Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Tanda Suksesnya Rezeki
Warung Hartati sore itu tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi.
Kipas angin kecil berputar pelan di sudut warung, membaurkan bau kopi, gorengan, dan debu jalanan yang ikut masuk setiap kali motor lewat.
Sophia duduk di bangku kayu dekat etalase. Segelas teh manis sudah setengah habis. Ia tidak terburu-buru atau menunggu siapa-siapa. Hanya duduk, menikmati waktu yang jarang ia rasakan beberapa bulan terakhir.
Hartati mondar-mandir di balik meja. “Tambah teh, Mbak?”
“Boleh, Bu. Sedikit aja.”
Belum sempat Hartati menuang, Ujang berhenti di depan warung. Helmnya ia taruh di setang, jaketnya belum dilepas.
“Mbak Sophia,” sapa Ujang ramah. "Ada di sini toh."
Sophia menoleh, "He em, ngetem bentar, Jang," ujarnya, “Narikan dulu atau ngopi?”
“Ngopi bentar,” jawabnya sambil duduk. “Biar nggak gemeteran.”
Hartati terkekeh. “Kopi lagi, kopi lagi. Kamu itu isinya kopi semua."
Ujang nyengir. “Daripada rokok, Bu.”
Tak lama, Reza dan Hima datang hampir bersamaan. Reza langsung pesan kopi hitam, sementara Hima teh tawar hangat.
“Masih kuat nggak ngerokok?” tanya Reza ke Hima sambil duduk.
Hima menggeleng pelan. “Masih. Tapi godaannya ada aja.”
“Yang penting niat,” sahut Hartati dari balik meja. "Jangan karena gak enak, eh, ngerokok lagi."
Mereka berdua terkekeh, itu godaan berat, alasannya karena solidaritas pria.
Pak Slamet sudah lebih dulu duduk di pojok. Tangannya memegang cangkir kopi, matanya memperhatikan jalan. Ia ikut tersenyum kecil mendengar obrolan mereka, tapi belum menyela.
Slamet sengaja duduk di sana, dia ngantuk berat dan numpang tidur sejenak barusan.
Ujang meniup kopinya. “Sekarang narik beda rasanya.”
“Kenapa?” tanya Sophia.
“Bawa anak sekolah itu beda,” jawabnya jujur. “Bukan cuma antar-jemput. Rasanya kayak dititipin amanah.”
Pak Slamet akhirnya bersuara, pelan tapi jelas. “Kalau hidup sudah mikirin orang lain, biasanya langkah jadi lebih hati-hati.”
Semua mengangguk. Tidak ada yang merasa dinasehati.
Reza menyesap kopinya. “Kadang kita kelelahan bukan karena kerjaannya, tapi karena nggak pernah berhenti mikir.”
Sophia tersenyum kecil. Ia paham betul kalimat itu.
Tak lama kemudian, Fauzan muncul. Ia memarkir motor, masuk ke warung, lalu duduk di sebelah Sophia tanpa banyak bicara.
Sophia melirik sekilas. Ada yang berbeda dari cara Fauzan menatapnya, Sophia tersipu.
Pak Slamet menoleh. “Mas Fauzan.”
“Iya, Pak.”
Pak Slamet mengangguk. “Duduk tenang, di sebelah istri itu kadang lebih penting daripada bicara, ya?”
Fauzan tersenyum tipis. “Iya, Pak.”
Hartati menyodorkan kopi ke Fauzan. “Minum dulu. Biar tambah hangat meski di sebelah yayang,” katanya melirik Sophia, melempar senyum.
Semua tertawa kecil.
Obrolan berjalan ringan. Tentang cuaca, jalan rusak, harga cabai. Soal hal-hal biasa yang justru membuat suasana terasa hidup.
Tak lama, satu per satu, mereka pamit. Reza duluan, lalu Hima.
Ujang pamit sambil mengangkat helm. Pak Slamet berdiri paling akhir.
Sebelum pergi, Pak Slamet menoleh ke arah mereka berdua.
“Rumah itu bukan soal siapa yang paling capek ngerjain ini itu atau bayar lain-lain,” katanya pelan. “Tapi siapa yang mau duduk bareng, sebentar dan mendengar.”
Lalu ia melangkah pergi, menepuk pundak Fauzan yang mengangguk.
