Aku Hanya Ingin Belajar

Bayu Ingin Belajar

Takdir yang Sulit Bayu selalu berusaha keras untuk belajar, tetapi seolah-olah ada dinding tak terlihat yang menghalanginya memahami pelajaran. Meski ia telah mencoba berbagai cara, mulai dari mengikuti les tambahan, belajar dengan guru privat, hingga mencatat semua pelajaran dengan rapi, hasilnya tetap sama. Nilai-nilainya tetap buruk, dan peringkatnya di kelas selalu yang paling bawah.

Bayu tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Dia hanya berusaha mendengarkan guru menjelaskan, mencatat apapun yang dia dengar. Angka-angka dan rumus dipelajarinya, tapi semua tak membuahkan hasil. Dia kehilangan ingatan belajarnya beberapa saat setelah itu. Tak ada yang membekas, hingga dia mendapatkan ranking 40 dari total empat puluh siswa.

Setiap pagi, Bayu bangun dengan harapan bahwa hari ini ia akan bisa lebih memahami pelajaran dibandingkan kemarin. Ia selalu datang lebih awal ke sekolah, duduk di bangku paling depan, dan mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Namun, begitu jam pelajaran selesai, ia merasa semua yang baru saja ia pelajari menguap begitu saja. Seolah-olah ingatannya hanyalah pasir yang perlahan terhanyut oleh gelombang laut.

"Bayu, ayo kita belajar bersama di rumahku nanti sore!" ajak Fajar, teman sebangkunya yang selalu mendapatkan nilai tinggi di kelas.

Bayu tersenyum kecil, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa belajar bersama teman-temannya hanya akan membuatnya merasa semakin tertinggal. "Terima kasih, Fajar. Mungkin lain kali saja," jawabnya pelan.

Fajar merasa kasihan pada Bayu, dia tahu kegigihan Bayu dan bahkan matanya berbinar ketika melihat pelajaran dan membaca. Namun, saat mengerjakan soal, seolah dia tidak pernah belajar sama sekali. Bayu  melewati Fajar dan Fajar hanya bisa menghela napasnya dalam. Kasihan Bayu.

Sepulang sekolah, Bayu berjalan perlahan menuju rumahnya. Ia melewati gang-gang sempit dengan langkah gontai, menghindari tatapan anak-anak lain yang sedang bermain dengan riang. Sesampainya di rumah, ibunya, Sari, menyambutnya dengan senyuman hangat.

"Bagaimana harimu, Nak?" tanya Sari sambil mengusap kepala Bayu.

"Biasa saja, Bu," jawabnya lirih. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir, meskipun di dalam hatinya ada perasaan kecewa yang sulit ia ungkapkan.

Setelah makan siang, Bayu masuk ke kamarnya dan membuka buku pelajaran. Ia mencoba membaca ulang catatan yang telah ia buat di sekolah, tetapi semakin ia membaca, semakin ia merasa bingung. Tulisan-tulisan itu seolah-olah tidak bermakna, hanya sekadar coretan di atas kertas.

Waktu terus berlalu, matahari mulai tenggelam, tetapi Bayu tetap duduk di depan mejanya. Ia menggigit pensilnya, berusaha keras menghafal satu persatu rumus matematika yang tadi diajarkan oleh gurunya. Namun, tak peduli berapa kali ia membaca ulang, kepalanya tetap kosong. Akhirnya, dengan frustrasi, ia menutup bukunya dan merebahkan kepalanya di atas meja.

Ibunya mengetuk pintu kamar dan masuk dengan membawa segelas susu hangat. "Nak, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu sudah berusaha keras."

Bayu menoleh dan menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Bu... kenapa aku tidak bisa mengerti? Aku sudah mencoba sekuat tenaga, tapi tetap saja aku tidak bisa belajar seperti anak-anak lain."

Sari menarik kursi dan duduk di samping Bayu, merangkulnya dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Nak. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Yang penting kamu tidak menyerah."

Namun, bagi Bayu, kata-kata itu belum cukup untuk menghiburnya. Ia ingin menjadi anak yang pintar, ingin mendapatkan nilai yang bagus, ingin membuat ibunya bangga. Tapi sepertinya, harapan itu terlalu sulit untuk ia capai.

Malam itu, Bayu berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamar. Di luar, suara hujan mulai terdengar, menambah kesan suram dalam hatinya. Ia menghela napas panjang dan memejamkan mata, berharap bahwa esok akan menjadi hari yang lebih baik baginya.

Malam itu, seperti biasa. Menunggu waktu tidur, Bayu mendengarkan musik dengan irama simfoni yang sangat merdu. Dia tersenyum, dia mendengarkan dengan suara kecil dari laptop di meja belajarnya. Musik-musik aransemen yang didengarkannya seolah bermunculan di depan matanya, bagaikan not-not musik yang bergerak. Nada tinggi dan rendah. Bayu tahu betul ketika ada lagu yang dinyanyikan artis terkenal di Indonesia, tapi menurutnya kurang tepat dalam eksekusi reffnya. Entah kenapa, Bayu merasa ketika dia mendengar musik, maka dia menyatu dengan musik itu.

Hingga, Bayu pun tidur pulas setelah berdoa, dia pun mematikan suara musik dari laptopnya.

ZZZZZZZZZ

***

Di Sudut kamar yang lain,  Sari meneteskan airmatanya. Suaminya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Suaminya meninggal ketika kecelakaan saat mengemudi dan saat itu ada Bayu yang masih kecil bersamanya.

Kecelakaan itu membuat suaminya meninggal dan Bayu  mengalami benturan di kepalanya yang menyebabkan Bayu terkena Amnesia Anterogdrade, dimana Bayu kehilangan kemampuan mengingat semua informasi yang baru didapatkannya. Dan, hal itu tidak diketahui oleh Bayu.

Sekua apapun Bayu belajar, Sari tahu Bayu tak punya peluang untuk memperoleh informasi itu. Lagi dan lagi, Sari tak bisa membendung airmatanya, tetesan airmatanya terus mengalir.

 

Bayu … maafkan Ibu, Nak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!