"Buk minta buk bakso nya sepotong aja, Erni pengen. " Ucapku merayu ibuk
"Ya ampun Er ... kau ini nggak ada kenyang nya, kau kan sudah makan. Kalo ayah sama ibuk ini belum makan, sudah sudah sana, kau ajak Kenzo main. Hati hati! Jangan jatuh. Kenzo jatuh kupotong leher kau!"
Aku pun segera menggendong Kenzo, dan mengajak Kenzo main, di halaman rumah ...
"Er ... sini, " Panggil Bude Jum sebelah rumahku, Bude Jum memang mengenalku ... sepertinya di gang perumahan ini aku terkenal, karena sering jadi bahan gosip mereka.
"Iya Bude, " ucapku menghampiri Bude Jum
"Kau sudah makan Er?"
"Udah bude ... Erni udah makan tadi"
"Pake bakso ya ... enak nya, ibumu lagi banyak duit itu Er. "
"Enggak budeee ... Erni makan pake cuma pake sambel, " jawabku polos
"Hah ... pake sambel doang Er?"
"Iya budeee ..."
"Astaghfirullah" sahut bude dengan tangan yang mengelus dada
"Er ... bude boleh minta tolong nggak?"
"Apa bude"
"Erni belikan bude pembalut ya, sisanya belikan Enerpen ya ... nanti Kenzo biar bude yang jaga"
"Pembalut? Pembalut itu apa bude, Erni takut salah beli"
"Nanti juga kau tau Er, bude sedang Menstruasi takut tembus"
"Menstruasi ... Menstruasi itu apa bude?"
"Menstruasi itu, kalo kita buang air kecil, airnya warna merah dan sedikit ada darah Er"
"Hah! Kalo gitu Erni sedang menstruasi bude" ucapku tegas
"Nggak mungkin lah Er, kau kan masih kelas 2 SD masa Menstruasi"
"Iya bude ... soalnya nya pipisku warnanya agak merah, " jawabku ngotot,berusaha meyakinkan kalo aku sedang Menstruasi, setelah mendengar penjelasan bude Jum tadi.
"Ya ampun Er ... yasudah cepetan kau pulang, nanti bude aja yang beli" ucap bude Jum panik
Aku berjalan sambil memikirkan, kenapa bude Jum harus panik ... apa ada yang salah dengan pembicaraan kami tadi. Kurebahkan Kenzo di divanku, fikiranku masih sibuk dengan buje Jum.
"Lus ... Lus, " terdengar suara bude Jum, memanggil ibu.
Ibu pun keluar, kuintip mereka dari jendela kamarku. Pembicaraan mereka terlihat serius, dan wajah ibu berubah menjadi penuh kemarahan.
"Erni ... Erni!" Panggil ibu dengan keras
Aku pun sangat ketakutan, apa yang sebenarnya terjadi ... aku takut untuk menjawab panggilan ibu.
"Ya Tuhan, ada apa ini" Akupun mulai gemetar
Ibu menghampiriku penuh dengan amarah, ibu langsung menarik rambutku, dan menyeretnya sampai tubuhku terjatuh dari divan. Di seretnya rambutku sampai pintu toilet, lalu ibu mendorongku sampai aku tersungkur di lantai toilet.
"Apa yang kau katakan, dengan bude Jum Er!" Ucap ibu keras dengan mata yang hampir keluar.
"Erni cuma ngomong, kalo pipis Erni warnanya agak merah buk ... "
"Coba kau pipis disini!" Perintah ibu
Aku pun mulai menuruti perintah ibu, ntah apa yang sebenarny terjadi, aku sebenarnya bingung. Namun sudahlah aku hanya bisa pasrah.
"Tuh buk ... pipisku warnanya merah" ucapku sambil menunjuk ke urinku
"Astaghfirullah Er! Itu bukan warna merah. Itu kau kurang minum! Kenapa sih Er ... kau ini idiot sekali!" Ucap ibu menarik rambutku dan menceburkan kepalaku ke bak mandi .
"Dasar anak sialan! Bikin malu aja. " ucap ibu dengan amarahnya yang masih membenamkam kepalaku di Air.
"Ampun buk ... aku nggak tau" ucapku dengan nafas yang sudah tersengal sengal,
"Ya itu karena kau terlalu idiot!" Sahut ibu dengan menarik rambutku dan menghempaskan nya ke lantai.
Aku pun berjalan memasuki kamar dengan tertatih, rasanya kepalaku sangat sakit, perutku kembung karena banyak ke minum air tadi.
Kurebahkan tubuhku yang basah ini ke divan, tubuhku sangat sakit apalagi dengan divan yang keras ini, Rasanya tubuhku semakin sakit ...
"Erni ... Erni, " panggil ibuk
Aku pun langsung berdiri, takut jika ibu akan memarahi ku lagi ...
"Ya nggak mungkin lah Jum, suamiku begitu. Makanya tadi aku panik" suara ibu yang tak sengaja kudengar.
"Iya buk ..." ucapku pelan menghampiri ibuk
"Nah ini Jum, anak idiot tadi!" Sahut ibu sambil melemparkan kelapa ke arahku dan tepat mengenai dadaku.
Bude Jum membulatkan matanya, bude Jum kaget dan terperangah dengan yang ibu lakukan. Aku hanya diam, sambil memegangi dadaku yang sudah terasa sesak.
"Lus ... saya pulang dulu ya. " pamit bude Jum, tanpa ibu menjawab ia langsung buru buru berjalan.
"Puas kau Er ... mempermalukan ibuk, karena kebodohanmu"ucap ibuk dengan tangan yang mencengkram wajahku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Maaf buk ..."
