Anak Tebu yang Menatap Langit
Kata-Kata yang Harus Menjaga Harapan 6
Malam itu lebih sunyi dari biasanya.
Angin berhembus pelan di antara kebun tebu. Suaranya seperti bisikan panjang yang mengulang sesuatu yang sama—tentang sabar, tentang bertahan.
Imam duduk dengan buku terbuka.
Namun kali ini, ia tidak sekadar belajar.
Ia berpikir.
Tentang masa depan.
Tentang ayahnya.
Tentang Ali.
Di sampingnya, Ali sudah tertidur.
Tangannya masih memegang pensil.
Di bukunya tertulis satu kata:
Ali
Tulisan yang belum rapi.
Tapi penuh harapan.
Imam menatap tulisan itu lama.
Lalu ia membuka halaman kosong di bukunya sendiri.
Ia mulai menulis.
Bukan tugas sekolah.
Bukan karena disuruh.
Tapi karena ia ingin.
“Aku ingin suatu hari nanti, adikku tidak perlu belajar di bawah lampu minyak…”
Tangannya berhenti.
Dadanya terasa sesak.
Ia melanjutkan.
“Aku ingin ayahku tidak perlu lagi pulang dengan tangan terluka…”
Air matanya jatuh.
Ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya menjadi bagian dari tulisan.
Ia sadar satu hal malam itu—
Kata-kata bukan sekadar tulisan.
Ia bisa menjadi doa.
Ia bisa menjadi janji.
Limah memperhatikan dari kejauhan.
Ia tidak bertanya.
Ia hanya tersenyum pelan.
Seorang ibu selalu tahu… kapan anaknya sedang tumbuh menjadi lebih kuat.
Sebelum tidur, Imam menutup bukunya.
Ia menatap Ali yang tertidur lelap.
Pelan ia berbisik,
“Kakak akan jaga kamu, Li.”
Di luar, langit malam tetap luas.
Bintang-bintang tetap jauh.
Tapi di dalam rumah kecil itu, harapan tidak pernah padam.
Karena ada seorang anak…
yang mulai memahami bahwa mimpinya bukan lagi miliknya sendiri.