Aku Datang, Aeera!
Pertarungan Akhir 43
Helios kehilangan makhluk panggilan itu, pedangnya yang menyerang dengan energi terkuat tak bisa membunuh makhluk panggilan itu. Tiga serangannya gagal, makhluk panggilan itu kini melayang di udara dan pedang legendari itu melayang di depannya.
Ledakan besar terjadi dan serangan energi pedang Helios bahkan mengenai banyak pasukannya yang berada di luar gerbang kerajaan Saranjana.
Kenan menghembuskan napasnya perlahan, dia melayang mendekati Pedang Halilintar dan memegangnya. Setelah melakukan distorsi waktu dan mengembalikan hingga saat ini, Pedang Halilintar sudah mengorbankan energi dan jiwanya. Pedang Halilintar sudah mencapai batasnya, sekarang giliran Kenan yang harus berjuang.
”Tuan Pedang, apakah kamu mendengarku?”
Tak ada sahutan. Kenan tahu sekarang, jiwa Tuan Pedang hilang dan hanya tersisa Pedang Halilintar saja.
”Hei, Helios! Aku sudah selamat dari tiga seranganmu, lepaskan Aeera sekarang!” teriak Kenan dan mengarahkan ujung pedang pada Helios.
Mata Helios membesar, dia marah. Sedangkan, Aeera kaget kenapa Tuan Kalandra tidak hilang bersama dengan dihapuskannya hubungan antara penyihir dan makhluk panggilannya?
”Aku sudah berbohong padamu, tidak ada iblis yang menepati janjinya. Meskipun kamu kuat dan tidak hancur, tapi jika aku bunuh penyihir ini kamu juga pasti akan musnah bersamanya! Ha.. ha.. ha..!”
Helios menggerakkan energi di tangannya, Aeera yang melayang di udara terkena telekinesis sihirnya tertekan. Helios ingin menghancurkan tubuh Aeera dengan kekuatannya.
”Matilah bersama gadis penyihir yang memanggilmu!”
WOSSHHH!
BRUSH!
Mata Helios terbelalak, dia kaget. Saat tangannya hendak menghancurkan tubuh Aeera, tiba-tiba dia tak bisa mengontrol tangannya. Dia melihat belenggu Aeera lepas dari pengaruhnya dan makhluk panggilan itu sudah berada didekat gadis itu menyelamatkannya.
Bagaimana bisa?
Bahkan, tangan kanannya jatuh ke tanah dan itu karena serangan cepat yang memutuskan tangan Helios.
Tidak mungkin!
Semua mata melihat ke arah Kenan, gerakannya sulit dilihat oleh mata biasa. Dia melesat cepat dan menebas tangan raksasa Helios. Kenan memegang pinggang Aeera dan turun ke bawah.
”Tuan Kalandra, bagaimana anda bisa bertahan di sini. Aku sudah memutuskan hubungan ... bagaimana anda bisa ...”
Kenan tersenyum dan mengangguk, melepaskan Aeera dan menyerahkannya pada putri Kalya yang berada di tanah.
”Sekarang, aku bukan makhluk panggilanmu lagi, Aeera! Aku datang ke sini dengan mengumpulkan energi di duniaku dan memasuki dunia ini. Sekarang, serahkan sisanya padaku. Kalya, tolong lindungi Aeera.”
Kenan melayang kembali dan meninggalkan kedua wanita itu.
Helios sedikit gentar, tapi dia masih memiliki kekuatan. Helios memunculkan tangan baru meskipun menggunakan cukup banyak energi.
”Horus! Kita harus bersatu melawan manusia itu! Dia lebih kuat dari perkiraanku!” teriak Helios pada Horus.
Belum pernah terjadi raja iblis dan raja monster bertarung bersama. Mereka biasa membagi wilayah jajahan mereka, bahkan mereka sering berperang untuk memperebutkan wilayah. Namun, Horus menyadari bahwa manusia itu memiliki Pedang Halilintar dan memiliki kekuatan besar. Mereka harus menyatukan kekuatan.
