3 Duyung Cantik

Astrid Dalam Bahaya

"Eh Hay," seru Ara sembari bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arah cowok itu.

 

"Kalian ngapain di sini?" tanya Dirga menatap Ara dan seketika dia kaget begitu melihat Teri yang tertidur dalam keadaan basah. "Astaga, Teri! Teri dia pingsan?" 

 

"Iyah tadi pas berenang dia hampir tenggelam jadi ... sudahlah lupakan saja itu gak penting sekarang bantuin Teri!" serunya dengan panik dia mengalihkan pembasahan mengenai kejadiannya.

 

Sedangkan di dalam mobil Astrid masih bersama dengan Andi yang hendak membawanya pergi entah ke mana.

 

"Lepasin gue enggak!" teriak Astrid yang terus menerus dipegang tangannya oleh Andi.

 

"Enggak, lagian Lo ngapain ngikutin gue hah?" Andi masih penasaran dengan apa yang hendak Astrid lakukan dengan mengikutinya.

 

"Apaan sih siapa juga yang mau ngikutin Lo gak usah kegeeran deh," elak Astrid masih berbohong.

 

"Udah deh gak usah bohong, gue tahu Lo ngikutin gue dari tadi kan? Siapa yang nyuruh Lo, pasti si Inda kan? Gue tahu pasti si Ara itu naksir sama gue," pekik Andi dengan kepedean

 

"Eh gak usah kegeeran deh ya Lo," sahut Astrid merasa mual mendengar Andi yang terus menerus menganggap jika Ara suka dengannya. 

 

"Terus siapa lagi kalau bukan Ara yang nyuruh lo? Atau jangan-jangan Lo lagi yang naksir sama gue? udah ngaku aja deh," celetuk Andi kembali bersikap kepedean.

 

"Iih iu ngapain juga gue suka sama lo kerjaan lo yang suka ngurusin orang terus, emangnya lo pikir lo keren apa? Loser!" seru Astrid dengan ilfeel dengan Andi.

 

"Apa lo bilang? lo berani-beraninya ya ngomong sama gue!" Andi kaget mendengar Astrid berkata seperti itu.

 

"L-o-s-e-r! Sekarang lepasin gue enggak!" Astrid kembali mengulang kalimatnya ternyata Andi telah mengikat ke dua tangan Astrid dengan tali.

 

"Lepasin Lo? Enak aja, eh bro kita ngebut bro!" pinta Andi kepada temannya itu.

 

"Okey siap bro." Seperti biasa temannya itu selalu menuruti perkataan Andi.

 

Begitu mobilnya mengebut Astrid merasa takut, "Oh my God, oh my God please jangan ngebut gue takut," pekik Astrid dengan memejamkan matanya.

 

Andi tertawa dengan karena berhasil membuat Astrid takut. "Apa? Apa Lo takut ngebut ya hahaha," ejeknya dengan tertawa puas.

 

Teri berada di dalam mobil bersama Dirga dan Ara untuk diantarkan pulang ke rumahnya, Dirga menata Ara dengan penuh curiga.

 

"Ara tadi lo bilang habis nolongin Teri tapi kok lo gak basah sih," pekik Dirga.

Pertanyaan Dirga kembali membuat Ara kesusahan untuk menjawabnya, "Iya, tadi gue nolonginnya pas udah di daratan," sahutnya.

 

"Oh." Dirga menganggukkan kepalanya namun dia merasa ada yang aneh dengan Ara.

 

Di mobil Andi, Astrid masih terus berteriak meminta tolong, "Aaa!! Andi gue serius please jangan cepat-cepat, please stop Andi, gue takut!" teriaknya.

 

"Bro, nanti berhenti di depan!" pinta Andi berseru kepada temannya yang membawa mobil.

 

Ketika mobil berhenti Astrid meminta agar Andi mau melepaskannya, "Andi please gue mohon lepasin gue!" 

 

Andi menatap Astrid tajam jarak diantara keduanya sangatlah dekat, "Lo yang harus nurut sama gue mengerti!" tunjuknya

 

"Udahlah Di, lepasin gue!" rengek Astrid meminta agar dilepaskan dari tali yang mengikat tangannya. 

 

"Tenang aja gue akan lepasin Lo, tapi sebelumnya Lo harus ngaku kalau Lo suka sama gue!" pinta Andi dengan santainya.

 

"What? Ya enggaklah, Iyuuw." Tentu saja Astrid akan menolak permintaan Andi.

 

Begitu mendengar penolakan dari Astrid, Andi tersenyum sembari bertepuk tangan. "Kayanya ada yang mau keadaannya semakin buruk nih," tukasnya mengalihkan pandangannya ke lain arah.

