Aku Bukan Anak Haram - Starla
Rumah Ayah
Eliza beberapa kali salah memberi uang kembalian.
“Bu, kurang dua ribu,” tegur pelanggan.
Eliza tersentak. “Maaf, Bu.”
Pikirannya tidak di situ. Bayangan perempuan berponsel tadi terus muncul. Cara ia menatap lalu pergi begitu saja. Saba pun tidak membicarakan soal itu.
Eliza membuka ponselnya. Tidak ada pesan baru dan memutuskan mengetik cepat. "Sudah sampai mana?"
Tak lama balasan masuk. ["Baru jalan mau ke Mal dulu."]
Eliza membaca kalimat Saba lama. Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Kuatir Starla rewel tiba-tiba dan Saba mencoba menenangkan sendiri, menggeser perannya selama ini.
Di mobil, ponsel Saba bergetar. Ia melirik sekilas notifikasi dari Eliza dan membalas singkat.
Starla sedang bernyanyi kecil lagu yang ia buat sendiri. Tentang balon, susu, dan rumah ayah yang “jauh"
Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Saba menoleh ke arah Starla.
“Nanti di rumah ayah, kita video call ibu sebelum tidur, gimana?"
Starla mengangguk. “Biar ibu nggak nyariin Starla ya?”
Saba terdiam. “Iya,” jawabnya pelan. “Biar ibu nggak kangen juga.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak memasuki basemen Mal. Keduanya lalu berjalan masuk, bergandengan tangan selayaknya ayah dan anak.
Sebelum pulang, Saba mengajak Starla makan siang dan membeli susu. Dia juga memberitahu Hasnawati bahwa Starla akan menginap malam ini.
Respon ibunya seperti yang Saba kira. Ceria dan gegas siapkan kamar untuk cucunya ini. Saba membiarkan ibunya melakukan semua itu, sebab pikirannya tertuju pada Julia.
Apakah ini waktu yang tepat, memberitahu Julia soal Starla?
"Ayah!" Panggilan Starla membuyarkan lamunan Saba.
"Y-yaa?" jawabnya gagap, menunduk melihat benda di tangan putrinya. "Mau ini?"
Saba menatap boneka beruang berbulu coklat di tangan Starla. Telinganya lebar, pita kecil warna biru terikat di lehernya.
“Mau ini?” ulang Saba pelan.
Starla mengangguk mantap, lalu ekspresinya berubah ragu. “Tanya ibu dulu, boleh nggak?”
Saba tersenyum tipis. “Kenapa harus tanya ibu?”
“Soalnya… kalau mahal, ibu bilang nanti aja.”
Jawaban itu membuat dada Saba seperti disentil pelan. Ada kebiasaan yang tak pernah ia lihat. Ada perhitungan yang tak pernah ia jalani bersama mereka.
Saba jongkok agar sejajar. “Kalau ayah yang beliin?”
Starla berpikir sebentar. “Tetap tanya ibu. Biar ibu tahu.”
Saba terdiam beberapa detik. Lalu mengeluarkan ponselnya. “Ya sudah. Kita video call sekarang.”
Wajah Starla langsung berbinar. Panggilan tersambung cukup cepat. Eliza muncul di layar, masih dengan seragam toko, poninya sedikit berantakan karena basah oleh keringat.
“Ibu!” seru Starla.
Eliza tersenyum lelah. “Lagi di mana?”
“Di mal! Ayah mau beliin ini.” Kamera bergoyang memperlihatkan beruang coklat itu dari jarak dekat.
Eliza terkekeh kecil. “Lucu ya…”
Starla menunggu. Tidak bicara lagi.
Saba menangkap jeda itu. “Gimana, El?”
Eliza menatap layar lebih lama dari seharusnya. Lalu mengangguk. “Kalau Starla janji dijaga baik-baik, boleh.”
Starla melonjak kecil. “Janji!”
Saba berdiri kembali, membawa boneka itu ke kasir. Panggilan belum diputus.
“El,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Malam ini… sebelum tidur nanti video call ya. Starla tidur denganku, kok.”
Eliza tahu maksudnya. Hening sepersekian detik. “Baik,” jawab Eliza akhirnya. “Hati-hati.”
Panggilan berakhir.
Sementara itu, di lantai dua mal yang sama, seorang perempuan berdiri di balik etalase toko sepatu. Ponsel di tangannya kembali aktif.
Ia memperbesar layar. Memotret Saba yang sedang membayar, sementara Starla memeluk boneka.
Bibir perempuan itu melengkung tipis. Lalu ia mengetik pesan untuk seseorang.
"Sudah sama dia. Dan anak itu memang ada."
Tanda centang dua muncul tak lama setelah pesannya terkirim. "Teruskan. Jangan sampai ketauan lagi."
Perempuan itu mengangkat wajahnya. Tatapannya jatuh pada punggung Saba yang kini menggandeng Starla keluar toko mainan.
*
Mobil berhenti pelan di halaman rumah besar itu.
Lampu teras menyala hangat. Pintu sudah terbuka bahkan sebelum Saba sempat mematikan mesin.
Starla yang tadinya asyik memeluk boneka barunya, tiba-tiba diam. Matanya membesar melihat rumah yang asing.
“Ayah…” suaranya mengecil.
“Iya, Sayang.”
Starla langsung merentangkan tangan. “Gendong.”
