Aku Bukan Anak Haram - Starla

Trik Saba

Hasnawati meletakkan gelas perlahan. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.

“Kamu jangan kurang ajar, Julia,” katanya dingin. “Tidak ada yang disembunyikan.”

Julia tersenyum tipis. “Kalau nggak ada,” balasnya pelan, “kenapa Mama diam sejak aku datang?”

“Dari mana kamu?” Hasnawati bertanya balik, nadanya datar, tak berkedip menatap menantunya.

Julia tertawa kaku, membalas tatapan sinis Hasnawati. “Masih peduli ya, Ma,” katanya ringan, sambil memainkan ujung kukunya. “Masih nanya.”

Hasnawati menoleh. “Maksud kamu?”

Julia menopang kaki, lalu menegakkan tubuhnya. “Kupikir akhir-akhir ini aku dianggap nggak ada. Nggak ditanya, nggak dicari.”

Hasnawati menghela napas. “Kamu itu selalu saja—”

“Anak siapa yang tadi makan di sini?” potong Julia cepat. Tatapannya ke meja. “Anak panti juga Mama bawa pulang sekarang?”

Hasnawati diam.

Julia mengangguk pelan. “Oh. Jadi bener.”

“Kamu itu gimana mau jadi ibu,” kata Hasnawati akhirnya, suaranya menahan emosi, “kalau demennya keluyuran malam?”

Julia tertawa pelan. Kali ini terdengar pahit. “Keluyuran?” ia mengulang. “Gimana aku nggak keluyuran, Ma, kalau punya suami tapi tiap malam tidur di ruang kerja?”

Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Punya istri, tapi dibiarkan sendirian. Kesepian saban malam.”

Hasnawati menatapnya tajam. “Kamu jangan balik nyalahin. Saba kan emang sibuk, harusnya kamu sambut dia bukannya kelayapan.”

Julia menggeleng. Mertuanya kini berubah, tak lagi peduli padanya. “Dulu Mama selalu di pihakku. Ngajak aku ke mana-mana. Bela aku.” Suaranya turun. “Sekarang Mama bahkan ikut mengabaikan aku seperti Saba!”

Sunyi sebentar.

Julia menarik napas panjang. “Sebenarnya,” katanya pelan, “apa yang kalian rencanakan di belakangku?”

Hasnawati tidak menjawab.

“Mau singkirin aku?” lanjut Julia, nada suaranya mulai meninggi. “Dengan dalih anak? Dengan maksa adopsi?” Ia menggeleng keras. “Jangan harap.”

Hasnawati tetap diam.

Julia tersenyum tipis, matanya tajam. “Aku bisa ngadu ke keluargaku,” katanya seolah mengancam. “Kalau suamiku mengabaikanku.” Ia berhenti sejenak. “Dan mungkin… Ayah bakal narik sahamnya.”

Julia menatap Hasnawati lurus. “Gimana, Ma? Mau?”

Tak ada jawaban. Jari Hasnawati mengepal di bawah meja. 

Julia berbalik. Melangkah cepat ke arah kamar.

Pintu dibanting keras. Getarannya terasa sampai ke ruang makan.

Hasnawati duduk kaku. Tangannya yang mengepal, dia hentakkan ke meja. Mulutnya mengatup rapat, tapi sorot mata Hasnawati memancarkan emosi.

Saham. Seketika otaknya berpikir, apa Saba mampu menangani perusahaan suaminya jika ayah Julia berulah? 

***

Sementara di tempat lainnya.

Saba turun dari mobil pelan setelah pintu belakang dibukakan oleh supirnya. Malam sudah larut. Lampu-lampu kos menyala setengah, sisanya temaram.

Di pelukannya, tubuh kecil itu terlelap. Napasnya teratur, pipinya hangat menempel di leher Saba. Ia sedikit menunduk, menghirup dalam-dalam aroma khas anak-anak. Sabun bayi, bedak tipis, bercampur bau asem keringat Starla.

Saba tak buru-buru. Langkahnya pelan. Tangannya memeluk lebih erat, seolah takut waktu mencuri momen ini terlalu cepat.

Sampai depan kos, ia berhenti sejenak. Menggeser kepala kecil itu ke bahunya, mencium ubun-ubunnya lama. Sekali. Dua kali. Seperti orang yang enggan melepaskan sesuatu yang berharga.

Di depan pintu, Eliza sudah menunggu.

Masih dengan seragam kerja. Rambutnya diikat asal. Tangannya bersedekap. Wajahnya datar, tapi matanya jelas lelah.

