Aku Bukan Anak Haram - Starla
Mau Ikut Ibu
Arsyira berdiri di ambang lorong, matanya bergerak pelan.
Dari Eliza yang berlutut, memeluk anak kecil yang menangis itu. Beralih ke Saba yang berdiri kaku dengan rahang menegas… lalu kembali lagi ke anak itu.
Potongan-potongan kecil ingatan langsung tersusun di kepalanya. Wajah itu yang terasa familiar.
“Eliza…” panggilnya pelan, tapi cukup untuk membuat Eliza menegang. Pelukan itu tidak langsung terlepas. Justru menguat sepersekian detik… sebelum akhirnya Eliza menarik napas dalam dan perlahan melepaskan diri.
Eliza berdiri. Matanya merah. Napasnya masih tidak stabil.
Arsyira menatapnya sebagai seseorang yang sedang mencoba memahami… siapa dia sebenarnya.
“Itu…” Arsyira menunjuk kecil ke arah Starla, lalu kembali ke Eliza, “anak kamu?”
Eliza membuka mulut… tapi tidak ada suara yang langsung keluar. Tenggorokannya terasa kering. Saba melangkah setengah langkah ke depan, seolah siap mengambil alih. Namun Eliza lebih dulu mengangguk.
“Iya.”
Arsyira menghembuskan napas pelan, tangannya turun dari posisi menyilang di dada. Kepalanya sedikit miring, menatap Starla lagi.
“Pantes…” gumamnya lirih. “Aku seperti pernah melihatmu.”
Starla menatap balik, masih sambil sesekali mengusap air matanya dengan punggung tangan kecilnya. Ia bergeser sedikit mendekat ke Eliza, jari-jarinya kembali mencari ujung baju wanita itu.
Arsyira menoleh ke Saba sekarang. “Mas Saba,” ucapnya, tenang, “mau jelasin… atau aku yang nebak sendiri?”
Saba menghela napas panjang. Tangannya kembali masuk ke saku celana. “Ini bukan tempatnya,” ucap Saba.
Arsyira mengangkat alis. “Justru Mas yang bawa ini ke tempatku.”
Di ujung lorong, suara musik dan tepuk tangan kembali terdengar lagi, artinya show hampir mencapai bagian akhir.
Arka muncul dari arah dalam. Ia berhenti di sisi Arsyira, pandangannya langsung menyapu situasi. Cukup untuk memahami garis besar cerita tanpa perlu dijelaskan lagi.
“Acara hampir selesai,” kata Arka datar.
Arsyira melirik ke arahnya. “Aku tahu.” Lalu kembali ke Eliza. “Balik dulu,” ucapnya pelan.
Eliza mengangguk. Namun sebelum ia benar-benar bergerak, Starla kembali menarik tangannya.
“Ibu…” suaranya kecil lagi. “Jangan pergi lagi…”
Dadanya naik turun. Matanya menutup sebentar. Eliza berjongkok dan memeluk Starla sekali lagi.
“Ibu nggak pergi,” bisiknya di rambut anak itu. “Ibu janji.”
Eliza berdiri, melangkah kembali ke arah ruangan utama, tanpa menoleh pada siapapun .
Di belakangnya, Arsyira menyilangkan tangan, melirik ke arah Arka. “Karyawanmu…” katanya pelan, “…menarik.”
Arka berdiri tegap sebelum pergi seraya berucap, “Bukan cuma karyawan,” gumamnya rendah.
Setelah acara selesai.
Lampu tetap hangat, alunan musik jadi latar membuat suasana terasa syahdu. Para tamu VIP mulai bergeser ke mode santai, kursi ditarik lebih dekat satu sama lain. Obrolan receh pun terdengar.
Di meja dekat jendela, tiga orang duduk dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Arsyira bersandar dengan satu kaki disilangkan, jari-jarinya mengetuk pelan sisi cangkir sebelum akhirnya diam. Tatapannya berpindah dari Saba ke Arka.
Arka duduk sedikit miring, siku bertumpu di paha. Satu tangan memegang cangkir kopi, tapi belum diminum.
Sementara itu, punggung Saba menegak. Tangannya menyentuh pinggir cangkir, memutarnya sedikit tanpa suara.
“Soal tadi ... itu bukan urusan Anda, Bu Arsyira,” ucap Saba dengan suara rendah tapi rahangnya masih mengeras. “Ini bagian dari hidup saya yang belum selesai.”
Arsyira tidak menyela, hanya mengangkat alis sedikit, lalu memiringkan kepala. “Maksudnya?” tanyanya pelan, bernada santainya tapi rasa ingin tahunya masih dominan.
Saba menarik napas pendek. Bahunya naik sedikit lalu turun lagi. “Dia ibu dari anak saya,” ucapnya. “Itu saja yang perlu Anda tahu.”
