Anak Tebu yang Menatap Langit
Hari-Hari Tanpa Kepastian 12
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa arah yang jelas.
Pagi tetap datang.
Matahari tetap terbit.
Namun di rumah kecil itu, waktu terasa seperti berjalan di tempat.
Gimin masih belum ke ladang.
Tubuhnya belum benar-benar pulih. Panasnya memang turun, tapi tenaganya belum kembali.
Setiap kali mencoba bangun lebih lama, napasnya cepat habis.
Dan setiap kali itu terjadi… Imam melihatnya.
Diam-diam.
Dengan perasaan yang semakin berat.
Di dapur, Limah mulai lebih sering menghitung.
Bukan menghitung hari.
Tapi menghitung beras.
Ia membuka tempat penyimpanan. Menatap isinya. Lalu menutupnya kembali dengan hati-hati.
Seolah berharap isinya tidak cepat berkurang.
Imam memperhatikan itu.
Tanpa perlu dijelaskan, ia mulai mengerti.
Hari-hari ini… bukan hanya tentang sakit.
Tapi tentang bertahan.
“Ayah, biar Imam saja yang ke ladang,” kata Imam suatu pagi.
Gimin yang sedang duduk bersandar menggeleng pelan.
“Kamu sekolah.”
“Tapi, Yah—”
“Kamu sekolah,” ulangnya, lebih tegas meski suaranya lemah.
Imam terdiam.
Ia tahu itu bukan larangan.
Itu adalah harapan terakhir yang sedang dijaga.
Ali duduk di dekat pintu.
Ia tidak bermain seperti biasanya.
Tangannya memegang buku, tapi tidak dibuka.
“Kak…” katanya pelan,
“kalau berasnya habis… kita makan apa?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Dan langsung membuat ruangan terasa lebih sunyi.
Imam menoleh.
Ia ingin menjawab ringan.
Namun kali ini… ia tidak bisa.
Limah tersenyum, mencoba menenangkan.
“Masih ada, Nak.”
Ali mengangguk.
Tapi matanya tidak sepenuhnya yakin.
Siang hari, Imam tetap berangkat ke sekolah.
Namun pikirannya tertinggal di rumah.
Setiap pelajaran terasa lebih berat.
Bukan karena sulit.
Tapi karena ia tahu… ada sesuatu yang lebih penting sedang terjadi.
Sepulang sekolah, ia tidak langsung pulang.
Ia berhenti di ladang.
Memandang kebun tebu yang luas.
Biasanya tempat ini penuh dengan suara kerja.
Hari ini… lebih sunyi.
Seperti kehilangan sesuatu.
Imam berdiri lama.
Lalu perlahan mengambil cangkul yang tergeletak di pinggir.
Ia mulai bekerja.
Tidak banyak.
Tidak secepat ayahnya.
Namun cukup untuk membuatnya merasa…
ia tidak diam.
Sore menjelang.
Ali datang berlari kecil.
“Kak!”
Imam menoleh.
“Kakak kerja?”
Imam tersenyum kecil.
“Belajar, Li.”
Ali mendekat.
Lalu tanpa diminta, ia ikut membantu.
Meski hanya memindahkan daun kering.
Meski hanya sedikit.
Namun ia melakukannya dengan serius.
“Capek?” tanya Imam.
Ali menggeleng.
“Aku kuat.”
Imam tersenyum.
Namun hatinya terasa hangat… sekaligus perih.
Malam datang.
Lampu minyak kembali menyala.
Namun kali ini, suasana terasa lebih berat.
Makan malam lebih sederhana.
Porsi lebih sedikit.
Tak ada yang mengeluh.
Namun semua tahu.
Setelah makan, Ali duduk di dekat Imam.
“Kak…”
“Iya?”
“Kita pasti bisa ya?”
Imam menatapnya.
“Bisa apa?”
Ali berpikir sejenak.
“Bisa jadi lebih baik.”
Imam terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya, Li. Kita pasti bisa.”
Kali ini bukan sekadar jawaban.
Itu adalah tekad.
Malam semakin larut.
Gimin tertidur lebih cepat.
Limah masih terjaga, tapi lebih diam dari biasanya.
Imam duduk sendiri.
Membuka buku kecilnya.
Namun kali ini… ia tidak langsung menulis.
Ia menatap halaman kosong itu lama.
Seolah tidak tahu harus mulai dari mana.
Akhirnya ia menulis:
“Hari ini aku belajar… bahwa hidup tidak selalu memberi kepastian. Tapi mungkin, di situlah kita belajar percaya.”
Tangannya berhenti.
Ia menatap ke arah ayahnya.
Lalu ke arah Ali.
“Aku tidak boleh menunggu keadaan berubah. Aku harus menjadi orang yang mengubah keadaan.”
Tinta itu terasa lebih berat dari biasanya.
Karena kali ini… itu bukan sekadar tulisan.
Itu keputusan.
Di luar, angin malam berhembus pelan.
Kebun tebu tetap bergoyang.
Seolah berkata—
bertahanlah.
Dan di dalam rumah kecil itu,
di tengah hari-hari tanpa kepastian…
seorang anak mulai belajar menjadi penopang.
Bukan karena siap.
Tapi karena keadaan… tidak memberinya pilihan.