“Maaf lama, Bu,” kata Saba pelan sambil tersenyum tipis. Sedikit merayu. “Macet. Malam Minggu, kan…”

Eliza tak menjawab. Ia hanya mendengus. “Modus,” sinisnya.

Saba terkekeh kecil saat melihat sekeliling, kosan ini sepi. “El… aku nginep boleh?”

Eliza langsung membalik badan. “Apaaa?!”

Saba tertawa. “Ya Allah… becanda. Belum apa-apa udah ngamuk duluan.”

“Nggak lucu,” jawab Eliza dingin.

Ia membuka pintu kos. “Sini,” katanya singkat. “Kasih ke aku.”

Saba seperti tak dengar. Ia langsung melangkah masuk melewati Eliza.

“Ehhhh—”

Saba sudah menurunkan tubuh kecil itu ke kasur. Gerakannya hati-hati. Selimut ditarik sampai dada. Rambutnya dirapikan pelan.

Wangi ruangan langsung menyambutnya. Strawberry bercampur floral. Entah dari sabun, sampo, atau pewangi ruangan. Lembut. Hangat dan entah kenapa bikin betah.

Saba duduk di sisi kasur itu sejenak, matanya menyapu ruangan. Semua bersih dan rapi di tata Eliza. Warna-warna senada, Pink Ungu lembut, dipadu krem, membuat ruangan sempit ini terasa tenang dan lapang.

“Pantes,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Dia suka pink. Ibunya juga.”

“Sudah,” kata Eliza dari pintu. “Cepat pulang sana. Sudah malam.”

“Sabaaaar, ibuuu,” jawab Saba santai. “Aku belum foto anakku.”

Eliza mendengus. Masih bersedekap, bersandar di kusen pintu.

Saba memotret sebentar. Lalu bangkit. Memasukkan ponsel ke saku celana. Ia melangkah mendekat.

“Makasih ya, Bu,” katanya lembut saat melewati Eliza. “Aku pulang.”

Eliza tidak menjawab. Ia langsung menutup pintu.

Tapi sejurua itu ... Saba menahan dengan telapak tangannya. Tatapan mereka bertemu. Saba tersenyum tipis. “Jangan sakit ya, Bu.”

Eliza mengernyit.

“Besok pagi kita CFD,” lanjut Saba santai. “Aku jemput jam tujuh. Starla harus belajar olahraga.”

“Eh. Aku kan kerja,” balas Eliza cepat.

“Siang, kan?” Saba menaikkan alis. “Sekalian kita antar ibu kerja. Gimana?”

“Maksudnya?” Eliza menatap curiga.

Tangan Saba sudah tak lagi menahan pintu. Dia berbalik badan dan melangkah menjauh. 

“See you besok, ibuuu,” katanya ringan. “Bobok ya. Istirahat.”

Eliza melongo. “Heh… maksudnya gimana tadi?” gumamnya. “Tuannn! Pak! Heh!”

Saba berjalan cepat keluar pagar kosan, dia melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. 

“Pak Saba…” Eliza mendengus kesal. “Tuan Sabaaaa…”

Di dalam kamar, tubuh kecil itu bergerak pelan. Menggumam lirih dalam tidur. Eliza menoleh. Menghela napas panjang sambil menutup pintu dan menguncinya. 

Setelah bersih-bersih, Eliza langsung menempeli Starla dan mulai terlelap.

Lampu kamar masih redup. Jam dinding berdetak pelan. Nafas dua manusia di kasur terdengar teratur.

Dalam tidurnya, Eliza merasa berjalan di lorong sempit yang dingin tanpa jendela. Langkah kakinya terdengar bergema.

“Bu…” Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Eliza terus berjalan. 

Tampak di ujung lorong, ada cahaya. Ia berlari kecil. Lalu berhenti.

Di hadapannya, berdiri seseorang. Wajahnya buram. Tak bisa dikenali. 

“Anak itu… bukan anakmu.”

Eliza menggeleng keras. “Dia anakku.”

Sosok itu tersenyum samar, nada suaranya nya dingin, “Bukan.”

Eliza mundur setapak. Dadanya sesak. “Aku yang mandiin. Aku yang jagain dia sakit. Aku yang bangun tiap malam—”

“Bukan,” suara itu memotong, menatap tajam Eliza.

Cahaya di sekeliling mereka meredup. Sosok itu mendekat satu langkah. Suaranya kini berbisik, tepat di telinga Eliza. “Dan dia tidak akan pernah jadi milikmu.”

Eliza menjerit. Ia terbangun. Napasnya tersengal. Dadanya naik turun cepat. Keningnya basah oleh keringat.

“Enggak… enggak…” Tangannya bergerak cepat, meraba sisi kasur.

"Starla!"

"Starlaaaaa!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!