3 Duyung Cantik

Ternyata Teri Anaknya?

Merasa ada yang aneh dengan dirinya Teri langsung memegang rambutnya dan benar saja ternyata rambutnya menjadi berantakan dan kusut. "Huwaaa!" rengeknya.

 

Arabell menoleh bingung akan siapa yang menjadi pelakunya, ketika pandangannya menoleh ke belakang dia menemukan Ratu dan Astrid yang sedang terkekeh dia pun mengedipkan matanya serta memberikan jempolnya.

 

"Huwaaa!!! Lo apakan rambut gue?" jerit Teri menatap Arabell yang dibalas dengan raut wajah Arabell yang bingung, "Awas ya Lo gue laporin ke Bu Maya!" seru Teri yang hendak pergi namun dengan segera ditahan oleh Ratu dan Astrid.

 

"Etty tunggu dulu!" tukas Ratu mendorong Teri agar tidak pergi dari sana.

 

"Awas Lo berdua ini pasti ulah kalian bertiga," tunjuk Teri dengan kesal menatap ketiga sahabat itu.

 

"Jangan! Jangan!" pekik Ara merasa takut jika sampai Bu Luna tahu.

 

"Minggir!" Teri mencoba mendorong ke tiga teman-temannya itu.

 

"Udah Lo diam-diam di sini aja!" tukas Ratu mendorong kembali tubuh Teri.

 

"Minggir enggak," pekik Teri mendorong dengan sekuat tenaga untuk bisa keluar dari sana.

 

Di sela-sela keributan mereka Bu Luna pun datang menghentikan mereka, membuat semuanya kaget melihat kedatangan Bu Luna terutama ketiga sahabat itu. "Sudah-sudah berhenti!" 

 

"Bu Luna! lihat Bu, rambut saya diapakan sama mereka bertiga Bu, mereka itu pakai sihir Bu," rengek Teri mencoba mengadu kepada Gurunya itu.

 

"Teri mending kamu diam dari pada kamu banyak omong mending selesaikan tugas kamu! Lagian ini itu zaman modern mana ada sihir-sihir gituan, ngaco kamu ya," tukas Bu Luna menatap Teri heran.

 

Ratu dan Astrid menganggukkan kepalanya dan mengulum senyuman membenarkan perkataan Bu Luna.

 

"Tapi benar Bu, mereka bertiga punya sihir lihat rambut aku sampai kaya gini karena ulah mereka," ujar Teri dengan antusias menjelaskan kepada Bu Luna.

 

"Syutt udah Ibu gak mau dengar alasan kamu, lebih baik kamu selesaikan tugas kamu." Bu Luna memandang ke arah Ara, "Ara kamu sudah selesai kerjaannya?" ujarnya.

 

"Sudah Bu," sahut Bu Luna sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

 

"Ya sudah kembali ke kelas!" pinta Bu Luna.

 

"Baik Bu.," Dengan senang hati Ara berlalu namun sebelumnya dia sempat menoleh ke arah Teri dan tersenyum begitu pun Astrid yang meledek Teri dengan menjulurkan lidahnya lalu pergi bersama di saat hendak keluar dari pintu pun mereka kembali menoleh kepada Teri dan menjulurkan lidahnya. Dengan segera Ara merangkul kedua sahabatnya untuk cepat pergi dari sana. 

 

Teri hanya menatap mereka dengan kesal dia tidak suka dengan semua yang telah terjadi begitu melihat Bu Luna ikut pergi begitu saja.

 

Teri menjerit frustasi, "Aaaa!!" 

Ketika selesai dari kerjaannya Teri langsung pulang membawa mobilnya, dia langsung berlari masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal.

 

Namun saat masuk ke dalam rumahnya dia melihat Papahnya sedang berduaan dengan Mamahnya Ara hal itu menambah membuatnya kesal.

 

"Sayang kamu kenapa?" tanya Papahnya heran melihat penampilan Teri yang berantakan.

 

"Papah mau tahu kenapa aku berantakan? tanya aja tuh sama anaknya dia!" sahut Teri membuat Melly dan Verry Papahnya Teri terkejut mereka berdua saling tatap dengan penuh tanda tanya. 

 

"Ara dan teman-teman nya sudah mengerjai aku di sekolah Pah," ujar Teri kembali mengiring opini seakan-akan dia teraniaya oleh mereka.

 

"Apa?" pekik Verry dengan bingung dan ada ketidak percayaan dalam dirinya.

"Mas biar aku cari tahu tentang ini semua," seru Melly mencoba menenangkan calon suaminya.

 

"Dan dia juga bilang kalau Papah itu koruptor!" lanjut Teri kembali memanas-manasi Bokapnya.

 

Tentu saja membuat Verry terkejut mendengarnya sampai mulutnya terbuka membentuk huruf O. "What!" gumamnya pelan nyaris tidak terdengar.

