Youtuber Kocak Mengungkap Kuntilanak
Persiapan Misi dan Rencana Gila 2
"Oke, tim! Misi kita kali ini adalah menyelidiki lebih dalam tentang kuntilanak pohon mangga dan membuktikan bahwa hantu itu ada!" seru Ardi dengan semangat membara. Ia berdiri di tengah ruang tamu rumahnya, dikelilingi oleh dua orang sahabatnya yang setia: Lila, si skeptis, dan Budi, sang cameraman penakut.
Lila menyilangkan tangannya di dada. "Ardi, kau yakin ini ide yang bagus? Aku masih ingat kejadian semalam, kau sampai pingsan!" tanyanya sambil menggelengkan kepala.
"Tenang saja, kali ini aku sudah siap dengan segala kemungkinan," jawab Ardi percaya diri. Ia menunjuk tumpukan peralatan yang tertata rapi di atas meja. "Kita punya kamera canggih, lampu senter super terang, dan yang paling penting, persediaan snack sebulan!"
Budi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Snack? Kau pikir kita sedang piknik, Ardi?" tanyanya sambil mengambil sebungkus keripik. "Tapi, kalau ada kuntilanak, boleh juga dia diajak makan bareng."
Ardi tertawa. "Itu dia semangatnya! Siapa tahu kuntilanak suka keripik rasa barbeque."
Setelah persiapan selesai, mereka bertiga berangkat menuju desa Karanganyar. Di perjalanan, Ardi terus bercerita tentang berbagai mitos dan legenda tentang kuntilanak. Lila berusaha untuk tetap tenang, namun sesekali ia juga ikut penasaran. Sementara itu, Budi sibuk merekam setiap kata-kata Ardi untuk dijadikan konten YouTube.
"Kalau nanti ketemu kuntilanak, aku mau minta tanda tangannya," ujar Budi sambil tertawa.
"Tanda tangan hantu? Bagaimana caranya?" tanya Lila penasaran.
"Ya, pakai pensil hantu lah!" jawab Ardi sambil nyengir.
Sesampainya di desa, mereka langsung menuju rumah Pak RT untuk meminta izin. Pak RT menyambut mereka dengan ramah, namun ia juga mengingatkan mereka untuk berhati-hati. "Pohon mangga itu memang terkenal angker," ujarnya. "Kalian harus membawa jimat atau sesuatu untuk melindungi diri."
"Tenang saja, Pak. Saya sudah siap dengan jimat peninggalan nenek saya," jawab Ardi sambil menunjukkan kalung batu akiknya.
Setelah mendapat izin, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju pohon mangga. Sesampainya di lokasi, suasana terasa jauh lebih mencekam dibandingkan malam sebelumnya. Angin berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon mangga. Bayangan-bayangan aneh terlihat berkeliaran di antara pepohonan.
"Aku tidak suka tempat ini," gumam Lila sambil merapatkan jaketnya.
"Sabar, Lil. Kita kan punya snack," ujar Ardi sambil mengeluarkan sebungkus cokelat. "Kalau ketemu kuntilanak, kita tawari cokelat dulu."
Budi langsung mengambil beberapa cokelat dan membagikannya kepada Ardi dan Lila. "Ide bagus! Siapa tahu dia mau jadi endorser kita."
Mereka bertiga duduk di bawah pohon mangga, sambil menikmati cokelat dan menunggu sesuatu terjadi. Sesekali, mereka saling bercerita tentang pengalaman horor yang pernah mereka alami.
"Dulu waktu kecil, aku pernah melihat pocong di belakang rumah," cerita Budi dengan nada bercanda.
"Ah, masa sih?" tanya Lila tidak percaya.
"Iya, beneran! Tapi pas aku deketin, ternyata itu cuma kain sarung yang dijemur."
Ardi dan Lila tertawa mendengar cerita Budi. Suasana tegang sedikit tercairkan.
Namun, tawa mereka terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Mereka bertiga saling pandang dengan wajah pucat.
"Ada orang," bisik Lila.
"Atau... ada sesuatu?" jawab Ardi dengan suara bergetar.
Mereka perlahan-lahan menoleh ke belakang. Di balik rimbunnya pepohonan, terlihat sosok perempuan dengan rambut panjang terurai. Sosok itu semakin mendekat, dan wajahnya yang pucat terlihat jelas di bawah sinar bulan.
"Halo," sapa sosok itu dengan suara lembut namun menyeramkan.
Ardi dan teman-temannya terdiam. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun.
Apa yang akan mereka lakukan sekarang, sedangkan hantu kuntilanak berbaju putih kotor itu melihat mereka semua dengan matanya yang merah.
Ah! itu hantunya?