Aku di tuntun ke dalam mobil. Di dalamnya ada nenek, kakek, dan istri pakde yang sudah menungguku. Aku duduk di tengah-tengah nenek, dan kakek.
Sepanjang jalan tak ada suara yang keluar dari mulutku. Tak ada air mata yang jatuh di pipiku. Yang aku rasakan hanyalah ketakutan! Takut akan amarah yang di lontarkan oleh mereka. Takut akan pukulan-pukulan karena kesalahanku.
"Ya allah Er nenek sakit, jantung nenek kambuh. Tiap malem nenek mikirin kamu" ucap nenek dengan tangan di dadanya.
Aku hanya diam. Aku masih sangat takut, memikirkan hal apa lagi yang akan terjadi setelah kelakuanku ini. Mobil berhenti di depan rumah pakde, aku di rangkul nenek keluar dari mobil.
"Masuk ... masuk" istri pakde mempersilahkan kami masuk.
Kami duduk di ruang tamu, dan sampai saat ini aku tak melihat ada amarah dari wajah mereka. Mereka bermusyawarah dengan serius. Kutatap wajah nenek dengan genangan air mata, saat nenek mengatakan jika aku dititipkan di rumah pakde untuk sementara, supaya paman tak mengulangi kesalahannya lagi.
"Bukankah selama ini nenek selalu tak menyetujui aku mendekatkan diri ke keluarga bapak? Lalu sekarang nenek malah menyuruhku tinggal di rumah pakde. Adik dari bapakku!" Batinku memberontak.
"Erni nggak mau!" Ucapku tegas, aku memotong pembicaraan mereka. Semua mata melihatku
"Er ... ini untuk kebaikanmu" nenek menggenggam tanganku.
Aku berdiri tanpa menjawab, berlari keluar ... ke arah rumah nenek. Kubuka pintu yang tak terkunci itu, kudapati paman di ruang tamu menatapku dengan terkejut ... aku tak memperdulikannya. Aku berlalu ke kamar, kurebahkan tubuhku.
Aku tak ingin memikirkan apapun! Aku benci dengan hidupku! Aku muak! Kubenamkan wajahku di bantal. Tiba-tiba bahuku di sentuh seseorang, aku membalikkan badan. Aku terkejut paman sudah duduk di sampingku dengan tatapan nanar.
"Maapin paman ya Er, paman salah." Ucap paman dengan mata yang sudah di penuhi genangan air mata, namun tertahan tak terjatuh.
"Paman ngapain ke kamar Erni? Nanti istri paman marah, dia kan nggak suka paman deket dengan Erni"
"Itu cuma perasaan kamu aja Er, karna paman udah nggak bisa nemenin Erni lagi. Kamu kan sudah besar dan paman sudah beristri, tak baik jika terus menerus main dengan Erni. Paman harus bekerja, dan ada perasaan yang harus paman jaga, yaitu istri paman. Kamu ngertikan?"
Aku hanya mengangguk ... sebenarnya ada pertanyaan yang ingin kutanyakan. Apa salahnya paman tetap memperhatikanku? Tak sebisa itukah di karenakan sudah beristri? Aku pernah mendengar paman bertengkar dengan istrinya di kamar, saat mereka baru menikah ... kebetulan aku lewat dan tak sengaja mendengar istrinya menyebut namaku. Istrinya marah dia merasa tak di perhatikan, sedangkan aku sangat di nomor satukan oleh paman. Kufikir dari itu paman berubah.
"Paman sudah bercerai Er ... rental PS pun bangkrut" ucap paman membuyarkan fikiranku.
Aku membulatkan mata, rasanya kepergianku baru saja sebulan. Tetapi sudah banyak kejadian yang aku tak tahu.
"Apa karna Erni paman pisah?"
Paman menggeleng, paman menjelaskan secara detail bahwa istrinya di pergoki dengan bibi Rina telah berselingkuh di salah satu tempat karaoke. Paman yang tak suka dengan penghianatan, hari itu juga menjatuhkan talak tiga sekaligus! Rental PS pun jadi terbengkalai tak terurus oleh paman dan seiringnya waktu, bangkrut ...
