Aku Bukan Anak Haram - Starla

Ancaman Baru

Ponsel itu masih bergetar, Eliza merogoh tasnya lalu menghela napas sebelum menggeser tombol hijau.

"Apalagi, siiiihhhh?" keluhnya. "Ganggu mulu tuh!" Dia kesal.

“El,” suara Saba terdengar hati-hati, “malam ini kalau nggak keberatan… kita nonton, yuk. Ada film kartun.”

Eliza menutup mata sebentar. “Nggak usah,” jawabnya ketus.

Di seberang sana, Saba terdiam sesaat. Lalu suaranya terdengar lebih ringan, seolah tak ingin suasana memburuk. “Kalau gitu… belanja aja gimana? Susu, crayon? Yang Starla butuhin.”

Eliza menatap rak di depannya. Tangannya kembali menata barang, satu per satu. “Aku lagi kerja, Pak. Jangan ganggu,” katanya dingin, tanpa menurunkan intonasinya.

Terdengar tawa kecil dari ujung sana. “Iya, maaf, El. Tapi jangan galak-galak napa, Bu…” Saba berhenti sebentar, lalu menambahkan pelan, “kan tujuannya biar Starla senang. Biar dia dekat sama aku juga.”

Deg.

Kalimat itu membuat dada Eliza menegang. Ia tidak menjawab. Jarinya sudah lebih dulu menekan layar. 

Telepon terputus.

Eliza meletakkan ponsel di lantai. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan. Ia kembali bekerja, tapi pikirannya berantakan.

Dekat sama aku.

Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti tuntutan, bukan permintaan.

Beberapa detik tegang, sebelum akhirnya ia embuskan napas pelan. “Dekat sama aku,” gumamnya lirih, menirukan kalimat Saba barusan.

Ia kembali menata barang, menyusun kotak-kotak kecil agar terlihat rapi.

Ada pembeli masuk, Eliza tersenyum, melayani seperti biasa. Tapi pikirannya tertinggal di percakapan tadi. Setiap kata Saba terdengar seperti niat baik yang datang terlalu tergesa dan memaksa.

Saat jam istirahat, Eliza menjemput Starla. Gadis kecil itu berlari menghampirinya, wajahnya cerah, tangannya terangkat sambil membawa gambar.

“Ibu, lihat. Starla gambar pelangi,” katanya bangga.

Eliza berjongkok, tersenyum. “Bagus sekali.”

Starla langsung naik ke motor, memeluk Eliza dari depan ketika mereka siap melaju. Di jalan, ia bersenandung pelan, lalu tiba-tiba bertanya, “Ibu, besok Om Saba ikut antar lagi?” tanyanya polos.

Eliza menunduk, mencium pucuk kepalanya, “Kita lihat nanti, ya.”

Starla terdiam sejenak. “Iya.”

Setelah beberapa meter, Eliza bertanya, “Kalau Om Saba ajak nonton, mau nggak?” 

Starla bergumam, "Hmmm, ibu sih?”

"Kalau Starla mau, ayo."

“Oh,” jawab Starla singkat. "Mau aja."

Malamnya, setelah makan seadanya, Starla duduk di lantai dengan crayon lama. Eliza memperhatikannya dari ranjang. Gadis kecil itu memilih warna biru, lalu berhenti, menatap kotak crayon yang isinya mulai berkurang.

“Ibu,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kalau beliin crayon baru, boleh?”

Deg.

Eliza menatap punggung kecil itu lama. "Ok, , tunggu ibu gajian ya,” jawabnya akhirnya.

Starla mengangguk, seolah sudah terbiasa dengan jawaban itu.

Tak lama, ponsel Eliza kembali bergetar. Nama Saba muncul lagi. Eliza menatap layar tanpa menyentuhnya.

["Aku cuma mau jadi bagian hidupnya, El."]

Eliza menutup mata. Ia menoleh ke Starla yang kini tengkurap, memakai crayon yang sudah tumpul dan patah.

