"Buk aku mohon, kali ini aja ... badan Erni sakit semua buk, " ucapku memohon
Ibu berlalu meninggalkanku, kubangunkan diri dengan tertatih. Ntah mengapa hari ini tubuhku terasa sangat sakit, dari ujung kepala sampai kaki, rasanya sangat nyeri. Bekas lemparan ibu yang mengenaiku dada pun, masih sangat terasa sesak. Aku hanya bisa membaringkan tubuhku, di atas divan kayu, yang tak ada rasa ke empukkan sama sekali.
Kruk ... Krukk
Suara perutk, yang meronta ronta ingin di isi. Sedari pagi aku memang belum makan dan minum, aku takut jika keluar akan bertemu ibu, aku takut ibu akan memukulku lagi. Sedangkan tubuhku, rasanya sudah tak sanggup. Merasakan pukulan dari ibu.
Aku hanya bisa menahan rasa lapar dan keringnya tenggorakan, berharap ... ibu akan keluar menggosip di rumah tetangga. Dan aku akan mudah menyelinap ke dapur, untuk mengisi perut, yang sedari tadi sudah keroncongan.
Brug!
Suara pintu di banting keras, sepertinya Tuhan mendengar harapanku. Aku yakin ibu pergi keluar, untuk bergosip ke rumah tetanga, seperti biasanya.
Aku berjalan dengan sangat hati hati, kulihat di meja makan. sayur tumis genjer, ayam goreng dan sambal sudah tersedia di sana.
"Tumben ibuk menaruhnya di meja. biasanya ibu sumputin di lemari. " gumamku dalam hati.
Tanpa fikir panjang, kuambil piring dan menikmati masakan yang enak itu, aku melahap nya dengan cepat takut ibu keburu pulang.
"Ya Tuhan enak banget ... " ucapku, sambil menahan nafsu untuk menghabiskan sayur ibu, maklum baru kali ini aku makan di rumah ibu bisa makan pakai sayur. Biasanya aku hanya mengulek sambal dan garam, atau aku hanya bisa makan, makanan sisa dari ibu .
Dengan cepat kurapikan meja, kucuci piring bekas tadi kumakan, dan berlalu ke kamar untuk mengistrahatkan badan lagi. Rasanya ... tubuhku kembali berenergi, setelah makan.
Kritt,
Suara pintu di buka, dengan reflek kumenghentikan langkahku, di balik pintu ... ibu masuk dengan menggendong Kenzo. Dan ibu menatapku dengan penuh kebencian. Aku sangat takut dengan tatapan itu.
"Bangun juga kau rupanya, timbak air sana, isi bak mandi! Jangan cuma bisa nya tidur aja!" Ucap ibu dengan nada tinggi, sambil membuka tudung nasi.
Degh! Aku sangat takut ibu marah ...
"Astaghfirullah Erni!" Ucap ibu sambil menjambak rambutku.
"Ampun ... buk, Erni laper buk ... "
"Kau kan bisa nyambel, jangan makan sayur yang di atas meja! Itu udah ibu siapkan untuk ayahmu!"
"Erni cuma ngambil sayur sedikit kok buk, ayam nya pun Erni cuma ngambil satu"
"Erni! kau ini cuma bisanya ngelawan ... aja! " sahut ibu dengan tangannya yang meremas mulutku.
Aku hanya diam, takut jikaku melawan lagi ... ibu akan semakin marah.
"Udah sana! Kau timbak airnya, sampai bak mandi itu penuh!" Ucap ibu sambil mendorong badanku.
Tubuhku tersungkur ke lantai, kuturuti perintah ibu ... meskipun tubuhku masih terasa sangat lemas. Namun jika tak kuturuti, pasti akan ada perang dunia ke dua di rumah ini, dan tubuhku benar-benar sudah tak sanggup lagi harus menghadapinya.
Kutimba dengan hati-hati, takut dengan tubuhku yang kecil dan lemas ini, bukannya menarik air, malah tubuhku yang tertarik ke dalam sumur. Belum selesai, ibu datang menemuiku ...
"Nih ... sekalian, cuci semuanya!" Ibu melempar keranjang pakaian kotor ke arahku.
