Aku Bukan Anak Haram - Starla
Anak Pungut
Di dalam mobil, Hasnawati menempelkan ponsel ke telinga, suaranya rendah dan tegas. “Halo?"
"Ya, Nyonya."
Hasnawati melirik ke arah Starla sejenak, yang masih menangis lirih, melihat ke arah luar jendela.
Hasnawati berkata pelan, "Pastikan dia tidak tahu Starla dipindahkan ke mana. Jangan sampai ada yang membocorkan. Saya tidak mau dia datang ke sekolah itu.” Ia menutup panggilan tanpa menunggu jawaban, lalu menatap lurus ke depan dengan wajah dingin.
"Ibuuuuu?" Starla menoleh ke arah Hasnawati, tapi neneknya ini malah membuang muka ke arah jendela.
***
Pagi itu rumah terasa berbeda dengan kehadiran Starla. Sarapan ala bocah disiapkan di meja dengan kursi tinggi khas anak-anak warna putih.
Saba berdiri di dekat meja makan, satu tangan memegang ponsel yang terus bergetar, tangan lain merapikan manset kemejanya.
Di ruang tengah, Starla duduk diam di sofa. Seragamnya terlipat di pangkuan, belum dikenakan. Kaos kakinya hanya satu yang terpasang.
Saba menghampiri dan berlutut di depannya.
“Nanti siang makan sama ayah, mau?” suaranya lembut, tapi napasnya terburu.
Starla tidak menjawab. Ia menunduk, menggeser ujung sepatu ke lantai, membuat bunyi gesek kecil yang berulang.
Saba mencoba memakaikan kaos kaki satunya. Starla menarik kakinya pelan, menolak.
Ponsel itu bergetar lagi, membuat perhatiannya teralihkan. Rahang Saba mengeras sesaat, lalu ia menahan napas dan mengecup kening anak itu lebih lama dari biasanya. Tangannya sempat menahan kepala kecil itu, seolah ingin mengatakan sesuatu tanpa kata.
“Ayah harus pergi.”
Saba pamit pada ibunya, sambil jalan keluar, dia meminta agar menyiapkan suster khusus untuk Starla mulai hari ini.
Pintu tertutup. Suara mesin mobil menjauh perlahan.
Starla masih duduk di tempatnya, seragam tetap terlipat rapi di pangkuan.
Beberapa menit kemudian, Hasnawati berdiri di hadapannya. “Cepat. Nanti telat.”
Seragam lama itu akhirnya dikenakan. Kerahnya dirapikan Hasnawati dengan gerakan tegas. Tas disampirkan ke bahu kecil yang masih tampak lesu.
Di depan gerbang, Starla berhenti mendadak. Matanya menyapu papan nama sekolah yang asing, huruf-hurufnya tidak sama. Ia menoleh ke Hasnawati, alisnya berkerut kecil, seolah ingin bertanya—ini bukan sekolahku, kan? Bibirnya sempat terbuka, tapi suara tak jadi keluar. Tatapan Hasnawati tajam, dingin, tanpa senyum, membuat bahu kecil itu menegang. Starla menunduk cepat. Jari-jarinya menggenggam tali tas sampai memutih, lalu melangkah masuk tanpa berani bertanya lagi.
Halaman sekolah yang baru terasa aneh. Bangunannya lebih tinggi. Catnya berbeda. Tidak ada pohon mangga di sudut seperti sekolah lama. Tidak ada suara ibu-ibu yang biasa menyapa.
Starla berhenti setelah bertemu dengan beberapa guru yang menyambutnya.
Hasnawati mendorong pelan punggungnya. “Masuk.”
Langkahnya kecil. Ragu. Ia menoleh sekali ke belakang, tapi Hasnawati sudah berbalik pergi.
Starla dibawa melewati lorong pelangi, banyak bunga di sisi kanannya. Pintu kelas terbuka.
Percakapan anak-anak terhenti satu per satu. Mata-mata kecil memandang.
“Anak baru?” seseorang berbisik.
Bu guru tersenyum, menuntun Starla ke depan kelas. “Kenalan dulu, ya.”
Starla berdiri di depan papan tulis. Tangannya meremas ujung rok. Bibirnya bergerak pelan. “Starla…”
Beberapa anak saling menatap. Ada yang tersenyum ingin tahu, ada yang memandangnya dari atas sampai bawah.
Starla lalu diajak ke deretan bangku kosong, dia memilih kursi paling pinggir, dekat jendela.
Sepanjang pelajaran, pandangannya lebih sering keluar kelas daripada ke papan tulis. Dia bingung ingin bertanya tapi takut.
Jam istirahat datang bersama riuh tawa dan bunyi kotak bekal dibuka. Starla tetap duduk.
Bekalnya masih tertutup. Tangannya hanya mengusap tutup plastik itu berulang-ulang.
Suara-suara di sekelilingnya terasa berisik, kepalanya mulai pening dan tiba-tiba matanya memanas. Ia berdiri, berjalan ke meja guru dengan langkah kecil. “Bu…”
Bu guru menoleh.
