3 Duyung Cantik
First Dating Kita
Temannya Andi yang ada di dalam mobil keluar mengawasi temannya dari balik mobilnya, waspada jika terjadi sesuatu kepada Andi.
"Gak apa-apa kamu pergi sekarang ya!" Andi memohon kepada Astrid untuk segera pergi namun cewek itu masih menolaknya.
Sampai seorang pereman itu kembali menghajar Andi sehingga membuatnya tersungkur di tanah.
"Andi!" teriak Astrid kaget dia mundur-mundur begitu Andi mendapat serangan dari preman.
Melihat Andi yang kalah preman itu kembali menarik Astrid untuk ikut, "Ayo ikut!" paksanya.
"Eh eh." Astrid kebingungan entah apa yang harus dia lakukan sekarang dia tidak bisa pergi meninggalkan Andi begitu saja.
"Lepasin dia!" Andi menarik tangan pereman itu dari tangan Astrid lalu mendorongnya.
Namun tiba-tiba Andi kembali terkena pukulan dari preman yang lain membuat perkelahian itu semakin menjadi-jadi.
Andi dengan terus menerus mendapat serangan dari para preman itu, darah mulai keluar dari sudut bibir Andi yang terkena pukulan preman. Temannya tidak mau tinggal diam begitu melihat Andi yang tersungkur di tanah dia mencoba mencegah preman itu dan melawannya.
"Astrid pergi Strid!" teriak Andi meminta cewek itu untuk segera pergi.
Begitu melihat keadaan yang semakin gawat Astrid memilih untuk mengikuti permintaan Andi dan pergi bersembunyi.
Pertengkaran itu semakin menjadi-jadi dengan habis-habisan Andi terus dipukul oleh para preman itu begitupun temannya yang ikut babak belur.
Tiba-tiba terdengar bunyi mobil polisi membuat ke tiga preman itu menoleh ketakutan dan langsung kabur. "Kabur woy!" teriaknya berlari masuk ke dalam mobilnya.
Andi pun bangkit setelah terpapar lemah, "Lo gak apa-apa bro?" tanyanya sembari merangkul temannya.
"Gak apa-apa kok," sahut temannya sambil menggelengkan kepalanya dia masih shock karena bisa bertemu dengan para preman-preman itu.
"Syukurlah kalau begitu, yuk kita cabut!" ajak Andi sambil menepuk-nepuk bahu temannya dan berlalu masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat mobil pun melaju meninggalkan tempat itu begitu melihat kepergian Andi dengan temannya Astrid muncul dari persembunyiannya.
"Andi tadi nolongin gue, itu artinya Andi tidak jahat tapi kenapa kelakuannya kaya gitu ya," ujar Astrid heran.
Tiba-tiba Teri mengingat kejadian di saat Ara menolongnya di laut waktu mau tenggelam dia melihat Ara menjadi duyung membuatnya takut dan berlarian menyelamatkan diri.
"Tolong! Tolong, Ara berubah menjadi duyung!" teriak Teri sembari berlarian dengan ketakutan.
"Tolong ada duyung di sana!" teriak Teri lagi membuat para warga berkumpul di sana.
"Ada apa Mbak?" tanya Bapak-bapak itu melihat Teri berlarian.
"Di sana ada duyung Pak," jelas Teri dengan ketakutan.
"Hah, duyung?" Sebagian warga kaget mendengar kabar itu sampai kurang percaya dengan ucapan Teri.
"Iya Pak, Ara berubah menjadi duyung di sana" terang Teri dengan napasnya yang tidak beraturan karena ketakutan.
Namun tiba-tiba tubuh Teri mendadak lemas dan terjatuh di tanah seketika Teri berubah menjadi putri duyung dengan ekor sisiknya berwarna hijau semua orang warga yang ada di sana pun kaget begitu melihat duyung.
"Oh ternyata ini dia duyungnya," seru salah satu warga sembari menunjuk Teri.
Mendengar seruan para warga seketika membuat Teri panik dan khawatir. "Aduh gawat! Gue harus bagaimana ini!" gumamnya.
"Udah mending kita tangkap aja yuk bareng-bareng!" teriakan warga kembali terdengar membuat Teri tambah ketakutan.
"Eh, eh jangan! Jangan!" rengek Teri mencoba menghentikan para warga yang akan menangkapnya.
Para warga pun semakin mendekat ke arah Teri untuk menangkap dan membawanya sedangkan Teri terus berteriak dengan matanya yang terpejam dia merasa begitu takut.
"Jangan!" teriak Teri begitu dia terbangun dari mimpinya dan terkejut melihat Ara yang berada di depannya.
"Sayang, tenang dulu ya! kamu harus tenang ya pasti kamu sedang berhalusinasi sekarang itu kamu ada di rumah," terang Papahnya Teri menenangkan Teri dari mimpi buruknya.
