Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Wejangan

Sophia menyipitkan mata, mencoba mengenali dari kejauhan. Bukan wajah yang biasa ia lihat di sekitar rumah atau orang yang dikenalnya.

Orang itu lebih tua dari suaminya. Rambutnya sudah memutih. Dia memakai kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Tangannya bergerak pelan saat bicara, sesekali menunjuk ke arah sekolah.

Suaminya hanya diam, berdiri agak membungkuk seperti sedang benar-benar mendengarkan.

Sophia berdiri di seberang, heran. 'Dia jarang begitu, batinnya.'

Biasanya, kalau bertemu orang, suaminya cepat-cepat menyela, melihat jam, sekadar mengangguk tanpa benar-benar menyimak.

Orang itu menepuk lengan suaminya sekali, seperti orang tua yang sedang memberi pesan. Suaminya mengangguk pelan. Lalu mereka berpisah.

Suaminya menyalakan motor, melirik ke arah gerbang sekolah. Pandangannya bertemu dengan Sophia. Ia tersenyum kecil.

Anak-anak mulai keluar berhamburan. Nara melambai dari kejauhan. Nura berlari kecil sambil membawa botol minum.

Sophia menurunkan pandangannya sebentar, membantu Nura merapikan tas.

“Ma, ayah nunggu di sana,” kata Nara menunjuk ke seberang.

“Iya,” jawab Sophia.

Saat mereka mendekat, Sophia melirik lagi ke arah orang tadi. Sosok itu sudah berjalan menjauh, membaur dengan lalu lintas sore.

Di motor, suaminya menyodorkan helm ke Nara, lalu ke Nura. "Ikut ayah atau Mama?"

"Ayah!" Nura menjawab cepat, langsung naik ke jok belakang.

Nara ke arahku, meletakkan tas di depan lalu naik sambil memelukku. "Enak sama Mama, bisa meluk, weeeeee," ejeknya ke Nura, sambil tertawa-tawa dengan adiknya.

"Sama ayah, ngebut, yeeeeee!" Balas Nura. Mereka ribut sebelum motor melaju.

“Tadi ngobrol sama siapa?” tanya Sophia, sambil membenarkan tas Nara.

Suaminya menoleh. “Oh… itu,” katanya.

“Orang tua temanku. Cucunya sekelas Nara. Dia lagi bingung cari orang yang bisa antar jemput.”

"Ujang aja," kata Sophia.

"Ujang?"

"Kang ojol yang pernah antar Nara pas Nura sakit," jelasnya sambil menyalakan motor.

"Oh, boleh, nanti kirim kontaknya ke aku."

Sophia mengangguk lalu motor melaju pelan meninggalkan sekolah.

Angin sore menyapu wajah Sophia. Entah kenapa, dadanya terasa hangat ketika suaminya berdiri tadi, mungkin ada obrolan kecil yang bermakna nyelip di antara pembicaraan mereka.

Sophia menatap jalan di depan. Perubahan memang tidak selalu datang lewat hal kecil yang nyaris tak disadari.

*

Keesokan harinya.

Pagi itu Sophia berdiri di teras, menahan ujung jaket suaminya agar ritsletingnya tidak tersangkut. Fauzan sudah rapi dengan seragam dinas, tas kerja diselempangkan di bahu.

“Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai,” kata Sophia sambil merapikan kerahnya yang sedikit miring.

“Iya,” jawab Fauzan. Nada suaranya ringan. Ia menunduk sebentar, memastikan sepatu terikat rapi.

Mereka berjalan berdua ke depan. Motor Sophia sudah menyala. Dia akan mengantar suaminya ke pool shuttle.

Sebelum berangkat keluar kota, ia mampir sebentar ke warung Hartati, membeli permen anti masuk angin untuk suaminya.

“Beli bekal dikit,” kata Sophia menunjuk ke arah warung. 

“Aku tunggu di sini.”

