Aku Bukan Anak Haram - Starla

Kita Bertemu Lagi

“Ibu?”

Suaranya lebih jelas kali ini. Tidak lagi tenggelam oleh riuh. 

Langkah Eliza yang sempat bergerak kembali ke arah ruangan utama… berhenti lagi.

Ia menutup mata sebentar.

Starla berdiri di tempatnya, kedua tangan kecilnya menggenggam ujung bajunya sendiri sekarang. Matanya basah, tapi tidak menangis lagi. Seolah takut kalau ia berkedip, sosok di depannya akan hilang lagi.

Eliza berbalik, lututnya seperti kehilangan tenaga saat kembali berjongkok di depan anak itu.

Tangannya menyentuh pipi Starla. “Nak…” suaranya turun jadi bisikan yang nyaris pecah. “Maafin Ibu…”

Starla langsung menubruk lagi, lebih erat dari sebelumnya. Tangannya melingkar di leher Eliza, seolah ingin memastikan tidak ada celah untuk kehilangan lagi.

“Ibu jangan pergi…” gumamnya kecil, suaranya tersangkut di tenggorokan.

Pelukannya mengencang. Nafasnya tersengal, bahunya mulai bergetar. Air mata yang tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

“Ibu di sini…” jawabnya lirih, menciumi bahu Starla. “Ibu di sini…”

Saba memalingkan wajah sebentar.

Tangannya masuk ke saku celana, menggenggam kuat, seolah menahan dirinya untuk tidak ikut masuk ke momen itu. Rahangnya mengeras. Ada rasa bersalah yang menggigit diam-diam.

Di ujung lorong, Arka masih berdiri. Matanya tidak lagi sekadar mengamati. Cara anak itu memanggil dan Eliza merespons, juga sikap Saba yang membiarkan interaksi mereka.

“El,” suara Arka akhirnya terdengar lagi.

Eliza menoleh sedikit, tapi tidak melepas pelukannya.

“Waktunya,” lanjut Arka singkat, mengingatkan bahwa dunia di luar lorong ini tetap berjalan tanpa peduli mereka sedang apa.

Musik masih terdengar. Tepuk tangan kembali pecah dari ruangan utama. Show belum selesai.

Eliza mengusap cepat air matanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggenggam bahu Starla. Ia menarik napas dalam. Mengumpulkan sisa-sisa dirinya yang tadi runtuh. Pelan, ia melepaskan pelukan itu.

Starla langsung menggeleng kecil. “Ibu…”

Eliza tersenyum, meski matanya masih merah. Tangannya turun, menggenggam tangan kecil itu sebentar. Mengusapnya pelan. “Ibu kerja dulu ya…” bisiknya lembut. “Habis ini… kita ketemu lagi.”

Starla tidak menjawab, hanya saja genggamannya menguat… sebelum akhirnya perlahan dilepas.

Eliza berdiri, kembali ke dalam ruangan. Saat ia melewati Arka, langkahnya sempat tertahan sepersekian detik.

Arka menatapnya.

“Pak…” suara Eliza pelan, masih serak.

Arka mengangguk kecil. Mulutnya diam tapi tatapan matanya menyiratkan banyak hal, seolah berkata ~kamu utang penjelasan padaku.

Eliza kembali ke lantai utama.

Di lorong belakang, Saba berlutut di depan Starla sekarang. Tangannya mengusap rambut anak itu pelan.

“Starla hebat ya…” gumamnya.

Starla tidak menjawab. Matanya masih mengarah ke tempat Eliza tadi menghilang.

Saba menarik napas panjang. “Kita tunggu,” katanya pelan seraya ikut masuk sebab dia tamu vip.

Lampu hangat memeluk ruangan, warna-warna Mahogany bergoyang anggun di atas jalur sempit yang disulap jadi runway. Model demi model melintas dengan langkah tenang, sementara para tamu VIP duduk rapi, memperhatikan dengan antusias.

Di salah satu sisi, Saba berada di antara mereka. Duduk tegak, satu tangan bertumpu di paha, satu lagi sesekali menyentuh dagu. Tatapannya mengikuti jalannya show… tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali, matanya melirik ke arah kasir.

Di dekat kasir, Eliza berdiri tegak, tangannya bergerak ringan mengatur alur tamu yang datang dan bergeser. 

Arsyira mendekat di sela transisi antar model. Tatapannya menyapu wajah Eliza yang sedikit lebih pucat dari sebelumnya, lalu turun ke tangan yang sempat berhenti di atas meja sebelum kembali bergerak.

Dalam diam, Arsyira menangkap ada sesuatu yang berubah. Ia hanya memberi beberapa arahan singkat terkait alur berikutnya, memastikan semuanya tetap rapi, sebelum kembali menyatu dengan para tamu.

Di balik bar, Arka berdiri dengan fokus utuh. Tangannya bekerja otomatis—menuang, mengelap, menyusun—tapi matanya sesekali terangkat. Menangkap arah pandang Saba, ada gelisah yang tidak diucapkan. Dan yang paling jelas… intens memperhatikan Eliza 

Beberapa menit berlalu.