Horus memerintahkan pasukan monsternya untuk menghancurkan semua manusia dan ras lainnya, Helios pun demikian dan berteriak pada pasukan iblisnya untuk menghancurkan siapapun yang ada di sana.
Pertarungan besar tak bisa dihindari. Kenan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi dua raja sekaligus.
Ini adalah perang terakhir.
”Tuan Pedang, meskipun kau sudah tiada di sini. Senjata yang kau tinggalkan akan aku gunakan untuk mengakhiri perang ini.”
Wooonggg!
”Fusion! Bersatulah denganku, Pedang Halilintar!”
Kenan mengalirkan energi ke dalam pedangnya, pedang itu berpecah dan membentuk armor di tubuh Kenan. Armor yang sangat kuat, dan dengan energi yang melimpah itu Kenan membentuk kembali pedang energi di tangannya.
Serangan energi datang dari mulut Horus, semburan kosmik yang sangat kuat. Kenan menggunakan pedangnya dan membelah energi serangan Horus. Energi itu terbelah dan menghancurkan sisi kanan dan kiri Kenan, di belakang Kenan kehancuran besar terjadi. Pertempuran mereka berimbas pada kehancuran kembali beberapa bangunan kerajaan.
Pasukan manusia dan Elf yang tersisa bertarung melawan pasukan monster dan iblis di sisi yang lain. Mereka tidak mau terkena imbas pertarungan Kalandra dan dua raja kuat itu.
BOOOOM!
KLANG!
Pedang Helios menghantam pedang Kenan yang membesar.
Kurang imbang, Kenan yang Kecil menghadapi dua monster raksasa. Kenan tahu harus berbuat apa, energi mengalir dalam tubuhnya. Dia harus membentuk tubuhnya juga besar dengan armor yang ada di tubuhnya.
”Membesar! Sultraman!” Kenan teringat film Sultraman, film anak-anak yang sering menggunakan baju renang yang dibuat aksesoris sebagai pahlawan yang menyelamatkan bumi dari para monster.
Benar saja! Kenan membasar. Kini, tubuhnya imbang dengan dua raja yang bersatu melawannya.
Helios mengarahkan pedangnya, Kenan menghadang dengan pedang.
Klang!
Horus menyerang dengan tombak dari arah belakang Kenan, serangan itu ditahan dengan tangan oleh Kenan. Kenan terpental ke belakang dan bergulingan.
Gemuruh suara tanah yang berguncang.
Horus dan Helios menyatukan kekuatan mereka dan menyemburkan energi besar ke arah Kenan. Kenan mengalirkan energi ke pedangnya, saat serangan kedua raksasa itu menyerang Kenan, Kenan menggunakan pedangnya untuk menghadang serangan itu.
WOOOONNNGG!
BOOOOMMM!
Ledakan besar terjadi. Horus dan Helios mengira mereka menang, tapi Kenan menghindari serangan itu dengan cepat. Gerakan kilat dilakukan dan Kenan sudah berada di belakang kedua raksasa itu.
”Cukup main-mainnya, aku tak punya waktu. Selamat tinggal, raja monster dan raja iblis. Saatnya kalian istirahat.”
Tidak mungkin!
Horus dan Helios menoleh ke belakang dan saat itu juga, energi pedang dengan kekuatan besar dilepaskan oleh Kenan. Serangan ultimate dengan energi penuh itu menghantam Raja Monster dan Raja Pedang hingga keduanya terbelah dan hancur dengan ledakan mega dahsyat. Dentuman kehancuran Horus dan Helios membuat pasukan monster dan pasukan iblis yang tersisa tak bisa berkata apapun.
Mereka kalah!
Pasukan manusia bersemangat melihat kehancuran Horus dan Helios, mereka menyerang pasukan monster dan iblis yang tersisa.
Kenan melihat pasukan musuh yang tersisa. Dia menggunakan energi di armornya, dia ingat dengan film Sarobot kembali. Manusia yang bersatu dengan robotnya, Kenan membidik semua pasukan musuh yang tersisa. Dan, peluru energi dari armor di tubuhnya melesat dan menghancurkan semua sisa monster yang tersisa.