“Ibu…” suaranya pecah. “Ibu…”
Tangannya mencengkeram ujung baju guru itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Bu guru terkejut, lalu segera meraih ponsel. “Mau telepon rumah?”
Starla mengangguk. Panggilan disambungkan dan tanpa sengaja diaktifkan pengeras suara.
“Ibunya nggak ada. Ayahnya di kantor.” Suara Hasnawati terdengar datar, memenuhi ruangan.
Starla menggeleng cepat. Ia mendekat ke arah ponsel. “Ada… Ibu Eliza ada… ada…”
Bu guru menelan ludah. “Katanya ada Ibu Eliza, Nyonya.”
“Eliza cuma wali sementara. Nanti saya ke sana. Makasih, Miss."
Panggilan terputus.
Starla berdiri terpaku. Tangannya perlahan terlepas dari meja. Ia kembali ke kursinya dengan langkah gontai. Tawaran Bu guru yang memintanya menunggu di kantor, tak dihiraukan Starla.
Beberapa anak mulai mendekat.
“Kamu nggak punya ibu?” tanya seorang anak laki-laki, kepalanya miring penasaran.
Starla menatap meja.
“Nggak punya ibu, tapi punya ayah?” sambung yang lain.
“Anak-anak…” tegur Bu guru, mencoba menjaga suasana.
“Miss, ibunya meninggal?” tanya seorang lagi.
Bu guru hanya tersenyum tipis, meminta mereka kembali ke tempat duduk.
Bisikan kecil terdengar dari barisan belakang.
“Anak pungut.”
“Rama!” tegur Bu guru lebih tegas.
“Oh… anak pungut?” suara lain menyahut.
Di pojok kelas, seorang anak perempuan berkuncir panjang duduk santai di kursinya, mengunyah donat. “Miss…” katanya sambil menunjuk lurus ke arah Starla. “Anak pungut itu anak dibuang?”
"Rafika, tidak boleh begitu dengan teman, ya. Starla punya keluarga yang sayang, kok."
Kelas mendadak sunyi. Starla menoleh perlahan. Sisa air matanya masih menggantung di sudut mata. Tatapannya bertemu dengan anak berkuncir itu—lama, tanpa berkedip.
Tangannya meremas kotak bekal sampai berbunyi pelan. Di dalam dadanya, bergemuruh, sebutan-sebutan itu muncul lagi.
Bel berbunyi panjang, anak-anak berhamburan keluar kelas seperti kawanan burung kecil yang lepas. Bu guru ikut melangkah keluar, berseru pelan agar tidak berlarian di koridor.
Rafika berdiri dari kursinya, tas sudah tergantung di satu bahu. Ia menatap Starla sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Anak yang dibuang itu nggak diinginkan,” katanya ringan.
Beberapa anak terkekeh.
Rafika berbalik dan berlari kecil keluar, pita kuncirnya bergoyang. Dari jendela, terlihat ia langsung memeluk perempuan yang menjemputnya, lalu masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.
Starla tetap duduk. Tangannya mengepal di atas meja. Ucapan itu berputar di kepalanya. Tapi, tiba-tiba suara Eliza muncul di ingatannya, lembut, hangat, jelas di telinga. “Kamu disayang. Selalu.”
Dada Starla terasa sesak. “Ibuuu…” lirihnya hampir tak terdengar.
Di rumah, ia langsung masuk kamar tanpa menoleh ke ruang makan. Sepatunya dilepas asal.
Hasnawati menyusul beberapa menit kemudian. “Starla, makan dulu.”
Tak ada jawaban.
Hasnawati membuka pintu sedikit. Starla sudah meringkuk di atas tempat tidur, seragamnya masih melekat, wajahnya menghadap dinding.
“Nanti sakit.”
Hasnawati berdiri beberapa detik di ambang pintu, lalu menutupnya kembali tanpa suara.
***
Saba pulang ketika rumah sudah sunyi. Lampu ruang tamu tinggal satu yang menyala redup. Ia langsung menuju kamar, melepas jas di anak tangga, lalu mandi cepat tanpa banyak suara.
Ia masuk ke kamar Starla dengan langkah pelan.
Anaknya tertidur membelakanginya. Saba berbaring di sampingnya, menarik selimut sedikit lebih tinggi menutup bahu kecil itu. Tangannya sempat mengusap rambut Starla, hati-hati agar tidak membangunkan.
Namun pagi datang lebih sibuk dari kemarin. Ketika Starla masih terlelap, Saba sudah bangun. Ia berpakaian rapi di kamar sebelah, lalu menatap sekilas ke arah tempat tidur anaknya sebelum pergi.
Pintu kamar pun tertutup pelan.
***
Di kantor, rapat sudah berjalan ketika ponselnya bergetar. Nama Eliza muncul di layar. Saba menatapnya beberapa detik. Lalu menekan tombol tolak.
"Maaf."
.
.