Arka bergerak mendekat ke kasir.

Ia berdiri di samping Eliza, menarik perhatian Saba. Suara Arka rendah saat menyuruhnya istirahat sebentar.

Eliza sempat ragu. Namun akhirnya ia mengangguk dan mundur pelan, lalu berbalik menuju lorong.

Di sisi lain ruangan, Saba melihat itu. Percakapan Arsyira yang sedang mengalir di depannya hanya terdengar seperti lalat yang berdengung.

Saba mengangguk sekilas pada apa pun yang sedang dibicarakan, lalu dengan halus meminta izin. Kalimatnya sopan, tapi singkat. Tubuhnya sudah setengah berdiri sebelum Arsyira selesai merespons.

Ia pergi menggandeng Starla. Arsyira mengerjap. Pandangannya mengikuti punggung Saba yang menjauh, lalu beralih ke arah lorong yang sama.

Ia menoleh ke arah Arka. Namun Arka tidak melihatnya. Tangannya tetap sibuk, wajahnya datar, seolah semua ini bukan urusannya. Arsyira menyipitkan mata sedikit.

Rasa penasaran itu… mulai tumbuh.

Eliza berdiri di sana, punggungnya menghadap pintu. Tangannya saling menggenggam di depan perut, menahan gemetar yang belum sepenuhnya reda.

Langkah Saba terdengar mendekat. Ia berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“El.”

Eliza tidak langsung berbalik. “Aku nggak bisa lama,” katanya dengan suara pelan. “Jangan ganggu aku lagi setelah ini.”

Saba mengernyit. “Kita belum selesai.”

Eliza berbalik sekarang. Matanya merah, tapi tatapannya lurus. “Kita sudah selesai dari hari aku pergi.”

Saba melangkah sedikit lebih dekat. “Alasanmu?”

Eliza menarik napas dalam. Dadanya naik turun pelan sebelum akhirnya kata-kata itu keluar. “Ibu Anda,” ucapnya pelan. “Dia membatasi aku dari Starla. Seolah aku… nggak pantas dekat-dekat.”

Rahang Eliza ikut mengeras.

“Gosip soal aku… dituduh hamil, laporan yang masuk ke tempat kerjaku… semuanya menjatuhkanku,” lanjutnya. “Aku kehilangan pekerjaan dan di saat yang sama… aku harus lihat anakku tumbuh dengan stigma yang bukan salah dia.”

Saba diam.

Eliza tertawa getir, “Kalau aku tetap di sana, Starla nggak akan pernah hidup normal. Semua orang akan terus kaitkan dia dengan masa laluku.”

Jeda.

“Aku cuma mau dia tumbuh baik,” bisiknya. “Tanpa bayanganku yang terus jadi bahan mneggosipi Starla.”

Saba mengusap wajahnya pelan. “Jadi kamu pergi?” tanyanya lirih.

Eliza mengangguk. “Dan aku minta… jangan ganggu aku lagi.” Tatapannya turun sebentar, lalu kembali naik. “Cukup tahu aku kerja di mana. Itu aja.”

Saba menatapnya lama. “Kamu nggak kasihan sama Starla?” suaranya sedikit pecah. “Dia sakit beberapa kali… karena rindu.”

Deg.

Eliza menunduk. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

“Ibu…” Suara kecil itu muncul lagi.

Eliza menoleh cepat. Starla berdiri di sana, lebih dekat dari yang ia sadari. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. “Buang aku juga?” tanyanya lirih.

“Starla!” tegur Saba, dia tak menduga Starla akan berkata demikian.

Namun kata-kata itu sudah terlanjur terucap menghantam Eliza. Tubuhnya goyah kehilangan pijakan. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Ia berlutut cepat di depan anak itu. “Nggak… nggak, Sayang…” suaranya hancur. “Ibu nggak pernah buang kamu…”

Starla menatapnya. “Terus kenapa Ibu pergi…?” suaranya makin kecil. “Temen-temen bilang… aku dibuang… aku anak haram…”

Kalimat itu seperti pecahan kaca, menusuk hatinya. Eliza tidak kuat lagi. Ia menarik Starla ke pelukannya. Erat. Tangisnya pecah, bahunya bergetar hebat. “Maaf… maafin Ibu…” katanya berulang, suaranya terpotong-potong. “Ibu salah… Ibu salah…”

Starla ikut menangis, wajahnya tertanam di bahu Eliza. Di belakang mereka, Saba berdiri diam.

Namun, langkah lain terdengar dari ujung lorong.

“Ibu?”

Eliza membeku. Saba menoleh.

Seseorang berdiri di sana. Tatapannya berpindah dari Eliza yang memeluk Starla… ke wajah Saba… lalu kembali lagi. Rasa penasaran yang tadi hanya berupa dugaan, kini menemukan bentuknya sendiri.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!