Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kenapa dengan Eliza
“El.”
Eliza menoleh cepat. Ia berdiri di dekat kasir, mengenakan outfit yang lebih rapi dari biasanya. Rambutnya ditata sederhana, tapi cukup membuat wajahnya terlihat lebih segar.
“Guest list,” kata Arka singkat.
Eliza mengangguk, jemarinya bergerak cepat di atas tablet. Sesekali ia menyapa tamu yang datang, suaranya lembut tapi jelas.
“Selamat sore… silakan di dalam, Kak.”
Senyumnya terkembang, tapi napasnya sedikit lebih pendek. Acara ini lebih besar dari yang pernah ia tangani dan jangan sampai gagal.
Musik mulai diputar pelan, memberi ritme tanpa mengganggu percakapan di ruangan yang mulai penuh.
Lalu—
“Ting.”
Eliza tidak langsung menoleh.
“El.”
Suara ini. Eliza membeku. Jari-jarinya mengencang di sisi tablet. Napasnya tertahan.
Perlahan, ia menoleh. Saba berdiri di sana. Dengan Starla di sampingnya.
Eliza sebenarnya tidak pernah benar-benar melihat daftar tamu secara detail. Sejak pagi, fokusnya terpecah ke banyak hal—alur acara, posisi meja, koordinasi kru, sampai memastikan setiap sudut café selaras dengan konsep yang Arsyira inginkan.
Dia hanya sempat membuka guest list sekilas saat file itu masuk ke ponselnya, menggulir cepat tanpa benar-benar membaca nama satu per satu. Baginya, tamu adalah bagian dari sistem, bukan sesuatu yang perlu ia hafal.
Nama itu… terlewat begitu saja.
Baru sekarang, saat sosok itu berdiri di hadapannya, semua terasa seperti potongan yang seharusnya sudah ia lihat sejak awal. Dadanya mengencang, napasnya tertahan. Seandainya tadi ia lebih teliti. Mungkin dirinya bisa bersiap, tidak akan berdiri sekaku ini. Terperangkap di antara masa lalu yang belum selesai dan kenyataan yang datang tanpa aba-aba.
Tangan kecil itu menggenggam jemari Saba erat. Matanya menyapu ruangan, sedikit bingung, sedikit penasaran… sampai akhirnya berhenti.
“Ibu…?” Suara kecil itu, hampir tenggelam di antara riuh ruangan.
Langkah Eliza goyah, dia mundur sedikit. Ruang yang tadi terasa luas mendadak sempit.
Saba berjalan mendekat. “El.” Tangannya terangkat, menahan pergelangan Eliza sebelum ia benar-benar menjauh.
Eliza hendak melepaskan celana Saba.
“El… no. Eliza.”
Eliza menatapnya. Matanya mulai basah, tapi ia menahannya. Rahangnya mengeras, agar butir bening itu tak jatuh. “Jangan di sini…” bisiknya.
Di sekitar mereka, acara tetap berjalan.
Arsyira tertawa kecil dengan salah satu tamu penting di sisi lain ruangan. Model pertama sudah bersiap di ujung jalur, menunggu cue. (Isyarat, kata, atau tindakan yang memberitahu seseorang untuk memulai sesuatu)
“Kamu ngilang,” kata Saba pelan. “Tanpa satu kata.”
“Aku pergi…” suara Eliza bergetar. “Ada alasan.”
“Tanpa Starla?”
Deg.
Starla menarik pelan ujung baju Saba. Namun, matanya tidak lepas dari Eliza. “Ibu…”
Tatapan sendu Starla nyaris membuat Eliza lemas.
Di balik bar, Arka melihat. Awalnya hanya sekilas, alu lebih lama. Alisnya pun mengernyit.
Ada sesuatu yang tidak beres. Arka meletakkan lapnya dan melangkah tenang saat mendekat, menyusuri sisi ruangan tanpa menarik perhatian.
Di tengah itu semua, model pertama mulai berjalan. Langkahnya pelan, anggun. Kain mahogany jatuh mengikuti gerak tubuhnya. Lampu samping memantulkan bayangan lembut di lantai. Tamu-tamu mulai fokus ke tengah.
Arka sampai di sisi mereka. “Ada masalah?” tanyanya datar.
Saba tidak menoleh. “Aku cuma bicara dengannya.”
Arka melirik Eliza. Wajahnya mulai menegang. “Di luar,” kata Arka singkat. “Bukan di sini.”
Kali ini, Saba menoleh. Tatapan mereka bertemu. Satu dingin. Satu menahan ego.