Ada perasaan lega mendengar rentalan itu bangkrut. Itu artinya tak ada lagi perkumpulan di rumah ini sampai subuh. Dan aku bisa tidur nyenyak sepanjang malam, tanpa takut dengan teror pria itu.
Kulihat air mata paman jatuh, dengan buru-buru dia menghapusnya dan berlalu keluar kamar meninggalkanku. Sebenarnya ada rasa kasihan melihat pamanku terpuruk seperti itu.
Tetapi ntah mengapa ada perasaan senang di benakku. Karena aku, bisa bermain dengan paman tanpa ada yang marah ... jika paman bilang aku sudah besar yang tak pantas lagi bermain dengannya, tapi bagiku paman bukan sekedar paman! Paman adalah kakak untukku ... dan aku adalah seorang adik yang selalu ingin di perhatikan!
~~~~
"Er ... bangun, sekolah" nenek membangunkanku dengan membawa perlengkapan sekolah. Nenek menuntunku turun dari ranjang mengantarkan aku mandi dan mempersiapkan aku makanan.
Kuperhatikan wajah yang sudah amat keriput ini ... nenek sudah tak lagi sehat seperti dulu, dan jalannya sudah agak membungkuk karena pinggang yang sudah terasa linu katanya.
"Semoga kau panjangkan umur wanita tua ini ya Tuhan ... kumohon ..." batinku
"Er ... ini untukmu. Ini hadiah karena Erni sudah pulang" ucap nenek menyodorkan kotak handpone
Kulihat handpone nokia hitam putih tipe 1110
"Wahhhh ... nek, makasih yaaa" ucapku girang memeluk nenek
"Iyaa Er" jawab nenek mengusap punggungku
Aku berpamitan ke sekolah, sepanjang jalan aku memandangi handpone itu ... sudah sejak lama aku menginginkannya.
Degh!
Perasaanku seperti ada yang mengikuti dari belakang. Aku menoleh kebelakang, ternyata Melati dengan jalan yang perlahan seperti enggan untuk menghampiriku. Kuhentikan jalanku menunggu Melati namun tak seperti biasanya, jalan Melati sangat tertatih ...
"Mel buruan!" Panggilku
Melati tetap dengan jalannya yang lambat dan dengan kepala yang menunduk ... aku tak tahan menunggunya. Aku berlari menghampirinya.
"Woy" dengan lariku yang melompat supaya dia terkejut. Namun Melati tak merespon apapun.
"Er ... maapin yaa ... aku yang ngasih tau pamanmu, kamu kerja dimana. Kamu nggak apa-apa kan Er? Kamu nggak di pukulkan? Aku terpaksa Er ... habisnya pamanmu galak ... aku di teken habis-habisan suruh ngaku." Ucap Melati dengan menunduk ...
"Hee ... nggak kok Mel, aku baik-baik aja. Malah aku dapet HP baru dari nenek"
"Eh serius? Coba liat ... lagian mereka pinter ya Er nyari kamu, aku cuma bilang kamu kerja di toko sepatu simpur. Tapi mereka bisa nemuin kamu ... padahalkan toko sepatu di simpur banyak!"
"Mungkin di cari satu persatu toko sepatu kali Mel. Hahahaha ..." ucapku bercanda
Akhirnya kami berjalan dengan tertawa bersama ...
"Er, gimana ... dengan ngerayain kamu pulang ini. Kita bolos yuk? Ke kuburan cina. Tapi besok! Kita jangan pake baju sekolah, bawa baju dari rumah ..."
"Hihihi nakal ... ayuklah besok kita bolos yah"
Di sekolah tak ada yang aneh ... semua seperti biasa, guruku pun tak ada yang menanyakan sesuatu. Melati menjelaskan bahwa nenek dan kakek sudah ke sekolah terlebih dahulu, mencariku dan memohon dengan guru jika ada murid yang bertanya bilang saja aku sedang berpergian. Aku hanya tersenyum mendengarnya dua orang itu memang terbaik ...