Hening.
Jari Arsyira diam di atas meja. Matanya bergeser sebentar ke arah dalam café—ke arah kasir—lalu kembali ke Saba.
Arka menatap Saba lebih intens sekarang dan Saba menoleh ke arahnya.
“Terima kasih sudah memberi dia pekerjaan,” lanjutnya bernada lebih rendah. “Dan kalau kejadian tadi membuat Anda meragukan profesionalitasnya—itu keliru.”
“Masalah kami tidak akan masuk ke cara dia bekerja.”
Arka menggeser posisi duduknya sedikit. Cangkir di tangannya akhirnya ia letakkan kembali ke meja dengan bunyi pelan. Ia menyandarkan punggung, menatap Saba tanpa senyum.
“Barusan ganggu dia,” jawab Arka datar. Tatapannya bergeser sekilas ke arah lorong, lalu kembali ke Saba.
Saba diam lalu mengangguk sekali, mengakuinya. “Aku akan pastikan itu tidak terulang di ruang kerjanya,” ucapnya kemudian. “Dia berhak tenang di sini."
Jeda.
Saba bersandar sedikit ke kursinya. Tangannya kembali ke cangkir, tapi kali ini ia benar-benar mengangkatnya. Menyesap sebentar, lalu menurunkannya lagi tanpa suara.
Pandnagannya kembali ke Arka. “Tapi di luar itu…” lanjutnya, kalimatnya menggantung sepersekian detik, sebelum melanjutkan, “dia tetap tanggung jawabku.”
“Bukan cuma karena Starla,” tambahnya, lebih pelan, “Aku akan bantu jaga ritme dia. Memastikan dia dalam kondisi baik." Tangannya mengepal di atas meja. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun… mengganggu dia.”
Cara Saba mengucapkannya, tenang, stabil, tanpa ragu, seolah membawa sesuatu yang lebih dari sekadar perlindungan. Ada kepemilikan yang tidak diumumkan… tapi terasa.
Arka menangkap itu. Matanya menyipit, rahangnya bergerak menahan sesuatu yang ingin diucapkannya.
Arsyira menghela napas pelan. Bahunya turun sedikit, seolah akhirnya menemukan bentuk dari teka-teki yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
“Menarik,” gumamnya, sudut bibirnya naik tipis. “Sangat… menarik.”
Hening lagi.
Bunyi porselen yang bergesekan tipis terdengar cukup tajam di tengah sunyi itu. Tatapan Arka tidak lepas dari Saba.
“Di tempat ini,” ucap Arka dingin seperti permukaan meja marmer di bawah jemarinya, “semua orang kerja sesuai porsinya.” Ia sedikit condong ke depan. Siku bertumpu di meja, jari-jarinya saling mengunci. “Eliza kerja di bawah ritme saya.”
Saba tidak mengalihkan pandangan atau bahkan berkedip.
Arka melanjutkan, “Dan ritme itu… bukan sesuatu yang bisa diambil alih, walaupun niatnya ‘menjaga’.” Kalimat terakhirnya seperti garis batas yang ditarik pelan, menegaskan wewenangnya.
Saba menyandarkan punggungnya perlahan. Sudut bibirnya naik tipis, bahwa ia paham arah pembicaraan ini. “Tenang saja,” jawabnya. Suaranya melembut. “Aku tidak datang untuk mengambil tempatmu.”
Jeda.
“Tapi…” pandangannya turun sebentar ke permukaan meja, lalu naik lagi tepat ke mata Arka, “aku tidak akan mundur dari tempatku juga," pungkas Saba.
Arsyira yang sejak tadi jadi penonton, menyandarkan dagunya di punggung tangan. Matanya berpindah dari satu ke yang lain.
“Wah,” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menanggapi.
Dari dalam café, sisa-sisa acara mulai dibereskan. Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Ketiganya menoleh hampir bersamaan.
Eliza berdiri beberapa langkah dari meja mereka. “Aku mau pulang dulu, Pak,” ucapnya pelan ke Arka.
Arka mengangguk sekali. “Hati-hati."
Eliza mengangguk balik. Dan tiba-tiba...
“Ibu…” Suara Starla terdengar, dia turun dari kursinya dan berjalan mendekat.
Tangannya perlahan naik… menggenggam ujung baju Eliza erat.
Saba langsung berdiri. Kursinya terdorong sedikit ke belakang, bunyinya cukup keras untuk memecah sisa ketenangan.
“Starla,” panggilnya.
Tapi Starla tidak menoleh. Matanya hanya ke Eliza. “Ibu mau pulang?” tanyanya nyaris berbisik. “Aku ikut.”
"Ehm..."
"Aku antar."
Deg.
.
.