 

Begitu juga dengan Melly yang kaget mendengar penjelasan dari Teri, setelah mengatakan itu Teri langsung berlalu meninggalkan kedua orang tua itu.

 

Sesampainya di rumah Melly langsung memanggil anaknya. "Ara! Ara!" teriak Melly begitu masuk ke dalam rumahnya.

"Iya Mah?" Ara menghampiri Mamahnya yang baru saja pulang.

 

"Sini Mamah mau ngomong sama kamu," kata Melly sambil melambaikan tangannya menyuruh Ara untuk segera menghampirinya.

 

"Apa yang sudah kamu lakuin sama Teri?" ujar Melly 

"Apa?" Ara terkejut mendengarnya.

 

"Apa yang sudah kamu lakuin sama Teri?" Melly mengulangi ucapannya barusan dengan menekankan setiap katanya.

 

Ara menjadi kelagapan bingung apa yang harus dia katakan, "Hem ... a-ku." 

 

"Kamu bully kan Teri, sampai berantakan seperti itu, kamu dan teman-teman kamu," ujar Melly yang kalimatnya terpotong oleh Ara.

 

"Enggak Mah, bukan gitu orang Teri yang mulai duluan," jelas Ara yang memotong ucapan Mamahnya.

 

"Mamah gak mau dengar penjelasan kamu, sekarang kamu tinggal jawab saja benar atau tidak kalau kamu yang ngelakuin itu sama teman-teman kamu?" pinta Melly dengan sedikit emosi terdengar jelas dari perkataannya.

 

Ara sedikit kecewa begitu mendengar bahwa Mamahnya tidak mau mendengarkan penjelasannya. "Iya benar," sahutnya.

 

"Mamah kecewa sama kamu, kalau misalkan kamu gak setuju dengan hubungan Mamah dan Om Verry kamu tinggal bilang saja, jangan makai bully-bully anak orang kaya gitu, memalukan Ara! Mamah kecewa sama kamu," jelas Melly dan berlalu pergi meninggalkan Ara.

 

Sulit bagi Ara menjelaskan semuanya kepada Mamahnya karena Mamahnya pun tidak mau mendengarkan penjelasan darinya dan menyalahkan dirinya atas semuanya.

 

***

 

Di sekolah Andi kembali berbuat ulah lagi dengan mengerjai Doni dia mengambil kacamata Doni untuk mempermainkan cowok cupu itu.

 

"Kembalikan kacamata gue Andi!" teriak Doni mencoba mengejar Andi.

 

Dengan jailnya Andi malah mempermainkan Doni, "Ambil aja kalau bisa," katanya mengejek.

 

"Andi kembalikan, gue gak bisa lihat!" ujar Doni memohon.

 

"Hahaha sini kalau mau!" Andi malah terus menerus mempermainkannya.

 

"Ya sudah sini!" kata Doni yang mendekat ke arah Andi namun malah didorong oleh cowok itu. 

 

Sehingga Doni jatuh tersungkur di tanah bukannya nolongin Andi malah tertawa puas.

 

"Okey Okey Gue Diam di sini kalau Lo mau ambil silahkan," seru Andi yang mengangkat tangannya ke atas.

 

Doni kembali bangun untuk meraih kacamatanya yang dipegang Andi, tapi cowok itu malah jinjit begitu Doni hendak mencapainya dengan susah payah Doni melompat-lompat.

 

Seketika seseorang loncat untuk mengambil kaca mata tersebut dari tangan Andi membuat cowok itu kaget dan ternyata itu adalah Astrid.

 

Doni tersenyum senang melihat kedatangan Astrid yang membantunya begitu pun dengan Astrid yang berhasil menolong Doni.

 

"Kembalikan!" pekik Andi yang mencengkram lengan Astrid lalu memutarnya.

 

"Au Au Di, Andi lepaskan!" ujar Astrid mengaduh kesakitan.

 

"Mau apa sekarang? Lo mau nolong dia kan, makanya jangan ikut campur urusan orang!" Andi mendorong tubuh Astrid.

 

Untung saja seseorang telah berhasil menangkapnya, Astrid memandang wajah cowok itu yang dia tidak bisa dipungkiri bahwa cowok itu begitu tampan. 

 

Doni kaget melihat kedatangan temannya lagi, "Dirga!" serunya dengan senang.

 

Dirga masih menatap Astrid lalu tersenyum melihat Andi dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ada ya cowok yang berani sama perempuan sampai bersikap kasar sama cewek cantik kaya gini," ujarnya tidak habis pikir.

 

Mendengar ucapan Dirga membuat Andi semakin kesal perlahan Dirga membangunkan Teri untuk kembali berdiri tegak, lalu dia menghampiri Andi.

 

"Lo kenapa sih bro? Suka sama dia bilang jangan kaya gini," kata Dirga kepada Andi yang masih menyikapi cowok itu santai.

"Diam lo! Gak usah ikut campur!" pekik Andi menatap Dirga tajam.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!