Andai Tiada Mertua
Ulah Aisyah
Iwana mendelik heran. Arif meninggalkan warisan yang cukup banyak agar keluarga kecilnya hidup layak. Dari dalam mobil terlihat sangat jelas papan peringatan yang tertempel pada dinding. Membuat Iwana malu setengah mati.
"Jawab mama!" bentak Iwana lagi, jemarinya ikut mengepal geram melihat Aisyah hanya diam.
Bahu Aisyah sedikit terhentak akibat bentakan tadi. Dia menjawab takut-takut dengan kepala menunduk. “Aku main trading dan lost banyak, Ma. Maaf," lirih Aisyah diiringi isakan memecah sunyi.
Rasa hati Iwana ingin murka pada si menantu manja namun apadaya tenaga telah habis. Mendengar rengekan pilu Aisyah yang memohon-mohon, nurani Iwana pun tak tega. Terlebih, dia membayangkan cucunya akan terlunta-lunta.
"Jangan bilang ayah dan ibu, Ma. Ampun, Ais tau ini kesalahan fatal." Aisyah menangis menunduk menghadap ibu mertuanya.
Iwana memejam, menarik napas sambil menyandarkan kepala di headband jok. Tangan kanannya masih mengusap punggung Arman yang terlelap di salah satu paha sang nenek.
Wanita itu menimbang. Bila Aisyah tinggal di rumahnya seorang diri, risiko besar bisa terjadi sebab dia akan menetap dengan Afnan dan Ziya. Aisyah sangat cantik meski pemalas, kesehariannya hanya makan, main dan ke salon karena Arif sangat memanjakannya dulu.
Kini, fase sulit itu menerpanya. Kepergian Arif membuat Aisyah seakan hilang kemudi. Atas alasan inilah Iwana memutuskan sesuatu.
"Pak, kita ke rumah Afnan setelah Aisyah ambil barang-barang penting mereka di dalam," kata Iwana pada supir pribadinya.
"Oke, Bu."
Aisyah terpana, dia buru-buru menyeka air mata dari wajahnya sebelum turun dari mobil. “Nanti Kak Afnan marah sama aku, Ma. Lagipula, kita tidur dimana?" tanya Aisyah dengan nada murung.
“Mama yang bakal ngomong sama Afnan. Lagian rumah dia lega, kalian bisa memakai kamar tamu. Ziya juga pasti mengizinkan,” jawab Iwana lagi, kali ini pandangannya lurus ke depan. "Sana, berkemas. Mama lakukan ini agar masa depan Arman terjamin," imbuh Iwana.
Aisyah buru-buru keluar dari mobil. Akhirnya dia bisa bernapas lega setelah memutar otak dan mencari utang ke sana sini.
Memang sudah seharusnya Afnan bertanggungjawab pada Arman setelah kematian Arif. Urusan nafkah anak yatim itu ditanggung oleh para ahli waris alias keluarga ayahnya.
Setengah jam kemudian, Innova hitam milik Iwana meluncur kembali meninggalkan hunian Arif menuju komplek perumahan Afnan.
***
Seperti kebanyakan pasangan pengantin baru, Afnan mengekori kemanapun Ziya pergi. Siang ini, istrinya baru saja selesai mandi setelah mereka ikut Salamah dan Santi wara wiri mengantar kue pemberian tetangga ke kerabat dekat.
"Wangi amat siang-siang," ucap Afnan yang sedang duduk di sisi ranjang saat Ziya baru masuk ke kamar.
"Buru mandi, Mas. Waktu zuhur mau habis," ujarnya sambil mengeringkan rambut.
"Tungguin, ya." Afnan gegas keluar kamar dan sejurus kemudian dia kembali dan telah berwudhu. "Ayo, Dek."
"Aku off," kata Ziya sambil membawa satu bundel map berwarna coklat keluar kamar.
Tatapan Afnan mengerut saat mengikuti langkah Ziya, sepertinya sang istri baru saja mendapat tamu bulanan. Dia lantas melanjutkan salat seorang diri.
Lelaki tampan itu lalu menyusul Ziya ke ruang tamu. Afnan melihat istrinya sedang menyiapkan berkas administrasi untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta.
Salamah terlihat menyerahkan satu bundel amplop coklat ke atas meja. Dia mengatakan bahwa Ziya bisa menggunakan uang tersebut untuk kepentingannya.
"Ibu simpan saja, urusan sekolah Ziya biar jadi tanggungjawabku," ucap Afnan saat ikut duduk di sebelah Ziya.
"Jangan, Nak. Almarhum ayah Ziya sudah nyiapin semua kebutuhannya." Salamah mencegah, sebab tak ingin membebani sang menantu.
"Kalau gitu, tolong simpankan untuk keperluan Ziya di lain waktu," sambung Afnan sambil menyodorkan benda tadi ke hadapan Salamah.
Ziya melirik ke arah Afnan dan dibalas dengan senyuman sembari mengangguk. Mau tak mau, Ziya pun menurutinya. Obrolan tersebut berlangsung hingga menjelang ashar, tepat ketika Santi pulang membawa dokumen kepindahan sang kemenakan.
Keesokan hari, Afnan mulai bekerja lagi meskipun secara online. Sementara Ziya, sibuk mencari tahu kelengkapan syarat fakultas keguruan di kampus terdekat dengan workshop sang suami, atas permintaan Afnan.
