BAB 3 Memilih lingkungan sehat yaitu sebuah lingkungan yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Lingkungan seperti itu akan selalu mengingatkan kita apabila kita khilaf atau lupa kepada Sang Pencipta. Survei Sekolah Satu tahun kemudian. Hari Sabtu adalah hari penerimaan rapor. Sebentar lagi, Ahsan memasuki kelas terakhir di tingkat dasar. Hati Ahsan begitu ceria, dia menunggu ayah keluar dari kelas. “Ranking berapa kira-kira, ya?” Ahsan dag-dig-dug menunggu ayah. Serasa lama sekali detik waktunya. Biasanya Ahsan merasa waktu berjalan cepat. “Ayah lama sekali.” Rasa penat dalam hati Ahsan terus muncul. Wali murid mulai kelihatan, pertanda pembagian rapor sudah selesai. “Tapi Ayah mana?” Ahsan masih memperhatikan wajah-wajah wali murid yang keluar dari kelas satu persatu. Akhirnya, ayah kelihatan. “Ayah, lama sekali?” tanya Ahsan penasaran. “Nggak, karena kamu naik ke kelas enam maka ada beberapa nasihat.” jelas ayah. “Gitu, ya, Yah.” balas Ahsan. “Ini rapor kamu.” Ayah menyerahkan rapor kepada Ahsan. “Terimakasih, Ayah.” Ahsan mulai membuka lembaran-lembaran kertas rapornya. Dia mencari halaman rapor kelas lima. “Alhamdulillah, ranking satu lagi,” ucap Ahsan gembira. “Tadi, nasihat dari wali kelasmu kalau yang mau meneruskan ke pesantren diharapkan untuk mensurvei gasik ke pesantren.” Ayah menjelaskan poin-poin yang disampaikan oleh wali kelas. Ahsan menganggukan kepala tanda setuju. Dia masih mengamati nilai-nilai rapornya. “Alhamdulillah, bahasa Arab mendapatkan nilai 100.” “Berarti ada bakat masuk pesantren,” goda ayah. “Siap, Yah,” jawab Ahsan. Ayah memposisikan mobilnya untuk bisa keluar dari area parkir sekolah. Mobil siap meluncur ke jalan raya.  Sampai di rumah, Ahsan mencari ibunya. “Assalamu’alaikum, Ibu.” “Wa’alaikum salam, Nak.” “Ibu di mana?” Ahsan masih terus mencari keberadaan ibu. “Ibu di belakang, sedang bersih-bersih,” seru ibu. Ahsan membuka pintu kaca, lalu melangkah ke belakang mendekati ibu. “Ibu, ini raporku.” Ahsan menyerahkan rapor ke ibu. Ibu menerima rapor Ahsan, lalu menghentikan kegiatan menyapunya. Lembar terakhir langung dibuka. Ibu membaca dan mengamati semua nilai. “Wah, alhamdulillah, Nak. Nilaimu bagus sekali. Bahasa Arab 100,” kagum ibu. Wajah ibu gembira, senyumnya terpancar terus. Bahagia ibu adalah bahagia Ahsan.  Tepat di bulan Oktober, setelah kegiatan PTS gasal selesai keluarga Ahsan siap mau survei ke pesantren-pesantren. Ibu mempersiapkan bekal makanan. Mereka berangkat pada pukul empat dini hari. Dengan sabar, ibu membangunkan Ica yang masih belum bisa bangun sendiri. “Sudah siap semua, Yah,” lapor Ahsan. “Oke, kita berangkat sekarang dengan membaca doa.” Ayah memimpin doa bersama. Mobil mulai berjalan dengan ramah. Pesantren yang akan didatangi ada tiga pesantren. Pesantren Andalus di Bogor, pesantren Kafila International Islamis School di Keramat Jati Jakarta, dan pesantren Darul Quran mulia di Serpong Tangerang Selatan. Perjalanan pertama ke Pesantren Kafila International Islamic School, Keramat Jati Jakarta. Jarak