Aku Bukan Anak Haram - Starla

Menginap

Starla mendongak lagi. “Terus… ayah dikasih tahu sama siapa?”

Saba melirik Eliza sepersekian detik, lalu kembali ke Starla. “Orang baik.”

Starla memiringkan kepala. “Siapa?”

“Orang yang dulu pernah nolong Starla,” jawab Saba pelan. “Dia bilang ke ayah, kalau ayah punya anak yang pinter dan cantik.”

Starla tersenyum kecil. “Kayak princess?”

Saba ikut tersenyum. “Iya. Tapi nggak pakai gaun panjang.”

Starla tertawa. Lalu bertanya polos lagi, “Terus ayah langsung percaya?”

Saba mengangguk. “Awalnya kaget. Tapi ayah nyari ... terus nyariiii, daaan ketemu sama Starla.”

Starla terdiam sebentar, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Eliza. “Oh…”

Eliza mengusap rambut itu pelan, tanpa menambah apa pun. Karena beberapa kebenaran memang belum waktunya diucapkan.

Saba menatap dua sosok di sampingnya agak lama.

Starla sudah kembali sibuk dengan sedotannya. Eliza masih mengusap rambut itu pelan, tapi dia merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Kalimat tadi bukan cuma untuk Starla. Itu, peringatan baginya.

Starla terlihat puas dengan jawaban itu. Ia kembali memainkan tali balonnya.

Beberapa detik terasa tenang. Eliza dan Saba melanjutkan sarapannya.

Lalu Starla bersuara lagi, seolah baru teringat sesuatu. “Kalau gitu… orang baik itu masih ada?”

Saba tidak langsung menjawab. Eliza yang kini menoleh pelan. “Kenapa tanya begitu?”

"Mau tanya kok orang baik tahu Starla anak ayah?"

Dhuar.

Sendok di tangan Saba berhenti di udara. Eliza menelan ludah. Starla menatap keduanya bergantian, polos, belum sadar bahwa pertanyaannya baru saja menelanjangi sesuatu yang belum pernah mereka sepakati untuk dibuka.

Saba berdeham pelan. “Karena… orang baik itu kenal ayah dari dulu.”

“Kenal banget?” Starla mengejar.

Eliza buru-buru tersenyum tipis. “Makan dulu, nanti keburu dingin krim supnya.”

Tapi anak kecil tidak mudah dialihkan. “Kenal banget?” ulang Starla lagi, kini menatap lurus ke mata Saba.

Saba tidak menjawab cepat. Rahangnya mengeras sepersekian detik. “Iya. Kenal cukup lama.”

“Lebih lama dari ibu?”

Pertanyaan itu membuat udara di sekitar mereka berubah berat.

Eliza merasakan punggungnya menegang. Jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung tas kecilnya.

Saba justru tersenyum tipis. “Nanti ayah cerita lagi, kita habiskan makan dulu, ok?"

Starla mengangguk kecil, menerimanya. Lalu dengan santainya ia menyedot susu lagi, seolah interogasi barusan hanyalah percakapan biasa.

Eliza menghela napas pelan, seolah baru lolos dari maut.

Dan saat itulah, di antara kerumunan yang mulai padat, seorang perempuan berdiri beberapa meter dari mereka. Ponsel masih di tangannya. Wajahnya tidak tersenyum. Tatapannya lurus ke arah mereka.

Saba menyadarinya lebih dulu. Pandangan mereka beradu sepersekian detik. Ada sesuatu yang bergerak di mata perempuan itu—seperti "kena kau!"

Eliza mengikuti arah pandang Saba. Dadanya langsung berdegup tak wajar. Perempuan itu menurunkan ponselnya pelan. Lalu, berbalik dan hilang di keramaian.

Eliza melirik Saba, pria itu hanya diam meski dalam hatinya yakin bahwa Saba juga pasti bertanya-tanya, suruhan siapa tadi? Cemas langsung menyergap batin Eliza, apakah Starla akan aman? 

Tapi, dia adalah ayahnya. Orang yang punya kuasa. Yang Eliza lihat Saba hanya sendirian. Namun, siapa tahu di antara kerumunan itu ada yang menjaganya dari kejauhan.

Tak lama, mereka keluar dari area CFD. Mobil berhenti tepat di depan toko tempat Eliza bekerja.

Saba turun lebih dulu, membukakan pintu untuknya. Starla masih duduk di kursi depan, memainkan ujung sabuk pengaman.

“El,” panggil Saba pelan sebelum ia benar-benar melangkah pergi. “Hari ini aku bawa Starla, ya. Kasihan Bu Gendhis. Biar dia istirahat.”

Eliza menatap putrinya sebentar. Lalu ke Saba. Ada jeda, seperti sedang melatih diri sendiri untuk tidak lagi menahan Starla terlalu erat.