BOOOOOMMM!
Kenan mengecilkan tubuhnya kembali, armor pecah dan pedang halilintar yang dipegangnya perlahan membuyar. Pedang Halilintar itu perlahan pudar, pecah dan hilang diterpa angin sepoi. Kenan tahu, tugas pedang itu adalah mengalahkan raja monster dan raja pedang. Jika tugasnya selesai, pedang itu juga akan menghilang.
Kenan melayang di udara, semua orang melihatnya bangga, mereka tak mengira bahwa bangsa mereka bisa merdeka dari jajahan monster dan iblis. Mereka menangis bahagia dan ada yang bersorak.
Kenan turun dan mendekati Aeera, putri Kalya dan semua pasukan lainnya yang selamat. Saat Kenan hampir mencapai tanah, energi di tubuhnya menipis. Kenan menyadari sesuatu, tangannya memudar, energi ditubuhnya perlahan hilang.
”Aeera, duniamu sudah bebas. Aku sudah memenuhi janjiku untuk mengalahkan raja iblis dan raja monster. Sudah saatnya aku kembali, hiduplah dengan baik Aeera.”
”Tuan Kalandra! Anda adalah teman bagiku, satu-satunya orang yang percaya padaku. Aku tidak pernah menganggap anda sebagai makhluk panggilan, anda adalah kakak bagiku.”
”Aku tahu, Aeera ....” tubuh Kenan mulai membuyar satu-persatu. ”Mulai sekarang, aku akan hidup di duniaku, dan kamu pasti akan menjadi penyihir yang hebat.”
Tangan Kenan mulai buyar.
”Wahai raja Alex, jaga puterimu dengan baik. Dan ... semua orang di sini, aku nobatkan. Aeera! Sebagai penyihir terkuat karena telah memanggil makhluk panggilan terkuat yang bisa menghancurkan raja monster dan raja iblis. Dia adalah penyihir terkuat di dunia ini!”
”Benar!”
”Aeera adalah pahlawan sebenarnya!”
”Aeera penyihir terkuat!”
Suara-suara itu membuat Aeera meneteskan airmatanya, Kenan tersenyum.
”Saatnya berpisah, Aeera. Jaga dirimu baik-baik.”
”Tuan Kalandra ...!” Aeera berlari dan memeluk tubuh Kenan yang hampir hilang. Saat pelukan Aeera mencapainya, saat itulah tubuh Kenan hilang.
SYUUUUTTTTT!
Apakah aku bisa kembali? Atau aku akan musnah di sini? Ah! Sudahlah. Aku sudah puas sekarang, terima kasih, Aeera. Apakah ... aku masih bisa bertemu dengan ibuku? Kumohon Tuhan, setidaknya biarkan aku melihat senyumnya sekali lagi.
***
”Hei! Bangun! Anda tidur di sini! Tempat ini mau saya bersihkan!” suara lelaki setengah baya menepuk pundak lelaki yang tertidur di kursi taman.
Lelaki itu membuka matanya perlahan, matahari masih menyala di atas sana. Pemuda itu tak menghiraukan lelaki yang memegang sapu, dia berdiri dan melihat matahari sore di ujung barat.
”Ma ... maaf Pak, apakah ini masih di dunia? Apakah ada monster di sekitar sini?”
Lelaki yang memegang sapu itu keheranan dan mengerutkan keningnya.
”Apakah kamu baru saja terbentur dan lupa ingatan? Ada-ada saja!”
Kenan berjalan dan meninggalkan lelaki itu, dia berjalan mengerakkan kepalanya. Dia melihat di ujung jalan di pinggir taman itu. Pangkas Rambut.
Ada baiknya untuk memotong rambut, Kenan melihat beberapa tempat lainnya. dia menyadari sesuatu ... aku kembali. Satu-satunya yang harus kutemui sekarang adalah ... Ibu.