dari Bekasi ke Keramat Jati adalah paling dekat, dibanding yang lain. Waktu tempuh ke pesantren Kafila kurang lebih setengah jam. Sampai ke pesantren Kafila sekitar Subuh. Ayah memakirkan mobil di lapangan pesantren. Mereka melangkah menuju masjid. Jama’ah di masjid sedang melaksanakan salat Subuh. “Ayah, sudah dimulai salatnya,” jelas Ahsan. “Yuk, kita ambil air wudhu,” perintah ayah. Ayah mulai mengambil air wudhu, diikuti oleh Ahsan, ibu, dan Ica. Mereka mengikuti gerakan imam sebagai ma’mum masbuq . Sehabis salat, ayah mengajak ibu, Ahsan, dan Ica untuk makan pagi. Ibu mengambil nasi yang sudah dibungkus menggunakan tempat makan kecil. Selesai makan mereke duduk santai sebentar di mobil. “Kak, Ica mau seperti Kak Ahsan. Sekolah di pesantren,” gurau Ica sambil ketawa kecil. Ayah, ibu, dan Ahsan tersenyum semua mendengar pernyataan Ica. “Ayah doakan, ya.” Di lapangan parkiran, ternyata ada beberapa mobil yang berparkir. Mereka juga yang sedang survei pesantren. Ayah sekeluarga keluar dari mobil. Mereka langsung ke lokasi pesantren, untuk menanyakan tentang hal-hal di pesantren Kafila kepada ustadz petugas informasi. “Untuk tes hafalan, harus berapa juz, Tadz?” tanya ayah dengan semangat. “Tes hafalan target juz 30, juz 29, dan juz 28. Informasi lain, silakan ada selebaran ini,” jelas ustadz. Ayah mengambil selebaran yang ada di meja. Dengan cermat, ayah membaca semuanya. “Lumayan dekat, Yah,” terang Ahsan. Ayah hanya menganggukan kepala, sembari masih fokus membaca selebaran informasi pesantren. Melihat ayah masih tidak memberi jawaban, ibu segera menanggapi Ahsan. “Ya, Nak. Jarak dari rumah kita dekat ke pesantren Kafila.” Suasana pesantren serasa tenang, walaupun posisinya di tengah kota. “Ustadz, untuk pembelajaran agama dan umum adakah perbedaan?” tanya ayah kelihatan penasaran ingin mengetahui lebih banyak tentang pesantren ini. “Pembelajaran di sekolah seperti di MTs, ada materi umum dan agama. Hafalan Al-Qur’an diuji juga pada pembelajaran pagi di sekolah. Nanti pada saat ujian hafalan, akan diberi penawaran kepada santri mau jam di malam hari,” papar Ustadz. “Menarik sekali, Tadz. Untuk pendaftaran caranya bagaimana?” Ayah bertanya lagi. “Tanggal pendaftaran sudah tertulis di situ, Pak,” lanjut ustadz. “Oh iya, Tadz. Semoga bisa mendaftar di pesantren sini. Terimakasih, mau melanjut perjalanan survei pesantren lagi, Tadz,” pamit ayah. “Oke, Pak. Silakan.” Ustadz menyilakan ayah Ahsan sekeluarga. Ayah Ahsan sekeluarga meninggalkan ruang informasi pesantren dengan hati mantap. “Oke, sudah siap semua melanjutkan perjalanan?” ayah mengecek kesiapan semuanya. “Sudah siap semua, Yah,” jawab Ahsan. Ayah mulai menjalankan mobilnya menuju Tangerang. Lumayan tambah jaraknya, tambah pula waktu tempuhnya. “Kalau ayah mengantuk, mobil berhenti dulu saja, ya.” usul Ahsan. “Ya, Nak. Gak perlu khawatir.” jawab ayah dengan halus. Baru beberapa kilometer perjalanan, ternyata Ica sudah tertidur bersandar ke ibu. “Ica sudah mulai bobo. Kayaknya Ica benar-benar menikmati