Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Cerminan Jodoh
Pagi itu warung Hartati baru setengah buka. Matahari belum tinggi, jalanan masih lengang. Bau kopi hitam mulai naik dari cangkir-cangkir pertama.
Pak Slamet menyapa Hartati saat masuk warung, langsung duduk di bangku dekat tiang, seragam jaga malamnya belum diganti. Topi satpam ia taruh di meja. Matanya sedikit merah, tapi wajahnya tenang. Meski kelihatannya lelah tapi dia jarang mengeluh.
Hartati menyodorkan kopi tanpa diminta.
“Pulang jaga langsung ke sini? Tumben,” ucapnya. "Udah lama jarang ngopi pagi lagi."
Pak Slamet tersenyum tipis. “Iya. Di rumah gakkan sempat ngopi, kompor dipakai istri semua ... lagi sibuk ngukus kue. Ramai pesanan.”
Hartati mengangguk senang. “Alhamdulillah. Kuenya sekarang dijajakan ke mana-mana, Pak.”
“Iya,” jawab Slamet pelan. “Biaya kelulusan Mya hampir nutup semua. Sedikit lagi.”
"Nggak capek, Pak? Pulang dinas malam, lanjut bantuin di rumah?"
Ia menunduk sebentar, menatap permukaan kopi yang masih berasap. “Justru masih bisa bantu istri. Itu yang penting.”
Tak lama, Ujang datang. Jaket ojolnya sudah dipakai, helm digantung di setang.
“Pagi, Pak Slamet.”
“Pagi, Jang.”
Pak Slamet menggeser bangku. “Duduk dulu. Ngopi sebentar.”
Ujang duduk, memesan kopi ke Hartati. Ia melirik seragam Pak Slamet.
“Pulang jaga ya, Pak?”
“Iya."
"Tapi masih kuat?” tanya Ujang ringan. "Lah, saya aja kadang bengek kena angin malam, padahal narik malam lebih gede peluangnya. Badan gak bisa diajak kompromi, kapan kaya nya," kekeh Ujang.
Mereka diam sejenak, saat Hartati menyodorkan kopinya. Menikmati udara pagi yang merambat naik.
Kopi mereka sama di seruput. Pak Slamet lantas bicara, suaranya datar, “Jang,” katanya, “kadang orang suka salah ngukur sukses.”
Ujang menoleh. “Maksudnya, Pak?”
Pak Slamet menghela napas. “Kalau kerjaanmu masih bisa bikin kamu pulang ke rumah. Masih bisa duduk sama ibu dan istrimu kelak. Masih bisa ibadah tanpa dikejar-kejar. Masih ada waktu ngopi begini.”
Ia tersenyum kecil. “Itu sudah sukses.”
Ujang tersenyum tipis, mengangguk pelan.
“Banyak orang kelihatan kerjaannya enak,” lanjut Pak Slamet, “tapi di rumahnya hampa. Istrinya melakukan apa-apa sendiri. Anak-anak tumbuh tanpa bapaknya. Capeknya bukan capek badan, tapi batin.”
Ujang menunduk. “Saya baru ngerasa, Pak. Sekarang bawa penumpang langganan, rasanya lebih tenang, disiplin antar jemput dan makin hati-hati.”
Pak Slamet menatapnya, hangat. “Berarti kamu sudah ada di jalur tepat, menikmati kerjaanmu.”
Ujang tersenyum malu. “Masih belajar.”
“Semua juga begitu,” sahut Pak Slamet. “Saya juga.” Ia mengaduk kopi pelan. “Yang penting, jangan sampai kerjaan kita bikin lupa siapa yang nungguin di rumah.”
Hartati dari balik meja ikut menimpali, “Kalau pulang, masih pengin cerita ke istri, berarti nyawa rumahnya masih hidup.”
Pak Slamet tertawa kecil. “Nah, itu.”
Ujang mengangguk mantap, tak lama, dia berdiri. “Saya jalan dulu, Pak.”
“Iya. Hati-hati.”
Ujang pamit. Suara motor menjauh pelan. Pak Slamet masih duduk. Ia menyesap kopinya sampai habis.
Dalam hati ia bersyukur. Hidupnya tidak mewah. Tapi ia masih bisa pulang, bisa melihat istrinya tersenyum di dapur. Masih bisa membantu, walau sedikit.
Ia berdiri, merapikan topinya.
Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke warung Hartati yang sederhana itu. Tempat orang singgah sebentar melepas penat. Tempat banyak hati pelan-pelan belajar jujur dan berani memulai hidup lebih baik lagi.
Hartati berdiri sendirian di warung yang mulai sepi. Pagi sudah beranjak, orang-orang datang dan pergi seperti biasa. Ia mengelap meja sambil pikirannya melayang ke masa lalu.
Kadang ia baru paham sekarang, kenapa dulu Allah memasangkannya dengan almarhum suaminya.
Bukan karena suaminya paling pandai bicara, apalagi karena hidup mereka selalu lapang. Tapi karena Allah tahu, Hartati butuh seseorang yang diam-diam menguatkan. Yang tidak banyak menuntut, tapi setia mendampingi. Yang tahu kapan harus memeluk, kapan cukup duduk di samping tanpa bertanya apa-apa.
Dalam rapuhnya, Hartati belajar bertahan. Dalam sendirinya, ia belajar berserah. Dan dalam bahagianya, ia belajar tidak berlebihan, karena semua bisa berubah kapan saja.
Ia percaya, Allah selalu tahu kebutuhan dasar hamba-Nya. Saat hati sedang remuk. Saat hidup terasa sendiri. Bahkan saat tawa paling lepas. Itu semua ... tidak pernah tertukar.
Doa seorang istri, batinnya, memang tidak selalu keras suaranya. Kadang hanya berupa sabar yang dipanjangkan, berwujud diam yang ditahan atau menjelma jadi air mata yang jatuh di sajadah tanpa keluhan.
Tapi Allah mendengarnya.
Hartati tahu, kekuatan perempuan bukan pada seberapa keras ia bicara dan berusaha, tapi seberapa dalam ia berserah. Dan suaminya dulu adalah jalan Allah untuk mengajarkannya itu.
Ia menutup warung sebentar, tetiba rindu ingin ke makam suaminya. Hartati menatap langit yang cerah. “Terima kasih,” bisiknya pelan.
Untuk masa lalu yang menguatkan. Untuk hari ini yang masih diberi kecukupan. Dan untuk besok, apa pun bentuknya, akan ia terima dengan hati yang lebih lapang.
Hartati tersenyum kecil. Hidup memang tidak selalu mudah. Tapi bakal selalu terasa cukup, jika dijalani bersama Allah.
.
.
TAMAT.