Aku Bukan Anak Haram - Starla
Masa Depan Kami
Kursi Saba berdecit saat ia berdiri terlalu cepat, telapak tangannya refleks terulur ke arah putrinya.
“Starla,” panggilnya lagi.
Tapi anak itu sudah lebih dulu menggenggam ujung baju Eliza, menariknya pelan ke arah pintu seolah ingin secepatnya pergi dari sana.
“Aku ikut,” ulang Starla, matanya berbinar meski masih basah.
Eliza terdiam sepersekian detik. Napasnya naik turun, dadanya masih penuh sisa-sisa emosi yang belum reda. Tangannya refleks turun, menyentuh jemari kecil itu.
“…aku antar,” ucap Saba.
Deg.
Arka ikut berdiri dari kursinya. Gerakannya tidak tergesa, tapi langkahnya berhenti di sisi meja. Raut wajahnya mendadak kaku, matanya mengikuti punggung Eliza yang mulai menjauh.
Malam sudah turun saat mobil meluncur pelan meninggalkan café. Lampu jalan memantul di kaca, bergeser satu per satu seperti menyilakan mereka melintas di bawah naungan cahayanya.
Di kursi penumpang, Eliza duduk diam.
Starla ada di pangkuannya, tubuh kecil itu masih penuh energi di awal perjalanan, kakinya bergoyang pelan, suaranya riang, bahkan sempat menyanyikan lagu anak-anak dengan nada sesukanya tapi penuh semangat.
“Ibu denger ya… grep grep lalu ditangkep…” gumamnya, tertawa kecil sendiri.
Eliza hanya tersenyum tipis. Tangannya mengusap rambut Starla perlahan, jemarinya sesekali merapikan poni yang jatuh ke mata anak itu.
Saba di kursi kemudi sesekali melirik lewat kaca spion tengah. Sudut bibirnya naik tipis. Pemandangan itu… sederhana, tapi seperti sesuatu yang lama hilang.
Lalu, perlahan, suara Starla meredup.
Kepalanya bersandar ke dada Eliza. Napasnya mulai teratur. Eliza menunduk sedikit, mencium pipi anak itu pelan.
Sunyi turun di dalam mobil. Hanya suara mesin dan jalan.
Beberapa menit berlalu sebelum Saba bertanya, “Kapan libur?”
Eliza diam masih menatap Starla. Jemarinya mengusap lengan kecil itu, menenangkan dirinya, mengobati rindu yang datang bergulung.
“…pekan depan,” jawabnya akhirnya, pelan. “Rabu.”
Jeda.
“Jangan ganggu aku,” tambahnya, tanpa menoleh.
Saba mengangguk kecil, meski tahu itu tidak terlihat. “Aku cuma mau ajak… ke makam Wulan.”
Gerakan tangan Eliza berhenti sebentar.
Ia menoleh sedikit, memastikan tidak salah dengar.
“Nggak gangguin,” lanjut Saba cepat, nadanya menurun, “palingan anakmu yang rewel.”
Eliza menghela napas pendek. “Nggak usah jadikan Starla alasan…” gumamnya. Tangannya naik, menciumi pipi Starla lagi. “Kamu kurus banget, sayang…” ujarnya melembut.
“Emaknya nggak ngurusin ya gitu,” lanjut Saba tiba-tiba, setengah bergumam. “Susah makan. Sekolah apalagi."
Eliza langsung mengangkat kepala. Alisnya mengernyit. “Hah?” Tatapannya beralih ke Saba. “Starla nggak sekolah?”
Saba diam. Jemarinya mengencang sedikit di setir.
“Pak?” panggil Eliza lagi, kali ini lebih tegas.
Saba tetap diam.
“Pak… Pak, Saba!” decak Saba tak menoleh ke arah Eliza sambil menghela napas panjang. Pandangannya tetap lurus ke jalan. “Belum,” jawabnya singkat.
Eliza menatapnya tidak percaya. “Kenapa?”
“Lingkungannya nggak cocok,” jawab Saba datar. “Dan… dia juga belum siap.”
Eliza menggeleng pelan, jelas tidak puas. “Atau Anda yang mengabaikan Starla?” bisiknya.
Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahayanya memantul di dashboard.
"Mana ada," sanggah Saba.."harusnya kamu stay, El, nggak ngilang gitu aja," ungkapnya dengan nada kesal.
“Ogah,” lanjut Eliza tiba-tiba. “Nanti dilabrak binimu itu.”
Saba menoleh cepat.
“Bini mana?” tanyanya, alisnya terangkat tipis. “Itu masa lalu, El.”
Eliza diam. Tatapannya kembali ke Starla.
“Masa depanku…” lanjut Saba pelan, “…sama Starla yaitu—”
Ia berhenti sebab lampu berubah hijau dan mobil kembali berjalan.
