Aku Bukan Anak Haram - Starla
Memaksa
Deg.
Dada Eliza menegang tiba-tiba, setelah mengikuti arah telunjuk kecil Starla, ke luar gerbang sekolah. Ada sosok perempuan yang berdiri di samping Saba.
Gestur wanita Jawa berusia sekitar lima puluh tahunan. Ia memakai gaun sederhana tapi terkesan mewah, rambutnya digelung rapi. Wajahnya tenang, dengan riasan ringan, senyumnya terulas tipis. Dari cara berdirinya saja, Eliza bisa tahu beliau ini terbiasa dihormati.
Perempuan itu masih tersenyum. Tangannya tetap terangkat, melambai pelan ke arah Starla.
Starla tidak membalas malah mendekat ke Eliza, jemarinya meraih ujung baju ibunya. “Ibu…” bisiknya lagi, pelan tapi jelas. “Itu siapa?”
Eliza menelan ludah. “Kita masuk dulu, ya,” katanya tenang, meski jantungnya berdebar tak beraturan.
Starla menurut. Tapi langkahnya lambat. Kepalanya menoleh beberapa kali ke arah gerbang, memastikan sosok itu masih di sana.
Saba tidak mendekat. Ia hanya berdiri di tempatnya. Tapi Eliza tahu, hari ini satu orang lagi dihadirkan paksa ke dalam hidup mereka, tanpa izinnya.
Setelah Starla masuk kelas, Eliza berdiri beberapa detik lebih lama di depan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik setelah memastikan Starla tenang.
Eliza menuju motornya, menaiki dan mendekati mobil mereka.
“Selamat pagi,” sapanya duluan. Suaranya lembut, tapi tegas. "Apa kabar Nyonya Hasnawati?"
"Pagi," jawab mereka bersamaan.
"Aku baik, terima kasih, Eliza."
Eliza tidak tahu harus memulai dengan topik apa. Ia hanya berdiri, kedua tangannya saling bertaut di depan tubuhnya.
Hasnawati bukan orang asing bagi Eliza. Dia yang menabrak Starla dulu sekaligus menanggung biaya pengobatannya.
“Saba bilang,” lanjut Hasnawati, “Starla mulai menerimanya.”
Eliza menoleh ke Saba sekejap. Pria itu tampak canggung, seperti berdiri di antara dua dunia yang sama-sama menuntut.
“Lalu?” jawab Eliza singkat.
Hasnawati tersenyum lagi. Kali ini sedikit lebih hangat. “Terima kasih,” katanya tiba-tiba.
Eliza mengernyit. “Untuk…?”
“Sudah menjaganya sejauh ini. Dan memberinya nama yang cantik.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di telinga Eliza, bergaung seakan merongrong menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, membuatnya tak berkutik.
Ia tidak membalas. Hanya mengangguk kecil.
Bel masuk berbunyi. Gerbang sekolah kembali ditutup.
“Aku tidak lama,” kata Hasnawati, seolah membaca kegelisahan Eliza. “Cuma ingin melihat.”
Melihat apa? Eliza ingin bertanya. Tapi ia memilih diam.
Saba melangkah maju setengah langkah. “Maa—”
“Nanti,” potong Hasnawati lembut. Ia menoleh ke Eliza lagi. “Kita akan sering bertemu, Eliza.”
Eliza tersenyum tipis. “Sering? ... Kita liat nanti.”
Ia pamit lebih dulu, melajukan motornya tanpa menunggu tanggapan mereka. Ia tidak ingin berdiri lebih lama di situ, takut dikira memberi ruang bagi perasaan yang belum siap ia hadapi.
Sore hari, setelah mandi, Starla lebih pendiam dari biasanya. Ia duduk di lantai kos, menggambar tanpa suara. Tidak bersenandung, seperti biasanya.
Eliza baru pulang, memperhatikannya dari pintu kamar yang terbuka, sambil melepas sepatu.
“Ibu,” Starla memecah keheningan.
“Iya, Sayang?”
“Kalau ada ayah…” Starla berhenti. Pensil warnanya terhenti di udara. “kenapa ibu nggak sama ayah saja?"
Eliza membeku.
Ia mendekat, lalu duduk di samping Starla. “Kenapa nanya gitu?”
Starla mengangkat bahu kecilnya. “Yang di sekolah tadi, berdiri di samping ayah, ibu-ibu. Ibunya siapa?”
Eliza mengusap rambut Starla pelan. “Ibunya Om Saba.”
Starla menatapnya. Lama. “Oh. Ibunya?”
“Iya,” jawab Eliza cepat.
