Anak Tebu yang Menatap Langit

Penantian yang Menguji Hati 8

Hari-hari setelah amplop itu dikirim terasa berjalan lebih lambat.

Seolah waktu di Desa Isorejo ikut menahan langkahnya.

Pagi tetap datang dengan kabut.
Siang tetap panas di antara kebun tebu.
Malam tetap sunyi dengan lampu minyak yang setia menyala.

Namun bagi Imam… semuanya terasa berbeda.

Ada sesuatu yang terus menunggu jawaban.


Setiap kali ia melewati jalan menuju kecamatan, matanya selalu menoleh ke arah kantor pos.

Seolah berharap ada seseorang yang memanggil namanya.

Seolah berharap ada kabar yang datang lebih cepat dari waktu.

Tapi yang ia temukan selalu sama—

sunyi.


Di rumah, Imam tetap menjalani hari seperti biasa.

Pagi membantu ayahnya ke ladang.
Siang ke sekolah.
Sore menjemput Ali.
Malam belajar di bawah lampu minyak.

Namun di sela semua itu, pikirannya sering pergi.

“Kak…”

Suara Ali membuyarkan lamunannya.

“Apa, Li?”

“Kakak lagi mikirin itu ya?”

Imam tersenyum kecil.
“Yang mana?”

Ali menunjuk ke arah kepala kakaknya.
“Itu… yang dikirim.”

Imam tertawa pelan.

“Iya, sedikit.”

Ali mendekat.

“Kalau belum ada kabar… berarti masih di jalan kan, Kak?”

Imam terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi menenangkan.

“Iya, Li. Mungkin masih di jalan.”

Ali mengangguk puas.

Seolah semua masalah bisa selesai dengan satu jawaban itu.


Sore hari di ladang, Gimin bekerja seperti biasa.

Namun kali ini Imam memperhatikan lebih sering.

Ayahnya semakin mudah lelah.

Beberapa kali ia berhenti, menarik napas panjang, lalu kembali bekerja.

“Yah… istirahat dulu,” kata Imam.

Gimin menggeleng.

“Nanti saja.”

Namun Imam tahu—

“nanti” sering berarti “dipaksakan”.


Di pematang sawah, Ali duduk sambil menggambar lagi dengan ranting kecil.

“Kak,” katanya tiba-tiba, “kalau nanti Kakak menang… kita pindah rumah ya?”

Imam tersenyum.

“Kenapa mau pindah?”

“Biar Ayah enggak capek terus.”

Kalimat itu membuat Imam terdiam.

Angin sore berhembus pelan.

Daun tebu bergesekan panjang.

Seolah ikut merasakan apa yang ia rasakan.


Malam datang.

Lampu minyak kembali menyala.

Imam membuka bukunya, mencoba membaca.

Namun huruf-huruf itu terasa tidak masuk.

Pikirannya melayang.

Bagaimana kalau gagal?
Bagaimana kalau tulisannya tidak cukup baik?
Bagaimana kalau semua ini sia-sia?

Ia menutup buku itu perlahan.

Menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak amplop itu dikirim—

keraguan datang.


Ia bangkit.

Mengambil air wudhu.

Lalu berdiri dalam shalat.

Di tengah keheningan malam, sujudnya terasa lebih lama.

Lebih dalam.

Lebih jujur.

“Ya Allah…” bisiknya dalam hati,
“aku takut… tapi aku juga berharap. Jika ini baik, dekatkan. Jika tidak, kuatkan aku menerimanya.”

Air mata jatuh.

Namun kali ini bukan karena sedih.

Tapi karena ia sedang belajar—

berserah.


Selesai shalat, ia kembali duduk.

Ali sudah tertidur.

Wajahnya tenang.

Seolah tidak ada beban apa pun di dunia ini.

Imam menatapnya lama.

Lalu berbisik pelan,

“Kalau Kakak gagal… Kakak harus tetap kuat untuk kamu.”


Hari berganti hari.

Belum ada kabar.

Namun ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri Imam.

Ia mulai mengerti—

Menunggu bukan tentang diam tanpa arah.

Menunggu adalah tentang tetap berjalan… meski belum tahu hasilnya.


Di suatu pagi, ketika matahari mulai naik dan kabut perlahan hilang, Imam berdiri di depan rumah.

Menatap langit.

Langit itu luas.

Tidak pernah benar-benar rendah.

Tapi juga tidak mustahil untuk dijangkau.

Ia menarik napas panjang.

Lalu berkata pelan,

“Aku tidak tahu hasilnya… tapi aku tidak akan berhenti di sini.”

Di belakangnya, suara kecil memanggil.

“Kak… ayo berangkat!”

Ali berlari kecil membawa tasnya.

Imam tersenyum.

Ia mengayuh sepeda tuanya lagi.

Kali ini bukan hanya membawa harapan—

Tapi juga membawa keteguhan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!