“El,” panggilnya pelan.
Eliza tidak langsung menoleh.
“Yaitu apa?” balas Eliza malas.
Saba melirik ke samping. Starla masih tertidur di pangkuan Eliza. Senyum tipis pun muncul di sudut bibirnya.
Lampu-lampu jalan terus meluncur di balik kaca, memecah malam dengan sentuhan lembut. Di dalam mobil, keheningan terasa. Starla tertidur pulas di pangkuan Eliza, napasnya kecil dan teratur, jemari mungilnya masih menggenggam lipatan kain blouse Eliza saking takut kehilangan.
“Masa depanku…” ulangnya pelan, suaranya terdengar lembut di ruang mobil yang sempit, “…kayaknya lagi duduk di sebelahku.”
Eliza menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Hah?”
Saba tertawa kecil, sengaja membiarkan maknanya mengambang. Jemarinya mengetuk setir sekali sebelum kembali menggenggamnya. “Kita lagi cari sesuatu yang hilang,” katanya, matanya tetap lurus ke jalan. “Dan sepertinya malam ini… mulai ketemu arahnya.”
Eliza mengernyit. “Aku nggak ngerti.”
Saba mengangguk pelan, masih dengan senyum yang tak sepenuhnya hilang. “Iya, iya,” ujarnya ringan. “Kita selesaikan satu-satu ya.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di balik kalimat itu. Bukan sekadar percakapan biasa.
“Anda saja, Tuan,” sahut Eliza sinis, memalingkan wajah kembali ke Starla. Jemarinya membelai pipi putrinya dengan gerakan pelan. “Aku nggak merasa ada masalah.”
Saba tersenyum sendiri, menikmati nada tajam itu seperti sesuatu yang pernah sangat ia kenal.
Mobil berbelok memasuki jalan yang lebih sepi. Deretan rumah dan kos-kosan mulai tampak, lampu teras menyala temaram.
“Kosmu di mana?” tanya Saba tiba-tiba.
Eliza sempat diam beberapa detik, lalu menjawab singkat, menyebut alamatnya. Begitu nama tempat itu keluar, tangan Saba sedikit mengencang di setir.
“Itu…” ia melirik cepat, “kosannya ibunya Arka?”
Eliza menoleh, sedikit curiga. “Iya. Kenapa?”
Saba menghembuskan napas pendek, lalu menggeleng pelan seperti sedang memikirkan sesuatu. “Pindah, El.”
Eliza langsung menatapnya tajam. “Gak mau.”
Saba menoleh sekilas, kali ini lebih serius. “Pindah.”
“Nggak mau,” ulang Eliza, lebih tegas.
Mobil melambat saat memasuki gang kecil menuju kos. Lampu dashboard memantulkan garis cahaya lembut di wajah Saba yang kini terlihat lebih tegang.
“Pindah,” ulangnya lagi, kali ini menatap tajam Eliza. "Biar leluasa kalau Starla mau nginep.”
Eliza mendecak pelan, matanya menyipit. “Gak mau.”
Saba menghela napas, lalu memarkir mobil perlahan di depan pagar kos. Mesin belum dimatikan. Tangannya tetap di setir, kepalanya sedikit menunduk sebelum akhirnya menoleh penuh ke arah Eliza.
“Harus mau,” pintanya. “Kamu ibunya.” Tatapannya turun ke Starla yang tertidur di pangkuan Eliza. “Dia bakal nempel terus sama kamu mulai sekarang.”
Kalimat itu menggantung. Lalu suara Saba melunak. Terdengar seperti permohonan yang muncul dari lelah yang lama dipendam.
“Bantu aku, El… please.”
Eliza membeku.
Saba mengusap wajahnya pelan dengan satu tangan, lalu kembali menatap ke depan. “Dia ketinggalan banyak hal.”
Jeda.
Eliza menatap wajah pria di sampingnya. Malam memahat garis rahang itu jadi lebih tegas, tapi nada suaranya tadi… justru bagai ayah yang kalut.
“Kenapa harus aku?” bisiknya, nyaris tanpa sadar. “Kan ada mamanya.”
Saba menoleh, matanya bertemu dengan mata Eliza.
Lalu satu kalimat itu terucap, “Big no.” Senyumnya hilang. “Julia bukan istriku lagi.”
Deg.
Napas Eliza tertahan. Jemarinya yang tadi mengusap rambut Starla mendadak berhenti di udara.
“Apa?” suaranya hampir tak keluar.
Saba menghela napas panjang, kepalanya bersandar sebentar ke sandaran kursi. “Prosesnya masih jalan.” Ia menoleh lagi, kali ini tatapannya jauh lebih lurus. “Semoga pekan depan selesai.”
Dunia seperti mendadak mengecil di dalam mobil itu.
Cerai kah?
.
.