3 Duyung Cantik
Andi Terciduk
Akhirnya Mamahnya Arabell mau melepaskan tangannya dari telinga Amy dia pun berlalu pergi meninggalkan Amy bersama Arabell dan sahabat-sahabatnya.
Arabell merangkul bahu Amy dan membawanya ke tempat yang sepi, "Amy kakak tahu kok kenapa kamu kaya gitu tadi, pasti kamu baca buku diary kakak kan?" ujar Arabell memandang adiknya yang diam ketakutan.
Sedangkan Ratu dan Astrid di belakang tersenyum melihatnya.
"Itu cuma bohongan aja, itu tugas sekolah kakak disuruh buat cerita terus kakak pilih dongeng putri duyung," terang Arabell menjelaskan bagaimana pun Amy tidak boleh tahu yang sebenarnya, terpaksa Arabell harus berbohong kepada adiknya ini.
Amy terkejut dibuatnya, "Jadi itu cuma bohongan kak?" pekiknya wajahnya nampak nelangsa.
"Iyah, itu cuma karangan kakak saja hehehe kamu sih kebanyakan baca komik," seru Arabell sembari mengusap-usap punggung Amy.
"Aduh iya nih kak, Amy bodoh banget." Amy menggaruk-garukkan kepalanya dia merasa bersalah kepada kakak-kakaknya sekaligus menahan malu atas ulahnya tadi.
"Ya sudah lain kali kamu jangan kaya gitu lagi ya!" Arabell memberikan peringatan kepada Amy untuk tidak berulah lagi.
"Iya deh." Amy sendiri sudah cukup menahan rasa malu dan bersalah atas ulahnya tadi dia jadi tidak mau untuk melakukan hal yang tidak masuk akal kaya tadi.
"Yuk!" ajak Arabell untuk pulang kemudian dia merangkul adiknya itu.
"Yahh dimarahin ya?" pekik Ratu dengan tertawa saat melihat wajah Amy yang nelangsa.
"Lagian sih," celetuk Astrid sembari terkekeh juga yang langsung dirangkul oleh Arabell untuk segera pulang.
Di pagi harinya Amy berlari-lari untuk sampai ke kelasnya yang berada di lantai tiga karena hari ini dia ada jadwal piket.
Namun dijalan Amy dihadang oleh Andi, "Amy! Diary kakak kamu mana?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
Amy menjadi gugup sejak membaca buku diary itu dia hampir lupa masalah perjanjian antara dirinya dan kak Andi.
"Nge ... aduh, ngee ... maaf nih ka sampai sekarang bukunya belum ketemu," sahut Amy dengan cengengesan.
"Halah bohong pasti sudah ketemu kan?" Andi mulai tidak percaya dengan omongan anak kecil ini.
"Ihh seriusan ka." Amy mencoba menyakinkan Andi untuk percaya dengannya namun nampaknya Andi ingin menggeledah tasnya.
Membuat Amy memegangi tasnya dengan kuat, di tangga ada Arabell dan sahabat-sahabatnya yang sedang naik ke atas dan melihat Andi yang sedang memaksa Amy.
"Aduh kak, gak ada aku seriusan," ujar Amy berusaha meyakinkan Andi yang sedang menggeledah tasnya.
"Udah jangan banyak omong di mana buku diary itu?" pinta Andi sembari mencari satu persatu buku yang Amy bawa di tasnya.
"Ohh jadi Andi yang nyuruh Amy buat ngambil buku diary gue," gumam Arabell setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Jangan-jangan Andi masih curiga sama kita," kata Astrid seketika ingatannya kembalin pada saat kejadian di pantai minggu lalu.
"Ahh udah deh gak usah takut cowok nyebelin kaya dia tuh harusnya kita samperin," ujar Ratu dengan emosi melihat Andi yang selalu mencari gara-gara.
Dengan semangat Ratu menarik tangan Arabell untuk menghampiri Andi yang sedang memaksa Amy.
"Oh jadi Lo yang ngajarin Amy gak bener?" seru Arabell .
Ratu pun menepuk bahu Andi membuat cowok itu menoleh kaget melihat Arabell dan sahabat-sahabatnya begitu dengan Amy.
"Eh Andi sebenarnya mau lo itu apa sih? Kenapa gangguin gue Mulu?" Arabell heran dengan kelakuan Andi yang selalu mencari gara-gara dengannya.
"Hey kalian bertiga terutama lo ya Dah jangan geer deh siapa juga yang mau baca buku diary Lo naksir juga kaga," pekik Andi dengan pelan pada kalimat terakhirnya.
Ucapan Andi yang tidak jelas membuat Ratu menatap cowok itu dengan menaikan sebelah alisnya.
"Lagian siapa juga yang bilang Lo naksir sama gue?" Arabell malah semakin memancing kejujuran Andi.
Astrid tersenyum, "Iyah."
"Tau ah." Andi memilih pergi setelah kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Arabell .