Ibu pun melepaskan cengkraman nya, dan aku langsung berlari ke kamar. Di depan kamar, kulihat ayah yang sedang menggendong Kenzo ... aku pun menunduk dengan melewatinya,
Byarrrr !!
Di siramnya tubuhku dengan air cabai, tubuhku terasa panas sekali. Namun tak kuhiraukan, tetap kulangkah kan kakiku masuk ke kamar.
Kurebahkan tubuhku, menangis tanpa suara ... aku meratapi nasip, mengapa ibu sepertinya, sangat membenciku. Selama aku disini, tak pernah rasanya ibu memperlakukan aku dengan layak.
"Bapak ... bapak dimana, kenapa bapak tak pernah menemuiku?" Ucapku dengan air mata yang terus menetes
Lagi lagi bapak selalu ada di fikiranku, aku sangat merindukan sosok laki laki itu ...
"Ya Tuhan, pertemukanlah aku dengan bapak" Doaku dalam hati
Aku tak pernah meminta apa pun dengan Tuhan, selain meminta agar keluargaku utuh, seperti anak anak yang lain. Aku tak pernah iri melihat temanku, mempunyai tas baru, sepatu baru, dan peralatan mereka yang bagus bagus itu. Aku hanya iri melihat temanku, selalu di antar jemput dengan bapaknya ... kadang juga ibunya, di antarkan sampai ke gerbang sekolah, di ciumnya wajah temanku seolah temanku adalah anak kesayangannya.
Sangat berbanding Terbalik denganku, jangankan untuk mencium, bergandengan tangan saja ibu tak akan sudi. Dan bapak pun ntah berada dimana ...
Namun dengan ke egoisanku, aku tetap berdoa meminta kepada Tuhan, agar keluargaku di satukan kembali. Aku tahu permintaan ini terdengar sangat tak mungkin, tetapi kuyakin ... tak pernah ada yang tak mungkin jika kita sudah bersama Tuhan.
Kupejamkan mata ini, kubiarkan hayalan di fikiran ku bermain dengan sendirinya ... bukan seperti kebanyakan anak yang berhayal aneh aneh, tetapi hayalanku adalah mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia. Aku pun sebelum tidur selalu berdoa, agar bermimpi bisa bertemu dengan ayah, kami bersatu menjadi keluarga yang bahagia ...
"Ya Tuhan ... aku ketiduran, "ucapku dengan meraba celanaku yang basah.
Ternyata aku mengompol, dan dengan hangat nya celanaku, berbarengan pula dengan keluarnya cacing cacing kecil ...
"Ihh ... aku cacingan" gumamku dalam hati
Cacing itu banyak sekali, aku bergidik sendiri melihatnya ... aku bangun segera mengganti pakaian, yang sedari pakaian itu kering sendiri di badan, Namun basah lagi karena ompolku.
"Kutumpukan aja deh di sini dulu, baru besok ku cuci" ucapku dalam hati sambil menaruh celanaku di tempat cucian kotor.
Aku menuju ke kamar, kupejamkan mat ku ... kutakut jika besok akan kesiangan ibu akan marah.
Kring ....
Jam weker berbunyi, kulirik masih jam 5 pagi. Tidur sebentar mungkin bisa mengobati rasa sakit tubuhku, tubuhku sakit dan panas sekali ... sepertinya aku demam. Kupejamkan mataku dengan perlahan.
Byur !
Bajuku basah, aku kaget dan terbangun ibu berdiri di samping divan sambil menenteng ember, yang ibu gunakan untuk menyiramku tadi.
"Enak nya ... yang baru bangun, jam segini"
"Buk ... aku demam, izinkan aku sekolah ya buk, badanku sangat sakit, nggak kuat untuk berjalan ke sekolah" ucapku pelan
"Alasan saja kau Er ... bilang saja kau malas!"
"Nggak buk ... kalo tak percaya ibuk pegang, badanku panas banget buk. " bicaraku pelan dengan mengambil tangan ibu untuk menaruhnya ke keningku.
"Beraninya kau mengambil tanganku, Hah!" Ibu bukannya memegang keningku tapi malah menarik rambutku, dan menyeretnya ke toilet. Ibu mendorongku ke arah cucian kotor.
"Cuci semua pakaian itu Er! Celanamu juga bau nya sudah bau bangke! Anak sudah besar seperti kau, masih saja mengompol!"
"Buk ... Erni hari ini, istrahat aja ya buk ... Erni nggak kuat, "
"Istirahat katamu? Kau fikir Er aku membawamu kerumah ini, hanya untuk melihat mu tidur tiduran?"
"Kalo gitu, Erni mau pulang tempat nenek saja buk. Erni mau istirahat di sana" ucapku dengan air mata yang menetes
Plak !!
Dengan kencang ibu menamparku, tamparan itu sangat kencang. Sampai tubuhku tersungkur ke lantai, telingaku berdengung, dan jangan tanya lagi bagaimana rasa pipiku ...
"Buk ... Erni ini anak ibuk! Tapi kenapa ibuk nggak pernah sedikit pun baik ke Erni!" Ucapku dengan nada tinggi
"Oohh ... kau sudah berani melawan ya Er, sudah pandai mulutmu ... hah!"
Ibu mengambil gayung, dan memukulnya ke mulutku, namun kutepis ...
"Buk, kalo ibuk nggak mau mengantarkan aku pulang ke rumah nenek, izinkan aku untuk istrahat di rumah ini. Atau kalo tidak aku akan mengadukan semua perlakuan ibu ke nenek. " ucapku dengan penekanan.
"Heh ... kau adukan saja, ibu tak takut" ucap ibu dengan senyuman sinis.