Aku Bukan Anak Haram - Starla

Jujurnya Eliza

“Ibuuuu….”

Tangan Saba yang sejak tadi memegang ponsel langsung mengencang. Di layar, Starla menyender di bahu Saba. Poninya menyentuh leher pria itu, dengan mata setengah terpejam.

“Iya, Nak,” jawab Eliza cepat, suaranya dibuat setenang mungkin. “Ibu di sini.”

Starla mengangguk kecil. "Aku takut.”

Eliza menelan ludah. “Iya. Ibu temenin.”

Saba masuk ke kamar mandi kantor dengan langkah kikuk. Ruangannya bersih, tapi lantainya dingin. Ia menurunkan Starla pelan, lalu berdiri bingung di depan wastafel.

“Buka air nya,” kata Elzia ragu.

Starla langsung meringis, terpercik air kran. “Jangan kencang-kencang…”

Eliza refleks ikut bicara, nadanya meninggi. “Pelan aja. Biar kulit Starla nggak kaget kena dingin.”

Saba menoleh ke layar. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. “Siap, Bu.”

Eliza mendengus. “Jangan becanda! Fokus ke anak.”

“Iya, Bu,” jawab Saba lagi, sengaja.

Eliza ingin marah atau ngomel panjang, tapi matanya keburu menangkap tangan Saba saat memutar keran. Air mengalir masih terlalu kencang. Starla langsung mundur.

Eliza spontan meninggikan suara. "Dikecilin! Aduh, itu dingin!”

Saba panik. “Oh iya—iya, maaf.”

Air dikecilkan. Starla mulai tenang lagi. Ia menoleh ke layar, memastikan Eliza masih ada.

“Ibu lihat aku, kan?”

“Ibu lihat,” jawab Eliza cepat. “Buka bajunya pelan, Nak. Satu-satu, Starla bisa sendiri.”

Eliza masih ngomel, Saba harus balik badan. Nggak boleh lihat Starla mandi atau gantikan bajunya meski dia adalah ayah kandung Starla.

Saba menurut, dia berdiri kaku. Eliza kian sering menghela napas berat.

“Tolong taruh bajunya di kursi, jangan di lantai. Nanti basah.”

“Iya,” jawab Saba patuh.

Eliza terdiam. Dadanya campur aduk. Kesal, cemburu, takut, capek—semuanya numpuk jadi satu.

Itu anakku, batinnya. Aku yang biasa mandiin. Aku yang tahu caranya.

Starla tiba-tiba merengek kecil. “Ibu… dingiiin…”

“Iya, sebentar aja mandinya,” Eliza menenangkan. “Starla sabunin dari tangan dulu. Jangan langsung kepala.”

Starla mengikuti instruksi itu tanpa banyak tanya. Sesekali ia melirik layar, memastikan Eliza belum menutup telepon.

“El,” katanya pelan di sela-sela itu, “kamu jangan marah ya.”

Eliza langsung menegang. “Aku bukan marah. Aku kesel."

Saba tersenyum tipis. “Itu sama aja.”

“Bukan,” suara Eliza merendah, tapi tajam, “Lagian Starla itu bukan bahan coba-coba.”

Saba menatap layar. “Aku tahu.”

“Kamu pikir itu sepele?” lanjut Eliza. “Anakku capek, lingkungan baru, orang baru. Kamu bawa ke kantor seolah Starla langsung bisa adaptasi.”

Saba mengangguk pelan. “Siap, salah, Bu.”

Pengakuan itu malah bikin Eliza makin sesak.

Starla menoleh ke arah ponsel. “Ibu jangan berantem…” dia sudah memakai handuk. Albana menyerahkan baju Starla dari ambang pintu toilet ke Saba.

Eliza langsung melembut. “Nggak, Sayang. Ibu nggak marah ke kamu.”

Saba masih membelakangi Starla saat menyerahkan baju putrinya ini. Beberapa menit menunggu berpakaian akhirnya Starla selesai.

Saba mengusap punggung Starla perlahan, merapikan resleting dan menyisir rambutnya. Gerakannya mulai lebih hati-hati. “Om juga nggak marah.”

Starla mengangguk kecil.

Selesai mandi, Saba menggendong Starla. Anak itu langsung memeluk lehernya dan menyandarkan kepala di bahu Saba.

Napas Starla kembali teratur. Eliza melihatnya jelas.

“Dia ngantuk,” gumam Saba, masih video call dengan Eliza.

“Iya,” jawab Eliza singkat. “Jangan diganggu.”

Saba mengangguk. Ia menggendong Starla masuk ke ruangan dan menurunkannya pelan di sofa, menyelipkan boneka ke dada kecil itu lalu menyelimutinya.