"Dia orangnya Pah, dia orangnya yang menyebabkan aku celaka!" teriak Teri menunjuk Ara sebagai penyebab masalahnya, dia hendak memukul Ara dengan bantal gulingnya.
"Sebentar Ter! Sebentar!" sergah Dirga yang mengambil bantal itu dari Teri dia menghalangi Ara dari serangan Teri, "Lo salah paham Ter, Ara yang nolongin lo kalau bukan karena Ara mana mungkin lo bisa ada di sini," jelasnya
Penjelasan Dirga membuat Teri terkejut dia menatap Ara yang sebagai musuhnya kini malah menyelamatkan dirinya.
"Kamu gak boleh bersikap gitu sama Ara, kamu sudah berhutang nyawa kepada si Ara," sahut Papanya memberikan peringatan kepada Teri.
Ara hanya menundukkan kepalanya merasa gamang sedangkan Teri menganggukkan kepalanya mengerti.
"Yess, Teri gak ngebocorin berarti kekuatan Bu Maya berhasil menghilangkan ingatannya Teri dan Dirga jadi gak curiga deh sama gue," gumam Ara dalam hati, dia bisa bernapas lega dan merasa senang mengetahui semua itu.
Begitu selesai mengantarkan Teri ke rumahnya kini Dirga membawa Ara pulang ke rumahnya juga, begitu sampai di depan gerbang mobil Dirga berhenti, bersamaan dengan Amy yang sedang lewat ikut berhenti memperhatikan kakaknya yang baru pulang bersama seorang laki-laki dari jendelanya.
"Ara!" panggil Dirga sembari turun dari mobilnya, seketika Ara menunduk tersipu malu. "Ada yang lupa," ujar cowok itu sembari mengulas senyum pada bibirnya lalu dia mengulurkan tangannya.
Ara menatapnya bingung, dia tidak mengerti maksud uluran tangan Dirga. "Maksudnya?" tanyanya dengan kedua alis yang mengkerut penuh tanda tanya.
Namun Dirga menyuruh Ara untuk menggapai tangannya dulu yang akhirnya meski bingung Ara mengulurkan tangannya juga kepada Dirga.
"Hehehe terima kasih ya, udah date time yang pertama," serunya sembari tersenyum.
Ara menatap Dirga bingung sekaligus kaget begitu mendengar Dirga berkata seperti itu sedangkan Amy ikut melongo mendengar percakapan kakaknya.
"Kencan pertama? Hahhh cie, cie, cie!" pekiknya ikut senang lalu dia kembali memperhatikan sikap kakaknya.
Senyum Ara pun merekah secara perlahan, dia merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang dari biasanya darahnya berdesir dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman tangan Dirga, "Hemm apaan sih," ujarnya sembari menunduk malu.
Dirga terkekeh, "Ya tadi itu, gue anggap date kita yang pertama, makasih ya!" sahutnya sembari menaikan sebelah alisnya ke atas.
Ara tersenyum dia kehabisan kata untuk menjawabnya hatinya kini merasa sedang berbunga-bunga lalu dia berjalan pergi sambil tersenyum, entahlah rasanya jika lama-lama berdekatan dengan Dirga dia merasa akan mati di tempat terpesona oleh wajah tampan cowok itu serta rayuan gombalnya.
Dirga masih setia menatap Ara yang berjalan masuk ke dalam rumahnya sebelum masuk ke dalam rumah, Ara kembali menoleh kepada Dirga dan tersenyum manis yang dibalas oleh kedipan mata Dirga.
Amy yang melihatnya jadi ikut senyum-senyum sendiri dia merasa senang melihat kakaknya berduaan dengan cowok yang disukainya, dia tahu cerita cinta Ara sebab membaca curhatan kakaknya itu di dalam buku diarynya.
Saat Ara sampai di pintu masuk Dirga membunyikan klakson mobilnya membuat Ara berbalik badan menoleh ke arah cowok itu, "Udah pergi! Pergi!" pintanya sambil menggerakan tangannya.
Dirga tertawa melihat wajah Ara yang menggemaskan, "Woke woke," sahutnya sembari melambaikan tangannya kepada Ara.
Ara tidak habis pikir jika Dirga bisa bersikap manis kepadanya, dia tidak akan melupakan hari bahagianya ini.
Begitu Ara masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba Amy datang menghampirinya
"Cie-cie," ejek Amy dengan tersenyum jail.
"Apaan sih kamu." Ara menatap jutek Amy yang mengejeknya.
"Cie ... ada yang sedang jatuh cinta nih," seru Amy yang terus menggoda Ara.
"Apaan sih kamu," sahut Ara berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Kalau aku bilangin Mamah gimana?" tukas Amy dengan jail.
Mamanya melarang Ara untuk berpacaran jika sampai Mamanya tahu kalau Ara suka atau kencang dengan cowok pasti Mamanya akan memarahinya.