Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Imbalan
Udara dapur masih hangat. Bukan cuma oleh kompor, tapi oleh rasa lega yang belum sepenuhnya hilang. Dus-dus kue berjajar di lantai ruang tengah. Slamet jongkok, memastikan sudut-sudutnya tidak penyok. Ujang ikut membantu, tangannya sigap, wajahnya cerah sejak kue terakhir keluar dari oven.
“Yang ini di bawah aja, Pak,” kata Ujang. “Biar gak ketindih.”
Slamet mengangguk. Ia tidak banyak bicara. Badannya pegal, matanya berat, tapi dadanya terasa ringan.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar. “Pak!”
Slamet berdiri, melangkah ke teras. “Iya, Bu?”
Si ibu berdiri di depan rumahnya, tangan bertolak pinggang. “Kuenya mana? Kok gak antar jualannya hari ini?"
Slamet terdiam sebentar. Ia menoleh ke dalam rumah, ke arah istrinya. Istrinya langsung paham. Ia tergopoh ke depan.
“Maaf ya, Bu,” kata istrinya. “Hari ini gak sempat bikin. Ada pesanan. Paling cuma ada lebihan sedikit. Mau?”
Wanita itu menghela napas. “Mau aja. Warung saya kosong. Dari pagi orang nanyain kue ibu.”
Slamet langsung masuk. Ia menghitung kue di satu nampan, memisahkan mana yang untuk pesanan dan mana yang bisa dilepas. Tidak banyak. Hanya satu macam. Ia menyerahkannya ke wanita itu.
Dia menerima, wajahnya sedikit melunak, tapi tetap ada nada kesal.
“Besok kalau mau gak jualan bilang ya, Pak. Biar saya bisa siapin kue lain. Kalau begini, saya rugi waktu. Gak ada uang masuk.”
“Iya, Bu,” jawab Slamet pendek.
“Kue situ enak,” lanjutnya, nadanya masih setengah mengomel. “Kalau bisa selain bikin buat pesanan, bikin juga buat langgan. Saya juga perlu.”
“Iya, Bu. Maaf,” kata Slamet lagi.
Wanita itu juga menyetorkan uang penjualan kue kemarin ke Slamet. Setelah itu, pergi membawa kue mereka.
Slamet berdiri sebentar di teras, menatap teras yang kembali sepi. Ada rasa tidak enak di dadanya sebab teguran tadi. Tapi juga ada catatan hal baru di kepalanya, untuk dipikirkan dan dicari solusinya nanti.
Ia masuk kembali. Ujang sudah siap dengan tumpukan dus kue di dalam kresek besar. Dia lalu keluar, menyiapkan motornya.
“Siap ya, Jang,” kata Slamet.
“Siap, Pak.”
Mereka mengangkat keresek dus satu per satu. Slamet membantu menata di jok belakang, memastikan ikatannya kuat. Tidak ada yang terguncang. Tidak ada yang miring.
“Pelan aja bawanya,” pesan Slamet.
“Iya, Pak. Tenang.”
Ujang pergi. Motor menjauh. Slamet berdiri di depan rumah sampai suara mesin itu hilang.
Ujang menyelesaikan antarannya tanpa kendala. Kantor itu menerima dengan baik. Tidak banyak komentar, hanya anggukan puas. Sisa uang diterima. Ujang menghitung cepat. Ada bagian untuk Slamet. Ada juga bagian kecil untuk dirinya.
Ia tersenyum sendiri di atas motor. Dan gegas kembali ke rumah Slamet siang itu juga. Tidak ingin menunda.
“Pak,” katanya sambil menyerahkan uang. “Ini sisanya.”
Slamet menerima. Kali ini ia langsung melihat jumlahnya. Tidak besar, tapi cukup. Cukup untuk menutup utang kecil.
“Makasih, Jang,” katanya tulus.
Ujang menggaruk kepala. “Saya juga senang, Pak. Mudah-mudahan bisa jadi langganan.”
Slamet mengangguk. Harapan itu tidak diucapkan keras-keras, tapi sama-sama mereka pegang.
Setelah Ujang pergi, Slamet duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Matanya terpejam sebentar.
Di dapur, istrinya masih membereskan sisa adonan, mencuci alat, menyapu lantai. Wajahnya lelah, tapi senyumnya tidak hilang.
“Capek ya,” kata Slamet.
Istrinya mengangguk. “Capek. Tapi seneng.”
Mereka saling diam. Tidak ada pelukan. Hanya rasa syukur kecil yang akhirnya sampai.
Slamet mandi lalu tidur siang. Dia belum istirahat sejak jaga malam. Paling tidak, hari ini, tantangan terlewati. Pesanan selesai, tinggal menunggu Mya pulang.