perjalanan survei pesantren, deh.” canda ibu membuat suasana di mobil tertawa semua. Mobil berhenti di rambu-rambu lalu lintas, karena menyala merah. “Ayah tadi tertarik dengan Pesantren Kafila. Semoga kamu bisa mendaftar ke sana.” Harapan ayah ke Ahsan. “Iya, Yah. Tapi Ahsan harus memperbanyak hafalan ayat Qur’an lagi.” Semangat Ahsan berkibar terus untuk hafalan. Hafalan Al-Qur’an, bagi ayah Ahsan hal yang sangat penting untuk anak-anaknya. Maka, dengan berbagai pertimbangan sebagai dasar dalam memasukkan anak ke pesantren. Sampai sekarang, hafalan Al-Quran Ahsan sudah juz 28. Semoga masih terus bisa bertambah lagi.  Perjalanan menuju Pesantren Darul Qur’an Mulia dari Serpong ke Tangerang hampir tidak butuh waktu lama. Ica mulai bergerak, menandakan mau bangun. Ahsan masih tertidur dengan pulas, sembari ditemani murottal dari radio di mobil. Waktu tempuh dari Pesantren Kafila ke Pesantren Darul Qur’an Mulia, sekitar lima puluh menit. Lumayan, tidak begitu jauh sekali. Mobil memasuki area Pesantren Darul Qur’an Mulia. “Kak, bangun! Sudah sampai.” Ibu membangunkan Ahsan. Ahsan menggeliatkan badan, meluruskan kedua kaki yang capek karena posisi duduk. “Iya, Ibu. Ahsan sudah bangun,” jawabWisnu. Ica mulai membuka mata. “Dah bangun, Ica?” sapa ibu. “Udah, Ibu.” jawab Ica dengan mata masih belum membuka maksimal. “Kita sudah nyampai di pesantren lagi,” jelas ibu. Kedua mata Ica menoleh ke arah luar, kelihatan papan nama pesantrennya bertuliskan Pesantren Darul Qur’an Mulia. “Ini pesanternnya, Kak?” tanya Ica ingin tahu. “Iya, Ica. Papan nama tadi tertulis nama pesantrennya.” Ahsan menunjuk papan nama pesantren. “Bangunannya tinggi dan besar, seperti pesantren tadi, ya, Kak?” sambung Ica. “Tinggi karena harus bisa menampung banyak santri, beribu-ribu.” Tegas Ahsan. Ica memandangi terus panorama pesantren, dari semua sisi. Satu sisi selesai dipandang, pindah ke sisi berikut. Ica masih belum keluar dari mobil. “Ica, ayo turun,” seru Ahsan dari luar mobil. Ica tanpa bersuara, keluar dari mobil. Ayah menuju ruang informasi, yang dekat dari area parkir. Ibu, Ahsan, dan Ica mengikuti langkah ayah. “Assalamu’alaikum, Tadz.” “Wa’alaikum salam, Pak. silakan masuk.” Ustadz yang piket menyilakan ayah Ahsan sekeluarga. Ayah mulai menanyakan tentang pesantren. Banyak pertanyaan yang terlontar, kelihatan ustadznya agak letih menjawab. Ibu, Ahsan dan Ica menunggu dengan posisi duduk di dekat ayah. Bertiga hanya ikut mendengarkan percakapan antara ayah dan ustadz. Lima belas menit sesudahnya, ayah mohon ijin untuk melanjutkan perjalanan. “Oke, Tadz. Makasih semuanya. Kami mohon ijin untuk melanjutkan perjalanan ke Bogor.” Ucapan terimakasih ayah. “Baik, Pak. Hati-hati perjalanan ke Bogor masih lumayan jauh.” Ayah keluar dari ruang informasi. Ibu, Ahsan dan Ica mengikuti ayah. Di dalam mobil ayah mengecek kesiapan keluarga. “Sudah siap semua?” ayah mengecek lagi semua anggota keluarga. “Lengkap, Ayah,” jawab Ahsan. “Bogor, pesantren yang paling jauh. Kalau ada sesuatu, bilang saja ke Ibu, ya.” Saran