Aku Bukan Anak Haram - Starla
Kecurigaan Julia
Saba tidak langsung menjawab.
Ia berdiri membeku di dekat sofa. Dadanya terasa ditekan kuat-kuat. Tangannya mengepal pelan, lalu dilepaskan lagi.
“El…” suaranya jauh lebih pelan dari sebelumnya. Tidak ada nada membela diri di sana. “Aku nggak pernah kepikiran sejauh itu.”
Eliza tersenyum pahit di layar. Air matanya masih turun, tapi ia segera menghapusnya.
“Makanya aku kadang gelisah,” katanya lirih. “Aku harus mikir sejauh itu. Setiap hari.”
Saba menelan ludah. Matanya kembali ke Starla yang tidur, pipinya sedikit merah, napasnya teratur. Anak itu kelihatan pulas. Tanpa tahu betapa ribut dunia orang dewasa di sekelilingnya.
“Aku bangun pagi mikirin bekalnya,” lanjut Eliza. “Aku pulang kerja mikirin dia kecapekan sekolah atau nggak. Aku tidur sambil mikir… besok kalau dia nanya sesuatu, aku harus jawab apa.”
Saba memejamkan mata sebentar.
“Dan sekarang,” suara Eliza bergetar, “aku harus siap jika suatu hari dia pulang ke rumah yang nggak ada akunya.”
Kalimat itu terdengar lirih, tapi menghantam. Saba menggeleng kecil. “Aku nggak pernah niat ngambil dia dari kamu.”
“Tapi niat nggak selalu sama dengan fakta,” balas Eliza cepat. “Anda datang dengan semua yang dipunya, keluarga, kantor besar, mobil, waktu yang bisa kamu atur. Aku cuma punya kebiasaan kecil yang dia kenal.”
Saba mendekat ke sofa, duduk perlahan di lantai, menyandarkan punggung ke sisi empuknya.
“Eliza,” katanya pelan, “kalau pun suatu hari Starla tahu semuanya,” lanjut Saba, suaranya lembut, “aku mau dia tahu satu hal duluan.”
“Apa?” tanya Eliza nyaris berbisik.
Nada suara Saba berubah lebih lirih, lebih rapuh. “Bahwa ibu yang ada tiap hari itu… kamu. Bukan aku. Bukan Mama. Bukan siapa-siapa.”
Air mata Eliza jatuh lagi. Kali ini lebih deras sebab kepalanya kian menunduk.
Saba mengusap wajahnya sekali, entah kenapa gelisah melihat Eliza menangis di hadapannya. “Aku memang ayah biologisnya. Tapi kamu yang bikin dia merasa disayangi. Kamu mencintainya, memberinya rumah dan status sebagai anak.”
Sunyi.
Eliza mengangkat wajah. Matanya merah, tapi sorotnya tajam. “Kalau Anda benar-benar paham itu,” katanya pelan, “jangan paksa Starla.”
Saba mengangguk. “Oke,” katanya. “Aku ikut ritmemu.”
Eliza menatapnya lama, seolah mencari celah kebohongan.
Di sofa, Starla bergerak kecil. Alisnya mengerut, lalu ia bergumam pelan, hampir tak terdengar. “Ibuu…”
Eliza refleks menutup mulutnya dengan tangan. Dadanya sesak.
Saba bangkit cepat, membenarkan selimut, menepuk punggung Starla perlahan. “Ibu masih sama kamu, Sayang,” bisiknya.
Starla tenang lagi.
Eliza menatap pemandangan itu lama, Saba yang kini berjongkok di sisi sofa, menjaga putrinya.
“Pulangkan dia malam ini” katanya akhirnya. “Jangan ajak dia ke mana-mana lagi.”
“Iya,” jawab Saba cepat.
Panggilan berakhir.
Layar ponsel Saba menghitam, tapi bayangan wajah Eliza masih tertinggal di pikirannya. Ia duduk diam di samping Starla.
***
Malam itu meja makan rumah besar Hasnawati terasa lebih penuh dari biasanya. Menu makanan khas anak-anak berjejer di sana.
Starla duduk di kursi tinggi, kakinya menggantung. Di depannya sepiring nasi masih utuh, sendoknya diputar-putar pelan. Dia sama sekali tidak selera makan, meski semua masakan di depannya
Hasnawati duduk tegak di ujung meja. Ia memperhatikan Starla lama, lalu melirik Saba.
“Tidur di sini saja malam ini,” katanya tenang, seolah itu keputusan terbaik. “Biar nggak capek bolak-balik.”
Starla menoleh cepat ke Saba. “Om…”
Saba tersenyum tipis, tapi matanya langsung ke ibunya. “Nggak, Ma. Aku anterin pulang.”
