Aku Ingin Baju Baru
Impian Farhan Sederhana
”Kak Naura, Farhan ingin baju baru,” Farhan nampak termenung sambil tangannya tetap memegang buku bertema ’Lingkunganku.’
Farhan sendiri sudah sekolah selama 5 bulan ini masuk di TK, namun dia belum mengenakan baju seragam Tk-nya karena belum membayar. Orangtuanya belum mampu sehingga baru membayar sekolah untuk Naura dan Farhan. Ditambah, untuk membayar buku pelajaran untuk mereka.
Untuk baju, Naura masih memiliki baju yang dibelikan orangtuanya dua tahun yang lalu dan hingga kini masih bagus. Namun, Farhan belum bisa dibelikan karena uangnya kurang, Farhan diminta bersabar.
”Kamu sabar ya Dik, Kakak akan ikut mencari uang untuk kamu bisa beli baju ya.”
Farhan pun mengangguk. Farhan tak berani meminta pada Ibu dan Bapak. Dia hanya mengadu pada kakaknya, Naura.
Sejak itu, Naura pun sepulang sekolah ikut menjajakan kue untuk dibawanya ke pasar. Ibunya sempat menanyakan untuk apa, namun Naura bilang ingin ditabungnya. Ibunya pun tak bisa menolak Naura.
Jadilah, Naura berdagang dan berkeliling dari rumah ke rumah hingga mangkal di pasar untuk menjajakan kue yang Ibunya buatkan. Naura membawa sekitar 100 kue setiap berangkat, dan biasanya hanya sisa sedikit.
Beberapa dari uang itu diberikan kepada ibu untuk mengembalikan modalnya dan dibuatkan kue untuk esok harinya. Sisanya, Naura tabung. Naura ingin membelikan baju sekolah baru untuk adiknya, Farhan.
***
”Kakek Abdullah masih ingat rumah cucu Bapak?”
Kakek Abdullah masih memakan kue yang diberikan oleh Naura. Rasanya sangat enak, kakek Abdullah sangat suka rasa kuenya. Mungkin, Kakek Abdullah juga makan banyak karena dia sedang kelaparan.
”Kakek lupa tempatnya, Kakek mencoba berputar dan berjalan malah semakin tersesat hingga ke pasar ini.”
Sang Kakek mengambil botol milik Naura dan meminum air putih. Rasanya segar, dan dia sudah merasa kenyang.
”Tapi saya ada kertasnya,” Kakek Abdullah mencari sesuatu dalam kantong bajunya, ada secarik kertas, ”Disini alamatnya, tapi Kakek sudah tak bisa membaca lagi. Sudah tidak terlihat tulisannya.”
”Sini Naura lihat Kek.”
Kakek Abdullah memberikan secarik kertas itu kepada Naura dan Naura pun menerimanya. Naura lalu membuka kertas itu dan bertuliskan alamat jalan dan juga tempat kelurahan serta lokasi jalannya.
Naura mengetahuinya, itu cukup jauh juga tempatnya.
”Saya tahu tempatnya ini Kek,” Naura yakin tahu tempat itu.
”Ehm... maukah Nak Naura mengantarkan Kakek, nanti kakek kasih upah ya?”
Kakek Abdullah tersenyum kepada Naura. Namun, Naura tidak ingin usahanya membantu orang harus menerima upah.
”Tidak usah Kek, Naura senang bisa membantu Kakek.”
Keduanya pun lalu pergi. Keranjang kue dibawanya dan menuntun jalan di depan kakek Abdullah. Kakek Abdullah pun mengikuti dari belakang Naura. Mereka berjalan keluar dari pasar dan menyusuri jalan di pinggir trotoar.
Naura sempat berpikir soal dagangannya, lalu kalau tidak laku semua bagaimana dia bisa menabung untuk membeli baju seragam sekolah untuk Farhan? Namun, dia teringat pesan Ibu dan Bapaknya bahwa menolong orang lain itu sangat penting dan tidak boleh hitung-hitungan. Jika kita bisa membantu orang lain, maka lakukan itu.
Dan, Naura yakin bahwa dia harus membantu Kakek Abdullah. Kasihan kakek Abdullah. Mereka terus berjalan dan Naura melihat catatan kertas alamat itu, tidak jauh lagi.