Jam sekolah pun telah usai ... aku pulang dengan buru-buru karena sudah tak sabar ingin mengotak ngatik HP ku ini.
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam" jawab paman
Kulihat paman sudah berenergi dibanding hari kemarin, aku berlalu ke kamar mengganti pakaianku dan merebahkan tubuh diranjang. Kuotak-atik HPku ...
"Ngapain ya? Mau ngehubungin siapa juga ... nggak ada nomor siapa-siapa" gumamku dalam hati
Akhirnya fikiranku mentok dengan main snack kenzia, yang tubuhnya bisa menembus dinding namun mati jika menyentuh buntut nya.
Cuma gitu doang permainannya! Tetapi, aku bisa main game itu berjam-jam seperti ketagihan.
~~~~
Kumasukkan baju dan celanaku ke tas, aku berpamitan seperti biasa dengan orang rumah lalu menemui Melati di rumahnya ... kami menuju ke ujung jalan untuk menunggu angkutan umum.
Sekitar hanya 5 menit kami sudah sampai di Gang Bima. Sekitar 45 menit dengan berjalan kaki dari Gang itu untuk sampai ke puncak kuburan cina tersebut. Sebelum memasuki kuburan cina itu, aku dan Melati berganti pakaian terlebih dahulu di toilet yang ada di depan saat memasuki kuburan itu.
Dengan kaos oblong warna pink, celana jeans warna biru laut dan sepatu pink andalanku tak lupa kacamata warna biru.
"Hahaha ... gayamu mirip anak alay Er" Melati mengejekku
Alay, anak layangan ...
Nongkrong pinggir jalan
Sama teman-teman
Alay ... orang bilang anak layangan.
Kampungan ... gaya pas-passan ...
Kami bernyanyi bersama sambil berjalan menuju puncak. Meskipun ini kuburan namun isinya tak seperti kuburan ... di penuhi dengan pohon-pohon cemara, Dan sangat terawat.
"Mel duduk disini dulu yuk ... capek aku" ajakku
Kami duduk berdua ... aku di pinggir dengan pose duduk seperti di pantai.
"Er poto yuk ... "
Dengan HP mito milik Melati. Kamera belakang di arahkan ke wajah kami. Sekitar 1 jam lamanya tiba-tiba ada segerombolan pemuda dengan motor matic putih.
"Cewek ... mau di anterin gak?"ucap salah satu pemuda
Namun aku dan Melati hanya diam tak merespon apapun, akhirnya mereka pergi. Tak lama ada segerombolan pemuda lagi, dengan motor megapro dan motor bebek ...
"Mau dianterin gak?" Ucap salah satu pemuda
Aku merespon ... karena sepertinya mereka pemuda baik. Tak seperti tadi bringas! Kelihatan dari wajahnya.
"Ayuk Mel ... lumayan ada yang nganterin. Aku capek nih mau jalan lagi" bisikku
"Yaudah Er kamu duluan, aku malu"
"Kamu duluan geh Mel ... kamu mau motor yang mana?"
"Aku motor yang bebek Er. Orang nya manis" jawab Melati pelan
Aku di dorong Melati untuk menghampiri mereka, aku menaiki motor megapro itu dengan malu-malu ... di tengah perjalanan pemuda itu meminta no HPku. Kami berjabat tangan. Kami berkenalan, pemuda itu bernama Abian kelas 1 SMA.
"Hatiku ya Tuhan, meleleh ..." batinku, baru kali ini aku berkenalan.
"Udah ya ... sini aja, trimakasih" ucapku
Abian hanya tersenyum, Masya Allah aku klepek-klepek rasanya ... Melati menghampiriku dan mengajakku untuk mengganti pakaian. Karena takut jika ketahuan kami bolos!
~~~~
Sesampainya di rumah aku galau menunggu SMS dari pemuda tadi. Sudah jam 9 malam pun HPku tak berdering sama sekali.
Tring ...
Tiba-tiba kulihat SMS dari Abian, kami saling balas-membalas sampai tak terasa hampir tengah malam. Mungkin ini kata mereka yang di namakan cinta monyet.