Hasnawati mengerutkan kening. “Kenapa harus pulang? Di sini ada kamar. Ada suster. Ada—”
“Starla butuh ibunya,” potong Saba, suaranya rendah tapi tegas.
Hasnawati menghela napas, agak tajam. “Kan ada Julia.”
Saba diam sebentar. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh, menatap ibunya lurus.
“Julia? ke mana dia?” tanyanya pelan. “Ada? Nggak ada, Ma."
Hasnawati terdiam. Saba melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Dan lagipula… ini anakku.”
Starla menunduk, masih memainkan sendoknya.
“Dan Eliza,” Saba menelan ludah, “ibu sambungnya.”
Deg.
Kata itu meluncur lagi dari mulutnya. Untuk kedua kalinya. Saba sendiri ikut terdiam setelah mengucapkannya. Dadanya mengencang. Ia sadar betul apa yang barusan ia lakukan. Menempatkan Eliza pada posisi yang belum tentu siap diterima semua orang.
Hasnawati menatap putranya lama. Sorot matanya berubah dingin.
“Ibu sambung,” ulangnya pelan, nyaris tanpa suara. “Kamu sadar itu?”
Saba tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke Starla, yang kini menatapnya dengan mata sayu.
“Aku mau pulang…” gumam Starla kecil.
Saba langsung berdiri, menghampiri, lalu menggendong tubuh kecil itu. Starla refleks melingkarkan tangan ke lehernya.
“Kita pulang ya,” bisiknya lembut.
Hasnawati berdiri juga. “Saba.”
“Iya, Ma?”
“Jangan memanjakan Eliza dengan selalu mengikuti kemauannya. Starla anakmu,” katanya pelan. “dan hati-hati pada statusmu.”
Saba menatap ibunya sebentar. Lalu mengangguk singkat. “Aku tahu.”
Ia melangkah pergi, Starla sudah tertidur di bahunya.
Hasnawati duduk sendiri di ruang makan, menatap punggung mereka menghilang di lorong.
Di dalam dadanya, satu hal menjadi jelas, Saba sudah terjerat dengan permainan Eliza. Mungkinkah yang dikatakan Julia benar? Eliza Pansos begitu tahu siapa Saba?
Pintu rumah terbuka.
Julia masuk dengan langkah santai, koper kecil masih di tangan. Aroma parfum ladies de amor, masih melekat di jaketnya. Ia berhenti di ruang makan.
Julia tidak langsung duduk. Matanya menyapu pelan. Piring kecil bergambar kartun. Sendok mungil. Gelas plastik dengan sedotan.
Julia tersenyum tipis. “Rumah kita kedatangan tamu, kah?” katanya ringan, sambil menarik kursi. “Lucu juga.”
Hasnawati sedang menuang air, tak menanggapi Julia.
Ia mengangkat wajah, menatap Hasnawati. "Maa ... Saba ke mana?”
Hasnawati hanya melihatnya sekilas, lalu meneguk minumannya.
Julia mencondongkan badan sedikit. Sikutnya bertumpu di meja. “Maa, masih bisa denger, kan?”
Hasnawati diam sesaat.
Julia tertawa kecil, melirik sekeliling lagi. Ia mengangguk pelan, seperti baru menyusun potongan puzzle.
“Jadi,” katanya ringan tapi tajam, “Saba nggak cuma nganter anak. Tapi mampir juga liat ibunya.”
Hasnawati meletakkan gelas. “Jangan asal menuduh.”
Julia menoleh cepat. “Menuduh?”
Ia tertawa kecil lagi. “Ma… aku istri sah Saba. Aku cuma bertanya.”
Hasnawati menarik napas.
Julia bersandar ke kursi. Matanya menyipit. “Wah,” gumamnya menatap Hasnawati lurus. “Jadi selama aku pergi, Mama diam saja? Atau… Mama mendukung?”
Hasnawati mengerutkan kening. “Kamu ini kenapa sih, Jul?”
Julia berdiri. Kursinya bergeser sedikit, menimbulkan suara pelan tapi jelas.
“Karena aku merasa,” katanya perlahan, “kalian berdua menyembunyikan sesuatu di belakangku.”
Ia melangkah mendekat. Suaranya tetap tenang, tapi nadanya berubah lirih.
“Apa Mama tahu rasanya jadi istri… yang dicurigai selingkuh,” katanya menatap Hasnawati tajam, “tapi ternyata suaminya yang diam-diam bikin keluarga kecil sendiri?”
Hasnawati membeku.
Julia menghela napas pelan saat meraih tasnya. “Kalau begitu jujur saja. Mama lebih dukung siapa?”
.
.