"Buk, aku lemes banget. Aku istirahat sebentar ya ..." lirihku
"Kerjakan sekarang! Atau kujeburkan kau di sumur itu!"
Tanpa menjawab, langsung kubergegas mencuci pakaian. Tenagaku sudah benar benar tak kuat, Namun kutahan. Kulirik ibu sibuk membubuti ayam.
"Asik ... sahur nanti makan ayam," girangku dalam hati
"Buk, besok puasa ya?" Tanyaku
Namun ibu tak menjawab, mungkin ibu sangat marah denganku, sampai mengobrol denganku saja ibu tak mau. Kujemurkan pakaian yang sudah kucuci, dan langsung kuhampiri Kenzo yang sedari tadi duduk di samping ibu.
"Dek main yuk, dengan mbak"ucapku sambil menyodorkan kedua tangan, untuk menggendong Kenzo. aku ingin mengambil hati ibu, supaya ibu nanti bisa berbaik hati, dan memberiku sepotong ayam, untuk sahur nanti.
Kuajak Kenzo bermain di kamar, Kenzo memang adikku yang sangat tampan, penurut, dan jarang menangis. menurutku ... di banding anak seusia nya yang lain, adikku lah yang paling pendiam.
"Apa dulu ibu juga menyayangiku ya? Seperti ibu menyayangi Kenzo?" Tanyaku dalam hati sambil memperhatikan Kenzo
Semoga saja ... ibu dulu pernah memberikan kasih sayangnya kepadaku. Atau malah sebenarnya ibu sudah membenciku sejak kulahir ke dunia ini. Aku seperti mencari tahu, tentang diriku sendiri.
Rasanya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan, yang ingin kutanyakan dengan ibu. Namun aku terhambat, dengan sifat ibu yang dingin. Jangankan untuk bertanya tentang diriku. untuk memandang wajahku saja, rasanya ibu akan muntah, jika melakukan hal itu.
Atau sebenarnya, aku ini anak tiri? Yang ibu temukan di tong sampah seperti sinetron di televisi, makanya ibu sangat membenciku, karena aku bukan anak kandungnya. Namun sepertinya kisah sinetron anak tiri pun, masih kalah sedih dengan kehidupanku.
"Huhh ... " aku menghela napas panjang
Kulihat Kenzo tertidur dengan sendirinya ... langsung kupindahkan ke kamar ibu. Kasihan Kenzo jika harus tidur di divanku, yang hanya beralaskan tikar. Aku tak akan tega, jika nanti punggung Kenzo akan sakit. Sama sepertiku yang bangun tidur bukannya segar ... malah sakit, semua badan.
"Buk, Kenzo tadi tidur ... udah Erni pindahin ke kamar ibuk"
"Kau ini Er! Jangan masuk sembarangan ke kamar ibuk! Awas nanti uang ibuk hilang!"
"Nggak kok buk ... Erni nggak ngambil apa-apa. Buk Erni istirahat sebentar ya."ucapku sangat pelan, takut ibu akan marah.
"Heleh! Sudah sana ... jijik!" Ucap ibu sambil menendang bokongku.
Jalanku tertatih menuju kamar ...
~~~~~~
"Sahur ... sahur ... " suara bising dari luar.
Aku terperanjak dari tidurku, dengan cepat aku keluar, dan menyediakan semua lauk di meja makan. Sengaja aku bangun lebih dulu dari ibu, dan mempersiapkan semuanya. Berharap ibu akan senang. Agar aku bisa mendapatkan jatah ayam opor, yang ibu masak sore kemarin.
Tok ... tok ... tok ...
"Buk, yahh, sahur." panggilku pelan, di depan pintu kamar ibu.
Tak kudengar suara jawaban ibu. Sekitar 30 menit lamanya, kumenunggu ibu di kursi makan. Namun tak kunjung juga ibu keluar.
Tok ... tok ... tok! Ketukan pintu yang kuketuk, agak keras.
"Buk ... sahur buk," panggilku dengan suara agak tinggi.
Ibu pun langsung membuka pintu. Aku menunduk pergi dan duduk di kursi makan, yang sedari tadi siap-siap untuk menyatap makanan.