"HIhihi ..." batinku tertawa
Abian tak terlalu tampan, namun ntah mengapa hatiku dag dig dug waktu pertama kali melihatnya. Padahal ... di banding pemuda pertama yang menggoda kami, Abian tak ada apa-apa nya. Abian pria sederhana ... berkulit hitam, hidung mancung, gigi gingsul, memakai kaos hitam, dan celana jeans pendek dengan sendal Swallow berwarna biru.
~~~~
Hari demi hari aku dan Abian semakin dekat, dan hari ini aku di ajak Abian jalan-jalan
"Oh Tuhan! Untuk pertama kali nya aku akan berboncengan dengan seseorang laki-laki yang aku cintai ... ngebayangin nya aja aku mau pinsan." Batinku
Tring ...
HPku bergetar ada SMS masuk dari Abian
"Aku udah di depan gang nih" isi SMS Abian
"Masya Allah ... aku mau ketemuan? Jalan berdua? Uhhh ..." ucapku dalam hati, jantungku hampir copot! Padahal hanya dapat SMS dari Abian. Apalagi berduaan!
Aku yang sudah bersiap-siap langsung menemui Abian ... dengan dress warna hijau lumut dan sepatu warna pink.
"Nek ... Erni mau pergi dulu ya ..." pamitku
"Iya Er ... jangan lama-lama ya."
"Iya nek, Assalammualaikum"
"Walaikumsalam"
Aku buru-buru jalan menuju gang rumah nenek, dengan hati yang berbunga-bunga. Ntahlah bagaimana lagi harus ku ungkapkan perasaan ini yang jelas jantungku selalu berdetak kencang dan bibirku ini tak ada habisnya tersenyum sepanjang waktu.
"Er ..." panggil Abian dengan melambaikan tangannya. Dan langsung kuhampiri Abian dengan tersipu malu.
"Nih pake Helm" Abian mengulurkan Helm
Aku langsung menaiki motor Abian, Subhannallah rasanya aku mau mati! Sepanjang jalan aku berdoa agar aku tak pinsan. Dan bisa bertahan duduk di belakang pria yang kukagumi ini.
"Kita mau kemana" tanyaku
"Kita makan dulu ya ..."
"Emmmm ... anu, nggak usah makan ya. Aku udah kenyang." Jawabku. Padahal aku laparnya bukan main, karena sibuk memikirkan Abian, jadi lupa makan!
"Aku nya laper" jawab Abian tersenyum
Masya Allah ... ternyata senyum terindah yang kulihat selama ini hanya milik ibu, nyatanya masih ada lagi!
Motor Abian berhenti di depan tempat makan bertuliskan KFC. Dari aku lahir sampai sebesar ini, ini pertama kalinya aku makan di KFC yang iklan nya sering muncul di televisi dan radio.
Aku mengikuti Abian dari belakang ... kami berjalan ke arah kursi, dan Abian menyuruhku untuk menunggu sejenak. Kuperhatikan Abian dari jauh.
"Oohh ... gitu caranya mesen makanan" gumamku
Tak lama Abian datang membawa 2 porsi ayam tepung, saus dan minuman bersoda. Aku malu-malu dan sangat pelan melahapnya.
"Ini ayamnya enak banget! Padahal makannya cuma ayam tepung, nasi dan saus sambal. Tapi kok enak!" Batinku
Tetapi meskipun enak, aku tetap dong menyisakan nasi sedikit dan ayamnya sedikit. Supaya terlihat anggun dan tak terlihat rakus. Padahal seandainya tak ada Abian, ingin kugerogoti semua ayam itu sampai ketulang-tulangnya!
"Aku cuci tangan dulu ya ..." ucap abian dan bangun dari tempat duduknya
Kuperhatikan Abian dari kejauhan, supaya aku tahu dimana letak toiletnya. Tak lama Abian kembali, kali ini gantian aku yang mencuci tangan. Dengan percaya diri aku berjalan ke arah toilet ... ternyata yang ada hanya hanya kaca dan tempat pencuci tangan, bukan toilet! Kuputar ke kanan, kuputar ke kiri tak hidup juga kerannya ...