Di luar, suara motor lewat bersahut-sahutan. Malam berjalan seperti biasa. Setelah Starla tertidur, Eliza duduk sendirian di ruang sempit kos. Lampu redup.

Hujan turun tipis di luar, membasahi atap seng. Ponselnya kembali bergetar. Bukan dari Saba. Nama lain muncul di layar.

Eliza terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Mungkinkah dia tahu dari Saba?

["Besok sore saya ingin bertemu. Berdua saja. Demi kebaikan Starla."]

Eliza menutup mata. Kata ~demi terasa seperti pisau yang digunakan untuk menikamnya perlahan.

***

Pesan dari Hasnawati itu Eliza baca sekali lagi. Tidak dibalas. Ponsel ia letakkan terbalik di meja, seolah dengan begitu semuanya bisa berhenti.

Sore keesokan harinya, Saba menjemput mereka di kosan tepat waktu.

“Kalau kamu berubah pikiran, bilang ya,” kata Saba hati-hati saat Eliza naik ke mobil bersama Starla.

Eliza mengangguk tipis. “Iya.”

Starla justru paling riang. Tangannya menggenggam erat tangan Eliza, matanya berbinar ketika Saba bertanya mau ke mana dulu.

“Beli crayon!” jawabnya cepat.

Mereka ke toko alat tulis yang ada di Mall, membeli crayon. Starla memilih sendiri, lama berdiri di depan rak, menghitung warna, memastikan tak ada yang sama.

Eliza memperhatikan dari jauh. Saba jongkok di samping Starla, sabar, tak sekalipun menyela.

“Yang ini bagus, Ayah,” kata Starla spontan.

Eliza tersentak. Tapi Saba hanya tersenyum, tidak membetulkan. Dia bangun dan membayar, lalu menyerahkan kantong itu ke Starla. “Buat kamu.”

Setelah itu beli es krim. Kemudian masuk ke bioskop. Memilih film kartun yang ceritanya ringan dan penuh warna.

Di dalam studio, Starla duduk di tengah. Lama-lama kepalanya bersandar ke lengan Saba. Lalu tertidur.

Saba membiarkannya pulas sampai film habis lalu menggendongnya keluar.

Ia mencium kening kecil itu, mengusap punggungnya pelan, lalu rambutnya. Gerakan yang begitu alami, begitu penuh rasa.

Eliza melihat semua itu. Dadanya menghangat. Dan justru karena itu, terasa sakit. Saba benar-benar sayang pada Starla.

Kepercayaan di dalam diri Eliza naik, lalu turun lagi. Antara ingin mengizinkan, ikhlas dan takut kehilangan. Ia menghela napas panjang.

“Kenapa?” tanya Saba, peka, tanpa menoleh.

“Nggak apa-apa.”

Saba terdiam sejenak. “Jangan pergi, El. Tetap di sisi Starla. Aku akan pastikan kamu aman.”

Kalimat itu diucapkan pelan sambil jalan ke parkiran. Hampir seperti janji khusus untuknya. Eliza tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan.

Di parkiran, Saba membuka pintu mobil untuk Eliza. Ia meletakkan Starla perlahan ke pangkuan Eliza, membenarkan posisi kepalanya, memastikan napasnya teratur.

Saat Saba berputar ke balik kemudi, ponsel Eliza bergetar terus-menerus.

"Siapa sih…"

“Angkat aja,” kata Saba. “Aku diem kok.”

Eliza ragu, lalu meraih ponsel itu. Tepat ketika Saba duduk dan menutup pintu mobil.

“Ya?” suara Eliza terdengar lebih pelan saat melihat siapa yang menelponnya. “Ma—maaf, a—aku—”

“Jangan macam-macam denganku, Eliza,” suara di seberang memotongnya dengan tegas.

Deg.

Eliza membeku. Starla masih terlelap di pangkuannya, "Bu-bukan gitu maksudnya...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!