Tak lama, Starla sudah terlelap. Saba duduk di ujung sofa, memandangi Starla 

“El,” katanya akhirnya, suara rendah, hampir berbisik, “aku nggak mau jadi orang asing buat dia.”

Eliza memejamkan mata. 

“Dan aku nggak mau kamu merasa direbut,” lanjut Saba.

Eliza membuka mata. Tatapannya dingin. “Tapi Anda tetap melakukan itu.”

Saba terdiam.

Di layar, Starla bergerak kecil dalam tidur. Bibirnya menggumam sesuatu yang tidak jelas. “Ibuu…”

Eliza refleks mendekatkan ponsel ke dadanya. “Iya, Nak.”

Saba menatap itu, lalu berkata pelan, “El… cepat atau lambat, kita nggak bisa terus begini.”

Eliza menelan ludah. Jantungnya berdegup keras. “Maksud Anda?”

Saba mengangkat wajahnya, sorot matanya serius. “Starla bakal nanya,” katanya pelan. “Dan saat dia nanya… kamu mau jawab apa?”

Layar ponsel masih menyala.

Saba menghela napas pelan. Matanya masih ke arah Starla yang terlelap, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman, “Nanti dia bakal nanya… kenapa dia manggil aku Om sementara tahu bahwa aku ayahnya juga, tapi dia tinggal sama Ibu?”

Ia menelan ludah.

“Kenapa dia punya nenek lain, tapi baru sekarang dikenalin.”

“Kenapa dia kadang dijemput olehku, kadang ditinggal lagi.”

Saba menoleh ke layar. “Dan yang paling berat, El… kenapa ayahnya ada, tapi nggak tinggal serumah dengan ibu.”

Sunyi. Hanya suara napas Starla yang teratur dari sofa.

Saba melanjutkan, suaranya lebih lirih, lebih jujur. “Dia bakal nanya itu bukan karena dia kepo. Tapi karena dia bingung ... Dan saat waktu itu datang, kita nggak bisa pura-pura lagi.”

Saba mengusap wajahnya sekali, lelah. “Eliza… aku nggak mau jawaban kita bikin dia sakit dan bingung.”

Di layar, Eliza terdiam. Dadanya naik turun.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, belum terjawab. Dan keduanya tahu, cepat atau lambat… Starla akan menanyakannya langsung.

Eliza lama tidak menjawab. Matanya tidak berkedip, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah.

“Aku…” suaranya tertahan. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. “Aku bilang,” lanjut Eliza, nadanya datar tapi bergetar halus, “ada orang-orang yang saling sayang, tapi nggak selalu tinggal di rumah yang sama.”

Saba mengangkat kepala sedikit. Ia berhenti sebentar. Menelan ludah. 

“Aku bilang ayahnya ada. Sayang. Peduli. Tapi punya cara sendiri buat hadir di hidupnya.”

Saba mendengarkan tanpa menyela. Tangannya terlipat di depan dada, punggungnya bersandar ke sofa. 

Eliza melanjutkan, lebih lirih. Dadanya terasa sesak. Ia melirik layar, melihat Starla tidur tenang di sofa kantor—di tempat yang asing baginya.

“Dan hari ini,” lanjut Eliza pelan, “Anda bikin dia tidur di tempat yang bukan dunianya.”

Saba mengusap wajahnya. “Aku tahu aku ceroboh.”

“Bukan ceroboh,” Eliza memotong. “Anda terburu-buru.”

Beberapa detik kemudian, Saba berdiri. Ia merapikan selimut Starla yang sedikit tersingkap, lalu melangkah menjauh agar tidak membangunkannya.

“Kalau kamu boleh jujur,” kata Saba akhirnya, membelakangi kamera, “apa yang paling kamu takuti, El?”

Eliza menatap bayangan dirinya sendiri di layar ponsel. Rambut rapi, wajah tenang—padahal isi otaknya berisik.

“Aku takut,” katanya akhirnya, sangat pelan, “suatu hari dia bangun dan merasa… aku meninggalkannya.”

Saba menoleh cepat. Matanya menyipit.

“Aku takut,” lanjut Eliza, suaranya bergetar tapi tegas, “semua yang aku bangun bertahun-tahun ini hilang dari ingatannya. Diganti oleh kalian."

Saba membuka mulut, tapi Eliza lebih dulu bicara.

“Dan yang paling aku takuti,” katanya, menahan napas, “bukan cuma kehilangan Starla.”

Saba menegang.

“Tapi Starla merasa dipaksa harus memilih, dan diam-diam kecewa padaku... Enggan menemuiku lagi." Air mata Eliza menetes seiring kepalanya yang tertunduk.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!