“Iya,” angguknya pelan. “Bawa aja.”

Saba menambahkan hati-hati, “Kalau kamu pulang malam, aku antar. Atau….”

Eliza terdiam sepersekian detik. “Nginap juga boleh,” ulangnya lebih tegas. Ia menoleh ke Starla. “Starla mau nginap di rumah ayah?”

Starla langsung duduk tegak. “Rumahnya di mana?”

“Jauh,” jawab Saba sambil tersenyum. “Ibu ikut?”

Eliza menggeleng kecil. “Nggak. Ibu kerja. Mau lembur. Nek Gendhis juga kayaknya mau pergi.”

Starla diam. Alis kecilnya berkerut, berpikir keras. “Sama ayah aja?” tanyanya pelan.

Saba mengangguk. “Sama ayah… sama Nenek Hasna juga. Yang kemarin ketemu di sekolah. Mau?”

Starla menoleh ke Eliza, meminta izin dengan mata bulatnya.

“Boleh, kok,” kata Eliza mantap. “Kan sama ayah.”

Akhirnya Starla mengangguk. Senyum cerah terulas di bibir Saba, hatinya berbunga seketika, tak ia sembunyikan lagi.

Eliza membuka tasnya, menyerahkan kunci kosan. “Ambil buku Starla. Sama baju seragam buat esoknya.”

Saba menerima kunci itu hati-hati, seolah menerima sesuatu yang lebih dari sekadar benda kecil. “Izin masuk kamar ya, Bu,” ucapnya lembut. “Minta nomor Bu Gendhis sekalian, biar aku izinnya enak. Atau kamu yang izinkan?”

“Aku kirimkan nomornya saja,” jawab Eliza, menunduk sibuk di ponselnya.

Tatapan Saba melembut. Akhirnya Eliza benar-benar memberi ruang untuk quality time di rumah, pikirnya.

Starla sudah tak sabar. “Ayah, gendooong!”

Saba membuka pintu depan dan langsung mengangkatnya. Eliza mendekat, mengusap punggung kecil itu. Saba sedikit menurunkan tubuhnya agar Eliza bisa mencium pipi Starla.

“Dah, sayang. Jangan rewel sama ayah, ya.”

“Dadah ibuuuuu…” Starla melambai lebar saat Eliza mulai melangkah masuk ke toko.

Eliza berhenti sebentar di ambang pintu. Menoleh. Melihat mereka sebentar lalu masuk ke toko.

Di dalam mobil, Saba mendudukkan Starla di kursi depan.

“Kita ke kosan dulu, ambil buku. Habis itu ke mal. Main, beli baju buat Starla bobok… sama susu. Oke?”

Starla mengangguk cepat. “Okeee!”

Mobil melaju.

Di kosan, Saba membuka pintu dan membiarkan Starla masuk lebih dulu.

Ruangan kecil itu terasa berbeda saat ia berdiri di dalamnya—lebih sunyi. Meski sederhana, tapi penuh jejak hidup Eliza dan Starla.

Starla sibuk menarik tas ranselnya, memasukkan buku gambar dan crayon besar kesayangannya pemberian Saba.

Saba membantu melipat baju seragam, memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai, mereka menuju rumah Bu Gendhis setelah mengunci pintu kosan.

Perempuan tua itu membuka pintu dengan senyum tipis.

“Mau dibawa kemana, Den?” tanyanya singkat.

“Nginep di rumah saya, Bu."

Bu Gendhis melihat ke arah Starla yang sudah siap dengan ranselnya. "Hati-hati, kalau malam suka rewel."

"Nanti saya video call sama ibunya sebelum tidur,” jawab Saba spontan.

Deg. Ibunya.

Ia langsung mengoreksi, sedikit gugup. “Ehm… Eliza, maksud saya.”

Bu Gendhis tersenyum lebar. “Nggih, Den. Monggo."

“Titip kunci kamar Eliza, Bu,” jawab Saba ringan.

“Neek!” Starla merentangkan tangan meminta pelukan. “Aku nginep di rumah ayah dulu.”

Bu Gendhis memeluknya erat. “Ojo nakal, Nduk. Ayah nanti repot.”

“Okeh, Nek…”

Saat berjalan kembali ke mobil, Starla menggenggam tangannya erat. “Ayah,” bisiknya pelan.

“Iya?”

“Kalau aku nangis… ibu datang nggak?”

Langkah Saba melambat sedikit. “Ibu nggak jauh dari Starla,” jawabnya tenang. “Dan ayah juga ada.”

Starla terdiam, lalu mengangguk kecil. Mobil kembali menyala.

Sementara itu, di dalam toko, Eliza berdiri di balik meja kasir, pura-pura sibuk menyusun barang.

Tangannya gemetar tipis, dia benar-benar membiarkan putrinya pergi… karena percaya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!