Aku Bukan Anak Haram - Starla

Membujuk Eliza lagi

Cerai?

Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Matanya masih menatap Saba, mencoba memastikan apakah yang barusan ia dengar itu benar… atau hanya bagian dari lelah yang membuat semuanya terasa kabur.

“Jadi…” suaranya lirih, “Anda… mau pisah?”

Saba mematikan mesin mobil. Sunyi langsung menyeruak. Hanya suara napas mereka… dan hembusan kecil dari dada Starla yang masih terlelap.

“Aku sudah lama sendiri, El,” katanya pelan. “Cuma… secara hukum belum selesai.”

Eliza menunduk. Matanya jatuh ke wajah Starla yang damai di pangkuan. “Terus aku harus apa?” bisiknya. 

Saba menoleh. “Nggak harus apa-apa.” Jeda. “Aku yang harus beresin semuanya.”

Eliza tertawa kecil, “Kedengarannya sih gampang. Nanti aku diseret-seret lagi."

“Enggak.” Saba menggeleng. “Makanya aku minta kamu jangan pergi. Liat dulu apa yang aku lakukan agar semuanya kembali bersih.”

Kalimat itu membuat Eliza mengangkat kepala lagi. Tatapan mereka bertemu.

“Aku nggak minta kamu percaya,” lanjut Saba. “Tapi… jangan menutup akses buat Starla.”

Hening.

Eliza menarik napas panjang. Dadanya naik turun perlahan. Semua terasa terlalu cepat, banyak yang berubah dalam waktu singkat.

Ia menatap Starla lagi sebelum bergeser. Ia merapikan posisi Starla, bersiap turun dari mobil.

“Udah sampai,” gumamnya pelan.

Saba langsung keluar duluan, berjalan ke sisi kiri dan membuka pintu dengan hati-hati, lalu mengulurkan tangan. “Biar aku,” katanya.

Eliza ragu sepersekian detik… lalu mengangguk.

Saba menggendong Starla perlahan, seolah membawa sesuatu yang rapuh sekaligus berharga. Kepala kecil itu langsung bersandar di bahunya tanpa terbangun.

Eliza turun, menggenggam tas dan kantong belanja. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu kos. 

Di depan pintu, Eliza berhenti. Mengeluarkan kunci. Tangannya sedikit gemetar. Saba berdiri di sampingnya, diam.

Kunci di tangan Eliza hampir masuk ke lubang ketika suara berat memecah sunyi.

“Mbak Eliza.”

Eliza menoleh cepat. Ibu kos berdiri di ujung teras, tangan bersedekap, alisnya naik sebelah. Tatapannya langsung jatuh ke Saba… lalu ke Starla yang tertidur di gendongannya.

“Itu siapa?” tanyanya datar.

Eliza menelan ludah. “Bu… ini—”

“Laki-laki nggak boleh masuk,” potong ibu kos tegas. “Aturannya jelas. Paling cuma sampai teras.”

Saba yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara. Nada suaranya tenang, tapi tegas. “Dia ibu putriku.”

Deg.

Ibu kos menoleh ke Eliza. Tatapannya berubah, menuntut penjelasan.

Eliza terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk kecil. “Iya, Bu… Dan… beliau ayahnya.”

Di dalam hati, Eliza menunduk. Putri adopsi, batinnya lirih. Senyum tipis sempat terlukis.

Ibu kos menghela napas. Matanya masih menilai, tapi perlahan melunak.

“Ya sudah. Kali ini saja,” katanya akhirnya. “Jangan kebiasaan.”

Eliza cepat mengangguk. “Iya, Bu. Terima kasih.”

Kamar itu kembali menyambut mereka dengan hangat yang sederhana. Lampu kecil menyala, aroma wangi samar dari parfum gantung masih terasa.

Saba melangkah masuk, langsung menuju ranjang. Ia membaringkan Starla hati-hati, seolah takut mengganggu mimpi anak itu. Tangan kecil Starla sempat bergerak, lalu tenang kembali.

Saba berdiri tegak, menatap sejenak wajah kecil itu. Lalu matanya berkeliling. Kamar sempit tapi rapi dan bersih.k

“Ngontrak aja,” katanya tiba-tiba. “Satu rumah.”

Eliza yang sedang meletakkan tas langsung menoleh. “Apa?”

“Biar nggak ada yang rese,” lanjut Saba santai. “Aku tenang kerja, beresin semuanya. Starla juga pasti maunya sama kamu terus.” Ia menoleh sekilas. “Nanti ada mbak yang bantu di rumah.”

Eliza langsung mendecak. “Gak mau.”

Saba menaikkan alis. “Kenapa lagi?”

“Nanti kena fitnah lagi.” Eliza menyilangkan tangan. “Aku dikira gundikmu.”

Saba tertawa lepas. “Sembarangan… gundik.” Ia menggeleng, masih dengan sisa tawa. “Mulutmu itu, El.”

“Ya gitu lah.” Eliza memalingkan wajah. “Pokoknya aku nggak mau disangkutpautkan. Titik.”

“Iya, iya.” Saba mengangkat tangan menyerah. “Pindah aja. Kos yang lebih lega. Kayak di Bu Gendhis gitu.”k

Eliza menghela napas panjang. Matanya tertumpu ke Starla yang tidur pulas.

“Deal,” gumam Saba. “Besok pagi seragam Starla aku antar ke sini,” katanya sambil melangkah ke pintu. “Kamu kerja sore, kan? Titip anakku ya, El.”

