Aku Bukan Anak Haram - Starla
Itu Siapa
Saba tidak langsung menjawab.
Kalimat Starla menggantung di udara lebih lama dari seharusnya. Tapi cuma ada aku dan ibu.
Kalimat itu membuat dada Saba terasa sesak. Ia menelan ludah, menunduk sebentar, seolah mencari kata yang tidak akan melukai siapa pun.
Eliza masih berdiri di tempatnya. Tangannya mencengkeram tali tas Starla. Dia menunggu jawaban Saba dan perubahan kecil di wajah Starla.
“Rumah itu…” Saba akhirnya berkata pelan, “boleh dihuni banyak orang.”
Starla mengangkat wajah. Keningnya berkerut. Ia tidak sepenuhnya mengerti. Tangannya kembali saling bertaut. “Kalau orangnya banyak,” katanya ragu, “ada siapa saja?”
Eliza terdiam. Saba menjawab singkat, "Ibu, nenek, dan lainnya."
Starla hanya mengerjap. Otaknya membandingkan rumah sempitnya. Hanya ada ibu, dia dan nenek Gendhis.
Setelah beberapa menit duduk dalam diam, Saba berdiri lebih dulu. Ia menepuk-nepuk celananya, lalu berjongkok sedikit agar sejajar dengan wajah Starla.
“Starla mau es krim?” tawarnya hati-hati. “Atau… mau main?”
Starla tidak langsung menjawab. Ia melirik Eliza dulu, seperti sedang memastikan sesuatu. “Main?" tanyanya pelan.
Eliza menoleh. “Boleh.”
Saba tersenyum lega. “Main apa, Bu?” tanyanya pada Eliza, mencoba melembutkan hati Starla.
Eliza tidak menjawab langsung. Ia menunduk ke Starla. “Starla mau main apa?”
Starla berpikir sebentar. Alisnya berkerut, lalu ia mengangkat bahu kecilnya. “Apa aja,” katanya, lalu menambahkan cepat, “tapi sama ibu.”
Saba terkekeh kecil. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menggenang di dadanya. Ia ingin mengusap kepala itu, tapi tangannya berhenti di udara, lalu turun lagi. Ia tidak ingin satu gerakan salah membuat Eliza menutup pintu yang baru sedikit terbuka.
Ia tahu posisi hukumnya kuat dan punya hak lebih besar. Tapi di hadapannya berdiri seorang anak yang tumbuh tanpa dirinya selama lima tahun. Dan perempuan yang memeluk, menyuapi, dan terjaga setiap malam menggantikannya.
Saba menghela napas pelan. “Kalau gitu,” katanya sambil tersenyum ke Starla, “kita main yang deket-deket aja ya.”
Starla mengangguk. Wajahnya sedikit lebih cerah. “Ibu ikut, kan?” tanyanya lagi, memastikan.
Eliza mengangguk. “Iya.”
Saba ikut menimpali, suaranya lembut, nyaris seperti janji, “Ibu akan selalu ikut sama Starla. Jangan khawatir, Sayang.”
Starla mendongak. Matanya bertemu mata Saba sebentar, lalu senyum kecil itu muncul malu-malu.
Sore itu, jarak di antara mereka terasa sedikit berkurang karena kehati-hatian yang dipilih bersama.
Mereka memilih area bermain yang tak terlalu ramai. Hanya berjarak satu kilo dari taman tadi. Ayunan berderit pelan, seluncuran berkilat terkena matahari sore, membaur dengan tawa anak-anak lain yang juga sedang bermain.
Awalnya Starla masih setia menempel pada Eliza. Tangannya menggenggam tangan sang ibu, matanya mengamati gerak-gerik Saba.
Tapi Saba tidak memaksa. Ia duduk di bangku kayu, ikut menonton Starla main dengan anak lain, tertawa kecil setiap kali Starla berlari lalu kembali lagi ke sisi Eliza.
Sampai akhirnya Starla berdiri di depan Saba. Menarik tangannya. “Om…” panggilnya ragu.
Saba menoleh. “Iya?”
“Najk itu,” pintanya lirih, menunjuk ke arah panjat dinding, seperti sedang menguji keberanian sendiri. "Gendong!"
Saba terdiam sepersekian detik, lalu melirik Eliza. Eliza mengangguk kecil. Senyum Saba merekah. Ia berjongkok, membelakangi Starla. “Sini.”
Starla naik perlahan, kedua tangannya melingkar di leher Saba. Awalnya kaku, tapi setelah beberapa langkah, tawanya mulai pecah.
“Ibuuuuu, lihat!” seru Starla ceria.
Eliza tersenyum. “Pegangan yang kuat, awas jatuh.”
