Anak Tebu yang Menatap Langit
Anak Tebu yang Menatap Langit 1
Pagi di Desa Isorejo selalu lahir dari kesunyian.
Kabut tipis menggantung di atas hamparan kebun tebu, seperti selimut yang belum sepenuhnya disingkap oleh matahari. Daun-daun tebu bergesekan pelan, menciptakan suara yang panjang—seperti doa yang diulang-ulang oleh alam tanpa lelah.
Di salah satu sudut desa itu, berdiri sebuah rumah sederhana berdinding papan. Atap sengnya berkarat di beberapa bagian. Ketika hujan turun, suaranya seperti ribuan ketukan kecil yang tak pernah berhenti.
Di rumah itu, Imam membuka matanya.
“Imam… bangun, Nak. Sudah Subuh.”
Suara ibunya, Limah, lembut namun tegas.
Imam bangkit perlahan. Di sampingnya, seorang anak kecil masih terlelap, memeluk bantal tipis yang sudah mulai kempis.
Itu Ali.
Adiknya.
Napasnya teratur, wajahnya tenang—seolah dunia belum pernah memberinya beban apa pun.
Imam menatapnya sejenak.
Dalam diam, ia berjanji pada dirinya sendiri:
Ali tidak boleh merasakan hidup seberat ini.
Di ruang depan, ayahnya, Gimin, sudah bersiap berangkat ke kebun.
Sarungnya dilipat rapi. Bajunya sederhana. Tangannya kasar, penuh bekas kerja. Tangan itu sudah terlalu sering bersentuhan dengan batang tebu yang tajam.
“Imam, ikut ke ladang dulu?” tanya Gimin.
“Iya, Yah.”
Tak ada keluhan.
Bagi Imam, membantu ayahnya bukan kewajiban—tapi bagian dari hidup.
Langit mulai terang ketika mereka berjalan menyusuri jalan tanah.
Ali menyusul di belakang, masih mengucek mata.
“Kak… tunggu…” katanya pelan.
Imam tersenyum, lalu memperlambat langkahnya.
“Ayo, Li. Nanti kamu ketinggalan.”
Ali berlari kecil, menggenggam tangan kakaknya.
Di antara kebun tebu yang tinggi, dua anak itu berjalan berdampingan. Satu membawa mimpi, satu lagi membawa harapan tanpa sadar.
Sesampainya di ladang, Gimin mulai bekerja.
Suara tebasan.
Gesekan daun.
Dan napas yang berat.
Imam membantu sebisanya. Mengikat. Mengumpulkan. Membersihkan.
Ali duduk di pematang, memainkan tanah dengan tangannya.
“Kak,” katanya tiba-tiba, “kenapa kita harus kerja terus?”
Imam terdiam sejenak.
Ia memandang ayahnya yang tak berhenti bergerak.
“Supaya kita bisa makan, Li.”
Ali mengangguk pelan.
Lalu bertanya lagi, dengan polos,
“Kalau kita sekolah tinggi, kita enggak capek kayak Ayah?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi menghantam hati Imam.
Ia menatap langit.
Lalu berkata pelan,
“Iya, Li. Makanya Kakak mau sekolah setinggi mungkin.”
Ali tersenyum lebar.
“Aku juga mau!”
Di perjalanan pulang, Imam menatap hamparan tebu yang luas.
Ia bukan anak kota.
Ia bukan anak orang berada.
Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang tak kalah besar—
mimpi.
Ia ingin kuliah.
Ia ingin menjadi orang berilmu.
Ia ingin mengubah nasib keluarganya.
Dan yang paling penting—
Ia ingin Ali tidak perlu bertanya lagi kenapa hidup harus seberat ini.
Di bawah langit Isorejo yang luas, seorang anak sedang mulai menatap masa depan.