Starla tersenyum kecil, lalu kembali menggambar. "Ibuku tetep ibu, kan?"
Deg.
Eliza tersenyum tipis, ragu, meski akhirnya mengangguk. Starla kerap mengulang pertanyaan sama, seperti ingin memastikan dirinya takkan kehilangan Eliza.
Sore hari, pesan dari Saba masuk.
["Maaf soal pagi tadi. Aku terpaksa."]
Eliza membaca tanpa membalas. Tak lama, pesan kedua menyusul.
["Beliau pengin kenal Starla."]
Eliza menatap layar lama. Kata ~pengen terasa asing di hidupnya akhir-akhir ini. Semuanya datang terlalu tiba-tiba.
Ia mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Akhirnya, ia menaruh ponsel di meja dan mematikan layar.
Starla tertidur lebih awal malam itu. Eliza duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu lama. Eliza mengusap pipi Starla perlahan.
“Ibu bakal kangen kamu,” bisiknya pada diri sendiri.
Malam semakin larut. Kipas angin berdecit pelan, mengusir panas yang enggan pergi. Eliza berbaring di samping Starla, tapi matanya tak mau terpejam.
Starla bergeser dalam tidur. Tangannya meraba, menemukan lengan Eliza, lalu mencengkeramnya.
Eliza menahan napas. Dadanya terasa sesak.
Di benaknya, wajah perempuan pagi tadi kembali muncul. Hasnawati.
“Kita akan sering bertemu.”
Eliza memejamkan mata. Kalimat itu terdengar seperti keputusan sepihak.
Ponsel di meja kecilnya bergetar. Eliza melirik sekilas. Nama Saba kembali muncul. Ia membiarkannya.
Sejak Saba masuk kembali ke hidup mereka, Eliza merasa benar-benar terusik. Ada yang lebih punya hak atas Starla. Dan ketakutan dirinya tak dilibatkan lagi di kehidupan Starla.
Eliza menoleh ke Starla. Wajah kecil itu damai dalam tidur, belum tahu bahwa hidupnya perlahan bakal berubah ke arah yang tidak ia duga.
“Eliza,” bisiknya pada dirinya sendiri, nyaris tak bersuara. “Kamu harus kuat.”
Besok, dan hari-hari setelah ini, ia tidak lagi berhadapan dengan satu orang tapi sebuah keluarga. Dan harus memilih, bertahan, atau belajar melepaskan perlahan.
*
Pagi itu, Eliza menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Pesan Saba sudah dibaca semuanya. Tapi dirinya belum sempat menjawab.
Tak lama, pesan baru masuk. Dari Saba. ["El, aku minta maaf soal kemarin."]
["Aku masih bisa lihat Starla, kan?"]
Di sana, mungkin beberapa menit bagi Eliza, terasa seperti berjam-jam bagi Saba. Hingga akhirnya Eliza mengetik balasan.
"Iya, boleh."
Saba terlihat sedang mengetik pesan. Eliza menunggunya.
["Makasih."]
Pesan itu terbaca. Tak Eliza balas lagi. Dia memasukkan ponselnya ke tas. Dia langsung memanaskan motor, lalu menoleh ke Starla yang sedang memakai sepatu.
“Ayo,” katanya singkat.
Starla mengangguk. Kaki kecil itu berlari ke motor dan lngsung naik di depan.
Jalanan masih seperti biasa, mulai macet tapi angin pagi menyentuh wajah mereka, lumayan menepis debu. Starla memeluk tasnya, kepalanya goyang kanan kiri sambil menyanyi.
Lain hal dengan Eliza. Kata boleh yang ia kirim ke Saba tadi terasa seperti izin dua arah. Harusnya dia menegaskan, boleh tapi hanya anda saja.
'Bodoh, El,' batinnya merutuk.
Tidak ada mobil Saba di luar gerbang saat merek tiba di sekolah. Eliza mengantar Starla sampai putrinya itu dituntun masuk oleh Bu guru.
Dia pamit, melambai ke Starla sebelum masuk ke kelas.
Di tempat kerja, Eliza sigap mengerjakan ini itu. Tangannya bergerak cepat, bibirnya menjawab seperlunya. Tapi kepalanya penuh. Hatinya was-was.
Takut jika satu kata terlalu ramah, akan dianggap izin. Jika terlalu kaku, Starla yang terluka.
Sesekali, ia melirik tasnya. Ponselnya terdengar berdering. Eliza bangkit dari duduk di lantai, menata produk di etalase bawah.
"Apalagi sih?" ujarnya kesal saat menggeser tombol hijau ke atas, menjawabnya.
.
.