Mereka menuju panjat dinding. Saba menaikkan Starla tapi anak itu berteriak saat Saba akan melepaskan tangannya.
Tawa Saba lepas, "Coba dulu. Dipegangi, kok."
"Nggak, ngaaaaakkk!' Suaranya kencang, nyaris menangis ketakutan.
Saba pun menurunkan Starla lalu menggendongnya lagi. Starla menunjuk ke arah seluncuran. Kali ini dia duduk di depan, dipangku Saba. Tangannya langsung mencengkeram lengan pria itu begitu melihat ketinggian.
“Aku takut takut takut!” jeritnya setengah tertawa, setengah panik.
Saba refleks memeluknya erat. Satu tangan mengunci pinggang kecil itu, satu lagi mengusap punggungnya perlahan. “Iya, iya… Om pegang. Aman.”
Mereka meluncur. Starla menutup mata, lalu membukanya lagi di ujung seluncuran dengan tawa yang jauh lebih lepas dari sebelumnya. “Lagi!” pintanya tanpa ragu.
Saba mengulangi lagi sampai napas Starla terengah-engah. "Udah, ya."
Starla mengangguk, berlari ke Eliza, minta minum. Lalu dia kembali ke Saba, mengajaknya main lagi.
Eliza berjalan di samping mereka, mengikuti ke mana pun langkah itu bergerak. Sesekali mereka bercanda, membuat Eliza tertawa dan tanpa sadar membuat Saba ikut mendekat.
Jarak mereka terkikis. Sesaat, semuanya tampak seperti cerminan keluarga bahagia. Setelah Maghrib, mereka makan.
Tidak ada percakapan, hanya sibuk meladeni Starla yang minta disuapi atau mengelap tangannya yang ikut menyolek saus ayam goreng keju.
Setelah makan, Saba mengantar keduanya pulang sampai pintu kosan. Saba izin pada Starla.
"Cium boleh? Peluk?"
Starla yang sudah dalam gendongan Eliza mengangguk pelan.
Saba meraihnya dari dekapan Eliza. Mencium pipinya lama, seakan ingin menyimpan bau badan bocah imutnya dalam indera.
"Makasih banyak untuk hari ini, Sayang," bisik Saba sambil mengecup pucuk kepala Starla sebelum dikembalikan ke Eliza.
Malam turun pelan di kosan Gulajawa. Starla tertidur lebih cepat karena kelelahan. Eliza duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu lama.
Eliza menunggu napas Starla benar-benar teratur, baru perlahan menarik selimut. Sejak Strala sembuh dari sakit, dia masih dihantui perasaan was-was, sebab napas Starla pernah nyaris berhenti kala itu.
Setelah itu ia meraih ponsel. Satu pesan masuk dari Saba. ["El, boleh nggak kalau Starla ketemu seseorang?"]
Deg.
Eliza membaca ulang kalimat itu dua kali. Tak lama kemudian, pesan kedua masuk.
["Beliau pengin ketemu. Katanya cuma sebentar."]
Eliza menatap layar tanpa membalas. Ia menoleh ke Starla, memastikan anak itu masih tidur, lalu mematikan ponsel.
"Nanti." Eliza tahu, waktu tidak akan menunggu kesiapan siapa pun.
***
Pesan Saba masuk sejak subuh. Ia hanya bilang akan menunggu di sekolah.
Eliza tidak membalas. Ia tetap menyiapkan Starla seperti biasa—menyisir rambutnya, mengancingkan seragam kecil itu satu per satu, memastikan bekal masuk ke tas.
Di perjalanan, Starla lebih banyak diam. Tangannya memeluk tas, matanya menatap jalan.
Gerbang sekolah sudah terlihat ketika Eliza menangkap bayangan mobil Saba. Pria itu keluar begitu motor Eliza melambat. Ia tidak mendekat. Hanya berdiri di sisi mobil, menjaga jarak seperti yang diminta. Saat Starla menoleh, Saba mengangkat tangan, melambaikan pelan.
Senyum kecil itu kembali muncul di wajah Starla.
Namun, sebelum Eliza sempat menghentikan motornya sepenuhnya, seseorang melangkah ke samping Saba. Ia berdiri tegak, ikut melambaikan tangan ke arah Starla.
Eliza mematikan mesin motor, menurunkan Starla lebih dulu, melepas helm, lalu melangkah cepat ke sisi Starla yang mendadak berhenti. Matanya terpaku ke luar gerbang.
“Kenapa, Nak?” tanya Eliza pelan.
Starla mengangkat tangan kecilnya, menunjuk ke depan. “Ibu… itu siapa?”
Eliza mengikuti arah telunjuk itu. Pandangan mereka bertemu.
Deg.
.
.