Aku Hanya Ingin Belajar

Panggung Pertama bagi Bayu - 7

Malam itu, Bu Sari sedang duduk di ruang tamu rumahnya, mengamati Bayu yang asyik menggambar di sudut ruangan. Anak laki-lakinya itu begitu tenang, matanya fokus pada setiap goresan pensil warna yang ia torehkan di kertas. Sari tersenyum, merasa bersyukur atas kehadiran Bayu dalam hidupnya.

Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Sari bangkit dan berjalan ke pintu, lalu membukanya dengan sedikit rasa penasaran. Di hadapannya berdiri seorang pria bersama seorang wanita yang tampak anggun. Wajah pria itu tampak familiar, namun butuh beberapa saat bagi Sari untuk mengingatnya.

"Bu Sari?" sapa pria itu dengan ramah.

"Ya, saya Bu Sari. Maaf, Anda siapa?" tanyanya sopan.

Pria itu tersenyum. "Saya Rama, seorang komposer. Mungkin nama saya terdengar asing bagi Ibu, tapi saya yakin Ibu mengenal seseorang yang dekat dengan saya. Bayu."

Sari membelalakkan mata. "Bayu? Apa maksudnya?"

"Saya telah mengajari Bayu musik selama beberapa minggu terakhir. Ia sangat berbakat, Bu. Saya tidak pernah melihat anak seusianya yang mampu memahami dan memainkan berbagai alat musik dalam waktu singkat."

Sari terdiam. Ia menoleh ke arah Bayu yang masih duduk di kursinya. Tak ada yang berubah dari anak itu, kecuali mungkin sorot matanya yang kini lebih bercahaya.

"Tapi... bagaimana bisa? Bayu selama ini tidak pernah menyentuh alat musik di rumah," gumamnya.

Rama tersenyum. "Terkadang, bakat muncul saat seseorang menemukannya di tempat yang tepat. Saya ingin mengajak Bayu tampil dalam konser saya minggu depan, Bu. Ini konser besar bertajuk 'Cinta Menyambut Ramadan.' Seluruh kota akan melihatnya."

Sari merasakan dadanya bergetar. Bayu, anak yang selama ini ia khawatirkan, ternyata memiliki bakat luar biasa. Ia mendekati putranya dan berlutut di hadapannya.

"Bayu, apa ini benar? Kamu belajar musik dengan Om Rama?" tanyanya dengan suara bergetar.

Bayu mengangguk perlahan. "Iya, Ibu. Om Rama mengajariku piano, biola, dan gitar. Aku suka, Ibu. Aku ingin main musik."

Sari memeluk Bayu erat, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. "Alhamdulillah... Allah benar-benar memberi jalan untukmu, Nak. Ibu bangga padamu."

Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Sari mengizinkan Bayu untuk tampil dalam konser itu. Ia ingin melihat anaknya bersinar dengan kemampuannya sendiri.

***

Seminggu kemudian, malam yang dinantikan tiba. Gedung konser kota dipenuhi penonton dari berbagai kalangan. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, menciptakan suasana megah. Stasiun televisi nasional pun turut meliput acara ini.

Di belakang panggung, Bayu duduk di sebuah kursi dengan tangan yang sedikit gemetar. Rama berdiri di sampingnya, menepuk bahunya dengan lembut.

"Kamu siap, Bayu?" tanyanya.

Bayu mengangguk, meskipun hatinya berdebar kencang.

Tak lama kemudian, suara pembawa acara menggema di seluruh ruangan. "Hadirin sekalian, kita akan menyaksikan sesuatu yang luar biasa malam ini. Seorang anak berbakat yang akan membuat kita semua terkesima. Mari kita sambut, Bayu!"

Tepuk tangan menggema, dan Bayu melangkah ke atas panggung dengan hati yang berdebar. Di barisan VIP, Sari duduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bayu duduk di depan grand piano. Jemarinya menyentuh tuts dengan lembut, lalu sebuah melodi indah mengalun memenuhi ruangan. Semua orang terdiam, tenggelam dalam harmoni yang mengalir dari jari-jari kecil itu.

Setelah beberapa menit, Bayu bangkit dari kursinya. Ia mengambil biola dan mulai memainkan lagu kedua. Gesekannya begitu halus dan penuh perasaan, seolah-olah ia telah memainkan alat musik itu bertahun-tahun.

Para penonton mulai berbisik kagum. "Anak ini luar biasa!"

Setelah lagu kedua berakhir, Bayu mengambil gitar dan membawakan sebuah lagu ciptaannya sendiri. Rama yang berdiri di sisi panggung tersenyum bangga. Ia tahu, Bayu bukan sekadar anak berbakat, tapi juga seorang maestro kecil.

Saat lagu terakhir berakhir, ruangan itu hening sejenak sebelum gemuruh tepuk tangan memenuhi seluruh gedung. Bayu menatap para penonton, lalu matanya mulai berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah ibunya, yang duduk di kursi VIP dengan air mata bahagia.

Tanpa pikir panjang, Bayu berlari turun dari panggung dan langsung memeluk Sari.

"Ibu... ini untuk Ibu," bisiknya.

Sari menangis dalam pelukan anaknya. "Ibu sangat bangga padamu, Nak."

Para penonton yang menyaksikan momen itu ikut tersentuh. Beberapa di antara mereka bahkan ikut meneteskan air mata. Kamera televisi menangkap momen haru tersebut dan menayangkannya secara langsung. Dalam sekejap, Bayu menjadi bintang baru di dunia musik.

Malam itu, seorang anak kecil yang dahulu penuh keterbatasan telah membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil. Dengan bakatnya, dengan dukungan ibunya, dan dengan musik yang mengalir dari hatinya, Bayu telah menyentuh banyak orang.

 

Dan itu baru permulaan dari perjalanan luar biasanya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!