Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Padahal Tuhan tahu

Sophia terbangun sebelum azan subuh. Matanya perih, kepalanya berat, tapi alarm tubuhnya memaksa untuk bergerak. Ia bangun perlahan agar Nura tak terjaga, membetulkan selimut, lalu duduk di tepi ranjang beberapa detik—mengumpulkan napas.

Dari ruang tengah, televisi masih menyala. Suaminya tertidur di kamar, ponsel tergeletak di dada. Wajahnya tampak tenang, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa.

Sophia mematikan televisi lalu berjalan ke dapur, menyalakan lampu kecil, dan memasak air. 

Di kepalanya, kalimat itu masih menggema. Ia duduk di kursi dapur, memandangi meja. Masih ada sisa telur di piring, lauk untuk suaminya. Sophia menarik napas panjang.

Saat azan berkumandang, ia mematikan kompor, menuang air panas ke gelas tehnya. Lalu mandi dan salat di kamar Nara. Gerakannya pelan. Doanya tidak panjang. Hanya satu kalimat : Tolong, jangan biarkan aku mati perlahan di tempat yang seharusnya melindungiku.

Pagi semakin terang.

Nara bangun lebih dulu. Rambutnya berantakan, matanya masih berat. “Maa,” panggilnya pelan.

Sophia tersenyum kecil. “Iya.”

Mereka sarapan nasi goreng dengan orak Arik telur. Nura masih izin sekolah, terbangun karena mencium wangi makanan kesukaannya. Sophia menyuapi keduanya sambil berdiri. 

Suaminya bangun. Ia melirik meja, lalu Sophia. “Nggak masak?”

“Udah,” jawab Sophia singkat.

Hening.

Ada sesuatu yang membuat suaminya tak jadi melanjutkan. Ia mendengus, mengambil ponsel, lalu keluar rumah tanpa pamit.

Pintu tertutup.

Sophia menghela napas panjang. Dia gegas meminta Nara bersiap, Nura menunggu di kamar sambil nonton. 

"Ayah bentar pulang, Mama cuma antar Kakak aja. Gak apa, kan?"

Nura mengangguk ragu, "Aku kunci pintunya ya Ma? Kalau ayah datang, aku buka," ujarnya.

Sophia mengangguk, mengacungkan jempolnya. Dia juga baru mengirimkan pesan ke guru Nura bahwa belum bisa masuk sekolah karena baru pulih.

Motor Vario putih itu melaju membaw Nara ke sekolah. Tak sampai 20 menit, Sophia sudah kembali ke rumah. Nura menyambut semringah.

Ia langsung memandikan Nura pakai air hangat, dan membereskan rumah. Kali ini tidak tergesa, atau berusaha menyenangkan siapa pun. Hanya melakukan yang dia mampu.

Tak lama, suaminya datang. Tidak membawa apapun. Sophia tahu, dia sarapan di luar. 

Saat berangkat kerja pun, dia tak pamit. Keluar rumah begitu saja mengendarai motornya. Kali ini, Sophia tak peduli.

Malamnya, rumah kembali sunyi, Sophia memeluk Nura sambil membacakan cerita. Nara menyimak dari sisi ranjang, matanya berbinar. Di antara kalimat dan tawa kecil, Sophia merasakan sesuatu yang lama hilang: dirinya sendiri.

Di luar kamar, ruang tengah gelap. Sophia mematikan lampu lebih awal, tak lagi menunggu suaminya pulang. Dia berbaring di antara anak-anaknya. Kali ini, saat ia menutup mata, dadanya tidak sesesak kemarin.

Suaminya pulang lebih larut dari biasanya. Tidak ada yang menunggunya, apalagi suara langkah menyambut. Rumah terasa asing.

Ia membuka kulkas. Lalu tudung saji. Ada satu macam lauk, seolah sengaja disiapkan sekadar ada. Ia menutupnya tanpa mengambil apa pun.

Ada rasa aneh di dadanya. 

Ia masuk ke kamar. Sophia tidak di sana. Langkahnya terhenti di depan kamar anak. Dari celah kecil, ia melihat Sophia berbaring memunggunginya, Nura terlelap di pelukannya. Nara tidur di sisi lain, satu tangannya menyentuh lengan ibunya.

Ia berdiri lama, lalu berbalik ke kamar, tidur sendirian di ranjang mereka.

Pagi berikutnya, Sophia bangun langsung menyiapkan bekal Nara, menyisir rambut Nura karena hari ini dia masuk, lalu mengantar keduanya ke sekolah.

Tiga puluh menit kemudian, Sophia duduk sebentar di teras, membuka ponsel. Dadanya bergetar, membaca pesan ibunya yang bertanya soal kabar. 

Sore hari, Nara pulang dengan wajah murung. “Ma,” katanya pelan sambil menaruh tas, “Ayah marah sama Mama?”

Pertanyaan itu seperti pisau kecil. Sophia jongkok di depan anaknya. Menatap mata Nara. “Enggak,” jawabnya mantap. “Perasaan orang dewasa itu rumit dipahami olehmu.”

Nara diam, lalu memeluk ibunya.

Dari belakang Nara, Nura berkata, “Mama sedih, ya?”

Sophia tersenyum, membuka tangannya. “Nggak. Mama di sini.”