Saba tersenyum tipis, lalu mengangkatnya. Tapi kali ini pelukannya berbeda—lebih erat. Jari-jari kecil itu mencengkeram kerah kaos Saba sampai berkerut.
Hasnawati dan dua maid sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah berbinar.
“Ya Allah… cucu Nenek…” suaranya bergetar senang. “Sini, turun dulu. Nenek peluk.”
Starla justru menempelkan wajahnya ke pundak Saba. Menggeleng kuat-kuat. “Nggak…”
Hasnawati tertawa kecil, mencoba lagi. “Nenek cuma mau lihat mukanya Starla…”
Tetap tidak mau.
Saba mengusap punggung Starla pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Pelan-pelan.”
Ia melangkah masuk, melewati ruang tamu yang luas dan rapi, lalu langsung menuju tangga.
“Aku ke atas dulu, Ma.”
Hasnawati mengikuti dari belakang, masih dengan senyum tak sabar.
Kamar di lantai dua itu sebenarnya sudah disiapkan. Tempat tidur single dengan seprai polos, lemari kecil, dan meja belajar. Tapi belum benar-benar nuanasa “anak perempuan."
Saba berdiri di tengah ruangan, masih menggendong Starla. “Starla,” bisiknya lembut. “Ini kamarmu.”
Starla perlahan menjauhkan wajah dari pundak ayahnya. Matanya menyapu dinding kosong. Jendela besar. Lemari putih. Semua terasa asing.
“Mau dihias apa?” tanya Saba, mengusap punggungnya.
Starla tidak menjawab.
Saba menurunkannya pelan ke lantai. “Coba lihat-lihat dulu.”
Starla melangkah dua langkah. Melihat tempat tidur. Menyentuh ujung selimut. Lalu menoleh lagi ke arah pintu.
Hening.
Tiba-tiba ia berbalik dan memeluk kaki Saba. “Mau sama ibu aja…” suaranya mulai bergetar. “Sama ibuuuu…”
Saba refleks mengangkatnya lagi sebelum tangisnya membesar. “Shhh… ayah di sini.” Tangannya mengusap rambut Starla berkali-kali.
Hasnawati lalu muncul di ambang pintu, membawa nampan kecil berisi sirup merah dan semangkuk es krim.
“Nih, Nenek bawain yang manis-manis dan dingin. Biar Starla nggak sedih.”
Starla melirik sekilas, lalu kembali menempel ke dada Saba.
“Nenek punya gambar bagus buat kamar Starla,” bujuk Hasnawati, mendekat pelan. “Ada gambar princess, ada kupu-kupu…”
“Sama ibu aja…” isaknya makin jelas. “Sama ibuuuu…”
“Ibu kerja, Sayang,” kata Saba hati-hati. “Masa diganggu mulu? Sama ayah dulu, ya?”
Starla tidak menjawab. Tangannya justru menggenggam kaos Saba makin erat, seolah takut dilepaskan.
Hasnawati sudah jongkok di sisi mereka. “Coba ke Nenek dulu, bentar aja…”
“Ma,” Saba menahan halus. “Jangan dipaksa. Dia masih belum nyaman.”
Hasnawati menatapnya. “Tapi, Saba… Mama kangen cucu.”
“Iya, ngerti.” Saba menurunkan suaranya, berbisik agar tak terdengar Starla. “Cuma dia masih begini, gimana dong? Dipaksa takut tantrum. Nanti Eliza nggak mau ngasih aku kesempatan lagi.”
Hasnawati terdiam. Wajahnya berubah pelan—antara kecewa dan paham. Akhirnya ia berdiri. “Ya sudah.”
Ia menoleh ke maid yang sejak tadi menunggu di ujung lorong. “Taruh saja di meja. Habis itu keluar. Jangan ganggu Saba dan cucuku.”
“Baik, Nyonya.” Mereka pun pergi. Pintu kamar dibiarkan setengah tertutup.
Hening kembali menyeruak.
Starla yang tadi menyembunyikan wajahnya, perlahan mengintip. Memastikan ruangan benar-benar sepi. Lalu ia mendongak.
“Ayah…”
“Iya, Sayang…” jawab Saba, suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
“Kamarnya gede banget.”
Saba tersenyum kecil. “Iya.”
Starla berpikir sebentar. “Kalau aku nangis… ibu nggak kedengaran.”
Pertanyaan itu membuat Saba terdiam sepersekian detik. “Nggak,” jawabnya jujur tapi tenang. “Tapi ayah dengar.”
Starla menatap matanya, memastikan. “Beneran?”
Saba mengangguk. “Bahkan kalau cuma suara kecil, ayah kan bobok sama Starla.”
Anak itu diam. Lalu pelan-pelan melepaskan satu tangannya dari kaos Saba. “Lampunya boleh dinyalain semua?”
“Boleh.”
Saba berjalan menyalakan lampu tambahan. Kamar jadi lebih terang. Starla menoleh lagi ke sekeliling. Kali ini tidak setakut tadi.
“Ayah…”
“Iya?”
“Kalau aku bobok di sini… ibu masih di sana kan?”
Saba menelan sesuatu yang berat di tenggorokannya. “Iya,” jawabnya mantap. “Ibu Eliza tetap ada, ayah juga. Nggak ada yang berubah.”
Starla mengangguk kecil. Lalu, masih dalam pelukan Saba, ia bersandar pelan ke dadanya. “Mau pulang…”
Dhuar.
.
.