Anak Tebu yang Menatap Langit
Amplop dan Harapan yang Dilepas 7
Pagi itu datang lebih sunyi dari biasanya.
Langit masih pucat ketika Imam sudah duduk di depan rumah. Tangannya memegang sebuah amplop cokelat yang telah ia rapikan sejak malam tadi.
Di dalamnya, ada sesuatu yang tak terlihat oleh mata orang lain—
harapan.
Embun masih menggantung di ujung daun tebu. Angin berhembus pelan, membawa suara yang panjang dan dalam, seperti doa yang tak pernah selesai.
Ali keluar dari dalam rumah sambil mengucek mata.
“Kak… sudah pagi?” tanyanya pelan.
Imam tersenyum.
“Sudah, Li.”
Ali duduk di sampingnya. Matanya langsung tertuju pada amplop itu.
“Itu apa, Kak?”
Imam menatap amplop itu sejenak.
“Ini… jalan Kakak.”
Ali mengernyit.
“Jalan ke mana?”
Imam tersenyum tipis.
“Ke masa depan.”
Ali tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ia mengangguk, seolah percaya saja.
Seperti biasa.
Di dalam rumah, Limah menyiapkan air minum.
Gimin sudah bersiap berangkat ke ladang, tapi pagi itu ia belum melangkah.
Matanya tertuju pada Imam.
“Jadi hari ini dikirim?” tanyanya.
“Iya, Yah.”
Gimin mendekat. Tidak banyak kata. Hanya menepuk pundak Imam pelan.
“Kalau sudah dilepas, jangan ditarik kembali dengan keraguan.”
Imam mengangguk.
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk meneguhkan langkahnya.
Perjalanan ke kecamatan terasa lebih panjang dari biasanya.
Imam mengayuh sepeda tuanya. Kali ini Ali ikut, duduk di belakang sambil memegang erat baju kakaknya.
Jalan tanah yang berdebu terasa berat.
Bukan karena jalannya.
Tapi karena isi hati yang sedang dipenuhi banyak kemungkinan.
“Kak…” suara Ali pelan di belakang.
“Iya?”
“Kalau itu sampai… Kakak jadi orang hebat?”
Imam terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan,
“Kalau Allah izinkan, Li.”
Ali tersenyum.
“Kalau Kakak jadi orang hebat… aku mau ikut.”
Imam tersenyum.
“Kamu tidak ikut. Kamu harus lebih hebat dari Kakak.”
Sesampainya di kantor pos kecil di kecamatan, Imam berhenti sejenak di depan pintu.
Tangannya menggenggam amplop itu lebih erat.
Ia tidak langsung masuk.
Ada sesuatu yang menahannya.
Bukan rasa takut kalah.
Tapi rasa sadar—
setelah ini, semuanya di luar kendalinya.
Ia menunduk sebentar.
Dalam hati, ia berdoa:
“Ya Allah… ini bukan hanya tentang lomba. Ini tentang harapan kami. Jika ini baik, mudahkan. Jika tidak, kuatkan.”
Ali menarik bajunya pelan.
“Kak… ayo masuk.”
Imam mengangguk.
Di dalam, suasana sederhana. Meja kayu. Kursi tua. Seorang petugas duduk dengan wajah biasa.
Imam menyerahkan amplop itu.
Tangannya sempat ragu satu detik.
Hanya satu detik.
Lalu… ia lepaskan.
Amplop itu berpindah tangan.
Selesai.
Tidak ada suara besar.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya satu momen kecil… yang mengubah arah hidupnya.
Di luar kantor pos, Imam berdiri diam.
Angin berhembus lebih kencang.
Seolah ada sesuatu yang baru saja pergi jauh.
Ali menatap kakaknya.
“Kak… sudah?”
Imam mengangguk.
“Sudah, Li.”
Ali tersenyum lebar.
“Berarti sekarang tinggal nunggu ya?”
Imam tersenyum kecil.
“Iya… tinggal menunggu.”
Namun dalam hatinya, ia tahu—
Menunggu bukan hal yang mudah.
Menunggu adalah ujian.
Di perjalanan pulang, mereka melewati kebun tebu yang luas.
Daun-daunnya bergoyang pelan.
Imam menatapnya lama.
Tiba-tiba ia teringat kata-kata ayahnya:
Tebu tidak langsung manis. Ia harus menunggu waktu.
Ia menarik napas panjang.
“Mungkin mimpiku juga seperti itu,” bisiknya.
Malamnya, Imam duduk di bawah lampu minyak.
Ali sudah tertidur di sampingnya.
Ia membuka buku kecilnya.
Menulis:
“Hari ini aku melepaskan sesuatu yang berharga. Bukan karena aku yakin akan berhasil… tapi karena aku percaya pada proses. Ya Allah, ajarkan aku menunggu tanpa ragu.”
Ia menutup buku itu perlahan.
Menatap Ali.
Menatap ayahnya yang sedang beristirahat.
Menatap ibunya yang masih menjahit.
Lalu ia sadar—
Amplop itu memang sudah pergi.
Tapi harapan…
masih tinggal di rumah ini.
Dan akan terus dijaga.