Malamnya, suaminya pulang lebih cepat. Ia duduk di ruang tengah, menunggu. Tidak ada yang mondar-mandir. Hanya terdengar suara anak-anak dari kamar.

“Kamu marah?” tanyanya akhirnya saat Sophia akan ke dapur, membawa piring kosong.

Sophia menoleh. Wajahnya tenang. “Aku lelah,” jawabnya.

Jawaban itu membuat suaminya berdiri. “Semua orang juga lelah, tapi kamu jangan lupa kewajibanmu sebagai istri.”

Sophia mengangguk pelan. “Dan aku masih manusia.”

Tidak ada debat panjang. Sophia kembali ke kamar anak-anak, menutup pintu. Di sebaliknya, ia berdiri bersandar. Nafasnya naik turun menahan kesal.

Setelah itu, suaminya tidak langsung masuk kamar. Ia duduk di ruang tengah, memutar video ceramah dari ponselnya dengan volume cukup keras. Agar terdengar dari kamar anak-anak. Tentang istri salihah, ketaatan dan surga yang dijanjikan bagi perempuan yang “tahu tempat”.

Sophia mendengarnya sambil membacakan cerita. Suaranya tetap stabil, meski hatinya kesal. Selesai cerita, ia mencium kening Nura dan Nara, lalu keluar kamar.

“Dengar itu?” tanya suaminya tanpa menoleh.

Sophia mengangguk. “Dengar.”

“Itu ustadz favorit ibu,” katanya. “Ibu bilang, kalau semua istri diajari begitu, rumah tangga nggak bakal ribut.”

Sophia duduk di kursi seberang. Diam.

“Ibu juga sering bilang,” lanjutnya, “istri itu ibadahnya ya di rumah. Ngurus suami, anak. Bukan ngelawan.”

Kata ngelawan diucapkan pelan, tapi diarahkan tepat ke Sophia. “Aku nggak melawan,” jawabnya. “Aku cuma capek.”

Suaminya terkekeh kecil. “Capek itu pahala. Ibu dulu capek, tapi nggak pernah mengeluh ke Bapak.”

Sophia menatapnya. Lama. “Ibumu juga nggak pernah merasa kesepian di rumah?”

Hening jatuh.

“Jaga omonganmu,” katanya kemudian. “Ibu itu contoh istri baik.”

“Baik menurut siapa?” Sophia bertanya, nyaris berbisik.

Suaminya berdiri. “Menurut agama.”

Tak lama, ibu mertuanya datang. Membawa lauk-pauk. Sophia merasa, kebetulan sekali. Dia menyambutnya. Lalu pergi ke dapur menyiapkan minum.

“Kamu kelihatan kurusan,” katanya ke putranya sambil melirik dapur. Lalu pandangannya beralih ke Sophia dan berkata, “Kurang melayani suami, ya?”

Sophia tersenyum sopan. Menyuguhkan teh. Duduk di seberangnya dengan punggung tegak.

“Perempuan itu,” lanjut sang ibu, “kalau suaminya cuek, harus introspeksi. Jangan sibuk ngurusi perasaan sendiri.”

Nara yang sedang menggambar menoleh. Tangannya berhenti. Sophia menangkap tatapan itu. Dadanya nyeri.

“Saya ngurus anak-anak,” kata Sophia pelan. “Itu juga amanah.”

“Iya,” jawab sang ibu cepat. “Tapi suami itu imam. Kalau imamnya nggak dihormati, rumah tangga bisa hancur.”

Kata imam melayang seperti stempel halal atas segala lukanya. Suaminya diam saja. Tidak membela apalagi menghentikan.

Sophia mengangguk. “Kalau imam menyakiti makmum?”

Pertanyaan itu membuat ibu mertuanya terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis. “Namanya juga rumah tangga,” katanya. “Perempuan harus kuat.”

“Iya, Bu,” katanya lembut. “Perempuan memang harus kuat.” Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap tenang. “Cuma kadang saya bingung, Bu. Kenapa kuat itu selalu jadi kewajiban perempuan… dan kenapa lelah kami sering dianggap kurang iman, padahal itu akibat kurang ditemani.”

"Kan menemani bentuknya macam-macam," jawab si ibu.

"Seperti apa contohnya, Bu?" Sophia membuka toples kue dan menyodorkan ke mertuanya.

Mertuanya diam. Sophia lantas melanjutkan. “Kebanyakan, menuntut kuat sendirian dengan dalil agama ... Padahal Tuhan juga pasti ngerti capeknya perempuan yang terus diminta kuat, tapi jarang dipeluk.”

"Sophia!" 

Sophia melihat ke suaminya, tatapannya datar seolah berkata, iya kan? 

Tanpa diduga, Nara menghampiri, memeluk ibunya dari belakang. Seakan berharap pelukannya bisa melindungi sang mama.

Ruang tamu mendadak sunyi. Sophia meninggalkan mereka, izin menidurkan Nura yang masih pemulihan.

Ibu mertuanya bertanya Nura sakit apa, tapi Sophia hanya bilang, "Kukira anak ibu cerita ... Tiba-tiba ibu jenguk ke sini."

Deg.

Malamnya, suaminya mendekati Sophia di kamar. "Heh, Sophia!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!