Masih ada sisa kue di atas meja dapur. Untuk mereka makan. Kue yang gagal estetik. Bukan kue sisa atau hancur, hanya bentuknya tak sempurna saja.
Slamet berpikir sebelum matanya terpejam. Besok jika ada orderan lagi, dia harus nawarin ke warung juga, apakah besok mau kue yang seperti pesanan biar sekalian bikinnya.
"Kudu nyisihkan dari uang tip warga, buat modal dadakan," ujarnya lirih, seiring mata terpejam.
***
Ujang kembali ke warung Hartati sore itu. Matahari sudah condong, panasnya tidak setajam siang. Ia memarkir motor, lalu duduk di bangku panjang dekat etalase. Kali ini, ia tidak terburu-buru. Seolah memberi hadiah kecil pada dirinya sendiri—duduk, diam, dan bernapas sebentar.
“Gorengan, Bu,” katanya. “Makan di sini.”
Hartati tersenyum. “Tumben jajan, Jang.”
Ujang ikut tersenyum. “Hehe… ada sedikit rezeki.”
Ia mengambil satu gorengan, meniup pelan sebelum menggigit. Hangat. Renyah. Rasanya sederhana, tapi cukup untuk membuat bahunya turun dari tegang seharian.
“Yang buat ibuku dadakan goreng saja. Dan dibungkus ya, Bu,” tambahnya. “Biar masih anget.”
“Iya,” kata Hartati sambil membuat adonan bakwan baru untuk Ujang. “Dapat proyek apa?”
“Kecil sih, Bu,” jawab Ujang jujur. “Kue. Tapi semoga manjang. Biar banyak orang seneng.”
Hartati mengangguk pelan. “Kalau ada pesanan banyak, warung kecil begini ikut hidup.”
Ujang tahu maksudnya. Ia teringat Slamet yang beli bahan ke warung tetangga. Tukang bensin eceran di ujung gang. Orang-orang kecil yang ikut kecipratan rezeki dari satu pesanan.
Pintu warung terbuka. Seorang pria masuk. Wajahnya kusut. Langkahnya berat, seperti membawa isi kepala yang penuh.
Ujang melirik sekilas. Wajah itu membuatnya teringat dirinya sendiri, beberapa waktu lalu—sama-sama lelah oleh pikiran yang tak kelihatan.
Gorengan matang. Hartati menyerahkan bungkusan. Ujang berdiri. Membayar dengan senyum mengembang.
“Saya duluan ya, Bu.”
“Hati-hati.”
Ujang melangkah pergi. Saat motornya menyala, ia mendengar Hartati memanggil pria itu.
“Mas?”
Sepi. Pria itu masih konsen dengan ponselnya. Wajahnya terlalu serius.
"Mas?" sebut Hartati sekali lagi.
Pria itu menoleh. “Reza, Bu,” katanya, menunjuk wajah sendiri. “Kopi kayak biasanya.”
Hartati menyeduh kopi. Lalu mengantar ke meja dimana Reza duduk. Dia menyandarkan punggung. Tangannya memeluk gelas, tapi tidak langsung diminum.
“Bu,” katanya tiba-tiba. “Emang kalau mau nikah itu harus ditentuin ya pihak lelaki bawa apa aja?”
Hartati meliriknya. “Tergantung adat. Atau kesepakatan. Orang sekarang mah fleksibel. Kenapa?”
Reza menggeleng pelan. Senyumnya tipis. “Kok aku gini ya, Bu.”
“Gini gimana?”
“Disuruh ini itu,” katanya lirih. “Berat bebannya, euy.”
Ia menyandar lebih pasrah lagi. Lesu. Wajahnya tampak lelah, putus asa yang sedikit nampak.
“Sabar,” kata Hartati. “Ujian mau nikah.”
Reza tertawa pendek, hambar. “Padahal aku udah bilang, mampunya segini. Apa batal aja ya?”
“Hush,” potong Hartati cepat. “Jangan ngomong gitu. Rezeki orang beda-beda. Tuhan juga tahu batas pundak hamba-Nya.”
Reza diam. Kopinya akhirnya diminum, sedikit demi sedikit.
Jam dinding berdetak lebih cepat dari waktu sebenarnya. Seperti mengingatkan: ada yang sedang dikejar, ada yang sedang ditimbang, dan ada yang sedang belajar bertahan—dengan caranya masing-masing.
Warung Hartati kembali sunyi. Tapi di dalamnya, cerita-cerita kecil terus bertumbuh, pelan-pelan.
"Ya Tuhan," ucap Reza, menempelkan kepalanya di meja. Kedua tangannya menutup telinga. Seolah meredam berisiknya isi kepala.
.
.