 

 

"Sekarang Lo pilih mana? Kita mau ngebut lagi atau Lo cium gue?" ujar Andi membuat pilihan dia tersenyum licik kepada Astrid.

 

"What! Cium lo? Ogah gue gak mau," sahut Astrid dia tidak habis pikir dengan Andi yang sudah memanfaat kesempatannya. 

 

Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengetuk kaca mobilnya membuat Andi langsung menarik Astrid yang jatuh dan bersandar kepada-nya. 

 

"Pak, tolong Pak! Tolong!" teriak Astrid dengan kencang agar laki-laki yang di luar itu mendengarnya.

 

Andi membungkam mulut Astrid dengan tangannya lalu melambaikan tangannya kepada laki-laki itu membuat laki-laki itu langsung pergi.

 

"Diam, lo jangan berisik!" pinta Andi sembari menatap Astrid tajam.

 

Setelah laki-laki itu pergi Astrid mencoba bangun dari sandarannya kepada Andi, "Ishh," pekiknya dengan kesal.

 

"Ayo sekarang lo mau pilih mana?" ujar Andi yang masih menunggu jawaban Astrid. "Lo tinggal pilih aja kalau gak mau ya gue akan nyuruh teman gue buat ngebut lagi," lanjutnya sembari menatap Astrid.

 

Ke dua pilihan itu tidak sama sekali menarik bagi Astrid membuatnya kebingungan harus bagaimana.

 

"Oh diam berarti artinya kita ngebut lagi, go! Kita ngebut lagi bro!" serunya kepada temannya itu.

 

"Okey okey," teriak Astrid sambil memejamkan matanya. "Aduhh gue gak ada pilihan," keluhnya memilih untuk mencium Andi.

 

Mendengar itu Andi langsung tersenyum dan memajukan wajahnya, sedangkan Astrid mencoba menutup matanya dia enggan untuk melihat wajah Andi yang begitu menyebalkan.

 

"Hehehehe saja bos!" seru Temannya itu sembari terkekeh.

 

Di saat Astrid hendak mencium Andi tiba-tiba ada dua orang preman yang membuka pintu mobilnya. "Heh kok sendirian aja, ajak-ajak dong!" serunya sembari memegang tangan Astrid.

 

Astrid dan Andi serta temannya dibuat kaget dengan kedatangan kedua preman itu. "Maaf ya bang kita teman sekolah," sahut Andi.

 

"Emang Lo doang yang mau senang-senang gue juga mau dong, ayok ikut!" ujar preman itu sembari menarik tangan Astrid memaksa cewek itu untuk ikut turun dengannya.

 

"Heh lepasin, apa-apaan ini!" teriak Astrid dengan memberontak.

"Udah ikut!" seru preman itu sembari terus memaksa Astrid.

 

Andi mencoba menahannya namun Astrid sudah dibawa keluar oleh kedua perempuan itu, "Astridd!!" pekik Andi dan langsung turun dari mobilnya.

 

"Woy woy lepasin enggak?" pekik Astrid yang didorong-dorong dia kini dalam keadaan susah kedua tangan masih diikat oleh tali membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.

 

"Eh Bang, Bang lepasin cewek saya jangan bercanda." Andi menahan ke dua pereman itu untuk tidak membawa Astrid.

"Kamu boleh bercanda tapi kita enggak hahaha," sahut preman itu sembari tertawa.

 

Teman kedua pereman itu ikut bergabung membuat Astrid dan Andi kaget begitu melihat banyak orang-orang jahat di sekelilingnya.

 

"Woy kenapa ini kenapa? Dia itu milik kita Lo jangan coba-coba ya!" ujar preman yang baru datang itu.

 

"Ah minggir Lo minggir sana!" Preman itu mendorong Andi dengan geram Andi langsung memukul salah satu preman itu.

 

"Aahh!" pekik Astrid dengan ketakutan dia berada di sekeliling mereka membuat dirinya merasa pusing dan ketakutan terjadi sesuatu dengan Andi.

 

Tidak ada cara lain bagi Andi menyelamatkan Astrid kecuali dengan berkelahi bersama para preman-preman itu sampai akhirnya Andi berhasil menarik Astrid dari preman-preman itu dan dengan cepat dia melepaskan tali yang mengikat tangan Astrid.

 

"Kamu lari ya sekarang, buruan lari!" pinta Andi memegangi kedua bahu cewek dengan cemas.

 

"Tapi Andi, Andi!" Astrid merasa tidak enak untuk pergi begitu saja membiarkan para preman-preman itu menghajar Andi sendirian.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!