"Ngapain kamu disitu?"tanya ibu
"Aku mau sahur buk"
"Awas ... ibuk sama ayah mau makan. Kau kan liat kursinya cuma 2. Kau makan di bawah!"
Aku menuruti ibu, namun sebelum kuberdiri, kuambil dulu nasi dan lauk pauk yang kusediakan tadi.
"Eh kau mau ngambil apa?"
"Aku mau ngambil opor buk ... bolehkan?"
"Nggak boleh! Kau kan nggak ngebantuin ibu nyayur!"
"Kuah nya aja ya buk, sedikit." Ucapku memohon
"Kutampar kau ya Er! Ibuk bilang nggak ya nggak!"
Aku pun berlalu meninggalkan ibu dan ayah, aku ke belakang untuk menyambal lagi ... sambal inilah sebagai perasa nasiku. Ku usap air mata yang tidak sengaja menetes. Aku merindukan nenek, biasanya nenek yang sibuk menyediakan sayur, lauk pauk lainnya. Sangat rindu rasanya dengan perempuan tua itu.
"Untuk apa aku menangis? Bukannya ini mauku!"
Dengan lahap kumakan nasi, yang hanya berlauk sambal itu. Membayangkan yang kumakan adalah masakan ibu.
"Er nih cuci, beresin meja ya. Jangan lupa!" Ibu menyodorkan piring kotor, dan melangkah pergi meninggalkanku
Piring-piring itu kubersihkan satu persatu, kuselesaikan semua tugas rumahku. Supaya besok pagi aku bisa santai, untuk bangun tidur.
"Huh ... akhirnya selesai juga, waktunya tidur ..." lirihku
~~~~~
"Assalammualaikum, Lus ..."
Kubuka mata, kulihat jam wekerku menunjukkan jam 08:00 pagi.
"Lus ..." terdengar suara yang sepertinya kukenal. Aku beranjak dari tempat tidur.
"Iya sebentar" ucapku dengan pelan. Kubuka pintu, dan betapa senang nya aku, yang datang adalah bude Lati, Adik dari ibuku. Namun bude lati sangat baik denganku.
"Budeeeeee ..." aku memeluknyaa
"Masuk bude, bude minepkan?" Tanyaku, sambil mengangkat tas bude yang besar.
"Iya Er ... bude minep, mana ibumu? Kau tak sekolah?"
"Ibu lagi tidur bude, nggak bude ... kan libur, Erni manggil ibu dulu ya bude" ucapku, dan beranjak dari tempat duduk. Namun tanganku di tahan oleh bude.
"Nggak usah Er, bude kangen sama kamu. Pengen ngobrol sama Erni ... kalo ada ibuk, nanti bude nggak bisa ngobrol dengan Erni."
"Mau ngobrol apa bude?"
"Bude mau nanya, gimana perlakuan ibu dan ayahmu Er?"
"Ibu baik kok bude, ayah juga gitu." Ucapku berbohong, karena aku takut jika aku mengadu, bude akan memarahi ibu, Dan ibu akan mati matian menyiksaku. Jadi lebih baik, aku diam.
"Kamu yakin? Bude tau banget Er sifaf ibumu, jangan bohong. Kalo ada apa-apa kamu harus ngomong!"
"Iya bude, bude Erni boleh nanya?"
"Iya ... apa Er?"
"Bude tau bapak Erni?" Tanyaku serius, aku memanfaatkan kesempatan ini.
"Bude tau, terus?"
"Bapakku masih hidup bude? Kalo masih ... lalu bapak Erni ada dimana?"
"Masih Er ... nanti kapan - kapan bude antar ya kamu kesana. Tapi nanti ..."
"Apa bapak nggak kangen dengan aku ya bude"ucapku, dengan air mata yang tertahan.
"Bapakmu pasti kangen denganmu Er ... oh iya kamu nggak tau? Sebelah rumah nenek kan, rumah adek bapakmu"
"Hah ..." aku membulatkan mata, sangat terkejut dengan pernyataan bude. Rasanya aku ingin pulang ke rumah nenek, dan mencari info tentang asal usulku.