Ketiga sahabat itu terkekeh melihat kepergian Andi, Ratu menoleh pada ke dua sahabatnya dengan tersenyum manis.
Pada saat Arabell melihat Andi melewati anak kecil laki-laki yang sedang makan es krim dia punya ide untuk berbuat jahil kepada Andi akhirnya Arabell menggunakan kekuatannya memArabell kan es krim itu dan mengenai kepala Andi.
"Aduh." Andi menoleh sembari memegangi kepalanya yang sakit terkena timpukan entah dari mana asalnya. "Hahahaha." Arabell, Ratu dan Astrid tertawa dengan pelan melihat kejadian itu.
"Lah es krimnya mana? Kok udah habis perasaan masih banyak deh," kata anak kecil laki-laki itu menatap gelas es krimnya yang kosong.
Kejadian itu membuat Amy melongo dia heran kenapa semuanya bisa begitu lalu pada saat dua menoleh pada kakak-kakaknya yang sedang terkekeh mendadak diam.
"Lah Amy kenapa kok natap kakak gitu?" tanya Arabell wajahnya tampak biasa saja padahal dia ingin tertawa kencang.
"Au Amy nih," timpal Ratu menatap Amy dengan tatapan yang tajam.
Di rumah Melly sedang melihat Arabell yang sedang asik melipat baju dia ingin mengajak anaknya itu mengobrol.
"Sedang ngapain?" ujar Melly menyapa anak gadisnya.
Arabell menoleh ke belakang dan melihat Mamahnya. "Ini Mah sedang melipat baju," jawabnya.
Melly duduk di samping Arabell yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ini bagus ya Mah?" kata Arabell sembari menunjukan baju selutut berwarna merah marun.
"Iya cantik warnanya," sahut Melly dengan tersenyum hangat. "Ya sudah Mamah bantuin ya!"
"Enggak, gak usah Mah, Mamah ada kerjaan lain kan?" Arabell menahan Mamahnya untuk membantunya melipat baju yang mana itu adalah tugasnya di rumah.
"Udah selesai kok," tukas Melly di tangannya sudah memegang baju.
"Ya udah deh." Arabell tersenyum mendengarnya dengan senang hati dia membiarkan Mamahnya membantunya.
Namun bukannya pokus melipat baju Melly malah pokus melihat Arabell ada yang ingin dia bicarakan dengan anaknya namun dia merasa ragu untuk memberitahunya.
Arabell menoleh, "Ada apa sih Mah kok ngelihatin Arabell terus?" Dia tersenyum mengetahui Mamahnya yang malah memandangi dirinya.
Akhirnya Melly memberanikan diri untuk berbicara, "Sebenarnya ada yang ingin Mamah bicarakan sama kamu," ungkapnya dengan gugup.
"Iya udah bicara aja kali Mah," sahut Arabell sambil terkekeh dia menyadari bahwa Mamahnya bersikap beda saat ini.
"Ini pembicaraan yang serius," kata Melly kembali dia menyuruh Arabell untuk berhenti melipat baju dan pokus mendengarkannya.
Seketika Arabell terdiam, bibirnya sedikit terbuka mendengarnya, "Serius?" pekiknya merasa kaget.
Arabell membalikan tubuhnya menghadap Mamahnya, "Mamah baik-baik aja kan? Mamah lagi gak sakit kan?" serunya.
"Oh no Mamah gak sakit sayang." Melly tersenyum sedari tadi dia sudah merasa deg-degan untuk berterus terang kepada Arabell .
"Beneran?" tanya Arabell kembali sembari memandang Mamahnya.
"Iya seriusan Mamah gak sakit kok Mamah baik-baik aja," sahut Melly menyakinkan Arabell bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Tenang saja ya!" Melly menepuk paha Arabell pelan menenangkannya.
"Terus?" Arabell kembali dengan pekerjaannya dia merasa senang kalau Mamahnya baik-baik saja.
Melly berusaha memberanikan diri untuk berterus terang dengan putrinya. "Mamah mencintai seseorang," ungkapnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Arabell langsung menoleh dan tangannya pun berhenti dia masih belum paham apa yang hendak Mamahnya katakan kepadanya. "Maksud Mamah?"
"Iya Mamah mencintai seseorang dan sudah berhubungan dengan orang ini cukup lama dan Mamah memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius," terang Melly.
Arabell terdiam wajahnya nampak nelangsa bukan kebahagian yang dia rasakan melainkan kesedihan saat mendengar kabar itu.
"Mamah sudah cukup lama kan, Arabell sendirian? Mamah mencintai dia Ra," lirih Melly dengan sangat pelan dia berharap Arabell mau menerima keputusannya.
"Hemm sebentar Mah, Arabell ke kamar mandi dulu," kata Arabell dan berlalu pergi meninggalkan Mamahnya.
Di kamar mandi dia langsung mengunci pintunya dan menangis dengan pilu rasanya dia belum siap untuk menerima seseorang sebagai pengganti Papahnya.