Sepekan kemudian Afnan mengajak Salamah dan Santi untuk ikut mengantar kepindahan Ziya. Iwana mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan akan menggelar syukuran di rumah Afnan setelah mereka tiba nanti.
Innova hitam yang Afnan sewa akhirnya memasuki komplek perumahan dan parkir tepat di hunian berlantai dua yang didominasi cat putih dan krem.
"Ini rumah mama?" tanya Salamah saat Iwana menyambut kedatangan mereka.
"Rumahku, Bu. Mama nginep di sini sebentar," jawab Afnan ketika turun dari mobil.
'Semoga sebentar, Mas.' Ziya membatin, sembari melirik Salamah yang terlihat cemas. Dia lalu mengusap bahu ibunya itu agar tenang.
Semua acara berjalan lancar sampai tiba waktunya Salamah dan Santi pamit pulang. Dia mendekap putrinya erat dan lama, seakan menyalurkan banyak kekuatan pada Ziya.
"Jaga diri ya, Bu. Nanti Ziya telpon saban hari," bisiknya sebelum melerai pelukan mereka.
Afnan memeluk pinggang Ziya saat mobil sewaan itu pergi meninggalkan pelataran. Keduanya lantas bersiap naik ke lantai atas.
"Pamit istirahat duluan ya, Bu. Selamat malam," ucap Ziya seraya membungkukkan badan, undur diri dari hadapan penghuni rumah.
Iwana menarik lengan Ziya hingga terduduk lagi di atas karpet. "Jangan ngimpi jadi nyonya muda ya, Ziya. Ada mama di sini. Besok kudu bangun pagi!" bisik Iwana meski bibirnya mengulas senyum.
Ziya membalas dengan senyuman yang sama, sembari mengangguk pelan lalu bangun perlahan.
Afnan menaruh curiga, dia menanyakan perihal sikap ibunya kala Ziya sungkem tadi. "Mama bilang apa, Zie?"
"Enggak bilang apa-apa kok, Mas. Ayo," balas Ziya, menunggu suaminya meneruskan langkah.
"Panggil mama, Ziya. Jangan lupa," seru Iwana. Bersamaan dengan itu, Aisyah pun menghampirinya.
Ziya menoleh lalu mengangguk pada Iwana. "Tuh, cuma disuruh manggil Mama," lirihnya sambil menarik lengan Afnan agar berjalan lebih dulu.
Afnan mengendikkan bahu menanggapi Ziya dan Iwana yang terlihat aneh. Pandangannya lalu beralih pada seseorang. "Kamu kok belum pulang, Ais?!" tanya Afnan pada mantan adik iparnya ketika mulai meniti anak tangga.
"Nginep, Kak," jawabnya lantang.
"Besok balik sana!" Afnan masih menyahuti Aisyah tanpa menoleh lagi.
Iwana melihat pasangan muda chairi menjauh, dia kemudian menegur Aisyah, menantunya yang manja.
"Aisyah, denger gak tadi Afnan bilang apa? baiknya ikuti kemauan kakak iparmu dulu. Nanti bila dia sudah tenang, mama akan bicara lagi padanya. Jika kamu pintar, dekati saja Ziya," ucap Iwana memberikan saran, setidaknya agar Aisyah ada usaha untuk memperjuangkan kehidupannya.
"Pulang kemana, Ma. Kan mama yang ngajak aku tinggal di sini," elak sang menantu.
Iwana mendesah kesal. Dia lalu mengoceh tentang sikap Aisyah yang terlalu santai dan tidak memikirkan solusi sebelum Afnan pulang. Sekaligus mengingatkan agar dirinya tak kurang ajar.
Aisyah mencebik saat mertuanya itu memberikan saran agar pulang ke rumah orang tuanya dulu dan mulai membujuk Ziya agar mengizinkan tinggal di sini. Meski dia merasa enggan sebab merasa kedudukannya dengan Ziya tidak setara, tapi terpaksa sebab tak ada jalan lain.
Keesokan pagi, Afnan tak mendapati sosok mantan iparnya sejauh pandangan sekeliling ruang. Dia merasa tenang. Namun, masalah datang kala Iwana bergabung di meja makan.
"Ziya, hanya ini? sederhana sekali. Suamimu lebih dari mampu jika sekedar menyiapkan telur sebagai tambahan menu," sindir Iwana kala hanya menjumpai nasi goreng, rollade dengan beberapa macam frozen food di atas meja.
"Aku yang meminta Ziya, Ma," ucap Afnan membela istrinya.
"Bukan kebiasaan kamu, Kak. Ziya, jangan bawa perilaku ngirit kamu di sini. Putraku butuh nutrisi tepat agar kinerja otaknya lancar saat bekerja," celoteh Iwana lagi seraya membuka pinggan.
"In sya Allah, aku menyesuaikan dengan kondisi yang diminta Mas Afnan. Bukan Ziya pelit atau irit. Semata hanya ingin menjaga amanah yang di titipkan Mas padaku," balas Ziya, seraya meladeni kebutuhan suaminya juga sang mertua.
Iwana mendelik. "Memang amanah apa?" ujarnya dengan nada sinis.
.