Aku Hanya Ingin Belajar

Kesedihan Bayu

Tahun ajaran baru berlalu, dan Bayu kini duduk di kelas empat. Hari ini adalah pembagian rapor, momen yang selalu membuatnya merasa cemas. Sari, ibunya, menemaninya ke sekolah, berharap memberikan dukungan meskipun dalam hati kecilnya, ia sudah tahu hasil yang akan diterima Bayu.

Di dalam ruang kelas, Ibu Sri, wali kelas Bayu, membagikan rapor satu per satu. Suasana dipenuhi kegembiraan bagi anak-anak yang berhasil meraih peringkat tinggi, sementara bagi Bayu, ini adalah saat yang menegangkan. Saat namanya dipanggil, Bayu melangkah maju dengan perasaan campur aduk. Ia menerima rapor itu dengan tangan gemetar.

Sari melihat angka-angka di dalamnya dan menatap anaknya dengan lembut. Lagi-lagi, Bayu berada di peringkat terakhir, peringkat ke-40 dari 40 siswa di kelasnya. Hatinya mencelos, tapi ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya. Sebelum Bayu sempat mengatakan sesuatu, Ibu Sri tersenyum dan berkata, "Jangan berkecil hati, Bayu. Yang penting kamu tetap berusaha dan jangan menyerah, ya. Nilai bukan segalanya."

Sari mencoba menahan kesedihannya, dia memegang pundak Bayu puteranya itu dan menguatkannya dengan senyumannya.

“Nilai tidaklah menjadi hal utama, Bayu. Melihat Bayu bisa tersenyum, Ibu sudah bahagia. Ibu bahagia bersamamu, karena hanya kamu yang Ibu miliki.”

“Iya Ibu,” suara Bayu lirih.

Bayu mengangguk, tetapi di dalam hatinya, ia merasa hancur. Ia ingin menangis, tapi tidak di depan teman-temannya. Dengan langkah berat, ia berjalan pulang bersama ibunya.

Di tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Mereka baru saja turun dari kendaraan angkot yang mereka tumpangi. Kini, hidup Sari menjadi susah setelah suaminya meninggal. Sari hanya menjual makanan dan juga melayani beberapa pesanan. Suaminya yang dahulu bekerja di kantor sudah meninggal dan hanya meninggalkan beberapa harta yang tidak bisa membuatnya bertahan lama. Sari pun bekerja membuat kue.

Sari mengeluarkan payung lipat dari tasnya, saat berjalan tiba-tiba Bayu terhenti dan tidak ikut berjalan bersama Sari. Sari kaget dan menatap Bayu yang tertunduk kehujanan. Sari segera memayungi Bayu agar tidak kehujanan.

Bayu tiba-tiba berhenti berjalan dan tak mau berada di bawah payung, dia mengepalkan tangannya, dan berteriak, "Aku sudah belajar setiap hari, Bu! Kenapa tetap saja aku bodoh? Kenapa aku tidak bisa seperti anak-anak lain? Apa aku harus keluar sekolah saja?!"

Tangisnya pecah di tengah hujan. Sari tidak bisa berkata-kata. Ia hanya merangkul anaknya erat, membiarkan air matanya bercampur dengan derasnya hujan yang membasahi tubuh mereka.

Sesampainya di rumah, Bayu mengurung diri di kamar. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Pikirannya dipenuhi rasa putus asa. Jika ia keluar dari sekolah, apa yang akan ia lakukan? Apakah ia akan selamanya menjadi anak yang gagal?

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. "Bayu, ini aku, Fajar," kata suara dari luar. Bayu terdiam, tetapi akhirnya ia membuka pintu.

Fajar masuk dan menatap Bayu dengan penuh empati. "Jangan menyerah, Bayu. Aku tahu kamu sudah berusaha keras. Aku akan membantumu. Kita belajar bersama, oke?"

Bayu menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... aku selalu tertinggal. Semua orang menganggapku bodoh. Aku merasa tidak berguna."

Fajar tersenyum dan menepuk bahu Bayu. "Kamu tidak bodoh. Kamu hanya perlu menemukan cara belajar yang cocok untukmu. Aku akan menemanimu. Jangan biarkan omongan orang lain membuatmu menyerah."

Perlahan, keyakinan mulai tumbuh di hati Bayu. Mungkin ia tidak sendiri. Mungkin masih ada harapan.

Di sekolah, ejekan masih terus datang. Bayu masih sering dianggap anak yang lambat berpikir, tetapi kali ini, ia punya alasan untuk bertahan. Dengan bantuan Fajar, ia mulai belajar dengan cara yang berbeda. Meski sulit, ia bertekad untuk tidak menyerah begitu saja. Metode belajar, hafalan, menulis rumus tiap lembar, huruf dipertebal dan diwarnai.

 

Fajar telaten belajar bersama Bayu, namun … semua itu seolah sia-sia. Bayu tetap saja kehilangan memori pelajaran yang sudah dipelajarinya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!