ayah. Mobil mulai bergerak di jalan raya. Ayah mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Murottal sudah mulai ayah perdengarkan. Baru beberapa kilometer, Ica mulai mengantuk. Ibu mengambil bantal untuk sandaran Ica. “Bentar, Ica,” kata ibu. Ahsan duduk di samping ayah. Dia masih menikmati jalanan yang ramai. “Yah, kisaran berapa jam perjalanan sampai ke pesantren di Bogor?” tanya Ahsan penasaran. “Kurang lebih tujuh jam.” “Wauw...Jauhnya.” Tampang Ahsan kaget mendengar jawaban dari ayah. “Ingat hadis Rasulullah SAW, “Carilah ilmu meskipun di negeri China”. Jarak bukanlah halangan, karena mencari ilmu hukumnya adalah wajib.” Tegas ayah. “Iya, Ayah. Ahsan sudah pernah dikasih pelajaran hadis itu di sekolah.” “Bagus.” Perjalanan menuju Bogor sangatlah mengasyikkan, bagi Ahsan. Ahsan selalu menanyakan hal-hal yang belum pernah dilihat. Ayah dengan senang hati selalu menjawab pertanyaan Ahsan. “Kamu pingin tahu terus, ya?” tanya ayah sambil tersenyum. “Iya, Yah. Banyak hal yang baru kulihat,” terang Ahsan. Ahsan menengok ke belakang, terlihat ibu dan Ica tertidur semua. Ahsan tidak mau tidur. Ayah menjadi terhibur, karena Ahsan memberi komentar semua hal yang baru. Tak terasa sudah memasuki kota Bogor. “Alhamdulillah, dah masuk Bogor. Kita langsung menuju pesantren.” Wajah ayah kelihatan senang. “Oke, Yah.” Ayah dan Ahsan gembira sekali, karena mereka sudah dekat dengan tujuan. Waktu tempuh dari kota Bogor ke pesantren Daarul Ulum Lido, Sukabumi sekitar tujuh jam. Sampailah mobil di tempat tujuan. Ahsan buru-buru membangunkan Ibu dan Ica. “Ibu, Ica. Kita dah sampai pesantren.” Mereka langsung menuju masjid yang ada di lingkungan pesantren. “Kakak, gak tidur?” tanya Ica. “Gak, Ica. Kakak, nemanin ayah menyupir,” tutur Ahsan. Mereka menjamak dua salat, Zuhur dan Asar. Suasana tempatnya lumayan sejuk udaranya, tidak sepanas Bekasi. Sehabis salat, ayah dan ibu menuju ke bagian informasi. Ahsan dan Ica berada di dalam mobil dengan posisi Ahsan tiduran. Ica menemani kakaknya. Ayah dan ibu lumayan lama di ruang informasi, mereka bertanya agak lama. Ahsan dan Ica masih asyik dengan aktivitas masing-masing. “Buku yang Kakak beli dengan ayah bagus, tentang hewan semut,” celutuk Ica. “Iya. Kakak mengantuk dulu, ya.” Ucap Ahsan sembari menahan kantuk. Ica meneruskan membaca buku cerita anak sampi tuntas. “Ayah lama sekali!” Ica mulai gelisah. Sambil melihat ke ruang informasi. “Itu Ayah!” seru Ica. Ahsan terbangun dari posisi tidur mendengar ucapan Ica. Ica membuka pintu mobil bagian tengah. “Maaf, ya, tadi agak lama perbincangan Ayah dengan Ustadz. Kesimpulannya ayah tertarik juga keadaan pesantren ini,” jelas ibu. “Kak Ahsan malah tidur, Bu. Ica asyik dengan bukunya,” kata Ahsan. “Wah.., asyik sendiri-sendiri ternyata,” canda ayah. “Kita langsung pulang?” tanya Ahsan. “Iyalah. Kalau mau main, besok aja hari minggu.” Perintah ayah. Ayah memutar arah mobil dengan hati-hati. “Kalau pulang, biasanya lebih cepat,” gurau ayah sambil tersenyum. “Moga-moga, Yah,” balas Ahsan.