Fauzan memarkir motor. Warung Hartati sudah buka. Bau kopi dan gorengan pagi menyambut.

“Bu Hartati,” sapa Sophia.

Hartati menoleh. “Eh, Mbak, tumben pagi-pagi.”

“Mau beli permen anti masuk angin, risol sama kopi buat aku di jalan.”

Belum sempat Hartati menjawab, seorang lelaki paruh baya dari arah samping warung. Kemeja rapi, celana kain, rambut memutih di pelipis. Ia berhenti, menatap Sophia beberapa detik.

“Itu … suaminya Bu Sophia, ya?” tanyanya pelan, seolah memastikan.

Sophia tersenyum sopan. “Iya, Pak.”

Pak Slamet mengangguk. “Pantes. Baru lihat langsung.”

Sophia yang berdiri agak jauh melirik ke arah suaminya, sambil meminta agar Hartati cepat membungkus pesanannya.

Pak Slamet, suka nongkrong di sini, wajar jika hafal siapa saja yang suka ngopi. 

"Ma, ayo." Fauzan masuk ke warung, sebab Sophia lama, dia takut ketinggalan bus.

Pandangan Pak Slamet turun ke seragam Fauzan. “Dinas di pemerintahan?”

“Iya, Pak.”

Pak Slamet tersenyum tipis. “Kamu kenal Pak Syakur?”

Fauzan berpikir sebentar. “Oh… Pak Kadis Syakur? Kenal, Pak. Tapi beliau sudah pensiun.”

Wajah Pak Slamet berubah. Ada raut rindu di sana. “Iya… sudah lama.” Ia tertawa kecil. “Orang paling sabar yang saya kenal.”

Hartati meletakkan pesanan di atas etalase. Pak Slamet duduk, Fauzan masih berdiri di dekatnya.

“Dulu kami satu kantor,” lanjut Pak Slamet. “Orangnya kalem. Kalau rapat, diserang kanan kiri, dia cuma dengerin. Nggak pernah bentak siapa-siapa.”

Fauzan mengangguk, mendengarkan.

“Yang orang-orang jarang tahu,” Pak Slamet menurunkan suaranya sedikit, “dia itu sangat menghormati istrinya.”

Sophia refleks menoleh.

“Pulang kantor, langsung ke rumah. Bukan karena takut,” Pak Slamet tersenyum, “tapi karena merasa rumah itu tempat dia belajar jadi manusia.”

Fauzan terdiam.

“Istrinya cerewet?” tanya Hartati sambil tersenyum usil.

Pak Slamet tertawa kecil. “Katanya sih iya. Tapi Pak Syakur selalu bilang, ‘Kalau saya bisa sabar di kantor, masa di rumah nggak bisa?’”

Ia menyeruput kopi. “Justru karena dia mengalah, memuliakan istrinya, orang-orang hormat. Pimpinan juga lihat dedikasinya. Naik jabatan bukan karena culas, Tapi karena dipercaya.”

Fauzan menghela napas pelan. “Jarang ada yang mikir begitu, Pak.”

Pak Slamet mengangguk. “Makanya saya ingat terus. Laki-laki itu gagah bukan karena paling dominan. Tapi karena orang di rumahnya merasa aman dan nyaman.”

Ia berdiri, menepuk bahu Fauzan ringan. “Jaga baik-baik istrimu. Ibu rumah tangga itu kelihatannya biasa saja. Padahal mereka yang paling sering menahan diri agar semuanya tampak baik-baik saja.”

Fauzan menelan ludah. “Iya, Pak.”

Sophia melihat suaminya menunduk sedikit. Mungkin merasa secara tak langsung Pak Slamet mengingatkannya.

Fauzan membayar, mengambil risol dan kopi. Lalu keduanya keluar. Sebelum naik motor, ia menoleh ke Sophia.

“Doain ya,” katanya.

Sophia mengangguk. “Hati-hati.”

Motor itu melaju pelan, meninggalkan bau parfum mereka di udara pagi.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!