Warung mendadak terasa lebih lengang. Fauzan dan Sophia masih duduk berdampingan. Meski tak saling menatap, tapi hati keduanya sama-sama menemukan kenyamanan kembali.
“Anak-anak kayaknya dah jam pulang,” ujar Fauzan.
“Iya.”
Mereka berdiri. Sophia membayar. Hartati tersenyum lebar.
“Hari ini dan semoga seterusnya adem ya,” kata Hartati.
Sophia mengangguk. “Iya, Aamin, Bu.”
Di luar, matahari mulai condong meski panasnya tidak menyengat. Fauzan berjalan di samping Sophia menuju motor masing-masing. Langkah mereka pelan, seirama.
Hartati berdiri di balik meja, menatap punggung Sophia dan Fauzan yang menjauh pelan. Motor mereka menyala, lalu hilang di tikungan jalan raya.
Ia menghela napas panjang. Lega.
Tangannya merapikan cangkir-cangkir kosong. Ada bekas kopi, sisa teh, gorengan di piring yang tak habis dimakan. Semua dirapikan satu per satu, dikumpulkan dalam baskom.
Rumah tangga itu memang begitu, batinnya. Dari luar kelihatan biasa. Duduk, minum makan, pulang. Tapi di dalamnya, orang-orang lagi berjuang masing-masing.
Hartati sudah terlalu sering melihat pasangan datang dengan wajah tegang. Duduk berjauhan. Bicara seperlunya. Ada juga yang ribut pelan, ada yang saling diam tapi dinginnya terasa.
Ia tahu, tidak semua yang datang ke warungnya cuma cari kopi. Ada yang cari ketenangan. Ada yang cari telinga, buat mendengarkan curhatan mereka. Ada juga yang cuma ingin duduk sebentar tanpa ditanya apa-apa.
Matanya melirik bangku kayu yang tadi diduduki Sophia. Perempuan itu sekarang sudah tidak sering menggerutu dan kelelahan seperti dulu.
Alhamdulillah, gumamnya dalam hati.
Hartati percaya, tidak semua rumah tangga butuh nasihat panjang. Kadang cuma perlu satu hal, duduk bareng, tanpa merasa lebih benar.
Ia menyalakan kipas sedikit lebih kencang. Petang merambat turun.
“Ya Allah,” bisiknya pelan sambil merapikan lap, “kalau sudah Kau lembutkan hati dua orang di rumah yang sama, jagalah terus. Jangan Kau balikin mereka ke keras kepalanya masing-masing.”
Warung kembali sepi. Tapi hatinya hangat. Dan Hartati tahu, hari ini bukan cuma kopi yang laku, ada rumah tangga yang pelan-pelan kembali menghangat.
Hartati duduk di bangku kayu yang sudah kosong. Ia tidak langsung beres-beres. Dibiarkannya warung hening sebentar, seperti memberi ruang pada hari yang hampir selesai.
Di usianya sekarang, Hartati sudah tidak tertarik ikut campur urusan orang. Tapi matanya terlalu lama melihat, telinganya terlalu sering mendengar, untuk pura-pura tidak paham.
Ia tahu, setiap orang yang mampir ke warungnya membawa cerita masing-masing.
Hartati tersenyum kecil.
Ia teringat Pak Slamet dengan ceritanya tentang sabar.
Ujang yang sekarang lebih hati-hati menyiapkan masa depannya.
Reza dan Hima yang pelan-pelan belajar menjaga tubuh dan harapan mereka.
Dan Sophia… yang akhirnya bisa duduk tenang tak lagi tergesa.
Hidup itu ternyata muter di situ-situ aja, batinnya.
Rumah, kerja, lelah, salah paham. Ia berdiri, menutup toples kerupuk yang belum rapat. Lalu mengelap meja satu per satu.
Hartati percaya, kebahagiaan tidak selalu datang dari perubahan besar. Kadang cuma dari obrolan sepele dan receh seperti : kamu sayang aku nggak? Masak apa hari ini?
Dari hal-hal kecil yang kelihatannya remeh, tapi diam-diam menjaga kehangatan rumah agar tetap utuh.
Dari orang-orang yang ketika pulang bukan cuma badannya, tapi juga dengan hati. Hartati menarik napas pelan, menutup warungnya, lalu tersenyum sendiri. Besok, hidup akan berjalan lagi seperti biasa. Dan itu tidak apa-apa.
.
.