“Ogah.”

“Iya, pokoknya iya.”

“Nggak mau.”

Langkah Saba terhenti di ambang pintu. Ia menoleh, menatap Eliza yang berdiri dengan wajah setengah kesal.

“Ya sudah,” ucap Saba, nada suaranya turun. “Kalau kamu libur… Starla boleh nginap? Sesekali?”

Eliza diam. Menatap Starla. Lalu kembali ke Saba.

“…hm, boleh.”

Saba tersenyum tipis. “Makasih, ibu.” Ia membuka pintu. “Selamat malam. Bobok, El. Jangan begadang.”

***

Pagi harinya. 

Starla berdiri di depan cermin kecil, seragamnya sudah rapi, rambutnya diikat dua dengan pita yang sedikit kebesaran. Ia berputar kecil, lalu menatap Eliza dengan mata berbinar.

“Ibu… Starla cantik?”

Eliza yang sedang merapikan tas menoleh. Senyum tipis muncul seiring tatapan hangatnya. “Cantik banget.”

Starla terkekeh, lalu berlari menghampiri. Eliza jongkok, merapikan kerah baju anak itu. “Denger ya,” katanya pelan. “Makan yang banyak.”

Starla mengangguk cepat. “Biar gembul lagi!”

Eliza tersenyum. “Iya. Terus sekolah yang rajin…”

“Biar bisa nginep lagi minggu depan!” sambung Starla semangat.

Eliza tertawa kecil, mengangguk. “Iya… biar bisa nginep lagi.” Ia mencium kening Starla, sebelum keluar kamar.

Di depan gerbang sekolah, Starla turun dari mobil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Eliza.

“Ibu pulang kerja nanti jemput?” tanyanya.

Eliza menggeleng. “Ayah atau nenek yang jemput. Gak apa, kan?”

Starla mengernyit, bibirnya mengerucut lucu meski akhirnya mengangguk. Dia melangkah masuk, lalu menoleh lagi. Melambaikan tangan dengan wajah lesu.

“Dah ibuuuuu!” teriaknya.

Eliza membalas lambaian itu. Sampai punggung kecil itu hilang di balik pintu kelas. Setelah itu, dia meminta supir keluarga Saba mengantar ke stasiun terdekat, kembali ke kosannya.

Di sisi lain kota.

Pintu ruang kerja Saba terbuka tanpa ketukan.

“Kurang ajar kamu, Saba!” Seorang pria tua masuk dengan langkah gaduh. Wajahnya merah padam.

Saba tidak berdiri. Ia tetap duduk di kursinya, tenang, seolah badai yang baru masuk itu hanya angin lewat.

“Silakan duduk, Pa,” katanya datar.

“Halah, tak sudi!” bentak pria itu. “Kamu berani ceraikan anakku? Setelah semua yang dia lakukan?”

Saba menghela napas pendek. Tangannya meraih laptop di meja lengkap dengan USB yang terpasang di sana. Tanpa banyak kata, ia memutar layar ke arah sang mertua.

“Lihat dulu,” katanya singkat.

Klik.

Video berjalan.

Wajah pria itu berubah perlahan. Gambar demi gambar vulgar. Julia… dengan beberapa pria lain. Tertawa, mabuk, masuk ke apartemen bersama seseorang yang jauh lebih muda. Transferan uang. Bukti percakapan. Semua tersusun rapi. 

Ruangan terasa mengecil.

Saba bersandar. Tatapannya masih datar. “Dia pernah pulang… setelah bercumbu dengan lelaki itu,” ucapnya pelan. “Dan malamnya… dia datang padaku.”

Sunyi.

“Dia mengajakku…” Saba berhenti sejenak, menelan kata yang terasa pahit. “…supaya kalau hamil, dianggap anakku.”

Pria tua itu memejamkan mata. Rahangnya mengeras.

“Agar… mewarisi perusahaan Papaku.”

Jeda beberapa detik.

“Aku diam selama ini, Pa,” lanjut Saba. “Menghargai Anda. Menjaga nama keluarga.” Ia mendorong laptop itu sedikit ke depan.

“Silakan nilai sendiri… kalau Anda ada di posisiku.”

Pria itu menarik napas berat. Seolah ingin membela… tapi kata-kata tak lagi menemukan susunan kalimatnya.

Saba berdiri perlahan. Suaranya tetap tenang. “Tenang saja. Aibnya aman… asal semua ini selesai dengan baik.” Ia menatap lurus. “Itu saja permintaanku.”

“Kamu juga punya piaraan, Saba.”

Saba mengernyit tipis. “Siapa?”

Sebuah foto dilempar ke meja. Perjumpaan mereka di taman, Mall saat bersama Starla.

Ruangan kembali menegang.

“Dia gadis itu, kan?” sindir pria tua itu. “Yang kamu pelihara diam-diam?”

Saba mengambil foto itu. Menatapnya sebentar. Lalu mengangkat kepala. “Dia gadis yang menyelamatkan putriku dan Wulan saat dibuang Papa tepat setelah lahir.” Suaranya rendah, terdengar pilu. “Dia yang merawat Starla lalu mengadopsinya.”

Jeda.

“Darah dagingku.”

“Anak haram!” bentak pria itu.

Saba tidak goyah. Tatapannya lurus, tak bergeser sedikit pun.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!