pasangan Chairi lalu melanjutkan perjalanan menuju workshop. Afnan mengenalkan Ziya sebagai istrinya pada sejumlah karyawan di sana.
Waktu terus berputar hingga semburat senja mulai muncul. Keduanya pun menapak hunian Afnan lagi dan dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Kamu ....!"
.