"Masya Allah ... ini gimana caranya?" Aku kebingungan, dan tak ada seorang pun disini.
Akhirnya aku kembali, dengan tangan yang masih kotor ...
"Kok belum cuci tangan?" Tanya Abian
"A-aakuu ... nggak tau caranya ngehidupin keran."
Hahahaha
Abian tertawa keras dan langsung menuntun tanganku ... ke arah tempat pencuci tangan.
"Gini loh ... sayang ..." ucap Abian dengan menaikkan gagang keran itu.
Degh!
Sayang? Aku di panggil sayang?
Oh Tuhan aku ingin lompat-lompat rasanya!
"Ternyata di naikkan toh! Tadi tak puter kanan-kiri" ucapku dengan menunduk
"Udah nyuci tangannya?" Tanya Abian
Aku hanya mengangguk ... Abian menggenggam tanganku. Aku pasrah! Mau gimana lagi? Namanya juga udah cinta hehehe ...
Setelah makan, aku dan Abian berjalan-jalan menaiki motor vixion nya. Yah ... memang, kali ini Abian bukan memakai motor Megapro tetapi Vixion berwarna merah. Dan rambut yang agak panjang Abian terlihat sangat manis memakai topi. Dan tentunya aku makin deg-deg'an!
Selesai jalan-jalan Abian mengantarkan aku pulang, aku sengaja menyuruh Abian memberhentikanku di Gang perempatan rumah nenek. Karena aku belum siap untuk memberitahu orang rumah, Aku sedang dekat dengan lelaki. Banyak pertimbangan ... apalagi jika paman tahu! Aku takut jika paman marah.
~~~~~
Dari hari itu Abian sering mengajakku ke tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi. Seperti ke mall, nonton bioskop, dan makan pecel lele. Kalian tahu? Aku mengira pecel lele itu berkuah kacang dengan lele yang di tumbuk menjadi halus, seperti pecel sayur. Ternyata ... lele di goreng di sajikan dengan nasi dan sambal terasi. Rasanya Mantap!
Hari ini ... aku berniat untuk memberikan kejutan untuk Abian. Aku menghubungi teman Abian yang dulu mengantarkan Melati. Aku mendapatkan nomor HP nya dari Melati ... aku meminta tolong untuk di jemput nya dan mengantarkan aku ketemu dengan Abian.
Teman Abian mengantarku tepat di depan rumah Abian ...
"Berhenti ... disini!" Ucapku dengan tiba-tiba menepuk bahu Gunawan
"Loh kenapa? Kita belum masuk loh Er"
"Nggak usah masuk ... pulang aja"
"Aku tanya dulu ya ke dalam, Abian ada atau tidak ..."
Aku hanya mengangguk ... aku minder masuk ke dalam, dengan rumah yang bertingkat satu, halaman yang cukup luas dan pagar besi warna biru. Tak lupa berjejer 3 mobil mewah di halamannya.
"Yah ... Er, pulang aja yuk. Abian nggak ada, kuliah kata mama nya" ucap Gunawan yang tiba-tiba datang
Degh! Kuliah?
Gunawan menghidupkan motornya ... sepanjang jalan aku berfikir. Bukannya Abian bilang dia anak SMA? Lalu sekarang mamanya bilang Abian sedang kuliah. Aku langsung mengorek informasi tentang Abian dari Gunawan
"Abian kuliah dimana sih Gun?" Tanyaku
"Di unila Er ... jurusan kedokteran. Abian pinter loh!"
Degh!
Hatiku hancur mendengarnya. Bukan karena sakit di bohongi Abian. Bukan sama sekali! Tetapi sakit aku dan Abian sangat berbeda. Rumah Abian bagiku cukup mewah ... di banding rumah nenek yang hanya bata bercat kapur putih, dengan jendela kaca yang pecah berlakban warna coklat.
Abian bagaikan telaga yang sangat indah di penuhi pepohonan. Dan aku hanyalah lumut yang ada di pinggiran telaga ...