Sementara di tengah ruangan, tepuk tangan mulai terdengar. Show berjalan. Tepuk tangan bergulung seperti ombak yang tidak peduli pada badai kecil di sudut ruangan.
Eliza berdiri di antara dua dunia yang saling tarik-menarik. Dia bimbang.
“Di luar,” ulang Arka, kali ini lebih rendah, tapi tegas. Tatapannya bergeser dari Saba ke tangan yang masih menahan pergelangan Eliza. “Lepas dulu.”
Saba menurunkan pandangannya ke tangan itu, lalu perlahan melepasnya. Namun bukan berarti mundur.
“Eliza ikut aku,” ucapnya tenang.
Eliza menarik napas pendek. Dadanya masih sesak. Ia melirik ke arah tengah ruangan, Arsyira yang sedang tersenyum pada tamu.
Ini bukan waktu yang tepat. Tapi juga… tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar siap.
“Aku… cuma sebentar,” katanya pelan pada Arka, meski dirinya sendiri tidak yakin.
Arka diam. Rahangnya sedikit mengeras, tapi ia akhirnya mengangguk sekali. “Jangan lama.”
Eliza berbalik lebih dulu. Langkahnya cepat, hampir seperti ingin lari tapi masih menahan diri agar tidak terlihat panik. Saba mengikuti di belakang, sementara Starla tetap menggenggam tangannya, langkah kecilnya sedikit tertatih menyesuaikan.
Mereka berhenti di lorong sempit dekat toilet. Jauh dari sorot lampu, hanya ditemani suara musik yang kini terdengar seperti gema jauh.
Sunyi turun di antara mereka.
Eliza berdiri membelakangi. Bahunya naik turun pelan. Ia belum siap menoleh.
“Kenapa?” suara Saba akhirnya pecah. Tidak keras. Tapi berat. “Kenapa kamu pergi kayak gitu, El?”
Eliza menutup mata sebentar. Jemarinya saling menggenggam, menahan gemetar. “Aku nggak punya pilihan.”
“Selalu ada pilihan.”
Eliza menggeleng. Pelan, tapi pasti. “Nggak untuk posisi aku waktu itu.”
Saba melangkah satu langkah lebih dekat. “Kamu ninggalin Starla.”
Eliza berbalik cepat. “Aku nggak ninggalin!” suaranya tertahan, tapi emosinya pecah. “Aku… menjauh supaya dia tetap aman.”
“Dari siapa?” tanya Saba, tajam.
Eliza terdiam. Tatapan mereka bertabrakan. Banyak unek-unek yang ingin keluar, tapi seperti tertahan di tenggorokan.
“Ibu kamu…” bisik Eliza akhirnya. “Dan semua aturan yang dia bawa.”
Saba mengernyit. “Jangan bawa Mama ke sini.”
“Ini selalu tentang Mama kamu!” balas Eliza, napasnya mulai tidak stabil. “Aku nggak akan pernah cukup baik di matanya. Dan aku nggak mau Starla tumbuh di antara tuduhan itu.”
Starla yang sejak tadi diam, akhirnya menarik pelan baju Eliza. “Ibu…”
Eliza langsung menoleh. Dunia seperti berhenti di titik itu. Ia berlutut perlahan, sejajar dengan anak kecil di depannya. Tangannya gemetar saat hendak menyentuh… tapi ragu membuatnya menggantung di udara.
Starla langsung memeluk. Kecil, hangat, dan penuh kerinduan.
Eliza membeku sepersekian detik… lalu tangannya membalas. Erat. Seolah takut ini hanya mimpi yang bisa berakhir.
“Nak…” suaranya pecah. “Maaf…”L
Starla tidak menjawab. Hanya memeluk lebih erat, wajahnya ditenggelamkan di bahu Eliza.
Saba berdiri diam melihat itu. Dadanya naik turun pelan. Ada lega… tapi juga sesuatu yang belum selesai.
Langkah terdengar dari ujung lorong.
Arka berhenti beberapa langkah dari mereka. Hanya mengamati. Matanya menangkap semuanya dengan cepat, dari jarak ini.
“Show masih jalan,” tegur Arka.
Eliza mengangkat wajahnya pelan. Matanya merah. Tapi mengangguk kecil.
Pelukan itu perlahan dilepas, meski jelas tidak ada yang benar-benar ingin. Eliza berdiri. Menarik napas dalam, mencoba kembali ke dirinya yang harus tetap berdiri di tengah acara.
Namun sebelum ia melangkah pergi, Saba bersuara lagi. “Kita belum selesai.”
Eliza berhenti, tidak menoleh. “…aku tahu,” jawabnya pelan.
"Ibu?"
Deg.
.
.